
Allison tercengang ketika mengerti makna tulisan yang terdapat di balik foto Maria. "Tidak perlu tulis di lukisan!" tekannya.
"Baiklah kalau begitu. Lukisannya juga sudah selesai. Sebentar, akan saya ambilkan," pelukis dengan paras tampan itu bangkit, lalu melangkah menuju ruang lukisnya.
Tak berselang lama, sang pelukis kembali dengan membawa lukisan Maria yang sama persis seperti foto asli yang telah terbakar. Allison tersenyum lebar.
***
Di rumah, Faylan tak sendiri karena sudah ada Daisy, Olivia dan juga Alexa yang menemani. Ketiganya datang menjenguk setelah pulang dari rumah sakit.
"Kalau kalian bertiga di sini, siapa yang menjaga ibu panti?" tanya Faylan mengkhawatirkan ibu panti yang masih dirawat di rumah sakit.
"Setelah menjenguk kakak, Daisy akan pergi ke rumah sakit untuk menemani ibu," jawab Daisy.
"Benar, Kak. Kami akan menemani ibu secara bergantian. Kak Faylan tidak perlu khawatir," sambung Oliva.
"Baguslah kalau begitu. Oh iya, bagaimana hubungan kalian dengan suami masing-masing?" tanya Faylan membuat Olivia dan Alexa tersenyum malu. Faylan justru menatap curiga Daisy yang ekspresi wajahnya tampak berbeda.
"Sangat baik, Kak. Tuan Shanan bilang dia tidak akan menceraikanku," ucap Olivia dengan kedua pipi yang memerah.
"Tuan Castillo juga mengatakan itu kepadaku," sambung Alexa.
"Bagaimana denganmu, Daisy?" tanya Faylan.
Daisy pun salah tingkah, "Apa kamu baik-baik saja?" Faylan kembali bertanya khawatir.
"Aku baik-baik saja, Kak. Hubunganku dan Tuan Melvin juga baik-baik saja," balas Daisy tersenyum kaku. Tentu Faylan tahu ada sesuatu yang tengah Daisy sembunyikan darinya. Tapi, Faylan tak akan memaksa Daisy untuk bercerita.
"Baguslah, kakak senang mendengarnya."
Keempat gadis cantik itu saling bercerita banyak hal hingga suami ketiganya datang menjemput. Faylan memaksa bangkit dan mengantarkan ke tiga adiknya sampai di pintu utama.
Oliva dan Alexa telah pulang terlebih dahulu, sementara Daisy masih Faylan tahan. Mereka bertiga termasuk Melvin duduk di sofa ruang tamu.
"Bagaimana kondisimu nona Faylan?" tanya Melvin tersenyum lembut menatap Faylan.
"Saya baik, tuan. Apa boleh saya berpesan sesuatu?"
"Tentu saja," jawab Melvin menoleh pada Daisy, Daisy pun menundukkan wajahnya dalam.
"Tolong jaga dan lindungi Daisy. Dia adalah gadis yang baik," pinta Faylan berharap Melvin mau mendengarkan permintaannya.
"Dia istriku, tentu aku akan menjaganya dengan baik," jawab Melvin cepat.
"Sepertinya saya harus mengantar Daisy sekarang karena satu jam ke depan ada meeting penting yang harus dihadiri. Semoga nona Faylan segera pulih," Melvin bangkit dari duduknya. Faylan dan Daisy juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Terima kasih, kalau begitu berhati-hatilah di jalan," Melvin menganggukkan kepala. Faylan melambaikan tangannya pada Daisy yang mengekor di belakang Melvin.
***
Beberapa hari berlalu.
Faylan menjalani hari-harinya seperti biasa. Ada banyak yang berubah. Seperti murid-murid di sekolah yang terperangah melihat penampilan barunya. Para murid laki-laki dibuat terpesona dengan kecantikan Faylan yang terpancar berkat seragam dan tas baru yang Allison berikan padanya.
Faylan yang dulu dikenal kotor, kumal dan lusuh telah digantikan oleh Faylan yang sangat cantik dengan lekukan tubuh yang indah bak gitar spanyol. Murid SMA mana yang memiliki lekukan tubuh yang indah selain Faylan Laurentika Plavius?
Akan tetapi, perubahan drastis itu tak membuatnya terbebas dari bullying. Justru, perubahan itu membuatnya kian menderita karena banyak murid perempuan yang iri dengan kecantikan serta kemolekan tubuhnya. Sementara murid laki-laki terus mengganggu dan bahkan melecehkannya. Tapi, Faylan masih bisa mengatasi dan melindungi dirinya sendiri.
Sepulang sekolah, Faylan langsung kembali ke rumah. Semenjak ayahnya meninggal, adiknya meninggal, ibu tiri melarikan diri, dan rumahnya hangus terbakar. Hanya spring mansion milik Allison yang menjadi tempatnya kembali, karena sekarang Faylan sudah tidak punya siapa pun lagi selain Allison.
Meski di sekolah tak membuatnya tenang, tapi setidaknya Faylan bisa hidup dengan tenang saat di rumah karena akhir-akhir ini Allison semakin perhatian padanya. Bahkan, anak-anak panti bisa hidup layak berkat bantuan Allison. Faylan tak perlu lagi bekerja paruh waktu karena semuanya telah disediakan oleh Allison.
"Bik Fani," panggil Faylan yang baru saja sampai di rumah.
"Selamat datang, nona. Nona mau makan siang sekarang?" tanya bibi Fani ramah.
"Nanti saja, Bik. Faylan mau ganti baju dulu," jawab Faylan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Oh iya!" Faylan menghentikan langkahnya.
"Ada apa, nona?"
"Tentu saja, Nona. Pasti akan saya temani. Tapi, untuk apa? Nona sudah sangat cantik."
"Faylan mau urut dan membersihkan diri saja karena malam ini—"
Faylan tak melanjutkan kalimatnya karena malu.
"Nona serius?" tanya bibi Fani dengan ekspresi kagetnya. Faylan hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Tuan muda pasti akan sangat bahagia."
"Tapi jangan berita tahu dia, Bik. Ini kejutan," sambung Faylan.
"Pasti nona. Lebih baik sekarang nona ganti baju dan segera makan siang. Setelah itu saya akan antar nona ke salon kecantikan terbaik di kota ini!" seru bibi Fani bersemangat.
Siang itu, Faylan pun pergi ke salon kecantikan untuk melakukan serangkaian perawatan dari mulai rambut, wajah, seluruh tubuh, hingga kukunya. Untuk pembayaran yang tak murah, Faylan menggunakan kartu hitam yang beberapa hari lalu diberikan lagi oleh Allison.
Faylan tak datang sendiri, tapi juga ditemani oleh bibi Fani. Tak hanya menemani, bibi Fani juga dilayani dengan baik. Bibi Fani hanya memilih pijat seluruh tubuh. Berbeda dengan Faylan yang melakukan segala perawatan yang disediakan di salon kecantikan super mewah itu.
Beruntung perawatan tersebut selesai sebelum Allison pulang. Sampai di rumah, Asisten Juan mengabarkan bahwa ia dan Allison sudah di jalan dan akan sampai sebentar lagi. Faylan pun langsung masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.
__ADS_1
Sementara bibi Fani dan pelayan lainnya sibuk menata ruang makan untuk makan malam spesial. Setelah semua hidangan beres, semua pelayan pun langsung kembali ke rumah belakang. Mereka sengaja memberikan waktu untuk Faylan dan Allison berduaan di mansion.
"Kau boleh pulang," ucap Allison pada Asisten Juan.
"Baik, tuan." Jawab Asisten Juan langsung pamit undur diri.
Allison melangkah cepat menuju kamarnya. Ia membersihkan diri di kamar mandi kamarnya sendiri. Allison heran karena biasanya Faylan selalu datang walau hanya menyiapkan piyama untuknya. Tapi malam ini, Faylan bahkan tak menyambut kepulangannya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Allison khawatir. Setelah siap dengan piyama tidur, Allison pun melangkah cepat menuju kamar Faylan.
Tok, tok, tok!
"Faylan, apa kamu di dalam?"
Tak terdengar sahutan, Allison yang khawatir langsung membuka pintu yang rupanya tidak dikunci.
Allison terheran karena kamar Faylan sangat gelap karena lampu dimatikan. Khawatir terjadi sesuatu pada Faylan, ia pun melesat memasuki kamar dengan langkah perlahan. "Faylan!" panggil Allison lagi, tapi tak kunjung mendapat sahutan.
Ceklek!
Lampu menyala.
"Tuan Son...."
.
.
.
Allison mendekat sambil lepas baju dan....
Dan.....
.
.
.
__ADS_1
Dan Olahraga Woy!!! Emang apa yang kalian pikirkan heh?!