
Kedatangan Allison membuat anak-anak takut, termasuk Faylan yang baru ingat apa yang seharusnya ia lakukan saat ini. Bukanya melayani sang suami, Faylan justru pergi tanpa pamit. Apalagi Allison menatapnya tajam dengan ekspresi wajah datar.
Faylan berusaha menahan tubuhnya yang bergetar ketakutan, ia takut Allison murka dan melukai adik-adiknya. Tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, Faylan pun memberanikan diri maju beberapa langkah.
"Maafkan saya, tuan. Saya tidak melarikan diri dari tugas dalam melayani anda. Tapi, saya—"
"Siapa dia?" potong Allison sambil menunjuk ke arah salah satu adik Faylan.
Faylan yang semula menundukkan wajah, seketika mengangkat wajahnya cepat, kemudian mengikuti ke mana arah Allison menunjuk.
"Namanya Tino, tuan. Tino adalah satu-satunya anak panti pria yang paling tua diantara anak pria lainnya. Tino telah menginjak usia remaja juga telah bekerja," terang Faylan sejelas-jelasnya. Tino membungkukkan badan memberi hormat kepada Allison.
Allison menatap Tino lama, sepertinya Allison menyadari kesalahpahamannya terhadap Faylan. Ia ingat remaja bernama Tino itu adalah lelaki yang Faylan temui malam itu. Allison merasa bersalah karena telah salah mengira Faylan.
"Nak Allison, tolong maafkan Faylan dan Tino. Ibu meminta maaf atas dosa yang telah mereka berdua lakukan. Berikan mereka kesempatan untuk tetap menjalankan hidup, anak-anak panti masih membutuhkan mereka berdua. Mereka berdua adalah anak yang baik, tolong kasihan mereka berdua, jangan hukum mereka," mohon ibu panti mendekat, berdiri di hadapan Allison dengan satu kaki. Ia melindungi Faylan di balik tubuhnya.
"Pergi kamu orang jahat! Jangan mengganggu kami!" Luisa yang sedang sakit berlari menyerang Allison, memukul betis kekar Allison dengan kedua tangan mungilnya.
"Luisa," Faylan berusaha menahan air matanya, ia begitu terharu karena begitu banyak yang menyayangi dirinya.
Tino mendekat, menuntun Faylan dan ibu panti mundur beberapa langkah. Tino juga ingin membawa Luisa untuk dilindungi. Tapi, sayangnya Allison mengangkat dan menggendong tubuh kecil Luisa.
Di dalam gendongan Allison, Luisa tak tinggal diam. Gadis kecil berusia tiga tahun itu terus memukul wajah tampan Allison dengan jemari kecilnya. Allison sama sekali tak merasa sakit.
"Luisa, berhenti sayang," pinta Faylan memohon, tapi Luisa tetap keukeuh memukul Allison meski tangannya sendiri yang sakit.
"Buang semua makanan yang kalian pegang!" tegas Allison membuat pucat seluruh wajah anak panti. Mereka semua ketakutan dan langsung membuang makanan mereka meski tak rela.
Semua anak panti tidak mengenali siapa Allison sebenarnya. Karena itulah mereka mengira bahwa Allison adalah salah satu anggota gangster elang yang sering membuat ulah dan melukai mereka.
__ADS_1
"Tuan jangan begini, saya benar-benar minta maaf karena telah meninggalkan anda. Saya tidak akan mengulanginya lagi, saya mohon lepaskan Lusia. Dia tidak bersalah, dia hanya seorang gadis kecil biasa," Faylan berusaha membujuk Allison.
Tanpa berkata apa pun, Allison pun menurunkan Lusia. Faylan langsung memeluk Lusia dengan erat, gadis kecil itu menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Allison memang tidak melukainya, tapi tatapan tajam Allison tentu membuatnya ketakutan meski sudah mencoba memberanikan diri.
Setelah menyerahkan Lusia, Allison membalikan badan, mengeluarkan ponsel dan membuat pesan. Entah kepada siapa dia mengirimkan pesan. Faylan meminta ibu panti untuk membawa adik-adik masuk ke dalam kamar masing-masing.
Meski sempat menolak karena khawatir pada Faylan, tapi Faylan berhasil membujuknya hingga dengan berat hati membiarkan Faylan seorang diri menghadapi Allison. Dahi Allison berkerut heran karena tak lagi melihat anak-anak panti lainnya. Hanya tersisa Faylan yang melangkah mendekat padanya.
"Tuan Son, saya—"
Beep! Beep! Beep!
Terdengar suara klakson mobil yang kemunculannya membuat Faylan kaget. Beberapa orang pria berpakaian seragam berwana hijau keluar, salah satu daru mereka mendekat dan membungkuk badan menghormati Allison.
"Pesanannya mau diletakkan di mana, tuan Allison?"
"Letakkan di sini," tunjuk Allison pada teras.
Faylan terperangah melihat pria-pria berseragam hijau mulai mengeluarkan dan menyusun banyak box berisi makanan yang terlihat sangat lezat. Faylan menelan ludah tergoda. Usai menyusun box makanan hingga menggunung, mereka pun pamit undurkan diri.
"Jangan terus dilihat, panggil adik-adikmu dan ajak mereka makan malam bersama," ucapan Allison sukses membuat Faylan tercengang tak percaya.
"Faylan!" seru Allison menyadarkan Faylan dari lamunan.
"Ba-baik, tuan."
Faylan segera masuk dan meminta ibu panti dan adik-adiknya keluar dari kamar. "Silahkan diambil makanannya. Mulai sekarang, kalian semua harus mengonsumsi makanan yang enak dan bergizi, bukan lagi makanan kadaluarsa yang sudah tidak layak," terang Allison membuat Faylan terharu hingga menitikkan air mata.
"Terima kasih banyak, tuan Allison," ungkap ibu panti seraya membungkukkan badan.
__ADS_1
"Ayo anak-anak, diambil makanannya, jangan lupa ucapkan terima kasih kepada tuan Allison," sambungnya lagi.
Anak-anak panti mulai berbaris rapi, kemudian mengambil masing-masing satu box besar makanan mewah yang didalamnya terdapat steak, sayuran, lengkap dengan dissert serta buah-buahan. Tak hanya satu box makanan, Allison juga memesan jus sehat berbagai rasa.
Anak-anak panti melahap makanan mereka di ruang makan. Mereka sengaja pergi untuk memberikan waktu kepada Faylan dan Allison berduaan.
"Terima kasih banyak, tuan," ucap Faylan tulus sambil memeluk Allison dengan erat. Mendapat pelukan hangat yang tak terduga, Allison tampak kaku. Ia ingin mengusap punggung Faylan, tapi gagal karena gugup. Menyadari kelancangannya, Faylan pun segera menjauhkan diri.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku juga sama seperti mereka yang tidak punya orangtua, sudah selayaknya aku membantu," ujar Allison mengambil satu box makanan.
"Temani aku makan," Allison menyeret Faylan masuk ke dalam ruang makan. Mereka bergabung bersama dengan anak-anak panti. Akan tetapi, Allison tak makan sama sekali, ia justru sibuk memperhatikan Faylan menikmati makanannya. Melihat anak-anak panti dan Faylan senang, Allison juga turut merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan seumur hidup, meski hidup serba berkecukupan.
***
Tanpa mereka sadari, ada sepasang manik misterius yang tersenyum miring menatap dari kejauhan.
"Selamat menikmati😏"
.
.
.
Nah, gitu dong bang. Pakai baju yang bener, kan tampan😍.
__ADS_1
Stop bang! Jangan dibuka lagi🤦🏼♀️