
Melvin dan Daisy pergi ke sekolah Faylan. Di sana mereka mendapatkan informasi bahwa Faylan masih sekolah beberapa minggu lalu. Padahal, saat itu Allison sudah berangkat ke luar negeri. Para guru juga menceritakan bahwa Faylan sering dikawal oleh boddyguard.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Melvin pun bergegas menuju istana utama. Saat tiba, tentu saja Melvin tak diperbolehkan masuk karena memang tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam istana. Sekali pun itu adalah Melvin yang sudah Diona anggap sebagai cucu sendiri.
Melvin baru diperbolehkan masuk ketika meminta izin kepada Diona. Seorang pengawal pun memasuki istana guna memberitahu Diona akan kedatangan Melvin.
Sementara Melvin dan Daisy masih di dalam mobil, menunggu gerbang istana terbuka. Melvin beberapa kali menghubungi Diona. Tapi, panggilannya tak juga diangkat. Cukup lama Melvin menunggu, tapi gerbang tak juga dibuka, ia pun segera turun dari mobil dan bertanya langsung kepada salah satu pengawas yang berjaga di sana.
Pengawal tersebut menghubungi rekan yang tadinya bertugas menemui Diona.
"Bagaimana?" tanya Melvin.
"Mari ikut saya tuan," sang pengawal mengajak Melvin memasuki istana. Sebelum masuk, Melvin pun mengajak Daisy terlebih dahulu. Kemudian, mereka berdua mengekor di belakang pengawal.
Saat pintu utama terbuka, Melvin dan Daisy dibuat kaget dengan para pengawal yang sibuk berlarian ke sana ke mari.
"Apa yang terjadi?" tanya Melvin pada sang pengawal.
"Nyonya besar dan nona Faylan menghilang!" jawab sang pengawal yang sebelumnya bertugas menemui Diona.
"Apa!? Bagaimana bisa!? Tunggu ... Faylan juga menghilang? Jadi benar Faylan di sini?" tanya Melvin kaget.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Sebelum pergi ke luar negeri, Tuan Allison menitipkan nona Faylan di istana. Tadi pagi nona Faylan membuat salah satu pelayan terluka parah dan dirawat intensif di rumah sakit. Sesuai perintah nyonya besar, nona Faylan dipenjarakan. Namun, saya mendapat kabar dari penjara bawah tanah bahwa nona Faylan menghilang dan kemungkinan melarikan diri," jelas sang pengawal panjang kali lebar.
"Tidak! Mana mungkin Kak Faylan menyakiti seseorang hingga terluka parah!" bentak Daisy murka. Melvin dibuat kaget karena itu adalah pertama kali ia melihat sosok lain dari seorang Daisy yang polos dan pendiam.
Melvin setuju dengan pendapat sang istri. Lagipula, mama mungkin Faylan bisa melarikan diri di penjara istana yang penjagaannya begitu ketat. Kecuali diculik, kalau soal itu baru Melvin percaya mengingat musuh Allison bukan sembarang musuh.
"Daisy tenangkan dirimu," bujuk Melvin lembut, Daisy sudah menangis histeris kala mengkhawatirkan Faylan.
"Lalu bagaimana dengan Nenek?" tanya Melvin.
"Kami menemukan gambar ini di kamar nona Faylan," tutur sang pengawal sembari memberikan sebuah foto yang membuat Melvin kaget bukan main.
"Sial! Apa yang kalian lakukan, hah?! Bagaimana bisa Paman disekap! Cepat temukan lokasi ini!"
Di sebuah ruangan kumuh yang memiliki ukuran sekitar 15 meter persegi panjang, dengan dua penjara yang saling berhadapan. Di masing-masing penjara diisi seorang pria dan wanita yang saling mengenal.
Bagaimana tidak saling mengenal bila keduanya adalah sepasang suami istri. Ya, Allison dan Faylan berada di dalam penjara yang berbeda. Allison terlihat frustasi lantaran tak dapat melakukan apa pun untuk sang istri yang meringis kesakitan di seberang sana.
Selain berada di dalam penjara yang digembok, Allison juga berdiri dengan kedua kaki dan tangan yang dirantai baja yang sangat kokoh. Tubuh kekar yang biasanya begitu mulus, kini terdapat banyak luka sayatan yang terus mengalirkan darah.
Sementara di hadapan penjara, terdapat seorang pria lansia yang diikat di atas sebuah kursi dengan mulut yang dilakban. Karena usia, lansia yang tak lain adalah raja Afson tampak telah kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Bisa dibilang kondisi Allison, Faylan, dan raja Afson masih lebih baik, daripada asisten Juan yang tergeletak dengan pisau tertancap di bahu serta perut yang mengalirkan darah segar. Tragedi itu terjadi tadi pagi ketika asisten Juan berhasil melepaskan ikatan di tubuhnya, tapi sayang ketahuan oleh pria misterius dan ia pun dihabisi.
Sebenarnya Allison sama sekali tak pergi ke luar negeri, ia dan asisten Juan membuat rencana untuk menangkap sosok misterius yang membunuh kedua orangtuanya. Namun sayang, sosok misterius itu bukanlah tandingannya.
Tiga hari disekap, Allison semakin tak berdaya. Meski kondisinya amatlah mengenaskan, tapi ia masih tetap bertahan. Selama di penjara, sosok misterius itu memperlihatkan rekaman cctv di mana Faylan disiksa selama tinggal di istana. Allison menyesal karena meletakkan sang istri di tempat yang salah.
Heok!
Faylan kembali muntah untuk yang kesekian kalinya. Ia bersimpuh di lantai sembari menekan erat perutnya yang kram.
"Sayang, kenapa?" tanya Allison setelah mengumpulkan tenaganya untuk membuka mulut.
Faylan hanya menggeleng kepala, air mata terus mengalir deras, wajahnya semakin memucat.
"Bertahanlah!" seru Allison kembali mencoba melepaskan diri. Bukannya lepas, ia justru membuat tangan dan kakinya terluka.
"Sa-kit ... Aku ti-dak ta-han...." Faylan pun kehilangan kesadaran.
"Faaylaaaann!"
.
__ADS_1
.
.