Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 35 ~ Bayangan Misterius


__ADS_3

Faylan terpaksa menyudahi mandinya karena perut yang kembali kram. Tanpa mengenakan pakaian, Faylan merangkak naik ke atas ranjang, ia memejamkan mata paksa hingga akhirnya terlelap dalam kondisi yang masih mengenakan jubah mandi.


Keesokan harinya, Faylan bangun pagi-pagi sekali karena merasa pusing. Ia turun dari ranjang dengan perlahan, masuk ke dalam kamar mandi dan langsung mencuci wajah.


Karena merasa tak enak badan, Faylan pun tak mandi pagi itu. Ia hanya menyikat gigi dan mencuci wajah. Keluar dari kamar mandi, Faylan mengenakan seragam sekolah karena hari itu ia akan tetap pergi ke sekolah.


Setelah penampilannya rapi, Faylan keluar dari kamar dan bergabung bersama Allison di meja makan.


"Kau sakit?" tanya Allison tiba-tiba, Faylan reflek menyentuh keningnya dan tak merasa panas sama sekali.


"Tidak, tuan. Memangnya kenapa?"


"Wajahmu pucat," balas Allison singkat. Faylan berpikir ulang, ia ingat tadi sudah mengaplikasikan liptint di bibir guna menutupi wajahnya yang pucat karena memang kurang enak badan.


"Mungkin olahraga semalam kurang, tuan," lanjut Faylan asal. Allison langsung menatapnya penuh arti. Jika tidak ada urusan yang sangat penting pagi itu, Allison pastikan Faylan akan kembali libur sekolah.


Usai sarapan, Allison mengantarkan Faylan ke sekolah. Seperti sebelumnya, Faylan dikawal dengan ketat oleh boddyguard bersenjata. Tak ada seorang pun yang berani mengusik Faylan.


***

__ADS_1


"Kenapa baru sekarang kamu katakan?" bentak Allison dengan nada suara meninggi.


"Pengawal di mansion baru melaporkannya semalam, tuan. Dan semalam saya ingin mengatakannya kepada tuan, tapi saya takut menganggu," jelas asisten Juan membuat Allison tak lagi mengungkitnya.


"Bagaimana dengan cctv?"


"Tidak ada yang mencurigakan, tuan," sahutnya.


"Faylan melihatnya, tapi tidak muncul di cctv. Mana mungkin dia meretas cctv," pikir Allison dengan ekspresi seriusnya. Cctv di spring mansion sama canggihnya dengan cctv di istana kerajaan. Sehebat apa pun seorang hacker, seharusnya tidak akan bisa meretasnya.


"Tingkatkan lagi keamanan, kirim beberapa tim untuk berjaga di pepohonan selama 24 jam," titah Allison penuh wibawa.


"Aku pasti akan mendapatkanmu!" tegas Allison mengepalkan kedua tangan hingga otot dan uratnya mengencang.


***


Kali ini Faylan pulang sore hari, sampai di rumah ia langsung membersihkan diri. Karena perutnya teramat lapar, ia pun makan terlebih dahulu tanpa menunggu pulang sang suami.


"Bik, tuan Son pulangnya jam berapa, ya?" tanya Faylan sopan.

__ADS_1


"Sekarang tuan pulangnya tidak teratur nona. Seperti kemarin asisten Juan mengatakan bahwa tuan muda akan pulang larut malam, tapi nyatanya malah pulang cepat. Apa ada yang nona butuhkan?" jelas bibi Fani diakhiri sebuah pertanyaan.


"Tidak apa-apa, Bik," jawab Faylan mengakhiri makan malamnya. Tubuh yang lelah membuatnya langsung pergi ke kamar tanpa membantu bibi Fani dan pelayan lainnya di dapur.


Sampai di kamar, Faylan langsung naik ke atas ranjang, kemudian berbaring sambil memainkan ponselnya. Faylan ingin mengirimkan pesan dan bertanya kapan Allison pulang. Namun, ia tak berani melakukannya, pesan yang sudah ditulis kembali dihapus. Faylan pun memilih memejamkan mata sebentar dan tanpa sadar terlelap dengan nyenyak.


Faylan terbangun karena mendengar derap langkah seseorang. Masih di atas ranjang, Faylan menoleh ke kiri dan kanan. Faylan mengerutkan dahi karena kamarnya sangat gelap. Padahal, Faylan ingat tak mematikan lampu sebelum tidur.


"Tuan Son, anda sudah pulang?" tanya Faylan pada bayangan hitam yang berdiri di jendela sembari membelakanginya.


Tak ada sahutan, Faylan pun turun dari ranjang dan menghidupkan lampu duduk di atas meja. Sosok kekar persis perawakan Allison masih berdiri tegap di jendela. Faylan dapat melihat punggung kekar itu meski samar-samar.


"Tuan Son," panggil Faylan lagi. Sosok itu pun berbalik perlahan.


"Aaaakkhh!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2