Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 09 ~ Alergi


__ADS_3

Faylan membuka kedua mata, samar-samar ia melihat lengan kekar seseorang yang melingkar di atas dadanya. Saat pandangan matanya tak lagi buram, Faylan dikejutkan dengan kehadiran seorang pria bertelanjang dada yang memeluknya begitu erat.


"Aaahh!" teriak Faylan reflek menendang sang pria hingga berakhir mengenaskan di lantai.


"Akh!" ringisan pria pemilik suara bass menyadarkan Faylan bahwa yang ia tendang adalah suaminya sendiri.


"Tuan Son!" seru Faylan bergegas turun dari ranjang. Faylan kaget bukan main kala melihat punggung tangan Allison mengalirkan darah segar dari balik perban yang menutup lukanya.


"Tuan, anda terluka!"


Faylan mendekat dan bermaksud membantu Allison bangkit. Tapi, Allison justru menepis tangan mungilnya sambil membentak, "Minggir!"


Hanya tepisan biasa bagi Allison, tapi cukup membuat tubuh Faylan terhuyung dan terhentak ke pinggir ranjang, beruntung Faylan masih baik-baik saja dan tak terbentur sedikit pun.


Sementara Allison bangkit dengan sendirinya, kemudian melangkah kesal keluar dari kamar meninggalkan Faylan seorang diri. Sikap kasar Allison sama sekali tak menyakiti hati Faylan, ia justru merasa bersalah karena telah melukai Allison.


"Kapan dia terluka? Faylan penasaran bagaimana Allison mendapatkan luka di punggung tangannya. Bukankah seorang Prince dijaga, bagaimana dia bisa terluka? Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Faylan.


Faylan keluar dari kamar dan mencari keberadaan Allison. Tampak Allison tengah duduk di sofa ruang tamu, seorang dokter muda menjahit lukanya yang terbuka. Faylan bergidik ngeri melihatnya. Aneh, saat ia sendiri yang terluka, Faylan baik-baik saja dan tak merasa ngeri sedikit pun. Bagaimana bisa timbul perasaan ngeri sekaligus bersalah ketika melihat Allison terluka karenanya?


"Aku seharusnya tidak melakukan itu, bagaimana pun dia adalah suamiku. Jangankan tubuh, bahkan nyawaku adalah miliknya. Tapi, salah dia sendiri kenapa bisa tidur di kamarku?" gumam Faylan membela diri.


"Lupakan semua itu, yang harus aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya meminta maaf? Aku butuh dia untuk menyelidiki kematian ayah dan mencari tahu keberadaan Molina," lanjut Faylan berpikir keras.


Faylan tersenyum lebar kala memikirkan sebuah ide. Ia melangkah cepat menuju dapur karena berencana akan membuatkan kopi untuk Allison. Semenjak menikah Faylan tak pernah membuatkan kopi, kali ini ia akan melakukannya sebagai permintaan maaf.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya sang pelayan dengan sopan dan ramah.


"Aku hanya ingin membuat kopi, Bik. Aku bisa lakukan sendiri."


"Baiklah, Nona. Panggil saya bila nona membutuhkan sesuatu." sambungnya lagi, Faylan menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Hanya ada kopi biasa, semoga dia tetap suka."


Secangkir kopi special siap, Faylan membawanya ke ruang tamu. Dari kejauhan Faylan dapat melihat Allison yang masih duduk di sofa dan masih bertelanjang dada, Faylan dibuat gugup kala melihat otot-otot besar yang menghiasi tubuh kekar Allison. Dokter maupun asisten Juan sudah tidak terlihat. Sepertinya asisten Juan pergi mengantar sang dokter keluar.


"Tuan," panggil Faylan dengan suara yang sangat pelan, tapi masih terdengar oleh telinga tajam Allison.


Allison hanya menatap Faylan sekilas, kemudian menutup dokumennya di atas meja. "Apa?" singkat, padat, jelas. Allison menang irit bicara, suara bass sedalam lautan itu seakan sangat mahal. Meski begitu, Faylan sedikit lega karena Allison tak mendiamkannya.


"Silakan kopinya, Tuan Son," Faylan meletakkan secangkir kopi tepat di hadapan Allison yang sama sekali tak menoleh padanya.

__ADS_1


Allison menatap kopi itu lama, kemudian meraih dan langsung meneguknya sampai habis. Faylan menghela napas lega, setidaknya Allison tak melakukan apa yang pernah ayahnya lakukan, yaitu menyiram kopi hangat ke wajahnya.


"Meski irit bicara, tapi temperamen tuan Son tak seburuk ayah," gumamnya pelan.


Faylan reflek menutup mulut karena ketakutan saat Allison melemparkan tatapan tajam ke arahnya. "Sa-saya tidak mengatakan apa pun, Tuan."


"Pergi!"


"Ba-baik," Faylan membalikkan badan dengan cepat, tak lupa ia juga membawa cangkirnya yang telah kosong.


***


Pagi itu Faylan telah siap dengan seragam sekolahnya. Ia pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda, sementara Allison sudah berangkat ke perusahaan lebih dulu.


Saat di tengah perjalanan, Faylan menghentikan sepedanya karena ada panggilan masuk. Faylan mengerutkan dahi heran karena yang menghubunginya adalah asisten Juan. Faylan pun segera mengangkatnya.


"Hallo, ada apa, asisten Juan?"


"Minuman apa yang nona Fay berikan pada tuan?" tanya asisten Juan langsung ke inti permasalahan.


"Minuman?" Faylan mendadak ngebug.


"Oh, tadi pagi saya memberikan tuan Allison kopi sebagai permintaan maaf. Tapi, kenapa anda bertanya?"


"Astaga!" balas asisten Juan frustasi.


"Apa yang terjadi, asisten Juan?" tanya Faylan dengan wajah yang tiba-tiba pucat pasi.


"Tuan Allison alergi kafein! Mulai sekarang nona harus ingat hal itu!"


"Di mana Tuan Son sekarang?"


"Masih di jalan menuju Oesterian hospital."


Faylan langsung memutuskan panggilan sepihak, kemudian melajukan sepeda dengan kecepatan tinggi guna menyusul Allison yang sudah dibawa ke rumah sakit.


***


BRUK!


Tubuh Faylan berakhir di lantai rumah sakit usai didorong dengan kasar oleh Diona yang tak lain adalah neneknya Allison.

__ADS_1


"Aku kira kamu adalah gadis baik dan polos, sebaik dan sepolos menantuku, Cleona. Tapi, sepertinya aku salah. Karena kamu, aku hampir kehilangan cucuku!" bentak Diona yang masih terlihat awet muda dan kuat meski sudah memasuki usia 60 tahun.


Faylan sama sekali tak membela diri, ia mengakui kecerobohannya. Seharusnya ia bertanya dulu sebelum memberikan Allison kopi. Mendengar ratu Diona yang mengatakan Allison hampir kehilangan nyawa, Faylan semakin merasa bersalah. Bahkan, ia tak peduli dengan darah yang mengalir dari keningnya akibat terbentur sudut kursi.


"Dasar pembawa sial! Pergi kamu dari sini!" usir Diona murka. Bagaimana tidak, kondisi cucunya amatlah buruk sampai-sampai harus dibawa ke ruang icu.


"Izinkan saya bertemu dan melihat keadaan Tuan Son, nyonya."


Meski dikatai pembawa sial oleh nenek dari suaminya sendiri. Tapi, Faylan sama sekali tak bersedih karena hinaan sudah menjadi makanannya sehari-hari.


"Hampir merenggut nyawa cucuku dan sekarang kamu ingin melihatnya? Jangan harap! Juan, seret pembawa sial ini keluar!"


"Baik, nyonya."


Faylan tak berdaya saat dipaksa pergi oleh asisten Juan. "Saya ingin melihat kondisi Tuan, Son. Saya harus meminta maaf padanya, saya mohon izinkan saya bertemu dengannya, sebentar saja," Faylan memohon kepada asisten Juan.


"Jangan memperburuk keadaan, nona. Nyonya besar Diona sedang emosi, lebih baik nona pulang sekarang. Kondisi tuan Allison sudah lebih baik, ia sudah keluar dari ruang icu," jelas Asisten Juan membujuk Faylan.


"Benarkah?"


"Tentu saja, lebih baik sekarang nona pulang."


"Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada tuan Son."


"Baik, akan saya sampaikan."


Faylan pun mau tidak mau harus pulang ke rumah, karena ke sekolah pun percuma, ia sudah terlambat. Faylan juga tak akan bisa belajar dengan tenang sebelum meminta maaf secara langsung kepada Allison.


Faylan tak tahu bahwa Allison alergi kafein. Allison juga kenapa langsung meminum kopi buatannya? "Sebenarnya seperti apa sifat anda tuan Son?" gumam Faylan seraya mengayuh sepedanya menuju rumah.


Selain berpikir keras tentang Allison. Faylan juga berpikir dan membuat beberapa rencana. Faylan berencana untuk menjadikan rumahnya sebagai panti asuhan. Dengan begitu, adik-adiknya akan tinggal di tempat yang lebih layak.


Namun, rencana baiknya harus musnah begitu saja kala melihat kobaran api telah menghabisi rumahnya, kediaman Plavius.


"Ibu!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2