Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 23 ~ Sekali Lagi!


__ADS_3

"Sial!" umpat Allison langsung meraih kunci mobil dan bergegas keluar dari ruang kerjanya. Asisten Juan yang tak sengaja melihat tuannya berlari, langsung menyusul.


Asisten Juan menyusul dengan menggunakan mobilnya sendiri, karena tuannya telah lebih dulu melaju dengan kecepatan tinggi.


Allison terus melaju kencang, tak peduli dengan pengendara lain yang hampir bertabrakan karena ulahnya. Allison mengendarai mobil seraya mengangkat panggilan darurat dari nomor pengawal khusus yang melindungi Faylan dari kejauhan.


"Dari mana saja kau!?" bentak Allison.


"Tuan Son."


Ckitt!


Allison menginjak rem mendadak tepat di tengah jalan, membuat macet lalu lintas. Suara bising dari klakson tak ia dengarkan karena fokusnya hanya tertuju pada suara sang istri di seberang sana.


"Faylan di mana kamu?" tanya Allison cepat.


"Tuan Son, tolong saya. Ponsel saya jatuh dan rusak, ini saya ... saya...." rengek Faylan membuat Allison semakin panik.


"Di mana!?"


"Ja-jalan ma-war."


Allison kembali tancap gas dengan kecepatan tinggi.


Saat sampai di tempat tujuan, Allison keluar dari mobil dengan terburu-buru. Terlihat Faylan tengah duduk memeluk diri di trotoar jalan, Allison berlari menghampiri.


"Akhirnya tuan Son da—"


"Kau terluka? Mana yang terluka? Mana?" tanya Allison seraya memeriksa tubuh sang istri.


"Tuan, saya baik-baik saja. Hanya saja—"


"Syukurlah," potong Allison langsung memeluk Faylan erat.

__ADS_1


"Tuan Son, tolong seorang pria di dalam mobil itu. Tadi ada beberapa orang yang menyerang dan dia melindungi saya," pinta Faylan seraya menunjuk ke arah mobil yang telah rusak di bagian depannya.


Bukannya mendengarkan apa yang Faylan katakan, Allison justru menggendong dan membawa Faylan ke mobilnya.


"Tuan Son, pria di sana terluka karena saya," ucap Faylan lagi.


"Juan akan mengurusnya, aku perlu menghukummu," balas Allison seraya memberi perintah lewat tatapan matanya kepada asisten Juan yang baru saja tiba.


Selama di dalam mobil, Faylan hanya mematung hingga mobil berhenti di depan spring mansion. Faylan langsung keluar dari mobil, ia pasrah ketika Allison kembali menggendongnya ala bridal. Faylan tampak ketakutan karena tatapan tajam Allison berkali-kali lipat lebih mengerikan saat sedang marah.


BRAK!


Allison menutup pintu kamar dengan kakinya. Faylan menelan saliva bersusah payah. "Aku tidak akan melepaskanmu!" Allison membaringkan Faylan ke atas ranjang di kamarnya sendiri.


Allison merangkak naik ke atas ranjang.


"Tunggu, tuan. Sepeda saya," Faylan menahan dada bidang Allison.


"Kamu tidak akan menggunakannya lagi!" Allison mulai melucuti bajunya sendiri.


Cup


"Hukuman macam apa ini!?" jerit Faylan dalam hati ketika Allison kembali menggagahinya sore itu.


***


"Bagaimana kondisinya?" tanya Allison yang duduk di sofa dengan jubah mandi menyelimuti tubuh kekarnya. Ia baru saja selesai mandi setelah memberikan hukuman hingga membuat Faylan tak berdaya.


"Operasi berjalan baik dan sekarang kondisinya mulai membaik, tuan. Untuk sementara akan dirawat di rumah sakit," balas asisten Juan di seberang sana.


"Kau tahu siapa dalangnya?"


"Masih pelaku yang sama, tuan," jawabnya lagi.

__ADS_1


"Kapan bajingan itu akan muncul!" umpat Allison murka.


"Carikan pengawal yang lebih handal. Jangan hanya satu, kirimkan beberapa orang. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi," lanjut Allison serius sembari menatap Faylan yang terlelap dengan wajah lelahnya.


"Siap, tuan."


Panggilan Allison matikan, ia bangkit kemudian duduk di pinggir ranjang seraya mengusap lembut puncak kepala Faylan. Satu kecupan mendarat di kening sang istri, Faylan hanya beringsut kemudian melanjutkan tidurnya.


"Bangun dan makan malam dulu," pintanya, tapi Faylan tak merespon.


"Apa masih sakit?" masih tak terdengar sahutan. Allison meraih salep di dalam laci, kemudian naik ke atas ranjang.


"Tuan mau apa!?" tanya Faylan panik.


Allison tak mengedipkan mata kala melihat dua gundukan Faylan yang menjuntai menantangnya. Menyadari hal itu, Faylan meraih selimut dan langsung menutupi dada seadanya.


Allison menggelengkan kepala kemudian menghela napas panjang, berusaha menyurutkan hasrat yang kembali menggebu.


"Mengoleskan salep ini, berbaring dan buka pahamu," titah Allison siap dengan posisinya.


Faylan tampak ragu, tapi ia pun patuh dan melakukan apa yang Allison pinta. Allison mulai mengoleskan salepnya di bawah sana. Begitu selesai, Faylan langsung menutup kedua pahanya lagi. Tapi, Allison justru menahannya.


"Sekali lagi."


"TIDAK....


.


.


.


__ADS_1


Ketagihan dia🙄


__ADS_2