Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 14 ~ Berikan Hakku!


__ADS_3

PLAK!


Tak hanya Faylan yang kaget, tapi Allison juga kaget atas apa yang sudah ia lakukan. Allison langsung menyingkir dari atas tubuh Faylan. Sementara Faylan masih mematung dengan pipi sebelah kiri memerah serta darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


BRAK!


Allison masuk ke dalam kamar mandi, ia menutup pintu sekuat tenaga hingga menimbulkan suara yang membuat Faylan tak sanggup membendung air mata.


Faylan mengusap darah di bibir serta air matanya dengan kasar. Setelah itu, ia langsung pergi sebelum Allison keluar dari kamar mandi.


***


Keesokan harinya, Faylan tak pergi sekolah. Tamparan Allison memang tak melukai dan membekas di pipinya. Namun, berhasil melukai dan membekas di hatinya. Untuk masalah kali ini, Faylan merasa tak bersalah. Ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Dia tidak berhak marah padaku hanya karena menjual tubuh untuk mendapatkan uang. Dia tidak berhak marah karena dia tidak pernah memberiku uang. Walau pun hanya seorang Unlucky Bride. Tapi, saat ini aku tetap berstatus sebagai istri sahnya," keluh Faylan yang masih terisak di dalam selimut.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan selain menjual diri? Dia tidak berhak menamparku," lanjutnya masih mencari letak kesalahan yang ia lakukan.


"Kenapa pula kamu harus bersedih Faylan. Ini bukan pertama kalinya kamu ditampar," Faylan menyeka air mata, sayangnya air mata itu kembali mengalir dengan sendirinya.


Deerrtt....


Ponsel yang bergetar mampu membuat Faylan bangkit dari keterpurukannya. Panggilan masuk dari dokter yang merawat Deo, adiknya. Faylan langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa, dokter? Apa yang terjadi?" tanya Faylan khawatir. Kesedihannya seketika menghilang digantikan dengan perasaan khawatir terhadap kondisi sang adik.


"Kondisi Deo memburuk dan harus dioperasi. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi," balas sang dokter diseberang sana. Faylan kembali menitikkan air mata.


"Berapa biayanya, Dokter?" tanya Faylan tanpa basa-basi.


"Perkiraan saya sekitar 200 juta, Nona."


"Siapkan segera, saya akan datang dan membawa uangnya," ujar Faylan langsung memutuskan panggilan.


"Aku tidak punya pilihan lain, dia harus mengganti rugi karena sudah menggagalkan rencanaku untuk mendapatkan uang!" Faylan melangkah cepat keluar dari kamarnya.


"Bibik Fani!" seru Faylan menghentikan langkah bibi Fani yang terlihat membawa sebuah nampan berisikan segelas air dan semangkuk bubur.


"Ada apa nona?"


"Bibi mau ke mana?"


"Saya mau ke kamar tuan muda memberikan bubur ini untuknya," balas bibi Fani dengan ekspresi wajah khawatirnya.


"Sejak kapan tuan Son makan bubur?" tanya Faylan heran.


"Ini adalah perintah asisten Juan, nona. Asisten Juan bilang tuan demam tinggi, jadi harus makan bubur sehat untuk minum obat," terang bibi Fani membuat Faylan kaget.


"Demam tinggi. Kalau begitu biar saya yang bawakan bubur ini untuknya."


"Tentu nona, silahkan," dengan senang hati bibi Fani menyerahkan nampannya kepada Faylan.


"Terima kasih, Bi."


"Sama-sama, nona."


***


Tok, tok, tok!


"Nona Fay ... silahkan masuk," asisten Juan membukakan pintu dan mempersilahkan Faylan masuk. Begitu Faylan masuk, asisten Juan langsung pergi dan tak lupa menutup pintu.


"Tuan Son," panggil Faylan lembut, ia menatap kasihan pada Allison yang terlihat tak berdaya. Tanpa wajah pucat itu, maka Faylan tak akan percaya bahwa Allison juga bisa sakit.

__ADS_1


"Pria aneh ini, aku yang ditampar dia yang demam."


Melihat kedatangan Faylan, Allison berusaha bangkit.



"Tidak perlu, tuan. Berbaring saja."


"Kamu pikir aku selemah itu?" Faylan menggelengkan kepala.


"Kukira demam akan membuatnya sedikit lembut, rupanya sama saja," gumam Faylan pelan.


"Apa?"


"Bukan apa-apa, tuan. Maksud saya, saya akan menyuapi tuan makan," ungkap Faylan tersenyum manis.


"Lakukan!"


"Baik, tuan," jawab Faylan mulai mengarah sendok berisi bubur ke mulut Allison.


"Kau tidak lihat asapnya?"


"Asap?" Faylan melihat ke bubur di sendoknya.


Melihat Faylan yang tak mengerti, Allison pun berkata, "Kau ingin membakar mulutku? Tiup dulu!"


"Oh iya, maaf tuan," Faylan meniup bubur itu terlebih dahulu, setelah dirasa cukup barulah ia menyuapi pada Allison. Allison melahapnya dengan nikmat.


"Bagaimana dengan pipimu?" tanya Allison hampir tak terdengar.


"Pipi? Oh pipi saya yang tuan TAMPAR?" Faylan menekan kata tampar, sengaja membuat Allison merasa bersalah atas apa yang dilakukan terhadapnya.


"Saya sudah terbiasa ditampar, dipukul, ditendang, dijambak, diseret, dicakar. Jadi, saya baik-baik saja," jawab Faylan dengan entengnya, sementara Allison mengepalkan kedua tangan hingga memutih.


"Kenapa, tuan? Tuan baru makan dua sendok," protes Faylan.


"Aku bilang cukup ya cukup!"


"Baik, tuan. Tapi, tuan harus minum obat," bujuk Faylan. Allison merebut sebutir pil di tangan Faylan, kemudian mengunyahnya tanpa minum. Faylan meneguk saliva bersusah payah. Allison yang minum obat, ia yang merasakan pahitnya.


"Kenapa?" tanya Allison singkat.


"Kenapa apanya, tuan?" tanya balik Faylan tak mengerti.


"Kau kemari tidak mungkin tidak ada alasan, bukan?"


"Oh iya. Itu tuan ... Saya ... Saya mau minjam uang," ucap Faylan pada akhirnya.


"Berapa?" tanya Allison tanpa menoleh.


"200 juta."


"Ini!" Allison melempar sebuah kartu berwarna hitam ke pads Faylan.


"Tuan, saya ingin pinjam uang. Kalau kartu seperti ini saya juga punya banyak," protes Faylan.


"Jangan sok polos. Sebelumnya kamu juga putri dari keluarga kaya raya. Mana mungkin tidak tahu kegunaan blackcard."


"Tuan, saya ini adalah putri yang tidak diinginkan dan ibu saya adalah istri yang tidak diharapkan. Meski ayah saya kaya raya, mana mungkin dia membiarkan kami berdua menikmatinya," balas Faylan menyadarkan Allison.


"Itu adalah kartu tanpa batas, kamu bisa gunakan untuk apa pun," terang Allison singkat.


"Benarkah? Apa kartu ini bisa membuat saya tidak lagi menjadi Unlucky Bride?" Allison memberikan tatapan elangnya.

__ADS_1


"Hehe ... Saya bercanda, tuan."


"Keluar!"


"Baik, tuan. Semoga tuan cepat sembuh. Terima kasih kartunya."


"APA!" Faylan dan juga Allison kaget akan kehadiran Diona.


Diona melangkah cepat, kemudian merebut kartu hitam di tangan Faylan. Faylan hanya melongo kaget.


"Dasar pembawa sial!" Diona mengayunkan tangan dan siap menampar Faylan.


Namun, tangannya menggantung di udara karena Allison menahannya. "Apa yang kamu lakukan, Allison! Lepaskan nenek! Pembawa sial ini sengaja memanfaatkanmu!" bentak Diona murka.


"Faylan pergilah," usir Allison. Faylan pun langsung melesat pergi tanpa membawa uang sepeser pun. Dan kartu hitam yang diberikan oleh Allison telah direbut oleh Diona.


Karena kondisi sang adik sudah sangat parah, operasi pun berjalan. Faylan berhasil mendapat keringan dengan menyicil biaya operasi. Hari itu juga Faylan mendonorkan salah satu ginjalnya untuk menyelamatkan nyawa Deo, adik yang terlahir dari rahim ibu tirinya.


***


Allison kembali mengabaikan sang nenek yang rela datang karena khawatir kala mendengar sang cucu tengah demam tinggi. Allison pergi ke rumah sakit untuk menyusul Faylan.


"Percepat!" seru Allison kepada asisten Juan yang tengah fokus mengemudikan mobil menuju rumah sakit.


"Baik, Tuan," asisten Juan pun menaikkan kecepatan mobil hingga sampai di rumah sakit. Allison datang terlambat, ia datang ketika operasi telah berjalan dan mana mungkin dihentikan.


"GAGAL!" bentak Allison membulatkan mata sempurna kala mendengar pernyataan dokter yang bertanggung jawab menangani operasi Faylan dan adiknya.


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang kalau sampai terjadi sesuatu pada Faylan!" Allison mencengkram kerah baju sang dokter dengan kasar.


"Maafkan saya, tuan. Nona Faylan baik-baik saja dan telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Tapi, kami tidak bisa menyelamatkan adiknya, ginjal yang nona Faylan donorkan ditolak," jelas sang dokter membuat Allison sedikit lega, meski merasa kasihan pada nasib adik Faylan yang telah tutup usia.


Ketika Faylan sadar, ia langsung menanyakan kondisi adiknya. Dengan berat hati Allison mengatakan kebenarannya. Faylan terdiam seribu bahasa, tatapannya kosong, air mata mengalir tanpa ia sadari. Faylan frustasi kehilangan adiknya. Ia menjalani harinya bagaikan mayat hidup. Namun, Allison setia menemani.


Sejak kejadian itu Allison memang banyak berubah. Beberapa hari kemudian kondisi Faylan sudah membaik, dokter terbaik serta pengobatan tercanggih mampu membuat luka operasi Faylan sembuh total. Bahkan, bekas jahitan pun pudar dengan ajaib. Faylan tak tahu berapa banyak uang yang telah Allison keluarkan untuknya.


Setelah sembuh, Faylan kembali ke sekolah seperti biasa. Akan tetapi, semua pakaian bahkan sepedanya telah Allison perbaiki. Allison marah besar setelah mengetahui bahwa selama ini Faylan tak pernah makan dengan benar. Sejak dibolehkan menggunakan dapur, Faylan sering masak di rumah. Allison menyukai masakan Faylan. Allison sering pulang ke rumah.


Malam itu, Faylan yang baru saja selesai mandi dikagetkan dengan kehadiran Allison yang sudah berbaring di atas ranjang. Seperti biasa ia sudah bertelan jang dada. Beruntung Faylan telah mengenakan piyama.


"Kemarilah," panggil Allison. Faylan menelan saliva bersusah payah. Tapi, ia tetap melangkah kemudian duduk di pinggir ranjang. Allison menepuk kasur di sebelahnya, meminta Faylan untuk berbaring di sana. Faylan patuh melakukan apa pun yang Allison perintahkan.


Faylan merasa sangat gugup. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini Allison begitu banyak berubah. Meski tetap dingin, tapi ia begitu perhatian dan merawatnya dengan baik.


"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Allison seraya merapikan anak rambut Faylan yang berantakan.


"A-apa itu, tuan?" tanya Faylan gugup, jantungnya berdegup tak terkendali, ia bahkan tak berani menatap Allison yang begitu dekat dengannya.


"Berikan hakku."



Deg!


.


.


.



Kumat lagi dia, Guys. Gak pakai baju dia🙄 Ampun dah bang, gak dilihat mubazir😭

__ADS_1


__ADS_2