Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 41 ~ Nasi Goreng


__ADS_3

Dua minggu berlalu, tak banyak yang berubah. Hanya saja, Tina sudah dijadikan layaknya asisten pribadi oleh Diona dan sering dibawa berpergian. Mereka jarang di rumah, begitu pun Allison yang tak lagi pernah menampakkan batang hidungnya usai mengirim Faylan ke istana utama yang baginya adalah tempat teraman untuk sang istri.


Sayangnya, Allison tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya menjadi tempat teraman, Faylan justru dibuat semakin menderita. Tini semakin berkuasa. Tak hanya Faylan yang ia perlakukan dengan buruk, tapi juga pelayan lain, khususnya di bagian dapur, karena di bagian lain bukan kekuasaannya. Setiap bagian memang memiliki tim pelayannya masing-masing.


Setelah ujian beberapa waktu lalu, sekolah pun diliburkan. Faylan dipaksa bekerja setiap waktu tanpa jeda. Faylan tak membantah, ia melakukannya dengan senang hati meski kondisinya kian hari kian memburuk. Tak ada satu pun yang peduli kepada Faylan, sekali pun kepala pelayan. Karena jelas semuanya berada di pihak Diona. Hanya Tina yang memperlakukan Faylan dengan baik.


Beberapa kali Faylan melakukan percobaan bunuh diri. Tapi, selalu gagal karena jauh dari lubuk hati, ia masih berharap ada kebahagiaan untuknya. Pagi itu, Faylan memutuskan untuk bangun lebih dulu sebelum Tini kembali menyiramnya. Faylan masuk ke dalam kamar mandi, ia membersihkan diri dan bersiap.


Akibat jarang makan, kram di perutnya semakin sering terjadi. Bahkan akhir-akhid ini Faylan sering muntah. Meski begitu, Tina selalu merawatnya dengan baik meski tidak setiap waktu.


Sebelum pergi ke ruang setrikaan, Faylan memilih sarapan terlebih dahulu sebelum perutnya kram dan kembali mual. Sampai di dapur Tina menyambut kedatangannya. Menu sarapan pagi itu adalah roti isi. Faylan mual melihatnya, ia pun meminta izin kepada Tina untuk memasak nasi goreng. Tina mengizinkan dan ia pun mulai berperang dengan peralatan dapur. Tina membantunya mengupas bawang dan lain-lain.


Setelah nasi goreng buatannya siap, Faylan pun menghidangkannya ke atas meja makan. Belum duduk di kursi, Tini memanggilnya untuk meminta pertolongan. Kebetulan hari itu ada Tina dan nyonya Diona. Tini pun tak berani memberikan Faylan pekerjaan yang berat. Ia hanya meminta tolong agar Faylan membantunya menjemur pakaian.

__ADS_1


Setelah selesai, Faylan kembali ke ruang makam, ia duduk di kursi yang biasa ia duduki. Tepat di hadapannya sudah ada nyonya Diona yang menatapnya dengan dahi yang berkerut.


"Kau kenapa?" tanya Diona penasaran kala melihat wajah Faylan yang pucat persis seperti mayat hidup.


"Saya baik-baik saja, Nyonya. Maaf kalau penampilan saya membuat nyonya jijik, kalau begitu saya akan kembali ke kamar terlebih dulu," Faylan bangkit dari duduknya.


"Tunggu!" cegat Diona.


"Iya, nyonya."


"Terima kasih banyak, nyonya," balas Faylan kembali duduk dan melahap sepiring nasi goreng buatannya. Sementara Diona sudah menghabiskan sarapannya, tapi ia terus menatap Faylan sedari tadi. Faylan dibuat tidak nyaman.


"Apa benar menu nasi goreng hari ini kamu yang masak?" tanya nyonya Diona membuat Faylan ketakutan. Takut dimarahi karena menggunakan dapur dan bahan makanan tanpa izin.

__ADS_1


"I-iya, nyo-nyonya," jawab Faylan gugup.


"Besok buat lagi," ucapnya bangkit kemudian melangkah pergi.


Sebelum benar-benar pergi, nyonya Diona memanggil Tina.


"Iya, nyonya," sahut Tina langsung mendekat.


"Panggil dokter dan obati dia," titahnya membuat Faylan terdiam, berbeda dengan Tina yang tersenyum senang karena nasi goreng buatan Faylan berhasil meluluhkan hati nyonya besarnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2