Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 29 ~ Terungkap


__ADS_3

"Ayah! Apa maksudmu, Allison? Tadi kau mengatakan Faylan diculik oleh ayahku dan sekarang kau mengungkapkan bawah Faylan adalah putri kandung ayahku. Jangan membuat lelucon yang tidak masuk akal! Ini sama sekali tidak lucu! Lagian kau tahu aku tidak punya adik yang hilang, bagaimana mungkin Faylan adalah adikku?"


Fakta yang Allison ungkap secara tiba-tiba tentu sulit diterima begitu saja oleh Melvin.


"Ini buktinya!" tegas Allison singkat sembari mengulurkan sebuah dokumen kepada Melvin. Melvin menerimanya dengan ragu, kemudian langsung membuka dan membacanya seksama.


Sepersekian detik kemudian, Melvin membulatkan mata sempurna. Kepalanya menggeleng tak percaya.


"Jadi, Faylan benar-benar adalah adik kandungku?" tanya Melvin menatap Allison penuh tanda tanya.


"Lebih tepatnya satu ayah beda ibu," lanjut Allison membuat Melvin semakin tak mengerti.


"Apa maksudmu, Allison? Katakan dengan jelas."


"Torres adalah pria yang memperkosa Maria ibunya Faylan. Takut kehilangan harta ibumu, Torres menggunakan bawahannya yang tak lain adalah Redmir sebagai kambing hitam, dengan jaminan perusahaan Plavius," terang Allison sesuai fakta yang telah ia usut.


"Tidak mungkin, ayahku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu," Melvin menggelengkan kepala tak percaya.


"Ikut aku!"


Tanpa banyak bicara Allison langsung menyeret paksa sang sahabat yang matanya masih dibutakan oleh topeng yang dikenakan oleh Torres yang licik dan kejam. Melvin pasrah mengikuti Allison untuk membuktikan kebenaran yang diungkap padanya.


Hampir satu jam perjalanan, mereka pun tiba di sebuah bar mewah yang menjadi tempat persembunyian Torres untuk bersenang-senang dengan para wanita bayaranya.


Para bawahan Torres sama sekali tak berkutik melihat kedatangan Allison, Torres, dan asisten Juan yang turun dari mobil kemudian memasuki bar dengan santai.


Mereka bertiga melangkah cepat menuju sebuah kamar, kemudian berhenti di ambang pintu yang sedikit terbuka. Asisten Juan siap dengan kamera ponselnya, sementara Allison tengah menahan kekesalan kala melihat istrinya terikat di atas ranjang. Berdiri di sana, Melvin dapat mendengar ucapan sang ayah yang tengah membelai wajah Faylan dengan pisau di tangannya.


"Aku adalah ayah kandungmu, Faylan sayang. Aku adalah pria yang memperkosa dan membunuh ibumu. Kau pasti membenciku, bukan? Apa sekarang kau takut padaku?" tutur Torres membuat Faylan menatapnya tajam dengan ekspresi wajah benci.

__ADS_1


"Baiklah, karena kau tidak takut, maka sekarang saatnya kau menyusul ibumu!"


DOR!


"Aaargh!"


Jeritan kesakitan, tapi bukan Faylan. Melainkan jeritan Torres yang kesakitan kala peluru tertanam di dalam betisnya. Ia terjatuh ke lantai dengan ceceran darah mengalir deras. Senjata pisaunya kalah cepat dengan pistol milik Allison.


Saat menoleh ke belakang, Torres dibuat ketakutan akan kehadiran Allison dan juga putranya Melvin yang mendekat ke arahnya, dengan membawa senjata api di tangan kanannya.


"Juan, lepaskan Faylan!" titah Allison. Asisten Juan bergerak cepat melepas ikatan di kaki dan tangan Faylan, kemudian membawa dan mengamankannya. Pengawal kerajaan yang baru datang langsung menangkap dan membawa pergi wanita bayaran serta bawahan Torres. Mereka semua dibawa ke markas. sementara asisten Juan membawa Faylan ke rumah sakit.


"Ayahmu ini mau diapakan, Melvin?" tanya Allison menatap Torres rendah.


Meski ingin membunuh Torres detik itu juga, tapi Allison tetap menghormati sahabatnya, karena bagaimana pun Torres adalah ayah kandung Melvin.


"Aku tidak percaya hukum di luar sana, untuk itu aku serahkan padamu. Jangan sampai dia datang ke hadapanku apalagi ibuku, aku tidak memiliki ayah seorang penjahat," jawab Melvin langsung pergi tanpa menoleh pada sang ayah sedikit pun.


"Apa kau juga membunuh Redmir?" tanya Allison serius.


"Aku juga penasaran siapa yang membunuhnya," balas Torres jujur.


"Sepertinya kau punya musuh lain, hehe ... Walau membunuhku, kau tidak akan hidup tenang. Cepatlah, bunuh aku sekarang juga! Bunuh aku!" lanjut Torres tersenyum miring.


"Benarkah? Menurutmu siapa yang akan menang? Aku atau musuhku?" tanya Allison meraih pisau milik Torres yang tergeletak di lantai.


Wajah Allison merah padam kala mengingat adegan saat Torres menggores pipi berharga istrinya.


"Haha ... Kau menyukai putriku, jangan lupakan aku adalah mertuamu," ucap Torres gamblang.

__ADS_1


"Aku lebih suka mendengar teriakanmu daripada tawamu," Allison mulai membuat lukisan di sekujur tubuh Torres dengan menggunakan pisau. Teriakan serta rintihan kesakitan Torres menjadi candu bagi Allison.


"Edwin!" panggil Allison pada pengawalnya usai puas membuat wajah dan tubuh Torres tak berbentuk.


"Iya, Tuan."


"Bawa dan penjarakan dia! Siksa tapi jangan biarkan mati," titah Allison tegas.


Semula Allison memang ingin melenyapkan Torres detik itu juga. Tapi, Allison mengurungkan niatnya setelah tahu Torres memiliki bayangan tentang sosok misterius yang membunuh kedua orangtuanya.


Allison pulang dengan pengawal lain karena asisten Juan telah lebih dulu pulang membawa Faylan yang terluka.


Di dalam mobil.


"Apa sudah ada yang membuka mulut?"


"Sudah, tuan. Saya mendapat info bahwa salah satu dari bawahan Torres mengatakan kalau mereka tidak membunuh tuan Redmir. Mereka hanya menggertaknya untuk membunuh nona Faylan," jelas sang pengawal yang mengemudikan mobil.


"Jadi, yang membunuh Redmir, membakar kediaman Plavius, dan meracuni anak panti bukanlah Torres?"


"Benar, tuan."


"Sudah kuduga," lanjut Allison kecewa karena musuh yang sesungguhnya belum menampakkan wujudnya.


"Siapa kau sebenarnya, kerapat!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2