
Sampai di rumah sakit kerajaan, Allison langsung menuju ruang rawat inap istrinya. Saat ia datang, sudah ada Melvin yang duduk di sebelah Faylan. Sementara Faylan telah istirahat karena kelelahan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Allison kepada sang sahabat.
"Kau cemburu? Jangan lupakan bahwa aku ini kakaknya," balas Melvin membuat Allison sadar.
"Dokter bilang apa?" tanya Allison mengambil posisi duduk di pinggir brankar seberang Melvin.
"Dokter mengatakan bahwa Faylan hanya istirahat, lebih baik jangan mengganggunya," Melvin mengingatkan.
"Aku tahu itu, lebih baik kau pulanglah dulu. Ini sudah larut malam, katakan pada istrimu bahwa kakaknya baik-baik saja. Besok berkunjunglah bersama istrimu," tutur Allison.
Melvin pun bangkit dari duduknya. "Terima kasih untuk semuanya, maaf karena sempat tidak percaya padamu," ucap Melvin tulus.
"Aku sahabatmu dan sudah seharusnya begitu. Oh iya, kalau kau perlu video pengakuan ayahmu, minta pada asisten Juan."
"Baiklah aku pulang sekarang, jaga Faylan."
"Tentu saja, kakak ipar," ledek Allison membuat Melvin menatapnya tajam.
***
Keesokan harinya, Allison kaget karena tak melihat Faylan ketika membuka mata. Melihat pintu kamar mandi tertutup, barulah ia merasa lega.
"Faylan, kamu di dalam?" tanyanya sedikit berteriak.
Faylan tak menjawab, tapi langsung membuka pintu kamar mandi. Allison reflek membawa sang istri hingga kembali duduk dengan nyaman di brankar. Allison tampak khawatir karena Faylan hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?"
Faylan menggelengkan kepala, Allison langsung meraih dan membenamkan wajah sang istri ke dalam dekapan dadanya. Kali ini Allison senang karena Faylan jujur padanya. Allison mengelap air mata sang istri sebelum mengenai dan membasahi pipinya yang diperban.
"Tuan Son," panggil Faylan pelan, hampir tak terdengar.
"Apa?"
"Aku tidak ingin mengingatnya, tolong hilangkan ingatanku tentangnya," mohon Faylan mengeratkan pelukan.
"Tentu saja, aku pasti akan memanggil dokter terbaik untuk menghilangkan bekas luka di pipimu," Allison mengusap pelan pundak sang istri.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Ketukan pintu memisahkan keduanya, Allison tampak kesal. Sementara Faylan langsung merebahkan tubuh lemahnya. Allison bangkit, kemudian membuka pintu.
"Maaf mengganggu, tuan. Ini sarapan untuk nona," seorang suster mengulurkan sarapan khusus untuk Faylan. Allison menerimanya, kemudian membawanya masuk.
Pagi itu, Allison merawat Faylan dengan baik. Menyuapi sarapan, bahkan membantu mengelap tubuh Faylan.
"Biar saya sendiri, tuan," cegat Faylan ketika Allison ingin mengelap dua gundukannya.
"Kamu sakit, mana mungkin aku tega memakanmu," bujuk Allison, Faylan tak dapat berbuat apa pun. Ia pasrah saat Allison mengelap bagian sensitifnya. Tak hanya dua gundukan, tapi juga bagian sensitifnya di bawah sana.
Meski harus menahan malu, setidaknya Allison menepati janji. Ia tak melakukan hal-hal di luar batas meski tangan laknatnya terkadang lepas kendali. Faylan aman hingga Allison mengenakannya pakaian.
__ADS_1
"Pil apa?" tanya Faylan curiga saat melihat Allison menelan sebuah pil. Pil yang sama yang diminum oleh Melvin. Apa lagi kalau bukan pil penahan hasrat. Melihat pemandangan indah, tentu hasratnya menggebu-gebu. Pusing teramat sangat akan Allison rasakan bila tidak meminum pil tersebut.
"Bukan apa-apa," balas Allison meneguk sisa minuman Faylan.
"Maaf tidak bisa membantumu, saat aku sembuh nanti tidak perlu minum pil itu lagi," tentu Faylan tahu apa tujuan sang suami meminum pil tersebut.
"Aku yang seharusnya minta maaf, bukan kamu. Tidak seharusnya aku egois," jawaban Allison membuat Faylan tersenyum manis.
Siang itu Faylan bahagia karena kedatangan Daisy. Keduanya berbincang lama, Daisy menitipkan salam dari anak panti. Daisy kaget sekaligus senang saat Melvin mengatakan bahwa ia dan Faylan adalah saudara seayah.
Allison dan Melvin duduk berhadapan di sofa yang jaraknya cukup jauh dari istri mereka.
"Aku tidak akan menceraikan Daisy. Bagaimana denganmu?" tanya Melvin membuka pembicaraan.
"Entahlah," balas Allison asal.
"APA?"
.
.
.
Berani php'in Faylan, ku sunat kau bang🙄
__ADS_1