
"Apa tuan merasa risih dengan bekas luka di sekujur tubuh saya?" tanya Faylan dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan salah paham, bukan begitu maksudku," balas Allison panik.
"Lalu apa?"
"Setiap kali ingin menyentuhmu, aku tidak tega melihatnya. Kamu tetap cantik di mataku," jelas Allison tanpa melihat Faylan karena merasa geli dengan kata-katanya sendiri.
Setiap kali berhubungan, Allison sangat menikmati hingga kecanduan dan tak pernah merasa puas. Namun, bekas luka di sekujur tubuh Faylan membuatnya tak nyaman. Memikirkan apa saja yang terjadi kepada sang istri hingga mendapat luka itu, membuat hatinya terasa perih.
"Bolehkah saya meminta sesuatu?" tutur Faylan serius.
"Tentu saja, katakanlah," balas Allison.
"Beberapa bekas luka didapat bersama dengan ibu saya. Mungkin membuat tuan jijik, tapi bekas luka ini sangat berharga, ada kenangan antara saya dan ibu di dalamnya," ungkap Faylan menahan air mata.
Mendengar ungkapan Faylan, Allison langsung memeluknya dengan sangat erat. Diam-diam Allison menyeka kasar air matanya, hatinya sakit mendengar penuturan sang istri.
"Aku sama sekali tidak jijik, aku bersumpah kau sangat nikmat. Mulai sekarang lupakan kenangan buruk itu, kamu hanya perlu mengingat kenangan indahnya saja," balas Allison melepaskan pelukannya, ia menatap Faylan penuh cinta dengan kedua tangan kekar menggenggam erat bahu Faylan.
"Tuan, seumur hidup bersama dengan ibu, kami tidak pernah mendapat kenangan indah, setiap saat hanya rasa sakit. Kenangan buruk itu adalah kenangan indah bagi saya. Saya mohon, jangan hilangkan kenangan indah di tubuh saya," mohon Faylan lagi.
Allison bangkit, membalikkan badan, mengusap rambut hingga wajah. Kemudian menggendong Faylan dan membawanya pulang.
"Maaf, tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Ketahuilah, bekas luka itu sama sekali tidak mempengaruhi rasamu," jelas Allison sambil mengemudikan mobil.
"Saya mengerti, tuan. Terima kasih karena mau menuruti keinginan saya."
"Sama-sama."
__ADS_1
Allison membawa Faylan pulang, kemudian ia kembali ke perusahaan. Allison tak mengizinkan Faylan pergi ke mana pun tanpa seizinnya. Faylan menggunakan waktu untuk memulihkan tubuhnya, ia beristirahat seharian.
Sore menjelang malam barulah Faylan bangun dan kembali bersemangat. Sakit di bawah sana tak lagi dirasa. Pintu kamarnya diketuk, Faylan segera membukanya.
"Masuklah, Bik."
"Tidak perlu, nona. Saya hanya ingin memberikan ini kepada nona," tutur bibi Fani seraya mengulurkan dua buah totabag. Faylan menerimanya dengan heran.
"Apa ini, Bik?"
"Itu adalah guan dan heels baru yang dipilih langsung oleh tuan muda," jawab bibi Fani tersenyum simpul.
"Gaun dan heels?" Faylan tak mengerti.
"Iya, Nona. Sekarang juga nona mandi dan segera bersiap, sebentar lagi tuan muda akan datang menjemput," lanjut bibi Fani menerangkan.
"Menjemput?"
"Jamuan makan malam?" Faylan masih loading akibat baru bangun tidur.
"Benar, lebih baik nona bersiap-siap sekarang. Jangan sampai tuan muda menunggu lama," desak bibi Fani takut akan amukan tuan mudanya.
"Ba-baiklah," jawab Faylan patuh.
Tak butuh waktu lama, Faylan telah siap dengan gaun tertutup dan heels setinggi tiga sentimeter. Tanpa riasan wajah, Faylan tetap tampil mempesona. Faylan berjalan menuju ruang tamu di mana Allison telah menunggunya.
Melihat kedatangan sang istri, Allison langsung bangkit dengan ekspresi kagumnya. Meski sudah memilihkan gaun paling sederhana dan tertutup, Faylan tetap saja bersinar. Pakaian apa pun akan melekat sempurna di tubuh seksinya yang berukuran tak biasa.
Jika tidak ingat ada janji, maka saat ini Allison telah menerkam sang istri dengan brutal.
__ADS_1
"Saya siap tuan," ucap Faylan dengan suara yang masih serak meski sudah diberikan ramuan tradisional oleh bibi Fani.
"Kita berangkat sekarang," Allison memberikan lengannya untuk Faylan gandeng.
Di dalam mobil, Allison dan Faylan duduk bersebelahan di kursi bagian tengah. Sementara di depan duduk seorang pengawal bersenjata dan juga Asisten Juan sebagai pengemudi.
"Jalan sekarang," titah Allison.
"Baik, tuan," sahut asisten Juan mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sampai di sebuah restoran mewah yang telah dikosongkan. Allison kembali menggandeng Faylan masuk ke dalamnya menuju ruang vvip.
Di depan ruangan telah berdiri beberapa pengawal Allison. Salah satu dari mereka berkata bahwa tamu undangan telah menunggu di dalam ruangan. Ketika memasuki ruangan, seorang pria berperawakan sangar berusia 56 tahun menyambut kedatangan mereka.
"Maaf membuat Paman menunggu," ujar Allison ramah.
"Tidak masalah, apa dia istrimu?" pria sangar itu menatap Faylan penuh arti.
"Benar, dia istriku."
"Faylan, apa kamu ingat Melvin?" lanjut Allison bertanya.
"Suami Daisy," jawab Faylan sembari menganggukkan kepala.
"Beliau ini adalah ayahnya Melvin," jelas Allison.
"Hallo nona Faylan, perkenalkan saya Torres....
.
__ADS_1
.
.