Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)

Unlucky Bride (Pengantin Yang Malang)
Bab 07 ~ R.I.P (Redmir Plavius)


__ADS_3

Pagi itu Faylan dibangunkan oleh cahaya matahari yang masuk lewat celah-celah ventilasi. Faylan kaget karena saat ini ia sudah terbaring di atas ranjang king size dalam kamar, bukannya di teras mansion.


"Siapa yang memindahkanku? Tidak mungkin tuan Son," gumam Faylan seorang diri. Tak ingin terlambat ke sekolah hanya karena memikirkan Allison, Faylan pun segera turun dari ranjang kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah siap dengan seragam sekolah, ia meraih tas dan melangkah keluar dari kamar. Namun, langkah penuh semangatnya harus terhenti kala merasakan getaran dari suka bajunya. Faylan mengambil ponsel jadul miliknya, terdapat panggilan masuk dari rumah. Penasaran, Faylan buru-buru mengangkatnya.


"Hallo, ada apa, Bik?"


"Non Faylan."


"Apa, Bik? Apa yang terjadi? Katakan?" desak Faylan semakin penasaran.


"Terjadi sesuatu pada Tuan Plavius, sekarang dia sudah dibawa ke rumah sakit," ungkap sang pelayan dengan suara bergetar.


"Rumah sakit mana?"


"Oesterian hospital."


Tutt!


***


Di perusahaan.


Tok, tok, tok!


"Masuk!" seru Allison yang tengah fokus membaca kemudian membubuhkan tanda tangannya yang berharga pada sebuah dokumen penting.


"Maaf menganggu, Tuan."


"Katakan," desak Allison tanpa menoleh pada sang asisten.


"Saya barusan mendapatkan kabar bahwa Tuan Redmir Plavius meninggal dunia, Tuan," lapor asisten Juan dengan lugas.


"Sial!" umpat Allison langsung bangkit dari duduknya, kemudian melangkah cepat keluar dari perusahaan. Asisten Juan berusaha mengimbangi langkah tuannya hingga sampai di pelataran parkir.


"Di mana dia sekarang?" Allison menjatuhkan tubuhnya di kursi bagain tengah, sementara asisten Juan mulai tancap gas dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Sebelumnya di rumah sakit, Tuan. Tapi, sekarang sudah dibawa pulang ke rumahnya."


"Faylan bukan Redmir! Di mana Faylan sekarang?" suara sedalam lautan itu terdengar kesal.


"Kalau nona Faylan saya tidak tahu, Tuan. Maaf," balas asisten Juan seketika menciut.


"Percepat!" titah Allison.


"Baik, Tuan." Asisten Juan menambah kecepatan laju kendaraan. Ia mengemudikan mobil bak aktor-aktor di film laga, ia menyalip dan melewati setiap mobil yang menghalangi jalannya.


Beberapa menit di perjalanan, mobil mewah keluaran terbaru itu berhenti di depan pintu utama kediaman Plavius. Allison terburu-buru turun dari mobilnya sampai-sampai asisten Juan tak sempat membukakan.


Allison menghampiri beberapa polisi yang tengah berada di luar rumah guna mengamankan lokasi kejadian. Melihat kedatangan Allison, para polisi pun membungkukkan badan.


"Bagaimana?" tanya Allison singkat.


"Kami tidak berhasil menemukan bukti apa pun di lokasi kejadian, baik senjata yang digunakan, sidik jari, tetesan darah bahkan keringat. Pelaku beraksi sangat bersih dan rapi, jelas ini kasus pembunuhan berencana, Tuan. Tersangka utama adalah nyonya Molina. Kami pasti akan mengusutnya sampai tuntas," jelas sang jendral yang langsung turun tangan menangani kasus yang juga ada sangkut pautnya dengan Allison, prince negara mereka.


"Bersetan dengan omong kosong kalian!"


Allison memasuki kediaman Plavius, tujuan utamanya adalah mencari keberadaan Faylan. Saat sudah berada di ruang tamu, Allison menghentikan langkah kakinya, lalu membalikkan badan, menatap asisten Juan serius.


Bagaimana Allison bisa percaya pada aparat kepolisian di negaranya? Bahkan hingga detik ini mereka semua tak satu pun berhasil menguak misteri di balik kematian kedua orangtuanya.


"Baik, Tuan," jawab asisten Juan membungkukkan badan, kemudian langsung melaksanakan tugas yang diberikan tuannya.


Di ruang keluarga yang luas, Allison berdiri tegap, para pelayan dan pengawal kediaman Plavius membungkukkan badan menyambut kedatangannya. Allison menajamkan tatapan pada Faylan yang berdiri di sebelah peti mati ayahnya. Wajah Faylan tampak datar tanpa ekspresi, tidak menangis, tidak juga tersenyum. Allison mengerutkan dahi heran.


"Tuan," panggil asisten Juan yang baru saja tiba setelah menyelesaikan tugasnya.


"Bagaimana?"


"Sudah, Tuan. Para polisi sudah pergi," lapor asisten Juan dengan hormat.


"Bawa aku ke lokasi kejadian."


"Mari, Tuan," asisten Juan langsung menunjukkan arah hingga sampai di kamar Redmir Plavius, tempat di mana ia ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

__ADS_1


Allison melangkah memasuki kamar bersimbah darah, asisten Juan setia berada di sisi kiri tuannya. Allison menyapu setiap sudut kamar dengan tatapan tajamnya. Langkah kaki berhenti di lantai di mana banyak darah berceceran. Allison berjongkok, kemudian merasai dan mencium bercak darah di sana. Asisten Juan menyerahkan tissue, Allison membersihkan jarinya.


"Jelaskan," titah Allison seraya melangkah perlahan.


"Tuan Plavius membawa banyak wanita ke rumah hingga terjadi pertengkaran hebat antaranya dengan nyonya Molina. Tuan Plavius menceraikan kemudian mengusir nyonya Molina. Dan hingga saat ini jejak nyonya Molina tak berhasil ditemukan."


"Apa menurutmu wanita busuk itu tahu cara membunuh dengan bersih?" timpal Allison seraya melangkah menuju kamar mandi.


"Tidak mungkin, Tuan. Nyonya Molina hanya punya satu senjata berupa racun yang tidak terdeteksi medis. Luka tusuk yang didapat Tuan Redmir tidak mungkin ulahnya, kecuali ada seseorang di belakangnya. Coba tuan lihat ini," terang Asisten Juan, lalu menunjukkan sebuah gambar kepada Allison.


Allison menghentikan langkah di depan kamar mandi, kemudian melihat sebuah gambar yang asisten Juan berikan. Asisten Juan berkata, "Tusukan ini—"


"Sama seperti luka tusuk yang didapat ayah dan ibuku!" sambung Allison menggenggam erat gambar itu, kemudian menghempasnya ke lantai.


"FU CK!" umpat Allison menendang pintu kamar mandi hingga terbuka lebar.


Allison membalikan badan akan pergi, tapi sebuah tulisan yang samar-samar tertangkap matanya, membuat Allison berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.


BAGAIMANA KABARMU, DIMA AFSON?


Craang!


"Bajingan itu ada di sekitar sini! Pinta para pengawal datang dan dapatkan dia!" bentak Allison dengan darah mengucur dari punggung tangannya yang luka usai mendarat di cermin berisi sapaan dari tulisan darah.


Tak banyak yang mengetahui nama aslinya. Hanya orang-orang terdekat karena sejak dilahirkan nama aslinya memang dirahasiakan. Orang-orang hanya mengetahui nama panggilannya yaitu BABY D.


Allison memiliki nama asli yaitu Dima Afson. Sementara Allison Jois adalah nama asli almarhum sang ayah yang ia gunakan kembali. Tentu sosok yang menuliskan sapaan di cermin bukan sembarang orang. Allison yakin, sosok misterius yang membunuh Redmir Plavius adalah sosok yang sama, yang telah membunuh kedua orangtuanya.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya berupa like, komen, vote dan bintang limanya, Guys🥰. Terima kasih banyak🙏🏻😍😘


Allison👇😍

__ADS_1



__ADS_2