
Sekitar jam 3 malam, Allison menjatuhkan tubuh kekarnya ke sebelah Faylan.
"Terima kasih," bisik Allison seraya mengusap air mata yang membasahi wajah istrinya. Faylan hanya menganggukkan kepala lemah dengan napas yang terengah-engah.
Beberapa menit kemudian, Allison bangkit dan turun dari ranjang, ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Faylan memejamkan mata dan langsung terlelap karena terlalu kelelahan. Keluar dari kamar mandi, Allison memungut dan memasang kembali piyama tidurnya. Ia duduk di pinggir ranjang. Allison menatap Faylan dengan perasaan bangga. Bangga karena akhirnya ia berhasil mendapatkan Faylan seutuhnya. Tak lupa ia menyelimuti Faylan agar tetap hangat.
Derrtt....
Ponselnya di atas nakas bergetar, Allison mengambil dan langsung mengangkatnya karena takut menganggu istirahat sang istri.
"Kenapa menghubungi jam segini?"
"Nyonya Molina berhasil ditemukan, tuan. Dia sudah berada di markas," lapor asisten Juan to the point.
"Aku ke sana sekarang!"
Saat akan pergi, Allison memandang Faylan dengan hati yang berkecamuk. Haruskah ia meninggalkan sang istri begitu saja usai mendapat apa yang ia inginkan?
***
Keesokan harinya, Faylan bangun dan langsung disambut oleh rasa sakit, perih, nyeri, dan kram pada bokongnya. Tapi, bukan Faylan namanya kalau tidak terbiasa dengan rasa sakit. Apa yang ia rasakan saat ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan yang selama ini ia alami.
Faylan duduk bersandar di kepala ranjang, matanya melirik kiri dah kanan mencari keberadaan pria yang semalam menggagahinya. Namun, ia tak melihat siapa pun, baik di kamar, walk in closet, kamar mandi maupun balkon.
__ADS_1
Faylan mengalihkan pandangan ke lantai, hanya ada lingerie, bra dan cd-nya yang tergeletak sembarangan. Tidak ada pakaian Allison satu pun. Hal itu tentu pertanda bahwa Allison telah pergi.
Faylan menghela napas panjang guna melegakan sesak di dada. Meski kecewa akan kepergian Allison, tapi Faylan tak akan berlarut dalam kesedihan. Ia beringsut perlahan dengan ringisan di wajah. Saat akan turun dari ranjang, Faylan tak sengaja melihat sebuah box besar berwarna pink, yang di atasnya terdapat sebuah surat.
"Apa ini?" tanya Faylan menyatukan alis.
Rasa penasaran menuntun Faylan meraih sebuah surat di atasnya. Tanpa berlama-lama, ia langsung membuka selembar surat tersebut. Faylan tercengang kaget kala melihat coretan indah Allison yang ditujukan kepadanya. Faylan membacanya dengan sesksama.
Ada meeting penting yang harus aku hadiri pagi ini. Maaf telah menyakitimu, aku harap kamu bisa berjalan dengan benar. Hadiah kecil ini sebagai permintaan maaf karena tidak ada di sisimu saat membuka mata. Semoga kamu suka, istriku.
"Walau irit bicara, setidaknya dia tidak irit tulisan. Aku hampir tidak percaya ini adalah tulisannya."
Faylan beralih pada box besar di atas nakas. Ia membawa ke atas ranjang dan langsung membukanya. "Apa ini? Sepertinya foto, tapi foto siapa, ya?" Faylan bertanya-tanya penasaran.
Faylan mengeluarkan hadiah berbentuk pipih berukuran besar itu, kemudian membuka kertas pembungkusnya dengan terburu-buru.
***
"Saya berani bersumpah, saya benar-benar tidak terlibat atas kematian mantan suami saya!" seru Molina yang kini sudah terikat di atas sebuah kursi.
"Tapi kau tahu bukan?" tanya Allison singkat.
"Saya tidak tahu apa pun, saya berani bersumpah!" tegas Molina begitu meyakinkan.
"Juan," panggil Allison dengan suara bass-nya yang mengerikan.
__ADS_1
"Iya, tuan."
"Kau dengar apa katanya? Dia bilang tidak tahu apa pun, jadi habisi."
Allison melangkah akan pergi.
"Tunggu!"
Allison menyeringai, ia menghentikan langkah dan kembali membalikkan badan.
"Apa?"
"Saya akan mengatakan yang sebenarnya terjadi, tapi setelah itu lepaskan saya," ujar Molina serius.
"Penawaran yang bagus, katakan!"
"Yang membunuh Redmir dan membakar kediaman Plavius adalah....
.
.
.
__ADS_1
Pakai bajunya bener, guys🌝