
Bukannya mengajak sang istri makan malam, Allison justru menggagahinya lagi dan lagi. Tidak hanya sekali seperti janjinya, tapi sampai berkali-kali. Bahkan berlanjut hingga di kamar mandi. Berbagai gaya yang ia lihat telah dipraktekkan. Faylan pasrah mau diapakan, meski sakit sekali pun ia tak akan mengatakan karena sudah terbiasa.
Allison menghentikan kegiatannya ketika sadar bahwa sang istri belum makan malam. Faylan berendam di dalam buthub, sementara Allison membilas tubuhnya dengan shower.
"Sudah?" tanya Allison yang telah mengenakan jubah mandi di tubuh kekarnya.
Faylan menganggukkan kepala lemah sebagai jawaban. Allison mengambil handuk, kemudian membalutkannya ke tubuh seksi Faylan. Ia menggendong Faylan hingga berbaring di atas ranjang.
"Aku bantu kenakan."
"Saya sendiri saja tuan!" seru Faylan langsung merebut piyama tidur yang Allison siapkan untuknya. Faylan yakin hal yang sama akan terjadi lagi bila Allison yang mengenakan pakaian untuknya.
"Baiklah," jawab Allison keluar dari kamar. Waktu singkat itu Faylan gunakan untuk mengenakan pakaian. Namun, tak semuda yang ia bayangkan karena tubuhnya terasa remuk.
Tak lama berselang, Allison datang dengan membawa makan malam. Mereka berdua melahap makan malam bersama-sama.
"Apa besok masih ada ujian?" tanya Allison sembari menyuapi Faylan. Faylan menggelengkan kepala.
"Libur saja besok," Faylan kembali mengangguk. Kepemilikannya bengkak gara-gara sang suami. Meski sudah ia oleskan salep, tapi tetap terasa perih dan sakit ketika melangkah.
"Apa masih sakit?"
"Tidak," bohong Faylan dengan suara serak yang hampir habis.
"Maaf."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, memang tugas saya melayani suaminya," balas Faylan melahap makanannya dengan rakus, ia butuh banyak tenaga untuk menghadapi suaminya yang seakan tak pernah lelah apalagi puas.
"Teruslah seperti ini tuan, berikan saya lebih banyak rasa sakit, jangan berikan rasa suka dan kenyamanan. Kita hanya akan bersama selama sebulan, setelah bercerai nanti dunia kita akan sangat berbeda," batin Faylan menahan sesak di dada.
***
Keesokan harinya, Faylan bangun lebih dulu dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia menghindar karena takut Allison akan kembali menggagahinya ketika bangun pagi itu. Bukan takut karena akan sakit lagi, tapi takut bila Allison melihat kepemilikannya yang membengkak.
Untuk berjaga-jaga, Faylan membawa pakaian ke dalam kamar mandi, ia mengenakannya di sana. Saat keluar dari kamar mandi, Allison masih tidur dengan nyenyak, Faylan melangkah perlahan menuju kamarnya untuk melanjutkan istirahat di sana.
Beberapa menit berlalu.
Tok, tok, tok!
"Apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Allison memegang kedua bahu Faylan.
"Tidak."
"Lalu kenapa pergi?"
"AC di kamar tuan terlalu dingin, saya tidak sanggup," jawab Faylan sebagai alasan. Allison menghela napas lega.
"Bersiaplah, aku akan membawamu pergi," tutur Allison lagi.
"Baiklah," Faylan langsung mengiyakan tanpa bertanya terlebih ke mana Allison akan membawanya pergi.
__ADS_1
Karena sebelumnya sudah mandi, Faylan hanya perlu menganti bajunya. Ia tak menggunakan riasan wajah sedikit pun karena tahu Allison tak menyukainya. Faylan hanya menata rambutnya agar lebih rapi. Setelah siap, ia pun menunggu di ruang tamu.
Sepersekian detik kemudian, Allison muncul dan langsung membawa Faylan pergi.
"Klinik kecantikan? Untuk apa?" tanya Faylan dalam hati. Faylan berpikir bahwa ia tidak cukup cantik hingga Allison membawanya ke klik kecantikan.
"Apa karena tidak sesempit malam pertama?" pikir Faylan lagi.
Allison menuntun sang istri, Faylan berusaha mengimbangi langkah suaminya, meski harus menahan sakit akibat gesekan di bawah sana.
Saat masuk, tidak ada seorang pengunjung pun di dalam sana. Faylan tahu bahwa Allison telah mengosongkan klinik.
Saat ini, Faylan telah duduk bersebelahan dengan Allison. Di hadapan mereka ada seorang dokter paruh baya, tentu dokter tersebut perempuan.
"Berikan istriku treatment penghilang bekas luka," titah Allison membuat Faylan terdiam seribu bahasa.
"Baik, tuan. Akan segera saya persiapkan. Mohon untuk meunggu sebentar," dokter pun pergi meminta bawahannya untuk menyiapkan yang terbaik.
"Apa tuan merasa risih dengan bekas luka di sekujur tubuh saya?" tanya Faylan dengan mata berkaca-kaca.
.
.
.
__ADS_1