
Kondisi Faylan mulai membaik setelah berendam dengan air hangat, ia juga sudah dapat berjalan walau masih terasa sedikit perih akibat gesekan yang terjadi ketika melangkah.
Saat ini Faylan duduk di kursi depan meja riasnya. Aura kecantikannya semakin terpancar usai melewati malam panjang bersama sang suami. Tanpa riasan wajah, Faylan tampak begitu cantik alami dengan rambut yang digerai karena masih setengah basah.
Tok, tok, tok!
Pintu kamar diketuk seseorang.
"Pasti bibi Fani," batin Faylan langsung bangkit dari duduknya, kemudian berjalan dengan berhati-hati. Dugaannya tak salah. Saat pintu terbuka, bibi Fani muncul dengan membawa nampan berisi omelette, minuman herbal serta sebuah salep khusus.
"Ini sarapa ... Loh, kenapa nona pakai seragam sekolah?" tanya bibi Fani terheran.
"Hari ini ada ujian, Bik. Faylan harus hadir," jawab Faylan akan mengambil nampan.
"Tuan muda bisa marah kalau tahu hal ini," balas bibi Fani menjauhkan nampannya dari Faylan. Ia membawanya sendiri, kemudian ia letakkan ke atas meja di sebelah ranjang.
"Jangan beri tahu dia, Bik."
"Tapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada nona?"
"Tidak akan, Faylan bisa menjaga diri," Faylan meyakinkan.
__ADS_1
"Lihatlah cara nona berjalan," lanjut bibi Fani masih belum memberikan izin.
"Nanti juga mendingan, Bik," keukeuh Faylan.
"Kalau begitu sarapannya jangan lupa dimakan nona, gunakan juga salep ini untuk meredakan perihnya," tutur bibi Fani pada akhirnya menyerah.
"Terima kasih banyak, Bik," ucap Faylan tulus.
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi."
Setelah kepergian bibi Fani, Faylan pun menikmati sarapannya dengan cepat. Setelah itu ia menggunakan salep yang bibi Fani berikan padanya. Faylan senang karena salep itu sangat bekerja. Sensasi dingin dan menenangkan membuatnya tak lagi merasa perih.
Saat sedang asik mengayuh sepedanya, Faylan berhenti sejenak karena merasa ada seseorang yang mengikutinya. Setelah memastikan tidak ada siapa pun, Faylan kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di sekolah.
Seperti biasa, para murid dibuat semakin takjub karena semakin hari Faylan tampak semakin cantik dan mempesona.
Sampai di kelas, Faylan duduk di kursinya dengan tenang. Faylan merasa aneh karena para murid yang sering membully-nya hanya melihat dari kejauhan tanpa melakukan sesuatu padanya. Meski heran, tapi Faylan tak ingin ambil pusing. Ia hanya fokus belajar seperti yang biasa ia lakukan.
Tak terasa bell pulang sekolah telah berbunyi. Faylan senang karena tak ada satu pun murid yang mengganggunya, baik saat datang, saat belajar hingga pulang. Karena ada ujian juga mata pelajaran praktek, Faylan pun pulang saat senja sudah menghiasai langit.
"Argh!"
__ADS_1
Samar-samar terdengar suara teriakan seseorang, Faylan menekan rem dan menoleh ke sumber suara. Tapi, ia tak melihat seorang pun di belakangnya. Faylan pun kembali melanjutkan perjalanan melewati jalanan sepi sebelum hari semakin gelap. Akan tetapi, panggilan dari Allison membuatnya reflek berhenti lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Di mana!?" suara bass milik Allison membuat Faylan merinding.
"12 kali melanggar peraturan, aku tidak akan melepasmu," sambungnya lagi.
"12 kali melanggar?" Faylan tak mengerti.
"Ya. Katakan, kamu di mana?"
"Saat ini, saya sudah berada di jalan ma ... Aarrgh!"
Tutt!
.
.
.
__ADS_1