Veel World : The Miracle With Flaws

Veel World : The Miracle With Flaws
Chapter 2.8


__ADS_3

Di sebuah ruang perawatan milik Asosiasi Penyihir Kerajaan Waren.


Seorang pria yang tertidur pulas akhirnya membuka sedikit matanya, ia melihat banyak orang berlarian kesana kemari membawa orang terluka. Di hadapannya ia melihat sesosok wanita berambut pirang menggunakan armor lengkap seperti siap bertarung, wanita itu membantu orang yang terluka dengan sihir penyembuhan.


“Dimana ini?” tanya Zhel yng mencoba bangkit dari kasurnya.


Zhel mengangkat tubuhnya perlahan sekuat tenaga, namun tubuhnya terasa sangat berat dan sulit digerakkan.


-kenapa? Tubuhku begitu berat...


Melihat Zhel yang mencoba bangkit, wanita berambut pirang tersebut mendekatinya tergesa-gesa.


“Kau baik saja? Beristirahatlah dahulu... Mana milikmu terkuras habis jadi kau belum boleh bergerak terlalu banyak” ucap wanita tersebut.


“Mana? Jadi begini rasanya jika Manaku habis total... Uh?!” ucap Zhel yang kemudian merasakan tubuhnya mendadak semakin sakit.


“Sudah kubilang istirahatlah! Kau harus memulihkan Mana milikmu”


“Memulihkan Mana? Oh iya” ucap Zhel yang kemudian melihat jari manis kirinya.


Sebelumnya ada item sihir yang dibuat Helen yaitu Storage Ring yang bisa menyimpan banyak benda di dalamnya. Namun benda tersebut tidak ada di jari manisnya.


“Dimana?”


“Heh?”


“Dimana cincinku?”


Wanita tersebut terdiam sebentar, Zhel tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena kondisinya saat ini.


“Akan kuambilkan”


Wanita tersebut pergi, Zhel mencoba bngkit lagi nmun ia tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi.


-Sial.. Kenapa disaat seperti ini.


Zhel merasa kesal dengan kondisinya saat ini, ia yakin bahwa saat ini Raja Iblis sudah datang. Ia yakin setelah melihat banyak sekali prajurit dan penyihir yang terluka dimana-mana.


Kemudian suara yang tak asing terdengar dari luar memanggil namanya.


“Zhel?! Dimana pasien bernama Zhel?!” ucap suara tersebut.


Zhel mengingat suara tersebut milik Ketua Helder.


Akhirnya Ketua Helder sampai dan melihat Zhel yang setengah sadar, namun tubuh Ketua Helder penuh dengan luka goresan. Ia juga menyadari bahwa Mana milik ketua helder hampir terkuras habis.


“Ke-ketua Helder?” ucap Zhel dengan nada terkejut.


“Zhel kau sudah sadar?! Kami butuh bantuanmu” ucap Ketua Helder terburu-buru.


“Maaf tapi aku tidak bisa bergerak karena kehabisan Mana... Ketua kalu boleh—“


“Tentu saja ambillah sesukamu!” ucap Ketua Helder.


Zhel terkejut melihat ketua yang seperti penuh harap padanya. Zhel juga belum pernah memberitahu kekuatannya pada siapapun kecuali Kon dan Helen.


“Mana Drain” ucap Zhel.


Secara perlahan Zhel mengambil Mana di sekitarnya, namun secara perlahan Ketua Helder kehilangan kesadarannya.


“Sudah Cukup Ketua” ucap Zhel.


Ia kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk di atas kasur.


“Apa yang sebenarnya terjadi ketua?” tanya Zhel.

__ADS_1


“Kami membutuhkan kemampuanmu unyuk menghisap Mana dari Mantra teleportasi yang membawa Raja Iblis”


“Jadi Raja Iblis sudah datang?!”


“Ya... Namun tak sepenuhnya... Yang muncul hanya ekornya saja, bila terus begini maka prisma teleportasi akan dipaksa terbuka lebih lebar dan Raja Iblis Scar akan muncul sepenuhnya”


Zhel terkejut mendengarnya, itu adalah kemungkinan terburuk. Namun jika yang muncul hanya ekor, berarti belum semua kekuatan Raja Iblis di kerahkan. Ekornya saja sudah cukup membuat Ketua Helder sampai terluka parah seperti ini.


“Zhel?! Kau baik saja?” ucap Kon yang muncul mendadak.


Ia menggendong Helen yang tak sadarkan diri, melihat itu Zhel secara spontan naik pitam dan mengeluarkan aura membunuh yang besar.


“Kon... Apa itu ulah Raja Iblis?” tanya Zhel dengan wajah suram.


“Maksudmu Helen? Sebenarnya ia kehabisan Mana di tengah pertempuran”


“Bagitu kah”


Zhel mencoba berdiri, namun tubuhnya gemetar hebat.


“Zhel tunggu dulu! Kau masih belum pulih benar” ucap Kon.


“Tidak masalah... Beraninya makhluk kurang ajar itu melukai temanku... Mau dia Raja Iblis Atau apapun itu akan kubunuh”


Zhel berhasil berdiri, ia berjalan dengan sempoyongan menuju pintu keluar. ketika baru berjalan sedikit ia langsung terjatuh, namun ia berhasil di bantu oleh Ketua Helder.


“Zhel... Kau harus memulihkan kekuatanmu terlebih dahulu”


“Cincin”


“Hah?”


“Storage Ring... Didalamnya aku menaruh benda yang memiliki sedikit Mana milikku”


Secara mendadak, wanita yng sebelumnya pergi sudah kembali membawa Storage Ring milik Zhel.


Zhel sedikit terkejut, namun ia meraih cincin tersebut dan memasangnya di jari manis kirinya.


“Keluarlah”


Setelah itu sebuah obat kecil muncul di tangannya, itu terlihat seperti obat biasa.


“Zhel... Obat itu?” tanya Kon.


“Obat ini memiliki Mana di dalamnya” ucap Zhel yang kemudian menelan obat tersebut.


Setelah menelannya gemetar di tubuh Zhel menghilang, kemudian ia berdiri perlahan.


“Terima kasih sudah membawanya”


“Y-ya”


“Dimana pedangku?”


“Pedang? Ah disana... Aku meny—“


“Terima kasih” ucap Zhel memotong kalimat wanita tersebut.


Zhel langsung berjalan menuju pedangnya, ia mengeluarkan pedang tersebut dari tempatnya dan berjalan menuju pintu keluar.


“Tu-tunggu... A-apa yang akan kau lakukan?!” tanya wanita tersebut.


“Aku akan membunuh makhluk itu” ucap Zhel dengan mata penuh kebencian.


Melihat hal itu wanita tersebut terkejut, setelah itu Zhel menghilang bagai angin.

__ADS_1


“Hah?!”


“Tuan Putri Ana mohon maaf atas ketidak sopanannya” ucap Kon yang sudah beelutut.


Kon dan Ketua Helder berlutut di depan wanita yang disebut Tuan Putri oleh Kon.


“Tidak masalah... Lalu Kon.. Apa yang terjadi pada Helen?”


“Mohon maaf ia kehabisan Mana disaat bertarung”


“Kerja bagus kau langsung membawanya... Taruh ia disana”


Kon menaruh Helen di kasur bekas Zhel di rawat sebelumnya, setelah mengatakan hal itu Putri Ana sedikit termenung.


“Tuan Putri?” tanya Ketua Helder.


“Ah Maaf”


“Ana... Ia masih belum berubah kok... Tenang saja, ia masih Zhel yang dulu” ucap Kon namun tak melihat wajah Ana.


“Begitu ya... Terima kasih” ucap Putri Ana yang kemudian menunjukkan sebuah senyum segar di wajahnya.


Mendengar itu ketua helder langsung memukul kepala Kon.


“Oi bersikap sopan lah pada tuan putri!”


“Tidak apa-apa... Kon dan Helen adalah teman dekatku” ucap Putri Ana.


“Mohon maaf atas ketidak sopanannya tuan putri”


Ketua helder tak tahu bahwa Kon dan Putri ana adalah teman dekat, jadi ia menghakimi Kon seenaknya.


“Berjuanglah”


Kemudian beberapa pasien lagi datang, Putri Ana langsung menuju si pasien yang terluka dan memberikan pertolongan.


~Di tempat lainnya~


“Yo bocah... Apa kau sudah mengerti ?” tanya komandan Dale.


Di depannya ada seorang pria yang tersungkur di tanah dan berlumuran darah, ia adalah pahlawan Jim Dazzel yang kalah telak dari Komandan Dale.


“Kurang ajar kau tua bangka!” ucap Jim sembari menatap Komandan Dale dengan kebencian.


“Kau bukanlah seorang pahlawan... Setelah ini aku akan memberikan banyak pertanyaan jadi diam disitu sampai pekerjaanku selesai” ucap Komandan Dale yang kemudian melihat ular raksasa jauh di belakangnya.


Ia memicingkan matanya dan melihat sosok yang sangat ia hormati sedang bertarung disana.


“Hmm... Bahkan beliau sampai turun tangan... Kau diamlah disana”


Komandan Dale berlari menuju Ular raksasa tersebut dan meninggalkan pahlawan Jim Dazzel yang sudah tak mampu lagi bergerak karena luka yang diterimanya.


“Tua bngka sialan... Jika aku memiliki kekuatan... Jika saja”


(Kau mau kekuatan?)


“Siapa?!” tanya Jim.


(Aku adalah senjata Inazuma... Apa kau ingin kekuatan?)


Jim terkejut bahwa ia mendengar Senjata Inazuma berbicara padanya lewat telepati.


“Apa kau bisa memberikannya?”


(Tentu saja... Dengan sebuah bayaran, maka aku akan memberikan sebuah kekuatan maha dahsyat padamu)

__ADS_1


Mendengar hal itu Jim mengangkat separuh bibirnya, ia sudah tak peduli lagi. Yang ada dipikirannya hanyalah balas dendam pada Komandan Dale yang telah membuatnya babak belur seperti ini.


“Aku terima... Berikan aku kekuatan”


__ADS_2