Veel World : The Miracle With Flaws

Veel World : The Miracle With Flaws
Chapter 6.7


__ADS_3

Setelah seharian penuh mereka beristirahat akhirnya Zhel dan lainnya melanjutkan perjalanan, namun ada 1 orang yang masih belum sadar yaitu Kon yang sedang tertidur lemas di punggung Zhel.


Luka yang dimiliki oleh Kon sudah di sembuhkan namun masih membuat beberapa kecacatan permanen, salah satunya adalah lidahnya yang tidak bisa tumbuh lagi dan mata sebelah kanannya yang menjadi putih seperti orang buta. Sebenarnya Helen bisa menyembuhkan luka seperti itu dengan sihirnya, namun anehnya lidah dan mata Kon tidak bisa disembuhkan olehnya.


Helen tidak mengerti kenapa bisa begitu namun ia berpikir pasti ada suatu alasan, disisi lain Zhel merasa jiwa dan raganya begitu hancur karena rasa bersalahnya meninggalkan Kon dan akhirnya membuat kesepakatan yang berakhir dengan pembantaian massal.


Mereka bertiga sudah melewati kota dilem- tidak, bukannya melewati tetapi melingkari kota dilem. Alasannya karena Zhel dan Helen telah mencium aroma darah yang sangat pekat dari kota dilem, mungkin setelah ini kota dilem akan menjadi sebuah kota hantu karena tak ada kehidupan dimanapun.


Mereka terus berjalan menuju tujuannya yaitu tempat dimana Pohon Suci berada yaitu Hutan Willet tempat dimana Elf hidup dengan damai, setelah lelah berjalan seharian mereka beristirahat di dekat sungai yang berada di sebelah jalan. Malam sudah tiba namun Zhel dan Helen hanya diam membisu memperhatikan api unggun sampai pada akhirnya.


“Zhel... Apa ini salah kita?”


“Apa maksudmu?”


“Tentang kota dilem”


Zhel hanya mengerutkan dahinya setelah menerima kenyataan pahit tersebut, sebelumnya mereka hendak memasuki kota dilem namun mereka mengurungkan niatnya setelah melihat banyak sekali mayat dibalik dinding yang membatasi kota dilem.


“Mungkin saja... Hanya itu yang menjadi jawabanku” ucap Zhel dengan nada penuh emosi yang bercampur.


Emosi tersebut sedih, marah, bahagia.


Mendengar jawaban tersebut Helen duduk dan memeluk kakinya erat dan menutupi wajahnya, kemudian suara tangis terdengar darinya.


“Mengapa... Kenapa dunia begitu kejam?” isak tangis Helen.


“Entahlah” ucap Zhel yang kemudian melakukan hal yang sama dengan Helen.


Ditengah kesedihan itu mereka berdua mendengar sebuah suara dari dalam tenda Zhel, mendengar hal itu sudah pasti itu adalah Kon yang akhirnya bangun. Sebelum Zhel dan Helen mendekat, seseorang membuka tenda tersebut dari dalam ia adalah Kon yang menguap.


“Hheh... Heheh” ucap Kon.


“Kon? Ah Kon beristirahatlah dulu!” ucap Zhel yang langsung mendekati Kon.


“Hihah hehhu” melambaikan tangannya.


Semakin Zhel mendengar Kon berbicara, semakin Zhel merasa bersalah namun anehnya Kon menunjukkan senyum pada Helen dan Zhel.


“Hahah heha hahu haha hehehahaha” ucap Kon sembari menggerakkan tangnnya kedepan dan kebelakang seakan berkata ‘Tidak perlu’


Akhirnya Zhel memiliki sebuah ide, ia pernah mendengar sihir yang disebut Telephaty yang bisa membuat seseorang berbicara melalui pikiran. Dikatakan sihir ini pernah membuat sebuah negara hancur berantakan karena informasi palsu, akhirnya sihir ini dilupakan di beberapa kerajaan.


“Helen bisakah kau membuat item saat ini?”


“Ya aku bisa”

__ADS_1


“Bagus, apa kau tahu sihir Telephaty?”


“Ah aku mengerti”


Akhirnya Helen membuat 3 item sihir dengan bantuan Mana milik Zhel hingga akhirnya Mana milik Zhel hampir habis, namun Zhel mengambil Mana milik Kon agar kesadarannya tidak hilang. Item tersebut berbentuk cincin dan terbuat dari besi biasa, namun Helen menjelaskan bahwa Telephaty hanya bisa di gunakan pada si pengguna cincin lainnya.


“Gunakan ini Kon” ucap Helen sembari memberikan salah satu cincinnya.


Kon langsung memakainya dan sebuah suara terdengar, itu adalah suara Zhel namun bibir Zhel tidak bergerak.


(Kon... Kau dengar?)


(Ya ini bekerja dengan baik) ucap Kon sembari membulatkan telunjuk dan ibu jari.


(Baguslah tidak ada masalah, jadi tadi apa yang ingin kau ucapkan) tanya Helen.


(Sebelumnya maaf yah... Kalian pasti bertanya kenapa keadaanku begini kan?)


(Tentu saja!) 2x


(Begini, Zhel kau ingat aku menggunakan Sihir Kutukan bukan?)


Mengetahui hal itu Helen langsung menampar Kon tanpa ragu sedikitpun.


“Kau menggunakannya?” tanya Helen.


“Jadi kau menggunakannya ya...” Helen menundukkan wajahnya dan kemudian air mata jatuh “Dasar bodoh! Sudah kubilang jangan menggunakan kutukan itu!”


Helen menggenggam kerah Kon dan menggoyangkannya, namun Zhel melerai mereka berdua karena tidak mengerti keadaan ini.


“Katakan padaku alasannya Kon! Kenapa kau tidak mendengarkanku?!”


(Aku... Tidak punya pilihan)


“Apa maksudmu?”


(Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi aku merasakannya sendiri... Setiap tahun kekuatanku bertambah kuat, bahkan jauh lebih kuat dari yang kalian bayangkan... Aku sendiri tidak tahu seberapa kuat nantinya)


Kon berhenti sejenak dan menunjukkan sebuah senyum pada mereka walau senyum itu terlihat letih.


(Helen kau tahu kenapa setelah kita menjadi penyihir kerajaan aku tidak pernah ikut dalam sesi latihan yang melelahkan?)


Helen hanya menggelengkan kepala tanda ia tidak tahu.


(Sebelumnya kau sendiri sudah tahu bahwa aku orang yang cukup atletis kan? Tapi saat itu ada yang telah hilang dariku)

__ADS_1


Kon menunjuk salah satu bagian tubuhnya.


(Saat itu aku mengetahui salah satu organ dalamku telah hancur)


Helen dan Zhel terkejut mendengar fakta itu.


(Aku menyadari bahwa tubuhku tidak mampu bertahan dengan kekuatanku, Karena itulah aku mencari sihir yang bisa menyegel kekuatanku hingga akhirnya aku menemukan sebuah mantra kuno Dark Promise : Ten Seal Of Glory dan menunjukkannya padamu kan?)


“Jadi sebelum itu kau sudah menderita? Kenapa kau tidak mengatakannya?”


(Aku tidak ingin mati, bahkan jika perlu aku akan memberikan jiwaku agar bisa hidup bersama kalian)


Ucap Kon yang kemudian menunjukkan senyum hangat.


(Kau ingat Zhel sebelummya aku mengatakan bahwa mungkin aku hilang kendali bukan?)


Zhel mengangguk dalam diam.


(Sihir kutukan itu menyegel kekuatanku sekaligus mengembalikan tubuhku menjadi normal kembali, sayangnya aku harus memberikan sebuah pengorbanan)


Kon menutup matanya dan melanjutkan.


(Sihir itu menyegel kekuatanku menjadi 10 bagian, dan setiap bagian akan diganti dengan 10 bagian tubuhku... Mata kanan, Mata kiri, Pendengaran, Lidah, Tangan kanan, Tangan kiri, Kaki kanan, Kaki kiri, kulit, dan Jiwa... Karena itulah aku berkata mungkin aku bisa kehilangan kendali jika saja jiwaku yang menjadi salah satu pengorbanan)


“Sebelumnya kau membuka 2 segel kan? Mungkinkah?”


(Benar... Yang telah diambil adalah Lidah dan mata kananku, tidak sepertinya aku yang memotong lidahku sendiri agar dikorbankan)


“Lalu apa yang terjadi jika kau membuka segel itu lagi? Apakah yang lainnya akan dikorbankan?”


(Tidak, itu seperti sebuah perjudian... Mungkin yang diambil setelah ini adalah mata kiri atau mungkin kulitku, namun Jiwaku akan diambil jika aku membuka semua segelnya itulah perjanjiannya... Ah tapi jangan Khawatir, menurut perjanjian jika Segelnya terkunci kembali maka bagian tubuh yang hilang akan kembali secara perlahan... Namun sebagai bayarannya aku tidak bisa menggunakan sihir apapun sampai semua bagian itu kembali)


“Lalu berapa lama bagian tubuhmu kembali?”


(Entahlah... Aku juga tidak tahu)


“Kalau begitu baguslah... Kukira kau akan menjadi cacat permanen”


(Hahaha maaf sudah membuat khawatir, dan Helen maaf karena aku tidak mengatakannya dulu sebelum menggunakan sihir ini)


Helen memalingkan wajahnya dengan kesal.


“Kalau begitu jangan membuka segel itu lagi”


(Ya iya) Kon melepaskan cincin tersebut.

__ADS_1


Akhirnya Zhel mengajak Helen untuk menyiapkan makan malam di sela mereka berdua berpaling, Kon menundukkan wajahnya dan mengeluarkan ekspresi bersalah.


-Maaf


__ADS_2