Veel World : The Miracle With Flaws

Veel World : The Miracle With Flaws
Chapter 7.2


__ADS_3

3 Hari berlalu dan berita tentang kota dilem yang sunyi tersebar luas.


Para pedagang yang hendak ke kota dilem berbalik arah setelah melihat tumpukan mayat di dalam kota, dan juga ada beberapa rumor tentang undead yang muncul disana.


Berita tersebut tersebar cepat seperti angin, bahkan negara sekitar mengetahui berita tersebut. Namun tidak ada yang tahu mengapa hal tersebut terjadi karena tidak ada 1 korban yang masih hidup, karena itulah sebuah ekspedisi dikirim untuk memeriksa kota dilem.


“Bagaimana keadaan disana?!” tanya seorang wanita yang mengenakan pakaian seperti seorang petualamg.


Kota dilem kini dipenuhi banyak undead, bahkan ada beberapa undead yang kuat hidup diantaranya.


“Ga-gawat nona Lein! Di sebelah utara kota ada Skeleton Dragon!!” ucap seorang prajurit.


“Skeleton Dragon?”


Lein telah mengevakuasi penduduk kota adrazil setelah penyerangan yang dilakukan Kerajaam Severth, setelah ia berhasil mengirim para penduduk ia langsung diperintahkan untuk menjadi pemimpin ekspedisi ke kota dilem karena menurut laporan para pedagang kota dilem dipenuhi undead yang berkeliaran bebas.


Lein sudah memberikan laporan pada para petinggi tentang aliansi dengan Kerajaan Waren untuk menghalau invasi Kerajaan Severth yang akan datang, lalu penyerangan sebelumnya sudah menjadi bukti nyata bahwa Kerajaan Waren sudah memprediksi hal tersebut. Karena Republik Safanas tidak memiliki pemimpin tunggal, para petinggi harus bermusyawarah sampai menemukan titik terang oleh karena itu sampai saat ini perjanjian aliansi belum selesai.


“Nona Lein! Di sebelah barat kota ada 3 Soul Eater mengamuk!”


“Cih...”


Lein mendecak lidahnya karena kondisi yang sangat tidak menguntungkan ini, mungkin ia dan prajuritnya bisa melawan Skeleton Dragon dengan beberapa korban di pihak Lein. Namun disisi lain ia takkan mampu melawan 3 Soul Eater sekaligus, pilihan terbaik adalah mundur secepat mungkin.


“Perintahkan semuanya mundur! Kita akan keluar dari kota ini dan menutup gerbangnya!”


Semua prajurit langsung mundur sambil bertahan, ketika prajurit terakhir keluar mereka langsung menutup gerbangnya dengan sihir Stone Wall agar tak ada satupun undead yang melarikan diri.


“Nona Lein... Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa menghabisi undead di kota Dilem”


“Kirim pembawa pesan untuk melaporkan tentang hal ini ke ibukota... Katakan pada para petinggi ini keadaan darurat karena ada 3 Soul Eater dan 1 Skeleton Dragon dan mungkin akan ada lebih banyak lagi, para prajurit dan penyihir yang tersisa menutup gerbang lainnya dan berkemah di dekat sini untuk menghalau makhluk apapun yang mencoba keluar dan kirim pesan yang sama pada kota terdekat lainnya” ucap Lein dengan tegas.


Ia tak punya pilihan lain karena hal ini bisa menyebabkan masalah lebih besar, ia mengerti bahwa undead tidak dikalahkan secepatnya maka akan datang undead yang lebih kuat lagi sampai semua diberantas habis.


“Katakan kita akan menyerang kambali dalam waktu 9 hari lagi, karena jarak ibukota dan kota ini sekitar 4 hari... Sisanya kita minta bantuan dari kota terdekat”


“Baik”


“Sebenarnya apa yang terjadi disini” gumam Lein.

__ADS_1


~Ditempat Lain~


Zhel sedang melihat langit dari jendela tempat ia menginap, kamar itu hanya berisi 2 tempat tidur dan tidak ada pilihan lain karena ia sendiri tak boleh diketahui.


“Kota ini sangat damai ya?” tanya Zhel yang melihat banyak sekali Demi-Human yang berjalan.


Zhel melihat ras Dwarf dan Beastmen saling mengobrol tanpa ada diskriminasi, namun sayangnya ada beberapa hal yang menghancurkan pemandangan tersebut yaitu perbudakan. Zhel telah melihat beberapa budak yang lewat, di Kerajaan Dreidus perbudakan masih dilegalkan namun sudah ada rencana untuk menghilangkan hal tersebut yah walau masih sebuah rencana.


(Ya mereka terlihat senang)


Namun di wajah Kon tidak menunjukkan wajah senang melainkan wajah cemas, Zhel merasa ada yang aneh dengan sifat Kon akhir-akhir ini namun ia belum berani bertanya karena mungkin hal itu sangat penting bagi Kon.


“Kau tahu... Di dunia yang kulihat itu ada suatu teori yang mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang berarti mereka tak bisa hidup sendirian”


(Bukankah semuanya tau itu)


“Benar, namun manusia disana berbeda... Rasanya... Mereka lebih hidup dibanding kita”


(Apakah kau ingin menciptakan dunia seperti itu?)


Zhel mengangguk untuk menjawab pertanyaan Kon.


Kon hanya diam dan menjatuhkan bahunya mendengar kalimat Zhel.


“Karena itulah Kon... Jangan kau simpan sendiri bebanmu, ada kami yang akan terus menerimamu apa adanya... Aku tidak memaksamu, namun kau bisa katakan pada kami kapanpun kau ingin”


(Umm... Terima kasih)


Kon melepaskan cincin di jarinya dan melihat langit dari jendela.


-Aku mengerti... Namun bukan itu masalahnya. Pikir Kon.


Lalu sebuah ketukan datang dari pintu masuk kamar tersebut, Zhel langsung menutupi kepalanya dan tidur di atas kasur berbalutkan selimut. Kon membuka pintunya dan yang masuk adalah Helen yang membawa beberapa perbekalan seperti kain dan beberapa tanaman obat, mengetahui siapa yang masuk akhirnya Zhel keluar dari balik selimut.


“Kupikir aku sudah ketahuan”


“Ahaha jangan khawatir begitu, ah apa kalian bisa membantuku? Aku membeli banyak tanaman obat... Bantu aku meracik potion”


Dengan anggukan setuju akhirnya Kon dan Zhel ikut membantu Helen, mereka mulai menghaluskan tanaman. Biasanya membuat potion sangat sulit, namun Helen bisa membuat Potion darurat yang bisa dibuat lebih cepat walau keampuhannya kurang.

__ADS_1


“Jadi Helen... Kapan kita bisa pergi dari kota ini?”


“Sebenarnya kita sudah kehabisan uang sih, namun aku berkeinginan menunggu sampai Kon pulih benar”


(Maaf ya)


“Tidak masalah... Tanpamu kita semua sudah tamat di desa quet, apalagi kau terluka begini juga karena aku yang terlalu naif”


“Yang penting saat ini adalah bersiap, setelah kita sampai di hutan Willet kita bisa langsung kembali ke Ibukota menggunakan gulungan sihir”


“Yah... Dan juga kita harus memenuhi janjinya kan?”


“Benar, kalimat yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik kembal" ucap Helen dengan wajah cemas.


Kon bingung dengan pembicaraan yang ia tidak ketahui, namun akhirnya ia hanya diam karena menanyakan rahasia seperti itu maka ia harus membuka rahasianya juga.


“Baiklah apa kita bisa disini untuk 2 hari lagi?”


“Kurasa bisa”


“Bagaimana denganmu Kon? Apa kau tidak masalah?”


Mendengar pertanyaan yang melayang ke arahnya, Kon langsung mengenakan cincin dari Helen dan menjawab.


(Ah tidak masalah untukku)


Helen dan Zhel hanya menunjukkan senyum pada jawaban Kon, namun mereka mengerti bahwa ada rahasia yang masih Kon tutupi.


~Ibukota Kerajaan Dreidus, Juna~


“Baiklah keputusan kita sudah bulat bukan?” tanya seorang wanita tua yang penuh keriput di wajahnya.


“Ya... Kau tidak keberatan kan wakil selatan?”


‘Hmm” ucap Pria muda bertubuh kekar.


Dari jawabannya terdengar sedikit keraguan, namun wakil lainnya hanya diam dan melanjutkan.


“Baiklah kesimpulan saat ini adalah kita membuat aliansi dengan Kerajaan Waren... Kirimkan pesan pada Raja Waren , katakan bahwa salah satu duta besar akan berkunjung”

__ADS_1


__ADS_2