
~Pagi Datang~
Kicau burung membangunkan setiap individu di Kerajaan Waren, saling bersahutan dan merdu bagai lantunan lagu indah.
Semua utusan Kerajaan Severth pulang, disisi lain Kerajaan Waren menetapkan Jim Dazzel bukanlah tersangka. Hal ini tetap dirahasiakan dari masyarakat karen takut akan ada pemberontakan dari dalam negeri. Kemungkinan kerajaan akan di protes karena menahan Pahlawan Jim Dazzel, setiap orang yang mengetahui hal ini ditutup mulutnya rapat oleh kerajaan.
“Apakah paman akan membiarkan mereka begitu saja?”
“Aku juga tidak yakin... Namun hanya ini pilihan terbaik untuk saat ini, agak dilema rasanya ketika tahu bahwa senjata para pahlawan itu terbuat dari benda suci milik sahabat kita”
“Yah benar juga... Ngomong-ngomong paman, apakah kau sudah mengirim seseorang ke Hutan Willet?”
Raja Adam hanya menunjukkan wajah bingung dengan memiringkan kepalanya pada Zhel, melihat itu Zhel tahu apa jawabannya.
“Begitu ya... Pasti ujungnya aku lagi” ucap Zhel menghembuskan nafas berat.
“Maaf yah namun pilihan terbaik memang dirimu saja setelah melihat kondisi saat ini”
“Kondisi apa maksud paman?”
“Pertama tubuhmu seperti Ras Demonkin, kemungkinan masyarakat akan mengnggapmu sebagai musuh karena tubuhmu berbeda... Kemarin aku juga sempat menyadari ada beberapa prajurit yg berbisik tentangmu”
Zhel mengelus tanduknya setelah mendengar hal itu.
“Kedua kemungkinan banyak hambatan diperjalanan, sudah dipastikan harus orang kuat yang berangkat”
“Paman jadi terdengar merendah” ucap Zhel dengan wajah bermasalah.
“Yah kau benar.... Dan ketiga, ini yang terpenting... Untuk tugas ini hanya orang yang paling kupercaya mengerjakannya, aku sempat berpikir untuk mengirim salah satu petinggi namun aku tak melakuknnya karena terlalu berbahaya jika orang penting dari kerajaan pergi ke dunia luar... Dan kau tidak termasuk sebagai orang penting dalam kerajaan ini jadi kau adalah pilihan terbaik”
“Bisakah paman tidak selalu menjelaskan segala hal dengan detil? Hal itulah yang membuat anak-anak jadi tidak nyaman berbicara dengan paman” ucap Zhel dengan wajah bermasalah.
“Maaf sudah kebiasaan” ucap Raja Adam menggaruk pipinya.
Zhel melihat langit yang cerah, ia memikirkan perjalanannya nanti. Namun ia akan merasa kesepian jika sendirian.
“Oiya paman boleh aku membawa beberapa orang?”
“Ha?”
~Seminggu Kemudian~
“Apa semuanya sudah siap” tanya Zhel.
“Aku siap berangkat!” jawab Kon.
“Terima kasih sudah mengajak kami Zhel” jawab Helen.
Mereka adalah orang yang akan menemani Zhel pergi ke Hutan Willet.
“Bagus sekali... Hey Ana kau yakin tidak mau ikut?!” Tanya Zhel pada Ana yang berdiri di depan pintu istana.
Namun yang menjawab bukan Ana, melainkan ayahnya Raja Adam Waren IV.
“Kurang ajar! Masih berani kau mengajak putriku di depan mataku?!” jawab Raja Adam dengan geram.
Sebelumnya Zhel berniat mengajak Ana secara diam-diam, namun Raja Adam mengetahuinya dan menolak dengan keras permintaannya.
“Y-ya sudah... Baiklah kami berangkat dulu” ucap Zhel dan kelompoknya yang pergi meninggalkan istana.
Zhel ditemani Helen dan Kon akan pergi ke Hutan Willet yng jauh berada di barat daya.
“Berapa lama kita sampai di sana?” tanya Kon.
__ADS_1
“Hmm sekitar 3 minggu kurasa” jawab Zhel.
“Heh?! Itu lama sekali!”
“Mau bagaimana lagi... Kita harus menghindari kerajaan Severth yang wilayahnya cukup besar, jika tak ada masalah sebelumnya sudah dipastikan kita akan sampai dalam waktu seminggu”
“Tapi kita memutar cukup jauh lho... Bahkan sampai melewati Kerajaan Dreidus dan Republik Safanes” ucap Helen sembari melihat peta yang ia bawa.
“Hmm... Kurasa tidak masalah... Kita bisa sekalian melihat-lihat dan membeli beberapa suvenir... Kudengar Kerajaan Dreidus banyak sekali alat sihir yang kuat, aku jadi tidak sabar” ucap Kon.
“Kau itu suka sekali mengumpulkan benda aneh... Pikirkanlah dapur mulai saat ini” ucap Helen.
“Dapur? Eh mungkinkah kalian?” tanya Zhel terkejut.
“Yap benar sekali... Helen dan aku sudah bertunangan”
“HEEE??!!! KAPAN?!”
“Beberapa hari yang lalu aku melamarnya” jawab Kon mengangkat jari telunjuknya.
“Kau tidak masalah dengan itu Helen?!”
“Mau bagaimana lagi kan? Tak ada satupun wanita yang menyukainya, karen itu aku merasa kasihan padanya” ucap Helen dengan wajah merona.
“Begitu ya” ucap Zhel dengan wajah bermasalah.
“Jahat! Kemarin kau bilang mencintaiku kan?!” tanya Kon dengan wajah menyedihkan.
“Heh?! A-aku tidak bilang begitu!”
Dan perdebatan pasangan dimulai, Zhel menatap langit sembari berpikir.
-Kapan jodohku datang?
~Di Istana Kerajaan Severth~
Para utusan sudah kembali, mereka membawa beberapa informasi. Saat ini mereka sedang berhadapan dengan Raja Kerajaan Severth yaitu Lionas Severth VII.
Ia duduk di singgasana yang mewah, tubuhnya gempal dan wajah nya begitu berminyak. Kumisnya tipis dengan janggut pendek, rambutnya hitam bergelombang panjang sampai ke punggung.
“Yang Mulia kami kembali” ucap Taka sembari berlutut.
“Bagus sekali... Jadi bagaimana?”
“Tidak ada hal baru, semua sama persis seperti di dalam pesan”
Selena dan Miya bertukar pandang karena tidak tahu bahwa Taka sudah mengirim informasi tanpa permisi terlebih dahulu
“Begitu ya... Baiklah aku akan memulai rencanamu setelah ini”
“Jadi anda menyetujui rencana saya?” tanya Taka.
“Ya... Karena menurutku rencana itu sungguh menarik” ucap Raja Lionas dengan senyum jahat di wajahnya.
~Seminggu Setelah Zhel Pergi~
“Apakah masih jauh?” tanya Kon.
“Tidak... Sebentar lagi kita sampai di perbatasan Republik Safanes yaitu Kota Benteng Adrazil” ucap Helen yang melihat peta di tangannya.
“Tapi kurasa memasukinya kita akan menyelinap” ucap Zhel.
“Benar juga yah... Tidak mungkin kita masuk dengan Zhel yang bertanduk, kemungkinan ia langsung diburu dan ditangkap” jawab Helen.
__ADS_1
“Begitulah... Kalian masuk seperti biasa dan aku akan memyusul nanti” ucap Zhel dengan nada bercamda.
“Bagaimana caranya?” tanya Kon.
“Kalian hanya perlu berbicara pada para penjaga dan alihkan perhatian mereka... Setelah itu aku akan menyelinap masuk... Baiklah itu dia kotanya kalin bisa pergi sekarang” ucap Zhel yang melihat sebuah dinding besar.
“Eh disini? Kau yakin?” tanya Helen.
“Tenang saja” ucap Zhel.
“Baiklah kami akan menunggumu didalam sana” ucap Helen dengan wajah bermasalah.
Mereka berpisah, Kon dan Helen berjalan menuju tembok besar. Zhel menaiki pohon tinggi dan melihat mereka dengan mata yang di alirkan Mana, itu bisa membuatnya melihat jarak jauh hingga beberapa kilometer di lahan yang kosong.
Setelah beberapa menit, Zhel melihat Kon dan Helen sedang berbicara dengan para penjaga. Barang bawaan mereka diperiksa, namun sebelumnya mereka memang tak membawa benda aneh seperti lambamg Kerajaan Waren dan sejenisnya.
Dari kejauhan Zhel melihat Helen seperti bertanya tentang sesuatu pada penjaga tersebut.
“Helen memang bisa di andalkan” ucap Zhel tersenyum.
Zhel turun dari phon dan bersiap berlari secepat mungkin, setelah menarik nafas panjang ia berlari sekuat tenaga dsembari mengaliri kakinya dengan Mana.
Ketika ia berlari debu beterbangan dibelakangnya, namun setelah menambahkan lebih banyak Mana. Debu di belakangnya membutuhkan waktu sebelum berhamburan, itu seperti sebuah delay beberapa detik. Hal itu menunjukkan Zhel berlari bahkan lebih cepat dari angin, dalam waltu kurang dari 15 detik ia melewati gerbang yang telah terbuka.
“Jadi begitulah nyonya, setidaknya anda bisa menggunakan mata uang kerajaan lain di sini” jawab penjaga atas pertanyaan Helen.
“Begitu ya.. Terima ka—“
Helen berhenti dengan kalimatmya setelah hembusan angin yang sangat besar datang dari belakangnya, Kon dan para penjaga juga merasakan angin besar tersebut. Namun angin tersebut hanya sekejap kemudian menghilang, para penjaga penasaran angin apa itu barusan. Disisi lain Kon dan Helen memasang wajah bermasalah, itu karena mereka mengetahui apa penyebab anhin tersebut.
Setelah pemeriksaan selesai, Kon dan Helen dipersilakan memasuki gerbang. Setelah mereka berjalan cukup lama, akhirnya sosok yang mereka kenal muncul.
“Yo” ucap Zhel mengangkat tangan kanannya.
“Yo jidatmu! Angin apa itu barusan?! Kupikir kau akan menyelinap seperti biasa” ucap Kon dengan kesal.
“Hahaha maaf ini adalah cara paling efisien kan”
“Sudahlah kalian berdua... Lihat itu kita sudah sampai”
Helen menunjuk sebuah kota besar, sepertinya ada jarak antara gerbang dengan kota. Di kota tersebut ada dinding batu setinggi rumah yang lebih kecil dari gerbang sebelumnya menghalangi, namun Zhel merasakan bahwa ada sebuah dinding Mana yang menyelimuti kota tersebut.
“Wah kalau ini aku tidak bisa tidak ketahuan... Seperti yang diharapkan dari kota benteng” ucap Zhel dengan senyum kecut.
“Eh kenapa? Bukannya tidak ada dinding besar yang menjaga kota tersebut?” tanya Kon.
“Memang tidak.. Namun dinding sihir ada”
“Eh?”
“Yah mau bagaiman lagi... Kita akan berpisah lagi dari sini”
“Mau melakukannya lagi ya” ucap Kon manjatuhkan bahunya.
Zhel bersiap berlari lagi, setelah menarik nafas panjang ia langsung berlari dengan kecepatan seperti sebelumnya. Debu beterbangan menghalangi penglihatan Kon dan Helen.
“Dia itu... Semenjak memiliki kekuatan aneh itu, ia jadi begitu bersemangat” ucap Helen.
“Yah namun tidak masalah juga sih... Zhel tetaplah Zhel... Tidak akan berubah sama sekali”
“Kau benar yah... Baiklah setelah sampai disana belikan aku sebuah bir yah”
“EH?!”
__ADS_1