
“Zhel hati-hati... kemampuannya memanipulasi waktu” ucap Lein menunjukkan ekspresi serius.
saat itu Lein sudah tidak mampu lagi bergerak dan hanya terduduk saja, ia merasa tubuhnya masih belum kembali normal. kemungkinan karena otot tubuhnya yang sebelumnya berhenti oleh sihir waktu.
“Waktu?! Apa kemampuan seperti itu ada?!” tanya Zhel terkejut.
“Aku juga tak mengerti, namun kemampuannya sungguhan... Spesialis kecepatan sepertiku juga tak bisa menyerangnya”
“Sihir Waktu?”
Mendengar sihir itu, Zhel teringat dengan sihir milik Helen yaitu Future Viewer yang bisa melihat masa depan. Namun sihir yang dimiliki musuh adalah memanipulasi Waktu, Zhel tak mengerti apa yang harus dilakukannya.
“Waktu adalah Elemen mutlak bagaimana bisa mengalahkan musuh seperti itu?” ucap Zhel dengan keringat yang mengucur di wajahnya
“Tunggu... Sebelumnya kau bisa menyelamatkanku dari dalam area tersebut kan?”
“Hmm benar juga... Ah aku tahu” ucap Zhel dengan senyuman di wajahnya setelah menyadari sesuatu.
Melihat senyum Zhel yang muncul tiba-tiba, rasa penasaran Lein muncul.
“Apa kau punya cara?!” tanya Lein penuh harap.
“Ya... Tentu saja ada”
Zhel berjalan mendekati area waktu yang melambat, Baston penasaran dengan apa yang Zhel lakukan. Baston berpikir Zhel sudah menyerah dan siap memberikan nyawamya.
“Ada apa? Apa sudah selesai? Kita bahkan belum saling menyerang” ucap Baston tersenyum berani.
“Haha... Sihirmu sangat merepotkan , namun sayangnya kau mendapatkan musuh yang salah”
“Bodoh ya... Tak ada yang bisa mengalahkan waktu, bahkan cahaya dan kegelapan bisa tunduk pada waktu... Karena itulah waktu adalah kekuatan yang mutlak” ucap Baston dengan senyum di wajahnya.
“Mutlak katamu? Yah benar... Waktu memanglah mutlak, takkan ada yang bisa mengalahkan waktu baik cahaya atau kegelapan... Namun... Sihir tetaplah sihir, entah itu sihir waktu sihir kegelapan ataupun cahaya semua itu tetaplah sihir” ucap Zhel berhenti tepat di depan garis area sihir waktu Baston.
Baston memicingkan matanya tanda curiga, Baston berpikir kemungkinan Zhel memiliki sebuah rencana untuk mengalahkannya namun apa itu Baston sendiri tidak tahu.
“Memang benar ini adalah sihir memanipulasi waktu, namun bisakah kau mendekat kemari?” tanya Baston mengejek. dengan senyum jahat di wajahnya
“Tentu saja”
Zhel berjalan memasuki area sihir waktu milik Baston namun langkahnya tidak berhenti, melihat itu Lein dan Baston hanya membuka mata mereka lebar.
“Bagaimana bisa?!” tanya Lein.
“K-kau?! Mengapa tidak terhenti?!” tanya Baston terkejut.
“Sudah kubilang kan bahwa sihir waktu tetaplah sebuah sihir... Dan masalahnya” Mengangkat jari telunjuk kanannya ke atas “Kau mendapatkan musuh alami semua penyihir”
Setelah beberapa langkah, Zhel berhenti tepat di depan Baston yang terdiam. Zhel mengeluarkan katana dari sarungnya dan menusuk dada secara perlahan Baston tanpa ragu.
“Berakhir sudah” ucap Zhel yang menusuk Katana ke dada Baston.
“Apa kau pikir begitu? Back Track” ucap Baston tersenyum.
Baston yang tertusuk katana Zhel menghilang bagai debu, kemudian ia muncul kembali di dekat Zhel secara utuh tanpa luka.
“Kau saja yang mati” ucap Baston mencoba menikam jantung Zhel.
Dengan cepat Zhel menangkisnya dan menikam balik Baston dengan sangat cepat, namun Baston kembali menghilang bagai debu dan muncul lagi di dekat Zhel.
“Haha... Hanya ini saja?” ucap Baston mengejek.
Zhel kembali terkejut, ia bertanya-tany kenapa bisa padahal ia sudah terkana serangan mematikan sebanyak 2 kali.
“Kau... Bagaimana bisa?” tanya Zhel dengan wajah terkejut.
“Sudah kubilang, aku ini memiliki banyak sihir yang memanipulasi waktu kan”
“Hmm.. Jadi kau mengembalikan kondisi tubuhmu seperti beberapa waktu lalu”
“Tepat... Selama aku bisa menggunakan sihir maka aku takkan pernah mati”
__ADS_1
“Begitu ya”
Zhel mengangkat sebagian bibirnya menunjukkan wajah kemenangan, Zhel memasukkan kembali katana ke tempatnya.
“Kau sudah menyerah?” tanya Baston dengan nada yang penuh rasa kemenangan.
“Tidak... Sudah kubilang, kau salah karena melawan musuh alami semua penyihir”
Zhel berlari dan menyerangnya seperti pertarungan biasa, ia tak menambahkan Mana apaoun ke bagian tubuhnya segingga tak ada kekuatan lebih. Saat ini pertarungan itu seperti pertarungan antar prajurit yang biasa tanpa kemampuan apapun.
“Kenapa? Kau pikir bisa mengalhkanku hanya dengan pukulan saja?” ucap Baston sembari menghindari setiap serangan.
Baston menghindar sekaligus menangkis setiap serangan dari Zhel, namun Zhel terus menyerang dan menunjukkan senyumannya. Setelah beberapa waktu berlalu mereka menjaga jarak dengan melompat menjauh.
“Yosh sudah cukup kurasa”
“Hmm? Apa maksudmu? Aku masih berdiri disini”
“Begitukah? Baiklah... Facused Punch”
Zhel memukul angin di depannya dan membuat sebuah hentakkan angin yang terpusat, dengan suara *Dug yang cukup keras, serangan tersebut melubangi dada Baston begitu saja.
“Sudah kubilang ini percuma” ucap Baston tersenyum, kemudian ia melanjutkan “Back Track”
Namun tubuhnya tak menghilang, ia masih berdiri disana dengan dada yang berlubang. Karena kebingungan ia menatap Zhel dengan rasa penasaran, Baston tak mengerti kenapa ia tak bisa menggunakan sihirnya.
“Kenapa?”
“Aku adalah musuh alami semua penyihir, itu sudah kukatakan sebelummya... Apa kau tahu kenapa kau tidak bisa menggunakan sihir? Itu karena Mana milikmu sudah habis atau mungkin sudah tidak cukup karena itulah sihirmu tidak bekerja”
“Kau? Apa mungkin kau itu...”
“Tepat... Aku bisa memanipulasi Mana, namun ini bukanlah sihir melainkan kemampuan alami milikku... karena itulah aku bilang bahwa diriku adalah musuh alami semua penyihir”
Setelah mendengar hal tersebut, Baston jatuh ke tanah dengan mata yang terbuka lebar.
“Kekuatan... Mutlak... Yang sesungguhnya” ucap Baston yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Zhel berdiri demgan wajah penuh kemenangan, ia memasang wajah bermasalah pada Baston.
Zhel berjalan menghampiri Lein yang masih duduk dengan rasa nyeri di sekujur tubuhnya, Lein tak mengedipkan matanya melihat kedua kemampuan luar biasa bertarung di hadapannya.
“Lein... Sebentar lagi ada orang dari Kerajaan Waren datang” ucap Zhel yang menghampiri Lein.
“Eh?”
“Aku dan lainnya akan pergi dari kota... Tolong jangan katakan apapun tentang kami, sampai jumpa”
“Tu-tunggu?!” ucap Lein yang kemudian menggenggam sedikit jubah Zhel.
Zhel terhenti karena jubahnya di genggam oleh Lein, Zhel mengalihkan wajahnya dan melihat Lein yang menunjukkan wajah penasaran.
“Zhel... Kemampuanmu itu?”
“Maaf aku bisa menjelaskannya, namun ini saat yang tidak tepat kumohon mengertilah”
mendengar itu, Lein terdiam sejenak kemudian menjawab.
“Baiklah” ucap Lein melepaskan genggamannya.
Setelah jubah Zhel dilepaskan, Zhel langsung berlari dan mencari Kon dan Helen yang kemungkinan mereka berada di sekitar gerbang tempat mereka keluar sebelummya.
Setelah beberapa lama, Zhel berhasil menemukan mereka berdua. Saat itu Kon sedang bertarung dengan anggota Thousand Magic, sedangkan Helen sedang mengobati korban yang terluka.
-Tidak ada waktu, jika ketahuan bisa jadi masalah nanti. Pikir Zhel.
Zhel langsung menembakkan Crossbow ke musuh yang ada di dekat Kon, Zhel langsung mendekati Kon dan berbicara.
“Kon mari pergi sekarang!” ucap Zhel.
“Tapi?!”
__ADS_1
“Tidak ada waktu... Jika ketahuan, maka misi ini gagal”
Mendengar hal itu Kon sedikit kecewa, namun Kon melihat ekspresi Zhel yang begitu serius jadi kemungkinan Zhel memiliki alasan untuk hal itu.
“Baiklah... Jelaskan padalu nanti”
“Kalau begitu... Helen!” teriak Zhel pada Helen yang sedang memberikan sihir penyembuhan pada korban.
Helen melihat asal suara yaitu Zhel, ia merasa sedikit lega melihat temannya tidak terluka. Namun Zhel langsung menghampiri Helen dan menggendongnya seperti tuan putri.
“Tu— Zhel?!”
“Tidak ada waktu... Ayo pergi!”
Mereka bertiga pergi menuju gerbang keluar, saat itu mereka meninggalkan kekacauan besar yang terjadi di Kota Adrazil.
~Di Pusat Kota Adrazil~
Seorang prajurit berarmor lengkap menghampiri penanggung jawab Kota Adrazil yang sedang melihat menara pusat yang hancur berantakan.
“Selamat siang Nona Lein Lowvet”
Mendengar namanya di sebut, Lein berbalik dan melihat asal suara.
“Hmm... Siapa?” tanya Lein pada pria berarmor.
“Nama saya Dreig komandan Paladin Kerajaan Waren... Maaf bila saya menggangu di waktu yang kurang tepat”
Mendengar nama tersebut Lein agak terkejut, namun ia sudah diberitahu sebelumnya.
“Tidak masalah... Jadi ada urusan apa Komandan Paladin Kerajaan Waren di Kota ini?”
“Untuk itu.. Bisakah kita berbicara empat mata?”
Setelah itu Kota Adrazil melakukan pembersihan musuh prajurit Kota Adrazil dibantu oleh paladin dari Kerajaan Waren, dan hanya dalam hitungan jam semua musuh ditumpas habis. Setelah itu Lein dan Komandan Dreig menuju mansion tempat tinggal Lein dan memulai pembicaraan mereka, ruangan tersebut hanya berisi mereka berdua tanpa ada satupun orang yang mengganggu.
“Jadi urusan apa yang sebenarnya dilakukan Kerajaan Waren di Kotaku?” ucap Lein yang setelah itu meminum tehnya.
“Sebelum itu... Bisakah anda menjamin tidak ada yang menguping hal ini?”
Mendengar kalimat tersebut, Lein merasa diejek karena makna lain dari kalimat tersebut.
“Apa anda pikir rumah saya penuh celah?”
Mendengar hal itu Komandan Dreig sedikit menyesal, sebelumnya ia juga melihat beberapa prajurit yang menjaga seluruh rumah ini. Bukan hanya diluar namun di dalam juga, di luar jendela ada beberapa prajurit yang berjaga sama seperti di depan pintu ruangan.
“Maaf atas ketidak sopanan saya” ucap Komandan Dreig yang kemudian menunduk.
“Langsung ke intinya saja... Setelah ini saya masih banyak pekerjaan seperti membangun ulang menara pusat” ucap Lein.
Komandan Dreig meminum teh yang telah disediakan, setelah menaruh kembali di meja ia langsung melihat Lein dengan wajah serius.
“Kerajaan Waren ingin membuat aliansi dengan Republik Safanas”
~Jauh Di Luar Kota Adrazil~
Zhel, Kon dan Helen berjalan menuku kota selanjutnya.
Saat itu Kon dan Helen berjalan sempoyongan di dekat Zhel, mereka merasa mabuk setelah apa yang Zhel lakukan.
“A-aku tidak mau lagi” ucap Kon dengan wajah suram.
“A-aku mau mu— uwek!” ucap Helen yang kemudian muntah di belakang pohon.
Mereka mabuk berat setelah Zhel menggendong mereka berdua di bawah lengannya dan berlari kencang keluar kota Adrazil.
“Oh ayolah tadi itu cukup menyenangkan bukan?” tanya Zhel dengan wajah kemenangan.
“Dari mana?!” 2x
Kon dan Helen saling dukung untuk menolak ucapan Zhel, mereka merasa bahwa sebuah pilihan buruk jika harus diperlakukan seperti sebelumnya.
__ADS_1
“Baiklah lupakan dulu itu... Setelah ini... Hmm kita akan menuju Kota perbatasan Dilem” ucap Zhel sembari membuka Peta.
Mereka melanjutkan perjalanan perlahan larena kondisi Kon dan Helen yang sangat buruk.