
~Di Dalam Bar~
“Aku ketahuan ya” ucap Zhel dengan wajah bermasalah.
Ia menunjukkan wajahnya pada Lein, namun Lein hanya tersenyum berani.
“Jadi bagaimana jika kau jelaskan sambil minum beberapa bir?”
“Aku tidak keberatan”
Melihat Zhel yang sudah ditemukan oleh Lein, Kon dan Helen menghampirinya.
“Kau ketahuan juga akhirnya ya”
“Mata Kak Lei itu unik... Ia bisa melihat besar atau kecilnya Mana milik seseorang” ucap Helen.
“Heh?! Beneran?!” teriak Zhel.
“Ya... Bisa dibilang kemampuan itu sama seperti milikmu” ucap Helen dengan senyum di wajahnya.
“Hee... Jadi dia memiliki kemampuan yang sama sepertiku ya” ucap Lein dengan nada penasaran.
Ia melihat Zhel yang masih menggunakan penutup kepalanya, melihat itu ia agak penasaran.
“Perkenalkan namaku Lein Lawvet aku adalah penanggung jawab Kota Benteng Adrazil” mengulurkan tangannya.
“Ah namaku Zhel Draze” menjabat tangan Lein.
“Jika kau adalah Teman Kon dan Helen... Kurasa kau bukan orang jahat, namun aku belum bisa mempercayaimu” ucap Lein memicingkan matanya.
“Benar juga yah” ucap Zhel mengeluarkan wajah bermasalah.
Akhirnya mereka duduk bersama di sebuah meja, kemudian introgasi kecil Lein dimulai.
“Jadi untuk apa kalian ke kota ini?” tanya Lein.
“Kami hanya singgah, setelah istirahat besok kami akan langsung pergi... Tujuan kami adalah Hutan Willet” jawab Kon.
“Begitu ya... Lalu kenapa kau berpenampilan seperti itu?”
“Mau bagaiman lagi? Lihat ini” ucap Zhel yang kemudian membuka penutup kepalanya.
Lein terkejut melihat sebuah tanduk hitam yang ada di kepala Zhel, namun ia langsung membenarkan posisinya.
“Hmm wajar kau tak ingin menarik perhatian, manusia manapun akan terkejut ada kemungkinan juga diserang jika tahu kau mirip monster” ucap Lein yang mencubit dagunya.
“Maaf ya.. Aku harus menerobos masuk”
“Tidak masalah, yang penting kalian tidak membuat onar di kota ini karena itu akan menambah beban pekerjaanku lagi”
Kemudian pelayan datang membawa bir ukuran besar, pelayan tersebut terkejut melihat Zhel. Namun ia terdiam setelah melihat Lein yang duduk berseberangan dengan Zhel, mungkin karena si pelayan berpikir bahwa Zhel adalah tamu Lein. Sebelum pergi, Lein memberikan uang tutup mulut pada si pelayan.
“Dari nada bicaramu sepertinya Kota ini juga sedang dalam masalah ya?” tanya Zhel.
“Begitulah... Beberapa hari lalu kelompok Thousand Magic menyerang Kota benteng ini, jadi itulah kenapa kami sangat waspada saat ini”
__ADS_1
“Thousand Magic kah? Mereka adalah orang-orang yang mendewakan Raja Iblis Ouroboros yang bisa menggunakan banyak sihir besar” ucap Helen.
“Kalau tidak salah yang menyerang Ibukota Kerajaan Waren kemarin juga Kelompok itu” ucap Kon.
“Mereka juga menyerang Kerajaan Waren?! Bukankah yang menyerang adalah Raja Iblis Scar?!” ucap Lein yang terkejut.
“Ini adalah rahasia Kerajaan Waren... Namun kau harus berhati-hati dengan Kerajaan Severth”
“Kerajaan Severth?”
“Benar... Yang memimpin Kelompok tersebut adalah Jim Dazzel”
Mendengar nama pahlawan tersebut Lein semakin terkejut, ia membuka bola matanya lebar.
“Bohong?! Pahlawan menyerang Kerajaan Lain?”
“Ini tidak bohong... Anggap saja ini hadiah dari kami karena telah membiarkan kami lewat... Sebenarnya Kerajaan Severth mengklaim tanah Kerajaan Waren miliknya, jadi kalian sebaiknya berhati-hati... ada kemungkinan hal yang sama dilakukan pleh Kerajaan Severth pada Republik Safanas" ucap Zhel.
Mendengar hal itu Lein masih tak percaya, namun Kon dan Helen mengiyakan ucapan Zhel.
“Aku masih belum percaya... Mana buktinya?”
“Sudah kubilangkan ini rahasia Kerajaan Waren, hanya informasi tersebut yang bisa kami berikan”
Lein menggigit kuku ibu jarinya sembari memasang wajah serius, ia berpikir ada juga kemungkinan yang dikatakan oleh Zhel. Namun karena itu rahasia Kerajaan Waren maka ia belum bisa mendapatkan buktinya, masuk akal jika itu memang rahasia suatu Kerajaan.
“Kalau begitu aku ingin tahu sesuatu... Bagaimana bisa Pahlawan bergabung dengan kelompok pemuja Raja Iblis?”
“Untuk itu kami juga tidak tahu”
“Heh? Kau mempercayaiku?”
“Tentu saja... Aku tidak merasakan kebohongan dari setiap jawabanmu” ucap Lein.
“Kebohongan? Apa kau bisa mengetahuinya?” tanya Zhel.
“Begitulah... Mataku bukan hanya bisa melihat intensitas Mana, namun juga melihat kebenaran dari jawaban seseorang”
“Beneran? Keren!” ucap Kon.
“Aku tidak tahu Kak Lei memiliki kemampuan seperti itu” ucap Helen.
Mendengar hal itu Zhel menunjukan wajah bermasalah.
-Untung aku menjawab pertanyaannya dengan jujur. Pikir Zhel
Malam itu mereka berempat minum sampai larut, mendengarkan musik ceria dan bercerita tentang masa lalu. Semua perbedaan dihapuskan bersamaan dengan bir yang mereka pesan.
~Di Malam Yang Sama~
Sebuah gang sempit di dalam kota benteng Adrazil terdengar berbagai jeritan bisu penuh kepedihan, suara itu berasal dari beberapa orang yang tewas terbunuh.
“Besok pagi kah? Para pengkhianat itu terlalu percaya pada ceritanya yang tidak masuk akal” ucap Pria bertudung hitam.
Ia menarik sepasang daggernya yang tertusuk pada tubuh salah satu korban.
__ADS_1
“Tak masalah... Besok pagi perang akan berkecamuk di dalam kota ini” ucapnya sembari mengangkat sebagian bibirnya.
Kemudian seorang pria berjubah hitam muncul di belakangnya.
“Tuan Baston semua pasukan sudah bersiap, mereka bisa menyerang kapan saja” ucap pria berjubah.
“Bagus... Kita akan menyerang tepat saat pergantian penjaga besok pagi" ucap Pria bertudung yang disebut Baston.
Mereka berjalan kedalam kegelapan gang sempit tersebut.
~Keesokan Paginya~
Zhel dan lainnya sudah siap berangkat kapanpun, kemarin malam mereka menginap di belakang Bar karena belum sempat memesan penginapan sebelummya.
“Baiklah ayo kita lanjutkan perjalanan kita” ucap Zhel.
“Hey aku bahkan hanya tidur 2 jam” ucap Kon.
“Salahmu sendiri menantang Kak Lei minum” ucap Helen.
"Itu karena aku tidak tahu kalau Kak Lei adalah peminum keas berat!" teriak Kon dengan nada kesal.
“Sudahlah... Kita harus pergi secepatnya” ucap Zhel.
Mereka mengangkat tas yang mereka bawa, matahari belum terbit sepenuhnya. Mereka berhasil keluar gerbang kecil pertama dan hendak menuju gerbang besar paling luar, namun mereka terpaksa berhenti akibat sebuah ledakan besar terdengar dari dalam kota Adrazil.
“Hey apa itu?” ucap Kon yang terkejut.
Yang mereka lihat adalah kepulan asap yang terbang tepat ditengah kota, selain itu mereka juga melihat Menara utama perlahan miring dan hendak jatuh.
“Serangan?!” tanya helen.
Kon dan Helen langsung berlari kembali ke dalam kota, mereka berpikir pasti Lein ada di Menara utama karena ia adalah penanggung jawab Kota Adrazil. Zhel tidak berlari cepat, ia mengimbngi laju Kon dan Helen sembari bertanya.
“Hey kenapa kita kembali?”
“Kak Lei dalam bahaya! Jika ia adalah penanggung jawab Kota maka ia pasti ada di Menara pusat yang sedang jatuh itu” ucap Kon dengan panik
“Kita harus menolongnya”
“kalian ini ya... bukankah kalian bilang ia orang yang kuat?" tanya Zhel
“Itu benar... Namun kami tetap khawatir, Zhel bisakah kau pergi duluan?”
“Bisa sih namun—“
Zhel merasakan Aura besar dari dalam kota, sebelumnya ia tak bisa mendeteksi apapun di dalam kota karena kota tersebut dilindungi oleh dinding sihir. Namun sebelumnya Lein bisa menemukan Zhel, maka tidak mungkin ia tak melihat aura yang terpancar jelas seperti ini. Ada kemungkinan musuh sangat handal bersembunyi hingga bisa meniadakan hawa keberadaannya.
“Aura ini... Besar dan bukan hanya 1” ucap Zhel.
“Aura besar katamu?”
“Ya... Namun jika Lein salah satunya maka ia takkan mampu melawan yang lain bersamaan... Kalau begitu aku pergi duluan, kurasa ini bisa menjadi kerjasama nantinya”
Zhel berlari lebih cepat seperti kemarin, ia menambahkan banyak Mana ke kakinya hingga membuatnya berlari lebih cepat. Hanya dalam beberapa detik ia sudah memasuki kota lagi, dan yang dilihatnya sebuah perang besar di dalamnya. Warga panik dan berlari ke berbagai arah, sedangkan bnyak prajurit yang bertahan melawan musuhnya.
__ADS_1
“Mereka? Thousand Magic?!”