Veel World : The Miracle With Flaws

Veel World : The Miracle With Flaws
Chapter 1.1


__ADS_3

suara pohon yang tertiup angin terdengar, kemudian suara burung burung berkicau dimana mana.


"Oh iya Zhel... apakah kau tidak ada niatan turun gunung Zhel?" tanya Kon


"Maaf saja ya... Aku tidak ingin merasakan hal yang bodoh seperti dulu" ucap Zhel dengan nada bermasalah


"Bodoh kah? Menurutku merekalah yang bodoh... Aku juga akan kesal jika menjadi dirimu"


"Namun yang kutahu jumlah mana yang kau miliki sangat besar kan... Aku sedikit merasa kecewa karenanya" ucap Helen.


"Percuma saja memiliki jumlah mana yang banyak jika tak memiliki bakat sihir" ucap Zhel.


"Jika kau bisa menggunakan sihir sudah pasti kau akan menjadi penyihir kuat" ucap Helen.


"Jangan membuatku bermimpi... Jumlah Manaku mungkin jauh lebih banyak dari jumlah kalian... Namun tanpa bakat sihir sama saja seperti manusia biasa" ucap Zhel.


Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempat ledakan energi sihir yang dikatakan Helen, Zhel di ajak karena ia memiliki banyak pengalaman di gunung ini.


"Tapi ya... Kondisi sepertimu belum pernah terjadi" ucap helen.


"Ya... Belum pernah ada kasus manusia yang memiliki mana tak bisa menggunakan sihir" ucap Kon.


"Kalian berdua... Aku jadi merasa sedang dibully" ucap Zhel dengan wajah bermasalah.


"Maaf ya" ucap helen.


Namun tiba tiba helen berhenti dan memasang wajah serius.


"Kalian berdua... Aku merasakan keberadaan makhluk kuat" ucap helen.


"Heh? Aku tak merasakan apapun" jawab kon.


"Sepertinya ia menyembunyikan keberadaannya... Kon gunakan sihir Sensitive Sense dan tambahkan mana lebih banyak" ucap helen


"Baiklah... Sensitive Sense"


Kemudian Kon terkejut seperti merasakan hal yang sama seperti yang Helen rasakan.


"Energi ini..." ucap Kon yang mengerutkan dahinya.


"Ya... Mana yang mengerikan sekali... Makhluk apa yang memiliki Mana sebesar ini?" tanya Helen dengan serius.


"Oi oi kalian sepertinya merasakan sesuatu... Ada apa memangnya?" tanya Zhel penasaran.


"Ini akan sangat berbahaya Zhel... Kau tetaplah dibelakang" Ucap Kon sembari berjaan perlahan ke asal energi itu.


Akhirnya kami berhenti di pinggir jurang yang membatasi hutan bagian selatan.


"Tempat ini..." ucap Zhel.


"Kau tahu sesuatu Zhel?"


"Ya... Aku pernah menuruni tempat ini... Di dasarnya ada banyak sekali tumpukan mayat dari berbagai ras... Sepertinya tempat ini menjadi kuburan bagi mereka yang gugur dalam perang di masa lalu" ucap Zhel.


"Kalau begitu bisa kau menuntun kami turun ?" tanya Kon.


"Baiklah... Namun jangan sampai kaget ya" ucap Zhel dengan keringat yang mengalir deras di wajahnya.


Zhel ingat saat pertama kali ia turun ke bagian dasar jurang, yang ia temui adalah sesuatu yang mungkin tidak pantas untuk di bicarakan.


Mereka bertiga menuruni jurang dipimpin oleh Zhel, mereka turun lewat jalan yang dulu dibuat oleh Zhel secara rahasia.


Ketika mereka sampai di dasar, hanya ada kegelapan saja di sekitar mereka.


"Light" ucap Helen.


Kemudian sebuah bola cahaya muncul dan menerangi sekitar. Setelah jalan mereka menjadi sedikit terang, Helen terkejut dengan apa yang ia injak.


"A-apa ini?!" tanya Helen.


"Sudah kubilang jangan terkejut... Dasar jurang ini bukanlah tanah melainkan tumpukan mayat... Sepertinya dasarnya masih jauh di bawah" ucap Zhel.


"Mengerikan sekali" ucap Kon.


"Baiklah ayo kita maju" ucap Helen dengan wajah pucat ketakutan.


Mereka bertiga berjalan dengan beralaskan mayat, mereka juga melihat sisa tulang dan mayat yang masih agak segar.


"Tapi tempat ini... Apakah tidak ada yang tahu tempat ini ya?" tanya Kon.

__ADS_1


"Pasti ada... Karena beberapa dari mayat mayat ini masih segar, sepertinya mayat itu baru saja di buang kesini" ucap Zhel.


"Kenapa mayat mayat ini dibuang kesini? Hmm apa tujuannya... Ah--" Kon seperti mengetahui apa tujuan tempat ini.


"Kenapa Kon?' tanya Zhel.


"Helen... Kurasa aku tahu asal dari energi ini!" ucap Kon.


"Kau tahu?" tanya Helen.


"Mayat mayat ini... Mereka digunakan sebagai tumbal" ucap Kon dengan nada serius.


"Tumbal?!?" tanya Helen.


"Kau ingat kejadian setelah perang di dataran Barnuk?" tanya Helen.


Helen terkejut dan mengerti apa maksud dari Kon.


"Jadi maksudmu?!"


"Ya... Sepertinya mayat ini ditujukan untuk menumbuhkan Magical Tree" ucap Kon.


"Kalau begitu kita harus bergegas!" Helen berlari secepat mungkin menuju sumber energi.


"Oi ada apa ini?! Aku tidak mengerti sama sekali" tanya Zhel.


"Magical Tree... Pohon keramat yang menumbuhlan Mana Fruit... Jika buah itu dimakan maka si pemakannya akan mendapatkan Peningkatan Mana" ucap Kon.


"Jadi siapapun yang memakannya maka Kapasitas Mananya akan bertambah ?" tanya Zhel.


"Ya.. Tapi efek sampingnya si pemakan bisa menjadi gila jika tak sanggup menerima Kelebihan Mana nya... Kalau itu terjadi maka... Kita harus bersiap melawan makhluk setingkat Ancient Dragon" Ucap Kon


Zhel terkejut mendengar hal tersebut, walau ia tak pernah bertemu Naga tapi ia tahu bahwa naga adalah ras terkuat dari semua ras.


"Saat ini kita harus mengambil buah nya dan mengamankannya... Buah itu tidak bisa hancur, cara satu satunya hanya memakannya" ucap Helen.


Mereka bertiga berlari menuju asal energi, akhirnya mereka menemukan sebuah goa di dinding.


"Energinya berasal dari dalam... Kita akan menerobos" ucap Kon yang memimpin jalan.


Mereka masuk ke dalam goa, namun tidak ada jebakan atau apapun di dalamnya. Ketika mereka berlari semakin dalam, mereka menemukan sebuah pohon kecil dengan 1 buah kecil mirip buah leci berwarna perak.


"Itu dia!" ucap Kon.


"Nature Trap" ucap seorang pria yang muncul dari balik bayangan.


Helen dan Zhel berhenti karena mendadak Kon terikat oleh beberapa akar besar yang muncul dari tanah.


"Oya? Bukankah itu Kon dan Helen? Apa kabar kalian berdua" ucap seorang pria keluar dari bayangan.


Ia memiliki rambut hitam dan mata biru, postur tubuhnya tinggi berisi seperti seorang atlet.


"Kau?! Shasa?!" tanya helen.


"Tolong jangan berteriak di dalam goa seperti ini... Kau tahu gemanya membuat telingaku sedikit sakit" ucap Pria yang bernama Shasa.


"Shasa! Apa maksudnya ini?! Lepaskan aku!" ucap Kon dengan kesal.


"Sudah kubilang jangan berteriak ditempat seperti ini kan" ucap Shasa yang kemudian mengepalkan tangannya.


Akar yang menjerat Kon menjadi lebih erat bersamaan dengan kepalan tangan Shasa.


"Maaf yah... Tapi aku tidak bisa membiarkan kalian mengganggu rencanaku" ucap Shasa yang mengangkat sebagian bibirnya.


"Rencana? Apa mungkin kau yang menumbuhkan Magical Tree ini?" tanya Helen.


"Yap tepat sekali" ucap Shasa sembari mengangkat jari telunjuknya.


"Oi oi oi oi... apa maksudnya ini? Dia menumbuhkan pohon aneh itu? Bagaimana bisa?" tanya Zhel.


"Hmm? Bukankah kau Zhel Si Keajaiban Yang Cacat? Ahahaha hari ini sungguh mengejutkan" ucap Shasa yang tertawa sembari memegang kepalanya.


"Aku tak ingin mendengar nama itu" ucap Zhel dengan nada serius.


"Yosh baiklah... Akan aku jelaskan rencananya pada kalian... Lagipula setelah ini kalian juga akan mati disini dan menjadi pupuk untuk Magical Tree" ucap Shasa yang kemudian mendekati Magical Tree.


Ia melihat buah sebesar Leci berwarna perak dengan senyum aneh di wajahnya.


"Kalian tahu bahwa memakan Mana Fruit akan menambahkan kapasitas Mana kan? Itu benar sekali... Namun dari semua manusia yang memakannya tidak ada yang berhasil hidup... Kenapa?" tanya Shasa.

__ADS_1


"Tentu saja Mana seluruh umat manusia itu memiliki batasnya" jawab Helen.


"Tepat... Lalu bagaimana jika itu ras lainnya? Dragonewt? Elf? Dark Elf? Oni? Kijin? Apa yang akan terjadi?" tanya Shasa.


Namun tak ada satupun ang menjawabnya, karena hal itu belum pernah rerjadi. Di dataran bagian timur ini pemukiman manusia dan Ras lainnya juga berbeda, dan kerajaan Waren tidak pernah dikunjungiboleh ras lain. Oleh karena itu pengetahuan tentang Mana Fruit yng dimakan oleh Ras lain masih misteri.


"Kau? Jangan bilang kau ingin melakukan percobaan kepada Ras selain manusia?" tanya Helen.


"Benar... Aku sudah memiliki subjek percobaan itu" ucap Shasa dengan senyum anehnya.


Percobaan kepada makhluk hidup lain adalah hal tabu bagi makhluk hidup manapun. bahkan kerajaan Waren yang selalu menjaga jarak dengan ras lainnya juga melarang hal itu karena sudah diluar kemanusiaan.


"Subjek itu... Dari ras apa dia?" tanya Helen.


"Hmm... Bisa dibilang ia Ras manusia super" ucap Shasa dengan nada bercanda.


-Manusia super? Apa maksudnya? Manusia dengan kekuatan diluar nalar? Namun aku tak tahu ada manusia seperti itu. Pikir Zhel.


Ketika Zhel berpikir, ia menyadari Kon sudah hampir terlepas dari jeratan sihir Shasa.


"Baiklah pembicaraan ini kurasa selesai" ucap Shasa.


"Yah... Kurasa begitu" ucap Helen.


Setelah kalimat Helen, Kon langsung lepaskan diri dari jeratan Shasa dan berlari menuju Magical Tree. Shasa menyadari Kon yang sudah terlepas, hingga ia mengalihkan pandangannya dari Zhel dan Helen.


"Tidak semudah itu Earth Barrier" ucap Shasa.


Kemudian sebuah dinding batu membatasi antara Kon dan Magical Tree.


"Wind Slash" ucap Helen.


Kemudian cahaya berwarna hijau berbentuk sabit menyerang Shasa dengan cepat, Cahaya hijau tersebut terbentuk dari pengerasan udara secara paksa oleh sihir.


"Kau mencoba melawanku dengan sihir? Anti-Magic Area" ucap Shasa.


Serangan Helen tiba-tiba menghilang setelah 1 meter lagi mengenai Shasa.


"Ayolah.. Apa hanya it--" ucap Shasa terhenti.


Ia tak menyadari Zhel yang sudah di dekatnya dengan sepasang kapak di setiap tangan.


"Kena kau!"


Shasa melompat mundur menghindari serangan Zhel, kemudian Zhel melempar salah satu kapaknya. Namun dengan mudah dihindari oleh Shasa.


"Helen... Kenapa sihirmu mendadak menghilang?" tanya Zhel.


"Shasa adalah penyihir yang memiliki bakat anti sihir... Serangan sihir lemah takkan berpengaruh padanya" ucap Helen dengan kesal.


"Ayolah... Apakah hanya itu kemampuan kalian?" ucap Shasa.


"Belum selesai!" ucap Kon dari belakang Shasa.


Kon melemparkan kapak milik Zhel ke arah Shasa, namun sekali lagi ia berhasil menghindarinya.


Shasa melihat ke arah Kon, dan yang dilihatnya adalah sebuah lubang di dinding tanah buatannya.


"Haha... Aku mendapatkannya" ucap Kon yang menggenggam sesuatu di tangan kanannya.


"Mungkinkah?!"


"Ya... Yang kami incar sudah kami dapatkan" ucap Kon dengan senyum berani.


"Kalian... Leaf Catcher! "ucap Shasa.


Sebuah akar dari tanah dengan sangat cepat mengikat tubuh Kon, akar tersebut mengikat berbagai tempat dari leher sampai ke kaki.


"Kalian...!" ucap Shasa dengan nada kesal


Kon mencoba melepaskan akar yang mengikat lehernya dengan kedua tangan. namun karena hal itu Shasa menyadari sesuatu.


"Zhel sekarang!" ucap Helen.


"Baik!"


Zhel berlari hendak keluar dari goa sendirian, sebelumnya Mereka sudah berencana jika kejadian seperti ini terjadi. Kon dan Helen akan membiarkan Zhel kabur dari sini membawa Mana Fruit, setelah itu barulah Kon dan Helen bisa bertarung dengan bebas. mendengar rencana ini Zhel sedikit berkecil hati, namun itu adalah pilihan terbaik.


Kemampuan Helen dan Kon buknlah isapan jempol, mereka juga memiliki bakat yang tak semua orang bisa melakukannya.

__ADS_1


Ketika Zhel berlari secepat mungkin, ia tak menyadari sesuatu datang mengejarmya dari belakang. ketika Zhel sadar, ternyata sebuah api berbentuk ular besar sudah memakan tubuhnya.


"Snake Fire" ucap Shasa dengan senyum jahat di wajahnya.


__ADS_2