Veel World : The Miracle With Flaws

Veel World : The Miracle With Flaws
Chapter 2.1


__ADS_3

Di depan gerbang masuk ibukota kerajaan Waren.


Zhel dan lainnya terlihat penasaran dengan antrian yang cukup panjang ini, biasanya antrian gerbang ibukota tidak sepanjang ini.


“Hey Kon... Bukankah ini aneh?” Tanya Helen.


“Ya... Seramai apapun Ibukota biasanya takkan sampai membuat antrian sepanjang ini” Jawab Kon dengan nada serius.


“Apakah mungkin ada kejadian saat kita menjemput Zhel?” tanya Helen.


“Entahlah... Ini juga salah Zhel yang membuat senjata yang merepotkan” ucap Kon.


“Heh? Merepotkan? Maaf saja ya... Aku tak bisa bertarung tanpa senjata karena aku bukan penyihir seperti kalian” ucap Zhel dengan kesal.


“Ah giliran kita... Ayo” ucap Kon.


Mereka bertiga maju dan menemui seorang prajurit dengan armor siap tempur, Kon maju dan menyapa orang itu.


“Yo pak Helgard apa yang terjadi disini?” tanya Kon.


“Kon... Darimana saja ku seminggu ini? Padahal ada keadaan genting beberapa hari lalu” ucap Pria bernama Helgard.


“Kejadian genting?” tanya Kon


“Ya.. 4 kota di dekat ibukota telah direbut oleh Organisasi Thousand Magic” Ucap pak Helgard.


“Thousand Magic? Mereka bergerak lagi ya” ucap Helen dengan Kesal.


“Kerajaan baru meminta bantuan pada Pahlawan Miya Naitsumi dari Kerajaan Severth” ucap Pak Helgard.


“Maksud anda pahlawan yang mereka panggil dari dunia lain?” tanya Helen.


“Ya... Namun belum ada kabar balasan dari negara Severth” ucap Pak Helgard dengan sedih.


“Bukankah mereka seharusnya menjadi pilar kebenaran untuk mengalahkan Raja Iblis?” tanya Helen.


“Begitulah yang dikatakan Ramalan... namun sepertinya kerajaan Severth ingin membuat Para Pahlawan menjadi milik mereka sendiri” Ucap Pak Helgard.


“Kerajaan yang hanya egois seperti itu seharusnya hancur saja” ucap Zhel.


Pak Helgard bingung melihat pemuda berambut putih yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


“Maaf siapa anda?” tanya pak helgard pada Zhel.


“Ah maaf belum memperkenalkan diri, saya adalah Zhel temannya Helen dan Kon” Ucap Zhel dengan nada sopan.


“Maksudmu Zhel yang berhasil mengalahkan si pengkhianat Shasa?” tanya pak Helgard.


“Ya dia orangnya... Kalau begitu pak Helgard boleh kami masuk... Sebenarnya kami membawa Zhel untuk mendaftar sebagai penyihir kerajaan juga” ucap Kon.


“tentu saja masuklah... Dengan adanya penyihir kuat maka kerajaan juga akan semakin aman... Berusahalah Zhel” ucap Pak Helgard sembari menepuk pundak Zhel.


“Ya terima kasih” ucap Zhel.


Mereka bertiga memasuki ibukota, dan yang dilihat oleh mereka adalah puluhan orang yang duduk di pinggiran jalan dengan wajah penuh derita.


“Mereka ini?” tanya Zhel.


“sepertinya mereka adalah para pengungsi dari kota yang telah di ambil alih... Mereka ke sini karena merasa lebih aman... Namun dengan kekuatan penyihir kerajaan saat ini mungkin kami tak bisa menjamin keselamatan semua orang” ucap Helen dengan nada sedih.


“Belum lagi kerajaan Severth masih egois seperti itu... Seharusnya pahlawan yang dipanggil dari dunia lain itu adalah pelindung seluruh ras dan bukan property sebuah kerajaan” ucap Kon dengan kesal.


“Dunia lain ?” tanya Zhel.


“ya... Kerajaan Severth memiliki sihir khusus yang bisa memanggil 7 Pahlawan dari dunia lain... Yang baru terpanggil hanya 4 saja Miya Naitsumi, Selena Drezil, Taka Terushi, Jim Dazzel... Mereka berhasil Mengalahkan Seekor Naga liar setelah dipanggil” ucap Kon.


“Hee pahlawan ya... Pasti mereka sangat kuat” ucap Zhel dengan senyuman.


“Mereka dikatakan mampu mengalahkan Raja Iblis bila sudah mencapai puncak kekuatannya” ucap Helen.

__ADS_1


“Hmm aku agak penasaran... Dunia mana mereka berasal? Apakah mungkin dunia yang waktu itu kulihat” ucap Zhel dengan sedikit penasaran di pikirannya.


-Jika mereka berasal dari Dunia itu, aku ingin mempelajari banyak hal dari mereka. Pikir Zhel


Tanpa disadari mereka bertiga sampai di sebuah bangunan yang sangat besar di dekat istana kerajaan.


“Kita sudah sampai... Ayo masuk Zhel, kami akan membantumu mendaftar” ucap Kon.


“Ya”


Ketika mereka memasuki bngunan tersebut, banyak sekali orang yang sedang sibuk. Ada yang membaca buku, ada yang sedang belajar merapalkan sihir. Ketika mereka sampai di depan resepsionis, seseorang memanggil mereka dari kejauhan.


“Kon Helen... kalian sudah pulang?” ucap seorang pria tinggi berambut hitam rapih dan menggunakan pakaian penyihir berwarna merah.


“Ah Heru kau datang menyambut kami ya” ucap Helen


“Ya... Aku agak penasaran dengan orang yang kalian rekomendasikan” ucap Heru dengan senyuman.


“Ah ini dia, Zhel... Kau pasti sudah mengenalnya kan?” ucap Kon dengan senyuman.


“Zhel? Apakah mungkin dia Si Keajaiban Dengan Cacat?” ucap Heru terkejut.


“Ya perkenalkan namaku Zhel” ucap Zhel mengulurkan tangannya.


Heru terdiam, kemudian Wajahnya berubah dengan senyuman yang tidak baik seperti meremehkan. Heru langsung menolak salaman Zhel dengan cara menampar tangan Zhel.


“Huh... Kupikir siapa yang kalian bawa.. Ternyata Zhel si Cacat itu ya... Mana sudi aku bersalaman denganmu” ucap Heru dengan Wajah penuh senyum jahat ke arah Zhel.


-Wah aku masih terkenal rupanya. Pikir Zhel


Pikir Zhel dengn sedikit kecewa, namun Zhel belum merasa kesal pada Heru.


“Heru itu tidak sopan ta—“ ucap Helen terhenti.


“Ah aku sudah muak disini... Memangnya bisa apa si keajaiban dengan cacat ini lakukan? Menggunakan sihir saja tidak bisa... Mana mungkin ia bisa menang melawan penyihir lainnya” ucap Heru dengan sombongnya.


“Kenapa? Bukankah yang kuucapkan itu benar? Tanpa sihir manusia seperti itu bisa apa?” ucap Heru.


“Beraninya kau menghina temanku... Aku menantangmu duel Heru” ucap Kon dengan kesal.


“hee... duel? Bukankah memalukan melawan orang yang pangkatnya lebih rendah darimu? Atau mungkin kau tidak punya malu?” ucap Heru mengejek.


“Beraninya ka—“ ucap Kon yang hendak memukul wajah heru, namun dihentikan oleh Zhel.


“Wah itu akan memalukan sekali Kon... Ah bagaimana kalau aku saja yang menantangmu Heru?” ucap Zhel dengan senyuman.


“Hee... Memangnya kau bisa apa?” ucap Heru dengan sombong.


“Kenapa ? Apa kau takut?” tanya Zhel dengan senyuman.


“Takut? Bukankah seharusnya kau yang takut? Haha orang yang tak bisa menggunakan sihir bisa apa?” ucap Heru mengejek.


“Baiklah... Begini saja... Jika aku kalah kau bisa mengambil ini semua” ucap Zhel yang mengeluarkan sebuah Ore berukuran besar dari Storage Ring.


Yang keluar adalah setumpukan besar Ore Adamantite dan Mythrill, ore tersebut menumpuk hingga 4 kali ukuran tubuh Zhel.


“Bagaimana? Jika kau menang kau bisa mengambil Ore ini dan aku akan pergi dari sini selamanya” ucap Zhel dengan senyuman.


Heru terkejut dengan munculnya banyak Ore Adamantite di depannya, ia belum pernah menemukan Ore sebanyak ini seumur hidupnya. Bahkan di gudang kerajaan tidak ada Ore sebanyak ini.


“Oi Zhel... Tunggu dulu?!” ucap Helen terkejut.


“Kenapa? Tidak masalah kok... Aku masih punya segudang benda seperti ini di rumah” ucap Zhel.


“Iya sih.. Tapi kan—“ ucap Kon terhenti karena dipotong oleh jawaban dari Heru.


“baiklah.. aku terima tantanganmu... kalau kalah jangan menyesal ya?” ucap Heru dengan wajah jahat penuh keserakahan.


-Kena kau... pikir Zhel

__ADS_1


“Ya tentu saja... Ah berhubung hanya aku yang bertaruh disini... Jadi aku boleh menentukan peraturan dan hadiah yang kudapat bagaimana?” ucap Zhel dengan senyuman.


“Ya tentu saja... Aku tidak keberatan” ucap Heru dengan sombong.


“Baiklah kalau begitu aku ingin melaporkannya langsung ke ketua asosiasi penyihir” ucap Zhel.


“Kalau begitu aku akan menunggunya” ucap Heru yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah itu Kon langsung menggenggam pundak Zhel, dan menggoyangkannya dengan geram.


“Apa yang kau lakukan Zhel?!” ucap Kon.


“Menantangnya tentu saja” ucap Zhel.


“Kenapa kau lakukan itu?!” tanya Kon.


“Aku tidak bisa mengatakannya disini... Bagaiman kalau kita ke tempat ketua asosiasi... Aku ingin memberitahu tentang peraturan dan hadiah dari duel ini” ucap Zhel.


“Kau ini tidak mend—“ ucap Helen terhenti setelah mendadak melihat wajah serius Zhel.


“Aku ingin bertemu ketua asosiasi sekarang” ucap Zhel serius.


“Sepertinya ada alasan serius untuk ini... Baiklah kami akan mengantarmu” ucap Helen.


Helen dan Kon mengantarkan Zhel ke ruangan Ketua asosiasi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


~Di sebuah ruangan gelap~


“Bagaimana kelanjutan rencananya?” tanya seseorang dibalik bayangan.


“Semua lancar... Namun aku tidak yakin setelah kedatangan Si Kegelapan Dan Gadis Pencipta” jawab Heru.


“Tidak masalah... Setelah semua beres maka kau akan mendapatkan imbalannya... Kau boleh beristirahat sampai rencananya dimulai” ucap Orang di balik bayangan.


“Haha terima kasih... Untungnya aku mendapatkan sebuah keadaan yang menguntungkan” ucap Heru dengan senang.


“Keadaan yang menguntungkan?” tanya orang di ballik bayangan.


“Ya... Aku baru saja ditantang oleh seseorang yang tak bisa menggunakan sihir... Namun ia mempertaruhkan sejumlah besar Ore adamantite... Aku berpikir apa orang itu terlalu bodoh ya” ucap Heru.


“Hoo... Kalau begitu selamat atas kemenanganmu... Dan juga... Tuan sepertinya senang dengan pencapaianmu... Nanti malam kau akan bertemu langsung dengannya, jadi persiapkanlah dirimu” ucap seorang dibalik bayangan.


“Ya ucapkan terima kasih pada tuan” jawab Heru.


Kemudian orang yang ada di bayangan menghilang bagai tak pernah ada, Heru langsung tersenyum lebar mendengar berita bagus barusan.


“Tuanku Raja Iblis Scar ingin bertemu denganku.. betapa bahagianya diriku ini hahaha” ucap Heru dengan Tawa Gila.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di sebuah ruangan kantor.


Beberapa orang sedang berbincang dengan serius.


“Apa kau punya buktinya?” ucap seseorang yang duduk dibelakang meja.


“Buktinya adalah apa yang kulihat... Namun aku juga bisa memberikan buktinya ketika duel dimulai” ucap seorang berambut putih.


Pria di belakang meja terdiam dan berpikir, kemudian ia mencapai sebuah keputusan.


“Baiklah kuizinkan... Namun jika tak terbukti maka kau yang akan kuanggap sebagai pelakunya” ucap Pria dibelakang meja dengan serius.


“Terima kasih... Untuk itu anda harus membantu saya dengan akting” ucap Pria berambut putih.


“Akting?”


Ruangan tersebut mendadak sunyi karena ucapan si pria berambut putih.

__ADS_1


__ADS_2