Veel World : The Miracle With Flaws

Veel World : The Miracle With Flaws
Chapter 3.4


__ADS_3

~Di balkon belakang istana Kerajaan Waren~


4 orang sedang duduk dan meminum teh dengan tenang.


“Jadi... Kenapa kau mengundang kami kemari?” tanya Selena.


“Ayolah jangan seperti itu... Aku hanya ingin tahu dunia Miya yang disebut Bumi itu”


“Huuh? Miya... Apa kau tidak keberatan dengan itu?” tanya Selena pada Miya.


“Tidak masalah... Setidaknya aku tidak merasa sendirian lagi” jawab Miya.


“Begitu ya” ucap Selena meminum teh nya.


Mereka berbicara lalu diam, berbicara lagi lalu diam lagi seperti itu terus menerus. Mungkin karena Zhel tidak memiliki pengalaman berbincang dengan wanita selain Helen sebelumnya.


“A-ano... Miya... Aku ingin tahu, kalau tidak salah di Bumi ada sebuah kereta beroda 4 tanpa kuda ya?” tanya Zhel.


“Ah maksudmu mobil?”


“Ya benar! Mobil! Bagaimana benda besi seperti itu bisa berjalan? Apakah menggunakan sihir?” tanya Zhel dengan penuh minat.


“Tidak tidak... Mobil itu menggunakan bensin”


“Bensin?”


“Itu sebuah benda cair yang menjadi bahan bakar untuk mobil”


“A-apa kau tahu cara membuatnya?!” tanya Zhel yang semakin bersemangat.


Semua yang ada disana hanya membuka mata lebar melihat Zhel yang begitu semangat tentang hal ini.


“Itu mustahil untuk siswi Sma sepertiku” ucap Miya dengan nada bermasalah.


“Begitu ya” ucap Zhel dengan nada kecewa.


Zhel langsung meleleh di kursinya, namun Ana tertawa pelan sembari menutup mulutnya.


“Kenapa?” tanya Selena pada Ana.


“Tidak... Rasanya sudah lama aku tidak melihat Zhel bersemangat seperti ini... Kalau tidak salah... Hmm benar 13 tahun lamanya” ucap Ana.


“Aku jadi penasaran sebenarnya apa hubungan kalian”


“Dulu sebelum ayahku menjadi Raja, aku dan ayahku tinggal di atas gunung... Kami membuang status keluarga kerajaan dan hidup tenang seperti rakyat biasa, saat itulah aku bertemu Zhel” ucap Ana yang kemudian meminum teh nya.


“Kalau tidak salah waktu itu kau sedang ketakutan diserang monster yah” ucap Zhel.


“Hmm?” Miya dan Selena saling bertukar pandang.


“Kau seharusnya melihat wajahmu Ana.. Waktu itu kau menangis sangat kencang kan?” ucap Zhel mengolok Ana.


“Ara... Bukankah setelah pertarungan hebatmu itu kau langsung menjerit seperti bayi baru lahir” timpal Ana dengan senyum di wajahnya.


Mendengar itu, Zhel merasa langsung kalah.


“Apa yang kau bilang? Dasar gadis rumput!” ucap Zhel.


“Hah?! Mau ngajak berantem lagi Bocah Serangga?!” jawab Ana dengan kesal.


Miya dan Selena hanya bertukar pandang melihat hal itu, mereka tidak mengerti hubungan Zhel dan Ana. Tanpa mereka sadari seseorang menghampiri mereka dari belakang, ia adalah Raja Adam Waren IV.


“Jadi kalian disini... Bukankah sudah agak larut untuk pesta teh?”


“Ayah? Kenapa ayah disini?”


“Ada yang ingin kubicarakan dengan para pahlawan ini.. Ngomong-ngomong dimana pahlawan Taka?” tanya Raja Adam.

__ADS_1


“Ia bilang sangat kelelahan dan langsung tidur di kamarnya” jawab Selena.


“Begitu ya... Tidak apa-apa”


Raja Adam duduk di kursi yang tersisa, ia langsung memulai pembicaraan rumitnya.


“Sebelumnya aku minta maaf atas apa yg komandanku lakukan pada pahlawan Jim Dazzel” ucap Raja Adam yang kemudian menunduk.


Melihat hal itu, Selena dan Miya langsung berontak dan meminta Raja mengangkat kepalanya. Memang terasa agak aneh jika seorang Raja menunduk pada utusan Kerajaan lain, namun sedari dulu itu adalah kebiasaan Raja Adam ketika merasa bersalah.


“Kalian anak yang baik yah”


“A-anoo... Bukankah agak berlebihan melakukan hal itu pada utusan kerajaan lain?” tanya Miya.


“Maaf... Itu sudah menjadi kebiasaanku haha”


Mendengar jawaban itu, Miya dan Selena saling pandang dan melihat Raja dengan wajah yang bermasalah.


“Baiklah lupakan dulu hal itu.. Saat ini aku datang untuk berbicara tentang sesuatu yang penting”


“Sesuatu yang penting?”


“Ya... Ini tentang Jim Dazzel”


Mendengar nama itu Selena langsung naik pitam, ia merasa bahwa pembicaraan ini akan sangat menjengkelkan.


“Apa yang akan anda lakukan padanya?”


“Tenang dulu Pahlawan Selena... Tolong dengarkan aku dulu... Ehem... Begini, apa kalian semua tahu bahan pembuatan senjata Inazuma milik pahlawan Jim Dazzel?”


Semua yang ada disana hanya menggelengkan kepala tanda bahwa mereka tidak tahu.


“Kami tidak tahu... Ketika kami di panggil, senjata itu mendekati kami dan memilih kami” jawab Miya.


“Jadi senjata itu bukan kalian bawa dari dunia kalian?”


“Hmm begitu ya” ucap Raja yang mencubit dagunya.


“Ada apa ayah?”


“Sebenarnya aku kurang yakin... Namun kapak itu terbuat dari Kayu Pohon Suci Elf”


“Pohon Suci Elf?”


“Ya.. Teksturnya sangat mirip ketika aku mengunjunginya dulu... Namun sebenarnya Kayu tersebut tidak boleh diambil kecuali dengan Izin seluruh Elf di Hutan Willet”


Mendengar hal itu Selena dan Miya terkejut, mereka mengetahui hutan tersebut. Namun kerajaan Severth melarang para pahlawan datang kesana karena alasan tertrntu.


“Untuk itu aku ingin tanya... Apakah kalian diberitahu bahan pembuatan senjata kalian?” tanya Raja Adam dengan nada serius.


“Tidak.. Kami tidak diberitahu”


“Kalau begitu aku sudah memiliki kesimpulan sendiri” ucap Raja Adam yang kemudian berdiri.


Ia berjalan untuk kembali ke dalam istana, namun ia terhenti setelah Miya menanyakan apa kesimpulan yang dimaksud Raja Adam.


“Tu-tunggu yang mulia.... Kesimpulan apa yng anda maksud?”


“Beberapa ratus tahun lalu kerajaan Waren pernah menyambut bangsa Elf yang sedang menjelajahi dunia... Mereka berasal dari pulau bagin Barat, kalau tidak salah berasal dari kerajaan Byrel”


“Byrel? aku tidak pernah mendengar kerajaan itu” ucap Azhel.


“Tentu saja... Mereka berasal dari bagian paling barat pulau utama ini... Namun waktu berlalu dan akhirnya Raja Iblis berhasil mengisolasi Dataran bagian timur ini, begitulah kata sejarah”


Raja Adam berbalik melihat kedua pahlawan yang kebingungan.


“Ketika bangsa Elf datang... Kami membuat perjanjian” ucap Raja Adam dengan wajah serius.

__ADS_1


“Perjanjian? Raja Waren terdahulu?” tanya Selena.


“Ya... Perjanjian perdamaian dan kerja sama, kami tidak boleh menyentuh pohon suci manapun milik Elf... dan kami akan saling menyambut apabila Manusia datang ke tanah para Elf begitu juga sebaliknya, entah itu Elf kerajaan Byrel atu Elf manapun mereka tetap dianggap teman... itu adalah perjanjian yang dibuat Raja Giordin Waren yang menjadi Raja sekitar 800 tahun lalu... Raja waren selanjutnya selalu menepati perjanjian tersebut, namun di dataran ini Elf sering sekali dijadikan budak... Di Kerajaan Waren, Elf selalu disambut baik, sayangnya Hutan Willet terletak bersebelahan dengan kerajaan Severth yang sering menjadikan para Elf sebagai Budak” ucap panjang lebar Raja Adam.


Mendengar penjelasan Raja Adam, semua orang di tempat itu terkejut. Mereka tidak tahu bahwa ada sebuah perjanjian damai antara Waren dan para Elf.


“Kesimpulannya disini... Kami kerajaan Waren tidak bisa tinggal diam, ketika Elf dijadikan budak Raja terdahulu di bungkam karena kerajaan severth bisa memanggil pahlawan... Namun setelah tahu kerajaan severth mencuri benda suci milik para Elf... Kami Kerajaan Waren tidak bisa tinggal diam” ucap Raja Adam dengan wajah penuh amarah.


Kedua Pahlawan termenung mendengar kata-kata Raja Adam, mereka merasa bersalah karena tidak tahu menahu tentang kekuatan yang mereka gunakan.


“Jadi apa yang ingin anda lakukan?” tanya Selena.


“Disini Pahlawan tidak bersalah... Namun senjata itu harus dikembalikan ke tempatnya, kalian masih boleh menggunakannya sampai kami bisa berkomunikasi dengan para Elf dari hutan Willet... Setelah berhasil kami akan mengembalikan senjata tersebut kepada mereka”


“Namun senjata ini milik kerajaan Severth!” ucap Selena.


“Jika begitu maka kami akan menghancurkan kerajaan tersebut”


Semua orang yang mendengarkannya terkejut, mereka tidak mengira kata-kata keras seperti itu keluar dari mulut Raja Adam.


“Berarti kalian akan melawan kami?!” tanya Selena.


“Jangan mengakui kalian milik Kerajaan Severth... Kalian adalah individu bebas yang dengan paksa dipanggil ke dunia ini... Agak kurang ajar menurutku setelah memaksa kalian, mereka memasang kerah di leher kalian”


Mendengar hal itu Selena terdiam, ia mengerti bahwa maksud Raja Adam tidak jahat. Namun untuk menghancurkan kerajaan Severth itu agak kurang benar.


“Tolong dengarkan Pahlawan Selena... Kami disini bukan untuk membela manusia saja... Namun untuk menunjukkan jalan yang benar... Apakah menurutmu wajar melihat Elf diperbudak? Apakah dimatamu mengambil kebebasan seseorang adalah hal yang wajar?”


“I-itu” ucap Selena dengan nada kalah.


“Aku mungkin bisa diam saja ketika Elf diperbudak... Namun jika Pohon Suci milik Bangsa Elf diambil tanpa permisi, aku tidak bisa tinggal diam”


Raja adam kembali berjalan memasuki istana.


“Besok kalian boleh pergi, namun kami tidak bisa memberikan pahlawan Jim beserta senjatanya... Kami akan merawat Pahawan Jim sampai ia sembuh total”


Mendengar ucapan Raja Adam, Selena bangkit dengan wajah sangat terkejut.


“A-apa maksud anda ia bisa berjalan lagi?!” tanya Selena.


“Tentu... Aku akan meminta kenalan lamaku yang seorang Healer untuk datang dan menyembuhkan lukanya.... Namun aku tidak bisa membiarkan kalian membawanya, aku akan bertanggung jawab penuh atas keselamatan Pahlawan Jim”


Selena langsung berlari dan bersujud pada Raja Adam, melihat itu Zhel dan Ana terkejut dan Raja Adam kembali berhenti.


“Kumohon sembuhkan dia! Jika ia tak bisa bertarung lagi aku tidak masalah! Tapi kumohon sembuhkan ia sampi ia kembali seperti sedia kala!”


Raja Adam menepuk bahu Pahlawan Selena dengan wajah yang ramah.


“Aku bisa menjamin keselamatannya atas namaku... namun aku tidak bisa janji tentang mentalnya”


“tidak masalah!”


Raja Adam tersenyum dan kembali berjalan memasuki Istana, Pahlawan Selena hanya memandanginya dengan diam dan berlinang air mata.


Zhel mengulurkan tangannya pada Pahlawan Selena, ia tersenyum dengan ramah.


“Bangunlah... Tak sepantasnya seorang pahlawan bersujud seperri itu” ucap Zhel.


~Di Ruangan Dekat Balkon Belakang Istana~


seseorang menguping pembicaraan Zhel dan lainnya dari balik dinding.


"Begitu ya... Baiklah jika itu memang keinginan kalian Kerajaan Waren"


Ia adalah Pahlawan Taka Terushi, ia mengsummon seekor burung merpati dan menaruh secarik kertas di kaki burung.


Setelah itu ia melepaskannya lewat jendela, burung merpati tersebut terbang ke langit.

__ADS_1


"Bersiaplah Kerajaan Waren... Setelah perang pecah, tanah ini akan menjadi milikku" ucap Taka.


__ADS_2