
~Di Kamar Tempat Zhel Dirawat~
“Apa yang harus kulakukan? Racun ini terlalu cepat”
Helen sedang berpikir sembari melihat racun yang semakin lama merambat di dalam tubuh Zhel, Helen berhasil menemukan racun tersebut namun racun itu terlalu cepat merambat dan juga cukup banyak untuk diatasi.
“Kalau begitu—“
Ucapan Helen terhenti setelah mendengar suara ledakan yang cukup keras, Helen langsung bangkit dan melihat dari jendela. Dan yang ia temukan adalah sosok berwarna ungu transparan yang sangat besar, makhluk tersebut memiliki banyak sekali benda mirip tentakel.
“Itu? Slime?!”
-Bahaya... Warga desa belum sempat mengungsi, apalagi Zhel masih belum sadar... Aku harus cepat. Pikir Helen.
Helen kembali ke sebelah Zhel, ia langsung memulai berimajinasi untuk menciptakan sebuah sihir. Sayangnya setiap sihir yang dibuat Helen memiliki kelemahan yaitu penggunaan Mana yang sangat banyak, ia hanya bisa menciptakan 1 sihir per hari begitu pula penggunaannya. Namun setiap sihir baru harus diketahui cara kerjanya tidak seperti merapal dan langsung tercipta, Helen harus tahu bagaimana dan mengapa keajaiban sihir bisa terjadi.
-Mana Zhel masih mengalir padaku, artinya ia masih sadar... Aku harus cepat menggunakan kesempatan ini. Pikir Helen.
Helen memikirkan bagaimana cara mengatasi racun yang menyebar itu, jika hanya menggunakan obat maka itu membutuhkan waktu untuk bekerja dan saat ini Zhel sudah tidak bisa menunggu pengobatan seperti itu.
-Cara terbaik adalah mengeluarkan racunnya dengan paksa. Pikir Helen.
Helen mulai berimajinasi dan berpikir bagaimana cara kerja sihir yang akan ia ciptakan, memanipulasi racun yang ada di tubuh Zhel sekaligus.
~Di Tempat Lain~
Kon sedang kabur dari kejaran pasukan Republik Safanas, Kon terus berlari ke arah yang berbeda dari tempat Zhel dirawat karena tak ingin Helen dan Zhel menjadi incaran.
-Kalau terus begini bisa gawat... Zhel tidak bisa bertarung dan Helen masih sibuk merawatnya, ditambah lagi Monster itu sedang mengamuk di desa... Tidak ada waktu untuk melawan pasukan ini, namun... Jika aku terus seperti ini maka keadaan mungkin akan lebih buruk!. Pikir Kon.
Kon berhenti dan berbalik melihat pasukan yang sedang mengejarnya, Kon langsung mengulurkan tangan kanannya ke depan.
“Black Bullet!"
Peluru hitam terbang menuju pasukan yang mengejarnya, itu adalah sihir proyektil yang menembakkan peluru hitam.
Namun para prajurit itu bertahan dengan perisai mereka, beberapa juga menggunakan sihir Aero Shield untuk menangkis peluru.
“Black Finger”
Dari bayangan Kon muncul 2 buah benda runcing yang kemudian menerjang para prajurit, itu mirip tentakel namun benda hitam itu tajam dan keras ditambah Kon juga bisa mengendalikannya sampai jarak tertentu.
“Maximize Magic : Aero Shield” ucap salah satu prajurit.
Sihir tersebut adalah tingkat kedua dari sihir Aero Shield sebelumnya, sihir tersebut membuat sebuah perisai dari udara menjadi 3 lapisan yang mengeras dan menghentikan semua serangan yang datang.
Tentakel hitam milik Kon tidak bisa menyerang pasukan tersebut karena sihir Aero Shield tersebut melingkaru para prajurit.
__ADS_1
“Cih... kalau begitu Shadow Lock!”
Bayangan Kon memanjang dan akhirnya menjangkau bayangan para prajurit, ketika bayangan Kon dan Prajurit bersatu semua prajurit dan Kon berhenti bergerak.
Sihir Shadow Lock memungkinkan si perapal menghentikan pergerakan musuh, namun si perapal juga tidak bisa bergerak dan ketika si perapal bergerak maka musuh yang ia hentikan juga bisa bergerak secara bebas.
“Sihir kegelapan lagi? Bagaimama mungkin?” ucap Seorang Prajurit.
“Dia bisa menggunakan sihir kegelapan?!”
“Bukankah sihir kegelapan hanyalah pemanggilan?!”
Kon tersenyum melihat para prajurit kebingungan, mereka tidak tahu bahwa sihir kegelapan bervariasi dan bukan hanya pemanggilan saja.
“Maaf saja ya... Kalian harus tidur terlebih dahulu” ucap Kon sembari tersenyum.
Sebuah bola hitam jatuh di dekat para prajurit, kemudian bola tersebut meletus dan mengeluarkan asap hitam.
“Apa ini?!”
“Tahan nafas kalian!”
Satu persatu prajurit terjatuh, mereka kehilangan kesadaran setelah mencium bau dari asap hitam tersebut.
“Nightmare Smoke... Menghirup asapnya kalian akan tertidur dan mendapatkan mimpi buruk”
“Sihir kegelapan lagi?!”
“Sial Mana milikku hampir habis”
Kon bangkit dan berjalan dengan kesadaran yang hampir hilang, ia menuju tempat Zhel dan Helen dirawat.
~Di Tempat Zhel~
“Baiklah sekarang aku harus mencobanya” ucap Helen sembari mengulurkan kedua tangannya.
Helen berhasil menciptakan sihir baru lagi, ia menciptakan sihir yang bisa mengendalikan suatu objek mulai dari benda keras maupun cair. Sihir tersebut mirip dengan sihir Poltergeist yang bisa mengendalikan suatu objek, bedanya sihir buatan Helen adalah jumlahnya. Sihir buatan Helen ini mampu menggerakkan banyak objek sekaligus dengan akurasi yang lebih baik dari pada sihir Poltergeist.
Saat itu Helen masih menggunakan Body Trouble Seeker sehingga ia bisa melihat semua racun yang ada di dalam tubuh Zhel.
“Kalau begitu Manipulation”
Racun yang ada di tubuh Zhel berhenti bergerak, kemudian secara perlahan mulai bergerak lagi. Semua racun tersebut perlahan keluar melalui pori-pori dan kelenjar keringat Zhel.
“Bagus jika terus begini maka racunnya bisa kuhilangkan”
Helen terus mengeluarkan racunnya perlahan, namun sebuah suara terdengar dari pintu masuk.
__ADS_1
“Keluarlah Demonkin!”
Helen terkejut mendengar suara tersebut, dari nadanya terdengar tidak bersahabat.
“Kau yang membawa monster raksasa itu kan?!”
Helen mulai panik dan kehilangan konsentrasinya, namun ia tetap mencoba melanjutkan sihirnya. Namun suara ledakan terdengar dari pintu masuk rumah.
“Helen!!! Bawa Zhel pergi dari sini!!!” ucap Kon dari luar rumah.
Helen semakin terkejut mendengar perkembangan yang tidak diduga, namun ia tidak menggubrisnya dan terus melanjutkan sihirnya karena tinggal sedikit lagi sampai racun di dalam tubuh Zhel terangkat.
-Sedikit lagi
Kemudian suara pertempuran terjadi di luar rumah tempat Helen dan Zhel berada, suara teriakan Kon yang penuh dengan rasa khawatir terdengar begitu lantang dan bercampur dengan suara besi dan bau darah.
Namun pintu di belakang Helen terbuka dengan keras, dari pintu tersebut 2 anak panah melayang dan menyerang Helen yang sedang mengobati Zhel. Karena Helen yang terlalu fokus pada Zhel, kedua anak panah tersebut menancap di tubuh Helen tepat di bahu kiri dan pinggang.
“Agh?!” teriak Helen dengan rasa sakit yang diterimanya.
Helen tetap fokus menggunakan sihirnya pada Zhel, namun sebuah anak panah kembali melayang ke arah Helen yang tidak bergerak.
“Aero Shield” ucap Helen sembari mengulurkan tangan kirinya ke arah datangnya anak panah.
Tangan kiri Helen menggunakan sihir Aero Shield untuk menangkis serangan yang datang, sedangkan tangan kanan Helen dipergunakan untuk mengendalikan racun di tubuh Zhel.
“Tidak akan kubiarkan kalian mengganggu!”
Helen mempertebal sihir Aero Shield dengan Mana yang ia terima dari Zhel, namun kesadarannya mulai pudar karena anak panah yang masih tertancap di tubuhnya.
-Sedikit lagi! Sedikit lagi!!
Setelah itu semua racun di tubuh Zhel berhasil dikeluarkan dan tubuh Zhel dipenuhi cairan ungu yang keluar dari tubuhnya, Helen melepaskan sihir di tangan kanannya dan duduk dengan nafas yang terengah-engah.
“Berhasil... Aku berhasil” ucap Helen sembari menunjukkan senyum kemenangan.
Namun setelahnya Helen kehilangan kesadaran dan terjatuh kesamping, sihir Aero Shield yang diaktifkan Helen juga menghilang.
“Hentikan serangan!!” ucap seseorang di balik pintu yang hancur.
Ia berjalan masuk, ia adalah pria berarmor sebelumnya.
“Tuan Gerald kenapa kita tidak memusnahkannya saja?”
“Ia sudah tumbang... Lagi pula kita bisa mendapatkan informasi jika ia masih hidup”
Gerald adalah wakil penanggung jawab kota Dilem, tempat yang akan dikunjungi oleh Zhel dan lainnya.
__ADS_1
“Kalian tangkap mereka semua” ucap Gerald pada beberapa prajurit.
Mendengar hal itu, para prajurit langsung maju dan hendak menangkap Helen dan Zhel. Namun ketika mereka melangkah lebih dalam ke ruangan, aura mengerikan mencekik mereka dan udara dingin menenggelamkan mereka dalam ketakutan. Kemudian yang mereka lihat adalah Zhel yang terduduk di kasur, ia menatap dingin para prajurit yang hendak mendekat.