
Zhel duduk di pojok ruangan dengan wajah yang menatap dinding, ia melakukannya karena dibelakangnya ada Ana yang sedang berganti pakaian.
“Sudah selesai” ucap Ana.
Zhel berbalik dan kini ia mendapati Ana yang menggunakan pakaian seperti seorang putri.
“Pakaian yng bagus... Ah benar, saat ini kau adalah seorang putri dari Kerajaan Waren hehe”
“Berhenti menggodaku... Aku masih tetap Ana, hanya gelarku saja yang berubah” jawab Ana sembari melipat tangannya dan mengalihkan wajahnya.
“Iya iya... Ngomong-ngomong Ana... Bagaiman penampilanku dengan tanduk ini?” ucap Zhel sembari mengelus tanduknya.
“Hmm agak aneh sih... Namun itu sudah tidak membuatku terkejut lagi” ucap Ana yang melihat kepala Zhel sembari mencubit dagunya.
“Apa maksudmu?”
“Coba pikir saja... Sebelum memiliki tanduk, rambut dan mata mu berubah sampai aku tidak mengenalimu... Jadi ketika muncul sesuatu yang baru aku sudah tidak terkejut lagi... Ah iya jika kau bertanduk seperti ini, aku jadi ingat ras Demonkin dari selatan”
“Demonkin?”
“Ya... Mereka memiliki tubuh berbeda-beda, ada yang bertubuh besar, ada yang bertubuh kurus, ada yang bersayap dan lainnya... Diantaranya juga ada yang bertanduk, namun wajah mereka menyeramkan semua”
“Itu artinya aku jadi terlihat jahat dong”
“Tidak juga... Ras Demonkin kebanyakan tidak mau berhubungan dengan ras lainnya karena tubuh mereka yang menyeramkan, namun ketika mereka membuka pintu hati mereka maka kebaikan yang luar biasa akan menghapus bentuk mereka yang menyeramkan loh”
“Begitu ya” ucap Zhel tersenyum
Zhel bangkit dan berdiri, ia mendapatkan sedikit kepercayaan diri setelah mendengar kalimat Ana.
“Terima kasih Ana... Itu memberiku sedikit rasa percaya diri”
“Sama-sama... Aku ini tetaplah kakakmu lho” ucap Ana yang memasang wajah nakal.
“Iya... Ah jika kau bertemu sahabatku Kon dan Helen pasti akan seru”
“Aku sudah mengenal mereka kok”
“Heh benarkah? Dimana?”
“Dulu aku sekelas dengan mereka... Dan ternyata mereka mengenalmu, mereka juga dekat denganmu... Karena aku tidak boleh keluar ibukota tanpa izin, aku meminta mereka mengawasimu”
“Begitu ya.. Terima kasih”
Setelah perbincangan itu, mereka berdua berjalan menuju ruangan Raja. Ana berniat melaporkan bahwa Zhel sudah siuman, namun ketika berjalan mereka bertemu seorang perawat.
“Tuan Putri” ucap perawat sembari membungkuk.
“Dimana Ayah? Apa dia ada di ruangannya?”
“Yang Mulia saat ini sedang menemui utusan penting”
“Utusan? Dari kerajaan mana?”
“Saya mendengar ia adalah utusan Kerajaan Severth”
Ana terkejut dan langsung memasang wajah serius, ia langsung berjalan menuju ruang tahta sembari menarik tangan Zhel.
“A-ada apa Ana?” tanya Zhel dengan heran.
“Ini pasti pertemuan penting... Aku harus hadir dan mendengarnya langsung”
“Tunggu!” ucap Zhel yanh menghentikan langkah Ana yang tergesa “Sebelum itu tolong lihat aku!”
Ana menyadari bahwa Zhel masih menggunakan pakaian pasien, ia tidak mungkin muncul di ruang tahta dengan pakaian seperti itu. Akhirnya Ana mengalihkan tujuannya, pertama ia menuju tempat prajurit dan meminta beberapa pakaian untuk Zhel. Setelah itu mereka berdua menuju ruang tahta yang saat ini pasti sedang memanas akibat kejadian kemarin.
~Di Ruang Tahta Istana Kerajaan Waren~
Para utusan terdiam melihat seorang pria yang duduk di sebuah kursi roda. Pria tersebut memiliki tubuh dengan luka mengerikan, kedua tangan dan kakinya tidak ada. Ekspresi pria tersebut bagai ikan mati, dari kelihatannya saja ia mengalami perlakuan mengerikan. Ia adalah Pahlawan Jim Dazzel.
“A-apa maksudnya ini?” tanya Taka Teruahi terkejut.
Di hadapan para utusan ada seorang pria cacat yang hanya diam.
“Apa yang kalian lakukan padanya?!” tanya Pahlawan Selena Drezil yang sedari awal hanya diam.
Selena Drezil memiliki rambut pirang dan kulit coklat, matanya hijau dan tajam. Tubuhnya memiliki postur bagus dan pantas jika disebut sexy. Rambutnya diikat ponytail dengan kuncir berwarna hitam, ia memakai pakaian khas penyihir kerajaan Severth yaitu jubah berwarna biru dongker.
__ADS_1
“Ia kehilangan tangan dan kakinya ketika berhadapan dengan Salah satu petinggi kerajaan yaitu Komandan Prajurit Dale Azanel... Ia melakukannya karena Pahlawan Jim Dazzel menyerang kerajaan” ucap Ketua Helder.
“Kurang ajar!” ucap Pahlawan Selena Drezil dengan kesal.
Ia mengeluarkan Tongkat dari sihir Storage dan berniat merapalkan mantra untuk menyerang, namun hal itu di tahan oleh Taka Terushi.
“Cukup Selena!”
Memdengar itu, selena mengurungkan niatnya untuk menyerang. Ia juga berpikir disini ia sedang berhadapan dengan seorang Raja, apalagi di sisinya ada seorang pria yang disebut salah satu petinggi kerajaan yaitu Ketua Helder. Ada kemungkinan bahwa Ketua Helder memiliki kemampuan yang menyamai pahlawan lain seperti petinggi lainnya yaitu Komandan Dale.
“Maaf atas ke tidak sopanan kami Yang Mulia... Namun jika boleh saya jujur, ini sangat tidak manusiawi”
“Tidak manusiawi katamu? Kalau begitu aku tanya kepadamu wahai utusan... Apakah mengambil alih 4 kota secara paksa dan membunuh banyak manusia itu bisa disebut manusiawi?” tanya Raja Adam.
Taka Terushi dan semua utusan terdiam mendengarkan.
“Berapa banyak nyawa yang telah ia hilangkan? Apakah itu bisa diaebut manusiawi? Bahkan kematiannya pun tidak akan mampu membayar segala dosanya”
Semua utusan memasang wajah kesal ke arah Raja Adam, namun tidak dengan pahlawan Miya Naitaumi. Ia hanya diam dan melihat saja tanpa ekspresi apapun, matanya hanya memberikan tatapan kosong sama seperti saat ia memasuki ruang tahta.
“Yang Mulia... Untuk Kesalahan rekan kami, mohon maaf sebesar-besarnya” ucap Pahlawan Miya Naitsumi.
Miya Naitsumi memiliki rambut hitam bergelombang panjang sebahu, matanya hitam dan kosong bagai ikan mati. Namun pakaiannya terlihat berbeda dari yang lainnya, ia memakai seragam sekolah yang tak diketahui oleh makhluk di dunia ini.
“Kami juga mohon maaf atas perlakuan kami kepadanya... Namun kami akan membebaskannya jika itu bisa membantu kalian menghadapi Raja Iblis suatu hari nanti” ucap Raja Adam.
“Terima kasih banyak Yang Mulia” ucap Miya sembari menunduk.
“Tidak! Ini tidak cukup!” ucap Selena yang sedari tadi menahan rasa kesalnya.
Ia maju kedepan dan menunjuk Raja Adam.
“Ini tidaklah cukup... Dengan tubuhnya seperti itu, ia tidak bisa lagi menjadi pahlawan seperti sebelumnya” ucap Selena.
Namun sebelum Raja menjawab, 2 orang memasuki ruangan. Mereka adalah Putri Ana dan Zhel yang sudah berganti pakaian, Zhel menggunakan armor bagai seorang prajurit.
Melihat kedatangan mereka semua utusan terkejut, mereka terkejut karena seorang pria berarmor memiliki tanduk hitam yang terlihat jelas dikepalanya.
“Maaf Ayah atas keterlambatan kami” ucap Ana
“Hah? Rasanya aku tidak memintamu datang Ana” jawab Raja.
“Yang Mulia Raja Adam” ucap Taka.
Semua orang melihat Taka dengan heran.
“Ini penawaran terakhir dari kami” ucap Taka.
Raja memicingkan matanya ke arah taka seperti sudah tahu kalimat apa yng akan ia ucapkan.
“Kami akan membawa pulang seorang dari kerajaan anda yaitu pria yang disana” menunjuk Zhel.
Semua orang terkejut, namun yang paling terkejut adalah Selena. Ia langsung menggenggam kerah baju Taka dengan kencang.
“Apa maksudmu?! Apa kau akan membiarkan mereka mengambil Jim?!” ucap Selena.
“Diam kau Lacur” bisik Taka dengan nada dingin.
Mendengar itu Selena bertambah kesal, ia menampar Taka sekuat tenaga. Sebenarnya Jim dan Selena memiliki hubungan cinta dibaliknya, mereka juga sudah bertunangan sebelumnya.
“Bajingan kau Taka!”
“Biar aku jelaskan padamu” Taka mengembalikan posturnya “Kami tidak membutuhkan orang yang cacat seperti dia... Oleh karena itu kami menginginkan penggantinya yaitu prajurit disana”
“Aku menolak” jawab Zhel dengan cepat.
Zhel tidak tahu inti dari masalah ini, namun ia tidak ingin di berikan layaknya sebuah benda.
“Begitulah jawabannya wahai utusan” ucap Raja Adam.
Taka terushi bertambah kesal, ia merasa hendak menarik pedangnya dari sarung.
“Kalau begitu... Ini adalah penawaran terakhir untukmu juga wahai utusan... Bawa Jim Dazzel dan pergi atau kau ingin menyulut perang saat ini juga?” tanya Raja dengan nada serius.
Pahlawan Taka mengeluarkan keringat di wajahnya, ia berpikir bahwa Prajurit disana memiliki kekuatan besar begitu pula salah satu petinggi yaitu Ketua Helder. Namun ia sudah tak bisa menahan rasa kesalnya dan hendak mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Namun ketika ia hampir mengeluarkan pedangnya, seseorang menggenggam tangannya dan menahan Taka mengeluarkan pedang. Ia adalah Zhel yang mendadak muncul di sebelah Taka.
__ADS_1
“Kau tidak boleh mengangkat senjata di tempat ini” ucap Zhel.
Semua utusan terkejut karena kemunculan Zhel, mereka semua tidak bisa melihat gerakannya bahkan para pahlawan tersebut.
“Kau... Siapa namamu?”
“Namaku Zhel Draze” ucap Zhel yang melepaskan genggamannya.
“Begitu ya.. Baiklah”
Taka kembali melihat Raja Adam yang duduk di singgasana, ia tersenyum karena menemukan sebuah ide.
“Yang Mulia... Hari ini kami undur diri... Mohon maaf atas ketidak sopanan kami” ucap Taka membungkuk kepada Raja Adam.
“Kenapa kita kembali Taka?!” tanya Selena.
“Diam dan ikuti saja” bisik taka.
Kemudian semua utusan membungkuk dan hendak keluar dari ruang tahta meninggalkan Jim Dazzel yang terduduk di kursi roda. Raja dan yang lainnya sempat penasaran mengapa mereka pergi tanpa membawa rekannya.
Melihat hal aneh Zhel menegur seseorang.
“Tunggu! Kau... Gadis SMA disana?” ucap Zhel.
Semua orang terkejut, namun mereka semua tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Zhel. Namun Zhel melihat ke seseorang daru utusan, yaitu Miya Naitsumi.
“Apakah kau Dari Bumi?” tanya Zhel.
“Eh?” ucap Miya terkejut.
Tatapan kosong miya perlahan menghilang, ia akhirnya melihat Zhel dengan mata yang gembira.
“Bagaiman kau bisa tahu?” tanya Ana.
“Ternyata benar... Aku tahu dari seragam sekolahmu”
“Eh?! A-apa kau berasal dari bumi juga?!” tanya Miya dengan mata penuh harap.
“Ah bukan... Aku daei dunia ini... Aku hanya sempat melihat Bumi itu saja” jawab Zhel sembari menggaruk kepalanya.
Melihat tingkah aneh Miya, semua orang di ruangan tersebut terkejut. Sebelumnya Miya selalu memasang tatapan kosong kapanpun setelah dipanggil ke dunia ini, namun ini pertama kalinya Miya menunjukkan sebuah ekspresi yang tak pernah diperlihatkannya di dunia ini.
“Begitu ya” ucap Miya dengan nada kecewa.
“Namun aku tahu cukup banyak tentang bumi... Dari wajahmu, kau pasti dari asia kan?” tanya Zhel.
“Heh?! Benar”
“Ehem... Miya kita akan kembali ke Kerajaan Severth” ucap Taka.
“Ma-maaf”
Melihat hal ini, Raja Adam sesikit tertarik. Ia sedikit penasaran dengan hal yang mereka bicarakan disana, akhirnya Raja Adam berdiri dan menawarkan sesuatu.
“Wahai para utusan... Sepertinya kita mengambil keputusan secara terburu-buru... Jika mungkin, maukah kalian beristirahat malam ini di kerajaan Waren?” ucap Raja.
Para utusan memasang wajah curiga terhadap tawaran Raja Adam, namun Taka juga agak penasaran tentang Zhel. Ada kemungkinan mereka bisa membujuk Zhel melalui Miya, karena kelihatannya Miya bisa akrab dengan Zhel.
“Hmm kalau begitu kami terima tawarannya Yang Mulia” ucap Taka menunduk.
Selena penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Taka, namun ia melihat senyum di wajah Taka yang mengartikan ia memiliki sebuah rencana.
“Terima kasih Yang Mulia” ucap Miya “Namamu Zhel ya? Bisakah kita mengobrol lagi nanti?”
“Ya tentu saja” jawab Zhel.
Miya tersenyum mendengar jawaban Zhel, ada alasan kenapa Miya selalu memberikan tatapan kosong. Sebenarnya ia sangat sedih karena harus berpisah dengan keluarganya dari bumi, selama ini ia merindukan Bumi. Disini ia diberi tanggung jawab sebagai seorang Pahlawan, ia berpikir bahwa pekerjaan ini sangat tidak cocok untuk seorang gadis SMA sepertinya karena itulah ia depresi dan tak pernah menunjukkan ekspresi.
“Yo Paman Adam Makasih ya” ucap Zhel dengan nada bersahabat.
“Ya” jawab Raja dengan senyum di wajahnya.
Namun di antara mereka ada orang yang tidam senang dengan kalimat Zhel.
“Oi Zhel! Tunjukkan sopan santunmu pada Yang Mulia!” ucap Ketua Helder dengan geram.
“Ma-maaf”
__ADS_1
Akhirnya para utusan menginap di istana setelah hampir pulang sebelumnya, kedua pihak ingin mencari informasi. Sedangkan untuk Zhel dan Miya, mereka berdua tidak peduli.