Veel World : The Miracle With Flaws

Veel World : The Miracle With Flaws
Chapter 5.1


__ADS_3

Perjalanan Zhel dan lainnya berlanjut.


Saat ini mereka sedang berjalan menuju Kota Dilem yang masih berada di daerah kekuasaan Republik Safanas, walau begitu jarak kota tersebut masih jauh apalagi mereka pergi dengan berjalan kaki.


“Kalau begini mungkin kita bisa sampai di kota dilem dalam 2 hari” ucap Helen sembari melihat peta.


“2 hari ya... Huu” ucap Kon menghembuskan nafas panjang tanda keberatan.


“Kenapa tidak kugendong saja? Kita mungkin bisa lebih cepat sampai” ucap Zhel yang menawarkan tumpangan.


“Kami menolak!!” 2x


Mendengar itu Zhel memasang wajah bermasalah, Zhel tak mengerti kenapa Kon dan Helen begitu membenci hal itu.


“Yah kalau begitu kita bisa berkemah lagi di hutan” ucap Zhel.


“Lebih baik begitu... Aku tidak sudi sampai digendong seperti barang lagi” ucap Kon memalingkan wajahnya.


“Berkemah ya... Bahkan saat di Kota Adrazil kita tidur di pinggir jalan” ucap Helen mengeluh.


“Mau bagaimana lagi... Kita tidak sempat menyewa penginapan, dan juga paman Adam tidak memberikan Kuda karena akan sulit memasuki kota nantinya” ucap Zhel.


Mereka berjalan sembari menjatuhkan pundaknya, perasaan lelah mereka disebabkan oleh perjalanan singkat yang terasa panjang kemarin.


“Hey sepertinya kita bisa beristirahat disini” ucap Helen menunjuk sebuah lokasi di peta.


Helen menunjuk sebuah desa kecil di dekat jalan, desa tersebut bernama Quet.


“Desa Quet ya... Oke itu lebih baik daripada harus tinggal di tengah hutan” ucap Kon setuju.


“Yosh tujuan tambahan Desa Quet... Kuharap disana ada banyak gadis cantik” ucap Zhel berharap.


“Kasihan ya si jomblo” tanya Helen pada Kon.


“Ya kasihan sekali si jomblo” jawab Kon.


“Semoga si jomblo menemukan jodohnya”


“Ya semoga saja”


Mendengar percakapan yang penuh ejekkan, Zhel merasa tersinggung dan memasang wajah kesal.


“Kalian ini ya...”


“Ada apa jomblo?” tanya Kon.


“Jika perlu sesuatu katakan saja jomblo, mungkin aku bisa membantu.. Ahh namun aku tidak bisa membantumu mencari jodoh ya” jawab Helen mengejek.


“Jambla Jomblo Jambla Jomblo terus dari tadi! Kalian mengejekku ya?!!” teriak Zhel.


“Wah si jomblo marah”


“Benar sekali... Si jomblo marah”


“Jangan hanya karena kalian sudah berpasangan kalian bebas menyebutku jomblo ya! Akan kubuktikan nanti, aku akan membawakan gadis yang sangat cantik dan mengenalkannya pada kalian!” ucap Zhel sembari menunjuk Kon dan Helen.


Setelah itu Zhel berjalan dengan langkah yang kesal menjauhi sepasang kekasih di belakangnya, perjalanan menjelang malam dan langit berkilau keemasan terlihat.


Tak lama setrlahnya, malam datang dan kegelapannya menutupi langit. Zhel dan lainnya menemukan pintu memasuki desa Quet.

__ADS_1


“Ayo masuk” ucap Zhel mengajak.


Zhel memasuki desa diikuti Kon dan Helen, namun di desa tersebut semua pintu sudah tertutup rapat dan tak ada seorangpun yang diluar. Sembari berjalan memasuki desa, rasa penasaran menyelimuti mereka bertiga, Zhel dan lainnya agak penasaran kenapa desa ini sudah begitu rapat padahal baru saja malam.


“Zhel bukankah ini aneh?” tanya Helen dengan risau.


“Benar... Semua pintu tertutup rapat seperti ketakutan” jawab Zhel.


“Mungkin mereka sudah mencium bau jomblo yang akan datang” ucap Kon mengejek.


“Tidakkah kalian bosan dengan pembicaraan itu?!” ucap Zhel dengan geram.


Kemudian Zhel merasakan ada sesuatu yang memerhatikan mereka dari balik pohon, Zhel langsung menghentikan langkahnya dan memberi tanda berhenti pada Kon dan Helen.


“Ada apa Zhel?” tanya Helen.


“Ssstt” ucap Zhel yang menaruh jari telunjuknya di depan mulut.


Setelah itu Kon dan Helen bersiap jika ada serangan datang, suara angin yang berhembus perlahan menerpa tubuh mereka kemudian sesuatu melompat dari balik pohon.


“Shadow Bullet” ucap Kon


Setelah itu beberapa peluru hitam meluncur ke makhluk yang melompat tersebut, namun peluru tersebut menembus makhluk tersebut.


“Apa itu?!” tanya Kon.


Makhluk tersebut mendarat di dekat mereka, namun rasa penasaran menyelimuti mereka setelah melihat makhluk yang tidak pernah mereka lihat tersebut. Makhluk tersebut terlihat menyerupai Goblin, namun anehnya sekujur tubuh makhluk tersebut berwarna ungu transparan.


“Slime?!” ucap Helen.


“Tapi bukankah itu berbentuk Giant Rat? Bagaiman bisa?” tanya Kon.


“Mungkin ada seseorang yang memgembang biakkan mereka, aku tak pernah melihat Slime yang membentuk tubuh tetap” ucap Zhel.


Slime berbentuk Giant Rat tersebut kembali datang dan hendak menyerang mereka bertiga, namun Zhel yang berada di depan berhasil menghindar. Dibelakang Zhel ada Kon dan Helen yang belum sempat bereaksi mereka berdua terkena serangan tersebut namun tidak ada luka apapun dan hanya menembus mereka berdua saja seperti air.


“Apa ini?” ucap Kon yang terjatuh di lututnya.


“Racun?” tanya Helen.


Akhirnya Kon dan Helen berdua terjatuh di lutut mereka, Zhel yang melihat bahaya langsung mengalirkan Mana ke seluruh tubuhnya. Dengan kecepatan tinggi, Zhel langsung menghancurkan Core Slime yang terlihat karena cahaya bulan.


Setelah Core berhasil di hancurkan, Slime tersebut kehilangan bentuknya dan menjadi kubangan racun di bawah kaki Zhel.


“Kalian baik saja?” tanya Zhel dengan nada cemas.


“Tidak masalah... Untungnya aku membawa beberapa anti racun” jawab Helen yang sudah meminum anti racun.


Setelah itu Helen meminumkan anti racun pada Kon, racun di tubuh mereka langsung hilang.


“Syukurlah kalau begitu” ucap Zhel lega.


"Bagaimana kau bisa menyerangnya dengan tangan kosong Zhel? seharusnya kau terkena racun juga lan?" tanya Helen.


"Aku berhasil mengembangkan teknikku, aku membuat lapisan tipis transparan Mana tepat di luar kulit... Bisa dibilang aku membuat kulit dari Mana di bagian terluar kulit... Namun sayangnya setiap terkena serangan Mana milikku langsung berkurang banyak" ucap Zhel menjelaskan.


Namun setelah kemenangan itu, beberapa pintu rumah terbuka dan warga melihat Zhel dan lainnya. Seorang pria paruh baya mendatangi mereka, ia memiliki tubuh gemuk dengan rambut coklat yang rapih. Matanya terlihat ramah dan dengan kumis tipis memperlihatkan kharismanya.


“Wahai petualang perkenalkan saya adalah kepala desa Quet... Kalau boleh tahu apa kalian mengalahkan Slime itu?” ucap Pria berambut coklat.

__ADS_1


“Y-ya” jawab Zhel.


Kemudian kegembiraan terlihat di wajah semua warga, mereka tampak senang mendengar hal tersebut. Sebenarnya Zhel tak mengerti apa itu petualang, pekerjaan sebagai petualang baru ada di beberapa Kerajaan dan di Kerajaan Waren masih belum ada.


“Wahai petualang kami berterima kasih sedalam-dalammya” ucap Pria berambut coklat.


“Memangnya apa yang terjadi disini?” tanya Helen.


“Beberapa bulan lalu di dekat sini ada sebuah laboratorium yang meneliti makhluk hidup, alhasil mereka berhasil mengembangkan Slime mutasi... Slime inilah hasilnya, namun kekacauan terjadi dan akhirnya laboratorium itu di tinggalkan dan Slime mutasi itu berkeliaran di dekat desa... Beberapa warga menjadi korban dan masih dirawat karena racunnya” ucap Kepala desa.


Mendengar itu, Helen langsung bereaksi tanda ia khawatir.


“Apa masih ada warga yang terkena racun?” tanya Helen.


“Ya”


Mendengar hal itu, Helen mengalihkan wajahnya ke arah Zhel seperti bertanya “Bolehkah?” namum Zhel hanya mengangguk setuju pada Helen.


“Bawa aku kesana” ucap Helen yang kemudian diantar ke suatu tempat oleh salah satu warga.


Kon masih tidak sadarkan diri karena ia terkena racun lebih banyak daripada Helen, akhirmya Kon di gendong oleh Zhel setelah Helen pergi meninggalkannya.


“Kepala desa... Kalau boleh, bisakah kami tinggal di desa untuk 1 malam?” tanya Zhel.


“Tentu saja... Kemarilah” ucap Kepala desa mengajak.


Mereka berjalan ke sebuah rumah yang cukup besar milik kepala desa, setelah menaruh Kon di sebuah kamar Zhel berbicara dengan kepala desa di ruang tamu.


“Kepala desa... Kenapa belum ada petualang yang datang kesini? Bukankah anda bisa meminta bantuan di kota terdekat?”


“Kami sudah mengirimkannya, namun sepertinya para petualang itu tidak tertarik” jawab Kepala desa dengan nada sedih.


“Tidak tertarik?”


“Benar... Slime adalah monster lemah, dan uang yang kami keluarkan juga tidak seberapa... Jadi mungkin hal itu yang membuat para petualang enggan menerima Quest kami”


“Begitu ya” ucap Zhel dengan nada kecewa.


“Tuan petualang kalau bisakah kami menyewa anda sekalian?”


“Menyewa kami?”


“Ya desa ini akan membayar kalian, walau tidak seberapa namun kami mohon terimalah” ucap Kepala desa dengan kepala yang tertunduk memohon.


Melihat itu Zhel meminta Kepala desa mengangkat kepalanya, ia merasa begitu tidak nyaman dengan hal tersebut.


“Kumohon angkat kepala anda... Saya akan melakukannya jadi tolong angkat kepala anda” ucap Zhel dengan nada bermasalah.


“Benarkah?” ucap Kepala desa dengan wajah penuh harap.


-Mau bagaimana lagi? Caramu meminta membuatku risih. Pikir Zhel dengan wajah bermasalah.


Zhel sebenarnya juga agak cemas meninggalkan desa ini dengan monster seperti tadi, apalagi saat ini Zhel juga menumpang di desa.


“Kalau begitu... Boleh aku tahu dimana bekas laborarorium ini?”


Setelah itu kepala desa menjelaskan semua yang ia ketahui, Zhel berencana menyelesaikan masalah desa Quet. Saat ini Kon sedang tak sadarkan diri jadi pilihan terbaik adalah menunggu sampai ia sadar, mungkin perjalanan mereka akan terlambat beberapa hari karena mengurus masalah ini.


Zhel berpikir mungkin tidak masalah, lagipula Helen sepertinya takkan pergi dari desa ini karena kepribadiannya yang begitu baik.

__ADS_1


__ADS_2