
Rapier.
Espada Ropera, yang artinya 'Dress Sword' atau pedang sandangan; sebuah pedang satu tangan yang berasal dari abad ke-15.
Ditujukan untuk menusuk lawan, panjang pedang ini sekitar 41inci (104cm) sampai 54inci (130cm). Memiliki satu atau dua sisi tajam yang bisa digunakan untuk menebas, meski tidak sebaik pedang lain karena orientasinya.
Elcia meraih pedang yang ada dihadapannya dan secara seksama memperhatikan setiap inci dari benda itu dengan pandangan kagum. . . diikuti napas berat, hingga Alice pun harus terdiam ditempatnya karena kebingungan bagaimana ia harus berkomentar.
. . . Beberapa saat setelah puas memandangi Rapier ditangannya, Elcia mulai mengayunkannya dengan ringan beberapa kali. Namun karena itulah, Elcia justru berakhir mengerutkan dahi.
'Um, rasanya, agak aneh. . .' pikirnya, sambil mencobanya lagi dengan beberapa gerakan kecil.
Beruntung atau tidak, selain dirinya yang adalah seorang Weapon Maniac, Elcia adalah seseorang yang pernah mengikuti kompetisi seni hangar; yang berarti kemampuannya telah diasah untuk menggunakan Rapier, Foil dan bahkan Eppe.
Dan dengan dirinya yang merasa cukup familiar saat berurusan dengan pedang, ia hanya butuh beberapa saat untuk menemukan letak masalahnya.
'. . . Titik gravitasi, ya?' pikirnya, dan mulai menyesuaikan postur tubuh dan gerakannya agar selaras.
. . . Saat menggunakan sebuah pedang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh penggunanya. Dan salah satu dari itu adalah Center of Gravity, atau titik pusat gravitasi yang dimiliki sebuah pedang.
Singkatnya dengan pusat gravitasi yang tepat, kontrol seseorang terhadap pedang yang ia gunakan akan menjadi lebih baik serta mengurangi usaha yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah gerakan.
Dan saat itulah, Elcia tanpa sengaja memperhatikan bar Stamina miliknya yang berkurang lebih sedikit daripada saat sebelum ia menyesuaikan diri.
'Ini, terlalu realistis. . .'
Menggeleng dengan senyum tipis, Elcia beralih memeriksa detail dari Rapier ditangannya.
...[Item Detail]...
「Common」Training Rapier
Status : Normal
Type : Melee Weapon, Sword
Durability : 98%
「Requirement」
None -
「Base Attack」
1.00
「Stats」
None -
「Enhancement」
None -
Sebuah senjata yang sering digunakan untuk latihan. Memiliki durabilitas yang sangat tinggi.
...————...
Tanpa adanya syarat penggunaan (Requirement), status tambahan (Stats), maupun efek penguatan (Enhancement).
Rapier yang Elcia pilih memang bukan sesuatu yang bagus jika dipikirkan. Namun sesuatu seperti ini sudah bisa ditebak mengingat Rapier ditangannya hanya merupakan sebuah pedang latihan.
Mengangguk yakin dengan senjata yang ia pilih, Elcia beralih melihat Alice.
"Selesai?" tanya Alice saat menemukan Elcia meliriknya, yang dibalas anggukan sekali lagi.
Tapi sebuah kejutan untuknya, Elcia segera menyadari jika Alice telah memilih sebuah Long Sword sebagai senjatanya; salah satu musuh alami yang dimiliki Rapier.
Mengerutkan dahi, Elcia beralih menyapu pandangannya dan memperhatikan setiap Equipment yang ada ditempat itu, dengan niatan mencari sebuah perisai yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu besar; ia mencari sebuah Buckler.
'. . . Um, ketemu.'
...[Item Detail]...
「Common」Training Buckler
Status : Normal
Type : Shield
Durability : 96%
「Requirement」
None -
「Base Defense」
1.00
「Stat」
__ADS_1
None -
「Enhancement」
None -
Sebuah pelindung yang sering digunakan untuk latihan. Memiliki durabilitas yang tinggi.
...————...
"Heh. . ." Alice pun melepaskan seringai kecil melihat Elcia dengan mudah menebaknya.
. . .
Keluar dari gudang senjata, keduanya menemukan Bill sedang berdiri tegap ditengah lapangan, membawa sebuah Long Sword sama seperti Alice.
"Sudah selesai memilih senjata kalian? Duh, lamanya mungkin bisa mengubah 'ku jadi lampu jalan!" gerutu Bill dengan wajah agak tidak sabaran, namun tersenyum penuh canda.
"Belum gelap." sahut Alice dengan sedikit sarkasme, yang membuat Bill akhirnya tertawa lepas.
Selesai dengan candaan kecil itu, Bill berubah menjunjukan tatapan serius. "Jadi sekarang, kutanyakan, siapa diantara kalian yang akan maju lebih dulu?"
"Kau. . ? Atau kau. . ?" tanyanya lagi, sambil menunjuk Alice dan Elcia bergiliran. "Oh, tidak masalah andai kalian berdua sekalipun!" tandasnya lantang dengan percaya diri.
Sayangnya, Alice dengan cepat menyingkirkan kata-kata Bill dan memilih hal lain. "Kami ingin melakukan duel sendiri. Jadi, ditolak."
Untuk itu, Bill akhirnya harus mematung selama sesaat sebelum mendecakan lidah dengan perasaan kecut. "Bah. . ! Akhirnya aku diabaikan!"
Namun ia sendiri tidak memaksa dan berjalan menjauh. "Kalau itu yang kalian inginkan, lakukanlah. Biar 'ku yang melihat seberapa mampunya tangan-tangan itu."
Elcia pun kembali memeriksa Quest yang ia miliki. Dan saat ia menemukan jika tidak ada yang berubah, gadis itu akhirnya mengambil napas lega.
Seperti perkiraannya, Quest ini tidak mengatakan pada keduanya untuk menghadapi Bill. Dan memanfaatkan celah itu, Alice memutar lidah agar mereka bisa berhadapan satu sama lain.
Sebab disisi lain, tidak satupun diantara keduanya yang ingin menghadapi Bill. Sebab, memangnya apa yang bisa dilakukan oleh pemula ber-Level 0?
Keduanya mungkin akan berakhir seperti boneka jerami; dipukuli tanpa bisa melakukan serangan balik, yang secara tidak langsung akan membuat Quest-nya gagal.
'Newbie Killer, seperti, yang diduga. . .' pikir Elcia.
Trik yang agaknya licik, dan terkenal sebagai 'Newbie Killer' atau Pembunuh Pemula. Sesuatu seperti ini bukan lagi hal yang baru, namun sepertinya sudah menjadi sebuah keharusan turun-temurun diantara para Developer game.
Dan saking seringnya menjumpai hal ini, Elcia bisa dengan mudah menemukannya dan menghindar selama ia berhati-hati.
. . .
Berada di tengah lapangan Combat Training Field, Alice dan Elcia saling beryukar senyum yang dipenuhi dengan perasaan penuh semangat.
Elcia pun bersiap mengikuti Alice.
Memegang Buckler ditangan kanannya, ia memposisikan perisai itu untuk melindungi bagian dada. Sedangkan, Rapier ditangan kirinya menghunus lurus kedepan setinggi bahu.
Sementara seisi lapangan akhirnya berhenti untuk melihat duel sepasang gadis perak, keduanya mengambil napas secara bersamaan.
" " En Garde.*" "
Keheningan setelahnya dengan mudah menaikkan tensi diantara orang-orang yang menyaksikan keduanya, bahkan sebelum duel sepenuhnya dimulai.
Namun, keheningan yang tercipta tidak berlangsung lama. Sebab setelah beberapa hembusan napas, duel akhirnya dimulai dengan satu kata.
" " Allez!** " "
Bersamaan dengan itu, Alice langsung memperpendek jarak antara dirinya dengan Elcia.
Meski ia belum begitu lama merasakan tubuhnya sendiri, Alice dengan cepat beradaptasi. Dan dibantu dengan 15 Agility miliknya, rentang jarak yang ada telah diperpendek dengan cepat.
Disisi lain, Elcia masih tidak beranjak dari posisinya sama sekali dan mempertahankan pose miliknya dengan sempurna. Meski begitu, mata biru langit miliknya memperhatikan Alice yang mendekat tanpa melewatkan apapun.
Long Sword yang dibawa Alice pun tidak menunggu lama. Setelah mengetahui Elcia berada dalam jarak serangannya, Alice menjejakkan kaki terdepannya dengan mantab.
—Swish!
Sebuah ayunan dari bawah pun langsung ditujukan pada Elcia, mengincar bagian depan gadis itu mulai dari pinggang.
Sebuah tebasan rendah. Kebenarannya, Elcia sangat tidak menyukai serangan seperti ini karena itu adalah salah satu titik kelemahan yang sering membuatnya lengah. Dan kali ini, Alice tanpa malu memanfaatkannya dengan baik.
Namun, Elcia pun sudah berkali-kali melawan serangan serupa. Karena itu, serangan Alice masih berada dalam prediksi yang ia miliki dan tidak membuatnya panik.
Mempertahankan fokus pada titik normal, Elcia akhirnya mulai bergerak menanggapi.
—Lutut; menekuk turun.
—Rapier; Posisi Lower Stance, atas kepala, terhunus kedepan.
—Buckler; Block!
Daang. . !
Membenturkan perisai ditangannya, Elcia memblokir pedang milik Alice tanpa ragu.
Namun sedikit berbeda dari harapannya, Elcia mengirimkan sebuah erangan kecil saat menerima dampak tabrakan yang terjadi. "Urk—!"
__ADS_1
'—Berat? Perbedaan, Strength?' pikirnya dengan cepat.
Benar saja.
Dengan perbedaan parameter Strength antara dirinya dengan Alice, Elcia tidak sepenuhnya berhasil memblokir serangan yang datang, melainkan hanya membuat lintasan pedang Alice tergelincir melalui permukaan Buckler miliknya, dan beralih langsung menuju wajahnya!
"Heh." seolah menanti hal ini terjadi, Alice pun menunjukkan seringainya.
Namun, Elcia menolak untuk kalah pada serangan itu, dan susah payah mengirimkan tebasan Rapier untuk menyambut Long Sword yang datang kearahnya. . !
"—Forte***!"
Traaang—!
"Oh, Forte Parry?" kata Alice dengan wajah terkejut, yang segera berubah menjadi senyuman. "Nggak pernah mudah, ya?"
Pada saat itu, Bill yang tengah menonton dari sudut merubah ekspresinya yang bosan menjadi tertarik "Hoo. . . reaksi yang lumayan."
Duel pun berlanjut.
Setelah serangannya berhasil ditangkis, Alice mengambil beberapa langkah mundur agar kembali menciptakan jarak antara.
Melangkah saling memutari, Alice maupun Elcia mempertahankan kewaspadaan mereka tanpa menunjukkan sebuah celah; mempertahankan kondisi Stalemate selama beberapa waktu.
. . . Duel penuh benturan antara pedang dengan pedang?
Jangan harap semuanya seperti dalam film. . ! Sebab, bahkan hanya untuk mempertahankan pikiran untuk tetap waspada sudah memberikan beban mental yang cukup melelahkan. Dan lagipula, baik Alice maupun Elcia bukanlah seorang Sword Master atau semacamnya.
Membaca dan menebak satu sama lain, dengan pikiran yang benar-benar saling mengenal, tidak satupun diantara keduanya yang ingin mengambil langkah pertama.
Seiring berjalannya waktu, udara disekitar tempat itu semakin menegang sampai seolah menjadi padat; menciptakan efek relatif yang menyebabkan satu detik terasa seperti puluhan menit.
Bill yang masih menonton tentu menyadari hal ini dengan jelas. Dan sebagai seseorang dengan pengalaman, ia menyadari jika situasi ini mirip dengan kondisi dimana satu langkah bisa menentukan hidup seseorang. Karenanya, Bill terpaksa dibuat mengakui jika gadis yang ia lihat saat itu bukanlah sekedar cecenguk kecil.
Masih dengan kondisi yang sama, Alice yang tidak tahan dengan tekanan akhirnya melesat maju dengan sebuah serangan tusukan.
Melihat serangan yang kembali datang, kali ini Elcia tidak berniat memblokirnya mentah-mentah seperti sebelumnya.
Mengambil setengah langkah ke kiri, ia memposisikan tubuhnya sedikit menyamping 30 derajat searah jarum jam. Dan pada saat yang sama, Buckler ditangan kanannya segera menghadapi serangan Alice.
—Sraang. . !
Menggores permukaan perisai miliknya, Long Sword Alice tergelincir keluar berkat sudut kemiringan yang diciptakan Elcia.
Pada saat itu, Alice segera menyadari kesalahannya. "Ah—!"
—Duk!
Detik selanjutnya, sebuah Rapier telah berada disamping leher Alice yang terjerembab memeluk rumput.
"Skakmat." kata Elcia sambil tersenyum.
Sadar apa yang telah terjadi, Alice menghela napas pendek. "Huh, kalah ya. . ."
"Alice, ceroboh." kata Elcia kemudian, dan membantu Alice untuk berdiri.
Clap. . .
Clap, clap-clap. . !
Perlahan, tepuk tangan terdengar semakin ramai tanpa mereka sadari; menciptakan situasi dimana keduanya memperlihatkan ekspresi bingung yang cukup lucu untuk dilihat.
"Ada apa dengan ekspresi itu, gadis perak?"
Bill berjalan mendekat dengan sebuah seringai yang terlihat di wajahnya. "Sesuatu yang jarang 'ku lihat. Duel yang lumayan, tadi itu memang."
"Um. . , begitu?" tanya Elcia, masih dengan kebingungannya.
Halfling tua itu mematung seketika, sebelum memperhatikan Elcia dengan ekspresi yang berkata; "Kau bercanda?"
Tapi saat menyadari raut wajah Elcia yang sepenuhnya asli, Bill akhirnya menepuk jidatnya.
'Berkemampuan tapi tidak sadar.' pikir Bill dalam hati, sambil menggelengkan kepalanya.
". . . Hah, terserah."
[Quest : Bill's Expectation diselesaikan!]
[Title : Novice Swashbuckler didapatkan!]
Dan dengan begitu, Quest pertama mereka diselesaikan secara anti-*******.
...———...
*En Garde
Merujuk pada awalan olahraga hangar, memilik arti On (Your) Guard. Keadaan bersiap, atau waspada.
**Allez
Dikatakan dengan arti 'Menyerang' atau 'Serang'.
***Forte
__ADS_1
Bagian dari Rapier yang dekat dengan gagang pedang, yang biasanya tidak dibuat tajam.