
08.37
Keluar dari kapsul, Linnea meregangkan seluruh tubuhnya yang mengalami pegal semu —setidaknya kali ini karena mereka mengalami pertarungan yang cukup intens melawan kawanan Forest Wolf.
"Mu. . , Itu bahaya." gumamnya.
Linnea melihat jelas bagaimana hutan Basmael agaknya terlalu sulit untuk pemula. Dan memang begitulah keadaannya dari pengalaman gadis itu hari ini.
Melihat kenyataan, Linnea maupun Alice langsung tahu jika mereka tidak akan mampu meninggalkan desa Nave untuk beberapa waktu kedepan —sekalipun nekat.
Karena untuk keluar dari wilayah itu, pertama pemain harus bisa keluar hidup-hidup dari hutan Basmael yang dipenuhi Beast. Yang sayangnya masih cukup sulit untuk mayoritas pemain saat ini, dimana Forest Wolf menjadi mimpi buruk. Itu juga karena Beast tipe serigala lebih sering berkelompok; yang juga membuat pemain solo sering bernasip sial.
Dan memikirkan jika ini baru monster awal dari hutan itu, Linnea kesulitan untuk membayangkan apa yang akan mereka hadapi selanjutnya. Tapi juga membuatnya tersenyum tipis tanpa sadar, tidak sabar untuk melihat makhluk-makhluk lain dengan matanya sendiri.
· · ·
Ditengah lautan pikiran gadis itu, seseorang dengan suara yang terdengar familiar memanggilnya; memecah hening dan membuatnya tersadar.
"Kakak."
—Deg.
Linnea yang terkejut langsung menoleh secara refleks.
Di sudut tempat tidurnya yang entah sejak kapan, Luna terlihat duduk mendekap kedua tangannya dengan wajah cemberut.
Dilihat dari sisi manapun, adiknya jelas sedang kesal.
Tidak tahu alasan dibalik kekesalan adiknya itu, Linnea memandang Luna dengan kebingungan. Memiringkan kepalanya yang dipenuhi tanda tanya.
"Um, Luna?"
Seperti sumbu yang menyulut petasan, Linnea langsung memicu amarah yang telah ditahan oleh Luna sampai saat ini.
"Kakak berapa lama main?! Luna tahu kakak masuk kapsul sejak semalam! Kakak nggak tidur kan?! Nanti kalau sakit gimana?! ——"
Beberapa sesi omelan kemudian. . .
"Um, um, um, um. . ." Linnea terus mengangguk kusut dengan mata tanpa nyawa, didepan adiknya yang terus memberi omelan. Bahkan Alice pun mulai merasa takut terhadap Luna.
". . .Ya sudahlah." kata Luna yang diakhiri helaan napas persis setelah ia memuntahkan omelannya itu pada sang kakak. Melihat kakaknya yang sudah seperti itu, siapapun tidak akan tega untuk melanjutkan.
Luna pun beranjak dari tempatnya duduk, mendekat dan memeluk sang kakak. Dan berkat itu, Linnea akhirnya tersadar dari keadaan 'setengah mati'-nya itu.
"Muu. . ? Luna. . ?"
"Kakak yang bener jaga diri. . ." katanya lagi.
Luna bagaimanapun merasa khawatir dengan kakaknya. Meski hanya sedikit yang ia tahu tentangnya, sifat alami dirinya yang perhatian membuat gadis itu bisa mengetahui sesuatu dibalik topeng wajah seseorang. Langsung melihat apa yang mereka sembunyikan. Dan dari kakaknya itu, Luna melihat sang kakak layaknya berada dalam jalan penuh kerikil dan lemparan batu, lelah letih menunggu untuk jatuh. Yang kemudian membuat adiknya itu semakin ingin menjaganya.
Tapi disisi lain, Linnea menyembunyikan apa yang ia hadapi agar adiknya tidak perlu khawatir. Dengan itu, ia juga mendorong Luna agar mampu berdiri kokoh secara individu, disaat ia sendiri sedang berjuang untuk keluar dan diakui bersama Alice.
Tapi juga masih menyembunyikan Alice dari Luna, Linnea masih memiliki rasa takut mendalam untuk mengungkapkan hal itu. Ia masih takut semuanya berakhir sama seperti masa lalunya, sekalipun jika itu adiknya sendiri.
Mungkin, suatu saat. . . pikirnya, sambil menunjukan ekspresi dalam.
Melanjutkan dengan sarapan, Linnea makan bersama Luna, yang sengaja menunggu sampai kakaknya selesai membereskan diri.
"Ngomong-ngomong, kakak ngapain di game?" tanya Luna.
"Um. . ?" Linnea pun melirik Luna, yang tengah menunjukan ekspresi ingin tahu diwajahnya. Itu bukanlah hal biasa karena ia tahu adiknya tidak pernah memperlihatkan rasa ingin tahu terhadap game ini maupun itu.
"Muu, latihan pakai Rapier, Wolf Hunt. . ." jawabnya.
Sejauh ini, apa yang gadis itu lakukan hanyalah dua hal secara garis besar; Mengayunkan Rapier dan ikut Quest berburu milik Alice.
"Begitu? Luna mau coba sih. . ."
—Jdarr. . !
__ADS_1
Mendengar kalimat yang seperti sambaran petir baginya, Linnea terdiam dan melebarkan matanya. Ia tidak pernah memikirkan situasi dimana adiknya sampai ingin bermain game. Tapi lebih buruk dari itu, keadaannya tidaklah sesederhana itu karena Alice ada bersamanya.
Gawat. . . pikir Alice dan Linnea disaat bersamaan.
Melihat kakaknya sendiri terdiam seperti patung, Luna akhirnya memanggil. "Kak. . ?"
"Uuh? Ah, tapi kenapa?" tanya Linnea.
"Ya. . , habisnya, dimana-mana bicara itu melulu, kan penasaran juga jadinya."
"Begitu. . ."
Keduanya pun berlanjut membahas tentang Terris dimana Linnea memberi penjelasan sederhana soal dasar-dasarnya, hampir sama seperti penjelasan dari laman resmi Sekai Shard yang juga ditambah dengan pengalamannya sendiri. Sampai akhirnya Linnea mengetahui jika dokter Lia dengan senang hati membawakan kapsul lain untuk adiknya, yang akan datang hari ini.
"Dokter. . ."
'Dokter. . .'
Linnea bergumam lirih, bersamaan dengan Alice.
Mengetahui dokter Lia yang melakukannya, Linnea dan Alice hanya bisa menghela napas. Semuanya akan menjadi lebih menyusahkan, setidaknya saat Luna didalam game.
'Sudahlah, pikir nanti.' kata Alice dengan lelah.
"Um. . ."
. . .
Kembali ke kamarnya, Linnea pun memasuki Terris di hari ketiga.
" "Aa. . ." "
Begitu masuk, gadis itu langsung melakukan test pada suaranya, dan sekali lagi mendapati kalau itu tumpang tidih dengan Alice. Terlebih, karena suara keduanya seratus persen identik, itu memberikan efek mirip gema yang agak horror untuk didengar.
" "Muuh. . , Assimilation, ya. . ? Split." "
[Assimilation dibatalkan]
"Skill yang bagus, sayang nggak dapet Experience sama Mastery Point." celetuk Alice dengan kecewa. "Oh, dimana Mii?"
"Um. . . ."
Keduanya langsung teringat dengan kelinci yang Elcia jinakan di hutan Basmael. Makhluk imut itu secara tidak resmi berakhir menjadi anggota kelompok. Hingga Elcia kemudian memberi sebuah nama pada kelinci itu setelah mereka kembali ke desa Nave.
Tapi sekarang, kelinci itu menghilang dan menyebabkan keduanya merasa kurang dalam artian tertentu.
Merepotkan, Terris membuat Pet —atau beast yang telah dijinakan, tetap berada ditempat saat pemain melakukan Logout. Dengan Pet yang hanya memiliki satu nyawa, pemain yang menjadi Tamer kesulitan di tahap awal permainan selama tidak memiliki tempat tinggal. Dengan kebanyakan mati karena pemain lain atau diburu Beast lainnya.
Dan pada saat ini, kedua gadis itu akhirnya mencari Mii disekitar tempat itu.
"Yah, seharusnya nggak jauh. . . Oh, ketemu!" seru Alice ketika menemukan seekor kelinci sedang bersembunyi diantara semak-semak. "Sini-sini~"
Melihat Alice yang bermain-main, dengan kelincinya, Elcia pun berakhir cemburu. "Muu, Alice. . ."
"Nggak mau~" goda Alice, membawa Mii dalam pelukannya.
Dalam keadaan itu, Elcia akhirnya menggunakan senjata pamungkas yang jarang ia tunjukan.
—Mata berair.
—Pipi menggembung.
Siapapun langsung merasa bersalah andai berada diposisi Alice.
"Eeh? Jangan cengeng! Huuh, iya-iya nih!" kata Alice dengan berat hati dan memberikan kelinci itu pada Elcia. "Dasar curang."
"Um, hehe. . ."
. . .
__ADS_1
Beralih fokus. Keduanya pun pergi dari pinggiran desa Nave menuju Combat Training Field, berniat untuk menyelesaikan Sub Quest Wolf Hunting yang diberikan Bill.
Keduanya mendapatkan terlalu banyak Drop Item, termasuk Forest Wolf Fang yang dibutuhkan untuk Quest itu. Bahkan setelah membaginya secara adil dengan kelompok Haru, keduanya harus meninggalkan banyak barang karena kapasitas tas pemula yang terbatas.
Ditengah lapangan latihan, Halfling berjenggot yang mereka cari tengah melakukan gerakan berpedang menggunakan Long Sword yang sering ia gunakan.
"Eclipse Waltz."
Bill bergerak dengan cepat dan tajam. Kakinya menjadi titik putaran dan tubuhnya mengayunkan tebasan setelah tebasan lain, yang diikuti garis-garis biru —ciri dari Phantasmal Attack, yang memciptakan badai biru tebasan yang terlihat indah. Kemudian ditutup sebuah tebasan lingkaran penuh, diikuti lingkaran biru; mereplika bentuk gerhana sesuai namanya, Eclipse.
Menyaksikan kejadian itu, keduanya merinding hingga lupa untuk bernapas. Alasannya sederhana, serangan Bill terlihat mengerikan. Terlebih dengan puluhan bekas tebasan yang ditinggalkan membelah rerumputan disekitarnya.
"Oh, kalian kembali utuh?" kata Bill. Melihat sepasang gadis perak telah kembali dari Quest yang ia berikan, sang pelatih memasang seringai.
"Kuh. . ! Kami hampir mati!" teriak Alice dengan wajah kesal, sambil menunjukkan Training Long Sword yang telah patah.
Gadis itu kemudian mengeluarkan setumpukan Forest Wolf Fang dari dalam tasnya dan memberikannya pada Bill —tanpa perlu repot-repot menghitungnya. "Ini."
"Oho, berapa banyak yang berhasil kalian buru?" tanyanya kemudian, berganti melirik Elcia —yang diikuti kerutan di dahi saat melihat seekor kelinci dipelukan gadis itu.
Elcia pun melihat panel Quest milik Alice. Melihat Forest Wolf yang terhitung dibunuh Alice, gadis itu secara samar menebak setelah ditambah dengan miliknya. "Muh, lima lusin lebih. . ?"
"Oho, Wolfpack! Wolfpack kukatakan! Apa kalian berhasil membunuh Alpha?" tanya Bill, kembali bersama seringainya.
Elcia pun mengeluarkan Drop Item yang ia dapatkan dari serigala itu.
...[Item Details]...
Rare — Claws of Forest Alpha
Status : Enchanted
Type : Material
Durability : 95%
Attack : 18
Enchancement :
» Primal Wolf Carnage
• Saat digunakan sebagai senjata, serangan keempat memiliki kemungkinan menyebabkan [Bleeding]
• Meningkatkan peluang [Critical Hit] selama target dalam kondisi [Bleeding]
Sepasang cakar dari Forest Wolf Alpha yang telah merenggut banyak nyawa.
...————...
Rare. Tingkat kualitas diatas Uncommon yang masih cukup jarang untuk didapatkan. Terutama karena Terris baru memasuki hari ketiga.
Keduanya cukup beruntung karena kelompok Haru tidak membutuhkannya dan memberikan item itu secara cuma-cuma. Yang membuat keduanya merasa tidak enak hati setelah mengambil Last Hit dari Beast Boss itu.
"Ohoho, menarik gadis perak, menarik. . ! Aku tidak menyangka kalian benar-benar membunuh Alpha!"
[Sub Quest : Wolf Hunting diselesaikan!]
[Kondisi khusus terpenuhi! Hidden Clearance Reward ditambahkan!]
"Eh?"
"Um. . ."
...———...
Last Hit
Serangan akhir yang mengosongkan Health target dan membunuhnya.
__ADS_1
Didalam Terris, seorang pemain yang melakukan Last Hit mendapatkan Experience lebih banyak daripada orang lain yang telah berkontribusi menurunkan Health target.