
Aquilegia.
". . . Bunga Columbine, lambang kebijaksanaan." gumam Elcia dengan suara lemas.
Alice pun mendekati tembok didepannya, lalu tanpa pikir panjang, sebuah kepalan tangan melayang menghantam batu keras itu.
—Dug. . !
Alice
Health : 397/400 (-3)
"—Ack!"
Merasa kesakitan, tentunya, Alice memegangi tangan kanannya dengan wajah setengah kesal setengah meringis; meninggalkan Elcia yang melihatnya dengan wajah datar.
Mengetahui jawaban yang mereka cari ada pada tulisan dihadapannya, Alice mau tidak mau menjadi jengkel mengingat usaha yang mereka lakukan sebelumnya ternyata tidak lebih dari membuang-buang waktu. Begitupun Elcia yang sampai sempat melepaskan sebuah umpatan, yang menggambarkan jika batas 'sabar' gadis itu sendiri juga sempat bocor.
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Elcia menghela napas panjang. "Muuh. . ."
"Alice, keatas. Berkumpul lagi di ruangan pertama." kata gadis itu, dengan perkataan setengah-jelas miliknya.
Mungkin orang lain akan meminta perkataan ulang karenanya. Namun Alice tidak memerlukan hal itu, ia segera mengangguk setuju lalu bergegas menaiki tangga ke lantai atas.
Sementara itu, Elcia pun juga bergegas. Berlawanan arah, ia turun kebawah menuju ruangan pertama tempat mereka datang. Dan di pintu masuk ruangan itu, sebuah tanda tulisan terpasang pada posisi yang sama.
Zephyrantes
"Bunga hujan, awal yang baru."
Mengkonfirmasi kunci pertama dari teka-teki terakhir, Elcia melanjutkan pencariannya dengan langkah cepat namun teliti.
Di lantai selanjutnya, Elcia kembali menemukan tulisan lain pada pintu masuk ruangannya.
"Harapan."
· · ·
"Tekad."
· · ·
"Pengorbanan."
· · ·
"Kejayaan."
Namun di lantai selanjutnya, Elcia mendapati hal yang tidak ingin ia lihat. Sesuatu itu, yang ia lupakan saat datang ke Terris.
Amaryllis.
Bunga yang menjadi nama keluarganya, dan bunga yang membawa simbol 「Pride」; Harga diri.
"Kenapa. . . disini. . ." kata Elcia dengan wajah yang muram. ". . . Dari semuanya. . , kenapa?"
Layaknya nama itu, keluarga yang ia kenal tidak jauh dari arti yang dibawa bunga Amaryllis. Termasuk arti lain dari「Pride」; kesombongan.
Bak bunga Amaryllis yang mekar tinggi, keluarganya mengangkat kepalanya dengan angkuh; karena mereka pun berdiri di puncak masyarakat.
Memandang rendah orang lain. Elcia teringat saat dimana ia mencapai sesuatu yang umumnya patut untuk dibanggakan. Kejadian yang sering kali muncul dalam benak ingatannya.
"Kamu anggota Amaryllis, mengertilah."
"Hmp, kurasa cukup. Seperti yang diharapkan dari anak itu."
"Hanya ini? Jangan memalukan keluarga ini!"
Itu semua hanya karena sebuah harga diri. Sesuatu yang tak kasat mata, namun merupakan bagian terpenting bagi para penyandang nama Amaryllis. Penyebab dari sebuah tradisi yang saling menganggap satu sama lainnya sebagai sebuah piala belaka.
__ADS_1
Dan lagi, Elcia adalah korban dari itu.
—Dug. . !
Elcia
Health : 207/210 (-3)
'Kalian. . . kalian sama sekali tak paham apa-apa. . !' teriak gadis itu dalam hati; ia mengertakkan giginya dengan perasaan yang dipenuhi kebencian.
Bug. . !
Duag. . !
Health : 204/210 (-2)
Health : 202/210 (-3)
Health : 198/210 (-4)
Health : 197/210 (-1)
[Extra Skill : Hatred dipelajari!]
. . . Dug. . .
Tangan gadis itu dengan cepat dipenuhi lecet dan luka. Ia gemetar seakan-akan bisa meledak kapanpun karena emosi miliknya.
Di dunia nyata, Elcia selalu merantai emosi itu. Namun ditempat ini, rantai-rantai yang membelenggunya menjadi berkarat dan membuat gadis itu lebih mudah untul meluapkan perasaannya.
". . . Sialan."
—Buag!!
Health : 190/210 (-7)
Health : 185/210 (-5)
Health : 174/210 (-2)
Health : 168/210 (-6)
Health : 162/210 (-6)
Health : 159/210 (-3)
Butuh beberapa waktu agar gadis itu menarik emosinya kembali kedalam sangkar.
Mengambil napas panjang, Elcia berbalik dan meninggalkan lantai itu dengan perasaan muak. Tapi pada saat terakhir sebelum ia meninggalkan lantai itu, ia melirik sesaat pada tulisan Amaryllis.
[Skill : Cold Gaze didapatkan!]
. . .
"Muh. . . ini lantai, terakhir. . ?" Elcia bergumam lirih saat mendapati tangga yang ia pijak tidak lagi memiliki putaran lain.
Dengan kaki yang terasa sedikit gemetar dan wajah yang menunjukkan keinginan menyerah, Elcia perlahan melirik tulisan yang ada pada lantai itu.
Lycoris.
Ekspresi gadis itupun langsung berubah dalam satu kedipan mata; dari yang sebelumnya seperti menyatakan dirinya 'hampir' menyerah menjadi ekspresi penuh pencapaian. Dan dengan perasaan agak campur aduk, sebuah senyum lelah terbentuk di wajah manis gadis itu.
"Akhirnya, ketemu. . ."
Bunga dengan warna merah yang merupakan bagian dari keluarga Aster, dan lebih dikenal sebagai;
Red Spider Lily.
"Bunga kematian."
__ADS_1
Tapi kebahagiaan gadis itu pun tidak bertahan lebih lama. Karena saat Elcia mengingat jika ia perlu kembali menuju ruangan pertama, ekspresi di wajahnya segera jatuh dan tenggelam ke dasar laut.
[Staminamu mencapai titik rendah]
[Tubuhmu mulai kelelahan]
[Endurance meningkat!]
Dan gadis itu akhirnya mulai membenci anak tangga.
. . .
Sesampainya di ruangan awal, Elcia telah bertransformasi menjadi seorang nenek dengan kaki gemetaran.
Bertumpu pada Rapier miliknya, Elcia melangkah dengan hati-hati dan pelan. Dan sesampainya diambang pintu masuk,
"Ha-ha-hal-ooo. . ! Se-sela-mat, daaat-taanng, kem-mbal-li. O-ho-ho. . !" sambut Alice dengan cara bicara khas lansia.
Tak tahu harus bereaksi seperti apa, Elcia pun memilih diam dengan Trademark wajah datarnya yang terpampang jelas.
Dibuat canggung, Alice akhirnya terpaksa mengubah topik. "Erm. . , yah, laporan dari lantai atas. Nggak ada yang sesuai sama bunga kematian sejauh yang kutemukan."
'. . . jelas, saja.' pikir Elcia.
Tentu, karena ruangan yang mereka cari ada di dasar tempat ini. Tapi masalahnya, Elcia ragu untuk mengatakan itu, yang membawa momen bisu saat ini menjadi lebih lama lagi.
Sayangnya, pikiran Elcia tanpa sengaja terlepas melalui Soul Link dan ditangkap Alice.
". . . Itu, lantai paling bawah?" tanya Alice dengan wajah syok.
". . ."
Tidak mempunyai jawaban lain, Elcia mengangguk pelan tanpa bersuara.
Ruangan itu sunyi seketika.
. . .
Berbalik turun, keduanya memaksakan diri agar bisa menyelesaikan Quest terkutuk dari Bill.
Sepanjang menuruni anak tangga, Alice memilih untuk mengalihkan perhatiannya pada tulisan yang ada pada setiap lantainya; yang juga didorong oleh rasa ingin tahu belaka, sekaligus agar mulutnya bisa berhenti mengeluh.
"Hee, Eranthis? Harapan?"
"Cistus. Tekad."
"Hyssopus, tumbal."
"—Gh-uhuk, uhuk-uhuk. . . uhuk-uhuk-uhuk. . ! Artinya pengorbanan, Alice!" teriak Elcia membenarkan, sambil tersedak.
"Bedanya?" tanya Alice dengan senyum puas yang menjengkelkan, berhasil membungkam Elcia.
"Uuh. . ."
Tapi seolah mengulang waktu, wajah Alice berubah saat mereka mencapai lantai 'harga diri'. Namun daripada emosi yang meledak-ledak, Alice menunjukkan wajah khawatir yang ia tujukan pada Elcia.
Terlebih, bekas darah yang masih merah segar terlihat pada dinding di lantai itu. Alice pun bukanlah seorang idiot; ia tahu realitas Terris. Karena itu, ia segera memperhatikan tangan Elcia.
Yang meski sudah mulai samar berkat Health Regeneration dari tubuh karakter yang dimiliki pemain, matanya berhasil menangkap lecet kecil pada tangan gadis itu.
". . . Elcia?" panggilnya saat Elcia turun ke lantai selanjutnya dengan tergesa-gesa.
Elcia pun berhenti melangkah dan menghela napas dengan berat, sebelum membuka mulutnya. ". . . Kamu jelas tahu kan, Alice? Bunga Cistus. . , simbol tekad."
Ia pun sekali lagi menghela napas. "Tapi ada bunga lain lagi, yang artinya sama."
Menyadari kata-kata Elcia, Alice segera menjawab disertai ekspresi miliknya yang berubah menjadi lebih khawatir. ". . . Hippeastrum."
"Um. . . Hippeastrum, atau juga. . ."
__ADS_1
" "Amaryllis" "
Entah sebuah kutukan, atau sebuah berkat? Sebab Elcia tetap membawa satu simbol Amaryllis meskipun ia sangat membencinya. Dan lebih ironis, simbol itu adalah tekatnya; tekad untuk membebaskan diri dari nama itu.