
Sinar senja langsung menyambut kedua pemain berambut putih perak begitu mereka keluar dari bangunan tua diatas bukit selatan.
Terdiam sejenak didepan pintu, keduanya memandang matahari yang mulai menghilang di Terris.
'. . . Alice?' panggil Elcia.
'Hmn?'
'Melewati pegunungan Basmael. . , um. . , itu masalah kan?'
Sepenuhnya sadar tentang hal itu, Alice pun mulai merasa pusing dibuatnya. 'Uuh. . .'
Melihat kembali Quest yang diberikan Bill kali ini, keduanya memiliki prioritas utama untuk pergi menuju Terris Tengah. Dan rintangan pertama yang harus mereka hadapi tidak lain adalah perbatasan pegunungan Basmael.
Dan seperti yang sudah mereka ketahui sendiri, Beast yang berada ditempat itu selalu menunggu mangsa mereka dengan taring dan cakar terasah tajam —siap membunuh kapanpun pemain terlihat.
Untungnya Bill tidak membiarkan keduanya pergi tanpa persiapan. Selain akhirnya mendapatkan Long Sword dari Clearance Reward Quest pertamanya, mereka mendapatkan peta yang sebelumnya diperlihatkan serta beberapa uang untuk itu, termasuk beberapa Item lain. Lalu tentu saja padang Ashcorì, yang saat ini sedang dibawa Elcia, karena Alice sudah membawa dua buah Long Sword sendiri dipunggungnya.
Tapi tetap saja itu tidak cukup, keduanya bukan orang nekat yang pergi tanpa persiapan penuh.
Meski mereka bisa menghadapi rata-rata Beast ditempat itu tanpa banyak kesulitan, ancaman lain akan selalu ada.
Mereka mungkin akan menemui sekelompok penuh serigala seperti terakhir kali, atau pun menghadapi Beast yang lebih berbahaya. Lupakan pegunungan, karena bahkan dengan Party lima orang, mereka masih belum begitu jauh menjelajahi bagian hutan Basmael.
'. . . Sky Chaser.'
'Maksudmu, kelompok Haru sama Stern?'
'Um. Mungkin?'
Salah satu pilihan terbaik yang mereka miliki adalah membuat kelompok besar. Dengan begitu, kemungkinan keduanya untuk bisa keluar dengan selamat akan meningkat beberapa kali daripada saat hanya mereka sendiri yang pergi.
Meski begitu, Elcia secara alami tidak begitu optimis dan cenderung menjadi pesimis. Tidak seperti ia yang bisa meletakan keyakinannya secara total pada Alice, Elcia memandang orang lain sebagai sebuah variabel yang tidak pasti.
Trauma yang gadis itu alami lah yang membuat jalan pikirannya seperti ini. Berkat peristiwa itu, Elcia menyadari sifat setiap orang yang berbeda-beda sejak kecil, baik maupun buruk. Dan sebelum wajah sebenarnya yang ada dibalik topeng seseorang terungkap, ia memilih untuk berhati-hati.
Seperti sebuah dadu, semuanya adalah posibilitas yang pada akhirnya membuatnya ragu. Dan keraguan yang menjadi masalah setiap kali ia membuat pilihan akhirnya menghambat gadis itu dimanapun.
Dan tanpa Alice yang ada disisinya, sekedar memilih satu menu makanan bisa menghabiskan waktu dalam hitungan jam baginya.
'Yah, kurasa yang harus kita lakukan pertama itu bicara dengan Party kita sendiri, kan?'
'. . . Um.'
Mengangguk setuju dengan Alice, keduanya akhirnya beranjak menuju Subjugation Center. Karena ketiga orang yang mereka cari seharusnya kembali dari leveling sebelum malam.
Hutan Basmael sendiri sudah cukup berbahaya di siang hari. Dan dengan keadaan malam yang gelap, tingkat bahaya di hutan itu berlipat ganda.
Selain faktor visibilitas yang menurun drastis, kondisi medan hutan itu yang begitu berbelit bisa membuat seorang pemain mudah tersesat. Membawa sumber cahaya pun cukup beresiko memikirkan kemungkinan untuk menarik perhatian Beast, terutama Forest Wolf yang lebih aktif sebagai nokturnal. Dengan begitu, hampir tidak ada pemain yang berani masuk saat malam.
__ADS_1
Sekalipun ada, mereka adalah pemain yang belum mengerti tentang resiko yang akan mereka tanggung sendiri.
. . .
Mencapai Subjugation Center, kedua gadis itu masuk tanpa masalah. Dan benar saja, Isval dan Franz sedang duduk di salah satu pojok ruangan sementara Mortred sedang sibuk menukarkan Drop Items.
Melambaikan tangan, Isval pun memanggil keduanya untuk mendekat. "Yo! Disini!"
Berjalan mendekat, keduanya pun ikut duduk dan berkumpul.
"Apa hasilnya bagus? . . . Quest kalian, maksudku." tanya Isval penasaran.
". . . Uum, bermasalah." jawab Elcia.
"Benar-benar bermasalah." sambung Alice dengan wajah lelah, sambil mengeluarkan gulungan peta dari dalam tasnya.
"Ahaha. . , bermasalah, huh?" kata Isval dengan canggung. "Aku bisa mengerti. Tapi, gulungan apa itu?"
"Lihat sendiri." kata Alice, mulai melebarkannya diatas meja. Dan saat isinya terungkap, Isval sekaligus Franz langsung membuka matanya lebar-lebar.
Tidak bisa menahan keterkejutannya, Isval mulai bertanya dengan suara gemetar. "K-kau mendapatkan peta dari Halfling itu?"
Yang dibalas sebuah anggukan oleh Alice.
". . . Kalian pemain pertama yang memiliki ini, cukup beruntung." kata Franz dengan tatapan sedikit iri.
Sayangnya, Elcia memiringkan kepala serta menunjukan wajah penuh tanda tanya saat mendengar perkataan Franz. ". . . Begitukah?"
Sebelum akhirnya menyadari sesuatu yang salah dari kedua gadis itu. "Ah. . . aaah. . , aku tahu, kalian belum mengetahui jika tidak ada yang menjual peta ditempat ini, kan?"
"Benarkah?" tanya Alice kemudian, dengan wajah tidak percaya.
Menggaruk kepalanya yang entah tiba-tiba menjadi gatal, Isval mulai memberi omelan. "Sudah kuduga! Cukup! Masukan peta itu sekarang, dan dengarkan."
Dengan perubahan mendadak dari nada bicara Isval, Alice pun segera menutup peta itu dan memasukkannya kembali.
Menghela napas, Isval akhirnya berkata. "Kalian tahu Sky Chaser, kan?"
" "Tentu." "
Dan Isval menjatuhkan sebuah kenyataan yang mengguncang keduanya. "Mereka menawar sebuah peta dengan uang lima puluh Gold tapi tidak mendapatkan satupun."
Kini giliran kedua gadis itu yang harus melebarkan matanya mendengar perkataan Isval.
"Eh. . ?"
"Peta? Hanya untuk sebuah peta?" tanya Alice, tercengang.
"Sekarang kalian mengerti seberapa berharganya benda itu?"
__ADS_1
Keduanya pun akhirnya mengangguk.
"Bagus, hati-hati dengan itu. Kalian tahu Player Killing masih mungkin terjadi kalau orang lain melihat peta itu." kata Isval, memberi peringatan pada keduanya sambil mengawasi sekeliling.
Beruntung, Subjugation Center sedang tidak ramai saat ini karena Mortred, Isval serta Franz memutuskan untuk kembali lebih awal, sejak mereka hanya bertiga dalam perburuan hari ini.
"Hoh, kalian sudah kembali."
Mortred yang sudah selesai dengan urusan Drop Items berkata sambil mengambil tempat duduknya. "Apa kalian sudah selesai dengan Quest itu?"
"Um."
"Itu cukup cepat untuk ukuran Quest dari Demon Trainer. Apa kalian siap untuk Grinding lagi seperti biasanya?"
Namun, Alice menggelengkan kepalanya. "Nggak sama sekali. . ."
Mortred pun menunjukkan wajah agak kecewa mendengarnya. "Begitu. . ."
"Tapi." kata Alice.
"Hmn? Tapi?"
"Aku dan Elcia akan pergi ke Terris Tengah. Apa kalian ikut?"
Mortred yang kini mendapat giliran untuk terkejut pun bertanya dengan pikiran yang menjadi tersendat. "Hah? Terris Tengah? Tunggu, apa? Kenapa?"
"Begitu, jadi karena itu kalian mendapatkan peta. Cukup masuk akal." gumam Isval sambil mengangguk-angguk paham.
Tapi Mortred yang masih kebingungan pun terpaksa memotong alur pembicaraan. "Peta? Tunggu, tolong jelaskan pelan-pelan!"
Saling bertukar pandang sesaat, keempat orang itu akhirnya diam. Yang pada akhirnya membuat Alice menjelaskan sampai pada titik dimana Isval memarahi keduanya.
"Whaa. . . itu cukup mengejutkan! Peta, kalian mendapatkannya!" kata Mortred dengan penuh antusias.
"Well. . , kalau disimpulkan memang begitu." kata Isval, mengkonfirmasi. "Tapi, kami belum mendengar alasan yang membuat kalian harus pergi menuju Terris Tengah secepat ini."
"Um, kujelaskan." kata Elcia.
Membuka panel Quest, Elcia pun mengetuk ikon di pojok bawah panel yang ada untuk membagikan detailnya pada ketiga orang itu.
...———...
#Author Side
Entah kenapa, saat memikirkan kata "Companion", Author ingin bikin plesetan kata. Jadi, judul Chapter ini adalah. . .
Looking for "Comp-Onion"
—Gabungan dari Companion dan Onion.
__ADS_1
Maafkan kegabutan ini jika anda kebingungan.