
Lycoris, atau Red Spider Lily; bunga yang membawa simbol kematian.
Kami berdua akhirnya sampai di lantai paling dasar yang ada di perpustakaan itu; tempat yang punya petunjuk untuk teka-teki Quest dari Bill.
Tapi ya!
Membuat sepasang gadis untuk bolak-balik naik turun puluhan lantai, Quest ini benar-benar menyebalkan. Kalau ini dunia nyata, orang biasa pasti sudah terkapar seperti mayat tahu?
Tapi lebih dari itu, aku melirik Elcia yang sudah mulai lanjut memecahkan teka-tekinya.
"Bunga kematian membuka jalan. . ." Elcia bergumam pelan, mengulangi kalimat dari dalam gulungan yang diberikan oleh pelatih iblis itu.
Ia pun bergerak mendekati dinding tempat tulisan Lycoris berada, dan mulai mengetuk tatanan batu-batu itu; dengan pikiran mencari semacam pemicu yang 'membuka jalan' —bagaimana aku bisa tahu jalan pikirannya sendiri bukanlah hal sulit, lagian, kami adalah satu.
Tuk-tuk!
Tuk.
Tuk-tuk-tuk!
Tapi lagi, aku bisa melihat dengan jelas kalau Elcia melakukan hal itu dengan gerakan yang kacau dan terlalu tergesa-gesa. Jelas saja, karena akupun tahu jika perasaannya saat ini sedang dalam kondisi yang buruk.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia seperti ini?
Sudah cukup lama dan aku tahu itu, sebab aku sendiri juga mengingatnya.
Karena gadis penurut ini selalu menahan perasaannya seperti yang kukatakan padanya, ia terlihat selalu diam di permukaan. Tanpa memperlihatkan sebuah badai dibaliknya.
Keadaannya pun ibarat seseorang yang penuh dengan luka tertutup perban.
Karena itu, mana mungkin aku bisa merasa tenang saat melihat keadaannya saat ini? Yang ada justru perasaanku yang jadi semakin khawatir tahu!
Dan didasari oleh perasaanku ini, akupun memanggilnya. "Elcia."
"Aku baik, Alice." jawabnya dengan datar tanpa menoleh kearahku.
". . ."
Tuk.
Klak!
Sebuah suara mekanis terdengar saat Elcia mengetuk salah satu balok batu dihadapannya. Lalu mengikuti suara itu, dinding disebelah Elcia tenggelam ke lantai, membuka sebuah lorong sempit dibaliknya.
"Ayo." kata Elcia kemudian dengan tergesa-gesa, yang membuatku semakin merasa khawatir pada keadaannya.
"Elcia." panggilku lagi.
"Cepat, Alice."
Tapi sayangnya Elcia tetap tak mau mendengarkanku sama sekali, dan justru menyuruhku untuk cepat.
. . . Gadis ini lama-lama membuatku kesal.
Dan karena kesabaranku juga tak begitu banyak sejak awal, aku terpaksa meninggikan suara padanya.
"Kamu pikir mau kemana!" teriakku sambil menarik tangan Elcia, sebelum dirinya sempat memasuki lorong sempit itu.
Tapi setelah aku menariknya pun, Elcia hanya menjawab singkat seolah sikapnya yang terlihat kacau itu bukanlah apa-apa. "Quest."
Dan dengan mata berkedut, aku memberinya sebuah hadiah mentah.
—Dug!
__ADS_1
"—Agk?!"
Elcia
193/210 (-17)
Dan setelah kepalan tangan berparameter 37 Strength milikku mendarat, Elcia merintih kesakitan sambil berjongkok memegangi kepalanya.
"Ack. . ! Auuh. . . Alice. . ."
Dengan mata yang sedikit berair, gadis ini akhirnya melihat kearahku. Tapi memangnya aku akan membiarkannya kali ini? Jangan harap.
"Mau lagi?" tanyaku sambil mengepalkan sebelah tangan, tanpa lupa memberikan sebuah tatapan setajam pisau padanya. Yang tentunya dijawab oleh gelengan keras dari Elcia.
"Haaa. . , dasar." Beralih duduk disebelahnya, akupun mengeluarkan roti isi dari dalam tas yang kubawa dan memberikannya pada Elcia.
"Ini, makan."
"Muu. . ."
Tanpa berani menolak kata-kataku, Elcia pun segera duduk bersandar pada dinding dan menggigit roti yang kuberikan.
'Sungguh. . . Elcia. . .' kataku dalam hati dengan perasaan berat saat melihat kedua Skill yang tiba-tiba ada di daftar Skill gadis ini.
Hatred [Passive] [Extra]
Cold Gaze [Passive | Active]
Kebencian dan tatapan dingin.
Aku memang nggak bisa menyalahkannya sama sekali soal emosinya yang menjadi-jadi. Lagipula orang-orang itu memang pantas untuk dibenci, dan kami berhak untuk itu. Tapi aku juga nggak mau kalau Elcia terus menerus seperti ini.
Menghela napas pelan, aku mengangkat tangan kananku lalu mengelus kepalanya, dan Elcia pun merendahkan wajah. Bersembunyi dibalik rambut putih peraknya yang menggantung, menutupi air mata yang jatuh.
...———...
...———...
Melihat seperti menonton sebuah film dalam pandangan orang pertama, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Dimana ini?
Apa yang terjadi?
Siapa aku?
Sejak kapan aku disini?
Bagaimana bisa?
Semua pertanyaan hinggap begitu saja tanpa bisa terjawab. Tapi bahkan, waktu itu aku belum mengerti apa yang dimaksud hidup.
. . .
Beberapa waktu berlalu, aku akhirnya mengerti bahasa, kata-kata dan kalimat sederhana. Aku mulai mengerti keadaan sekitarku; apa yang dimaksud dengan makan, minum, tidur dan apa itu orang lain.
Pada saat itu, aku mendengar jika mereka memanggilku dengan nama "Linnea."
. . .
Waktu berjalan dengan cepat, aku mulai terbiasa dengan panggilan yang mereka gunakan.
"Linnea."
__ADS_1
"Linnea."
"Linnea!"
Ya, begitulah mereka memanggilku.
Tapi momen itu tidak berlangsung lama.
Karena saat "Linnea" akhirnya bisa berkata-kata menggunakan mulutnya, aku segera menyadari jika diri ini bukanlah 'aku' yang sebenarnya. Dan saat itulah, aku mulai mengenal siapa itu Linnea.
. . .
Awalnya, saat aku untuk pertama kalinya mencoba berbicara dengan 'dirinya', Linnea menjadi kebingungan dan melihat sekelilingnya dengan pandangan terbuka lebar sebelum terdiam selama beberapa detik, lalu mulai menangis dengan keras; sementara aku terdiam tak mengerti.
Mengingat waktu itu, aku hanya bisa merasa geli pada tingkah laku kami berdua. Dan kadang, aku menggoda Linnea dengan mengingatkannya pada saat itu.
Hehe~
Disisi lain, butuh sebuah perjuangan panjang untuk membuatnya mengerti tentang keberadaanku saat itu.
Sebab katanya, itu menakutkan jika ada suara yang secara mendadak langsung terdengar dikepalamu, katanya. Tapi aku nggak mengerti, dimana bagian menakutkannya, ya?
Namun aku sendiri tidak terlalu memikirkannya, karena jika diingat, mentalku waktu itu pun tidak lebih dari seorang anak kecil sama sepertinya.
Seiring kami bersama, Linnea pun mulai sering berbicara denganku. Kadang tertawa, kadang kebingungan atau juga menangis seperti halnya anak biasa.
. . .
Sayangnya tanpa kumengerti saat itu, keberadaanku berakhir membawa kemalangan untuk Linnea.
Apa yang terjadi jika seseorang berbicara sendiri?
Sederhana, mereka akan dianggap tidak normal.
Karena hanya Linnea yang mengetahui keberadaanku, semua orang mulai menganggapnya sebagai anak gila.
Meski begitu, Linnea tetap bersikeras dan mengatakan siapa diriku ini. Yang tentunya bisa ditebak, berakhir buruk untuknya sendiri. Dan karenaku, Linnea mulai mendapati masa kecilnya tidak lagi menyenangkan.
Tapi itu hanyalah awal dari apa yang akan kami lewati.
. . .
Aku mulai mengutuk diriku sendiri dan berharap jika semuanya tidak pernah terjadi sejak awal.
Berpikir semuanya belum begitu terlambat, aku akhirnya mencoba untuk menghilang.
Satu hari, aku tidak berbicara ataupun menjawab Linnea sekalipun ia memanggilku. Seberapa banyak ia melakukannya, aku tetap teguh meski rasanya aku menjadi pengkhianat.
Membenarkan diriku sendiri dengan alasan kebaikannya, aku melewati hari-hari dengan kebisuan.
Dua hari, tiga hari, satu minggu. Meski aku harus melihat Linnea yang menjadi menderita, aku tetap membisu dengan perasaan yang hancur sambil terus meminta maaf dalam hati.
Awalnya aku sendiri yakin jika aku akan dilupakan, melihat Linnea sudah lebih tenang setelah dua minggu berlalu.
Namun setelah satu bulan, Linnea membawa sebuah buku kosong ke kamarnya. Ia membuat sebuah diary, menuliskan kalimat-kalimat tinta pada halamannya yang kosong setiap waktu. Dan disetiap tulisannya itu, Linnea membuatnya seolah berbicara kepadaku.
Siapa yang mengira jika aku akhirnya kalah pada sebuah tulisan?
Dan saat mendengarku kembali, Linnea menangis sejadi-jadinya sambil berkata. "Jangan menghilang lagi. . . Alice. . . tolong. . . janjilah. . ."
Mulai saat itu, aku akhirnya merubah pikiranku dan berjanji padanya; serta bersumpah untuk selalu ada bersamanya kapanpun Linnea membutuhkanku.
Karena aku dan Linnea, adalah satu.
__ADS_1