VRMMO | Terris Story : Someone "Them"

VRMMO | Terris Story : Someone "Them"
05:A.Quest, Alice Nightmare


__ADS_3

"Ukh. . ." Linnea terbangun di kapsulnya, sedikit kesulitan untuk bangkit. Dan tanpa alasan yang jelas, gadis itu mendapati sekujur tubuhnya berkeringat dingin.


. . ?


'Uuh. . .' Alice pun berakhir mengerang.


Bangkit duduk, pikiran Linnea jatuh keheranan. Gerakan tubuhnya terasa sedikit kaku dan aneh. Sebuah rasa semu antara sakit dan pegal namun tidak nyata muncul.


Melihat kebelakang, setelah keduanya melakukan Duel yang berakhir dimenangkan Linnea, Alice dipaksa melakukan latihan langsung yang diawasi Bill.


Tidak, penyiksaan berkedok latihan mungkin lebih tepat.


"Begitu. . ." pikir Linnea, menebak-nebak penyebabnya.


Terris : Limitless adalah sebuah game dengan tingkat realitas yang mengerikan. Dan itu termasuk rasa sakit yang ikut diciptakan ulang. Namun, karena itu Linnea mengalami kejadian ini. Mudahnya, situasi aneh yang dirasakan tubuh gadis itu adalah hasil dari apa yang dialami Alice.


Sekalipun Linnea tidak merasakannya didalam game, karena keduanya adalah satu di dunia nyata, rasa sakit yang dirasakan akan diteruskan langsung ke tubuhnya dalam bentuk sinyal menuju otak. Ditambah dirinya sendiri tidak sadar akan rasa sakit itu, sensasi semu akhirnya muncul dengan cara yang aneh.


"Efek samping, kah?" gumam Linnea, menghela napas. Tangannya pun bergerak menyentuh bagian dimana Alice terkena perisai.


'Coba bicarakan ini dengan Dokter.' saran Alice.


"Ya. . ."


Tanpa bisa dihindari, keduanya sedikit memikirkan fenomena yang mereka alami. Khawatir dengan akibat yang akan muncul seiring waktu.


Merasa cukup beristirahat, Linnea pergi membersihkan tubuhnya yang dipenuhi keringat.


"Fuaah. . , itu melelahkan. . ." kata Linnea, menguap didalam bak mandi hangat.


'Jangan tidur disini!' teriak Alice mengingatkannya.


"Uuh, aku tahu, Alice." kata gadis itu dengan malas.


Memang saat bermain tubuh gadis itu memasuki kondisi pasif. Namun, keduanya tetap terjaga secara mental. Karena itu, kelelahan yang Linnea alami tidak bisa dihindari.


Keluar dari kamar mandi, mata birunya segera mendapati sesuatu yang tidak seharus berada di meja komputer miliknya, lengkap dengan sebuah kertas;


Adikmu bilang kamu belum makan malam, jadi aku bawa makanan.


Untung Luna sempat mengecekmu. . . Dasar. Paling tidak urus dirimu sendiri dengan baik.


Apa kamu ingin kumarahi lagi?


Tapi yah, apa game itu menyenangkan? Semoga kalian menyukainya!


Lia~♥


"Alice. . , jam, pukul berapa. . . 00.46. . !" gadis itu sontak melebarkan matanya dan sedikit berteriak.


Apa-apaan. . ? pikirnya, tidak percaya.


'Kita terlalu larut, ya?' kata Alice dengan polosnya.


". . . Ini, karena Quest latihanmu itu, kan?" balas Linnea dengan datar.

__ADS_1


'U-ugh, jangan mengingatkanku soal itu!' teriaknya dengan suara gemetar.


Alice baru merasakan tubuh miliknya sendiri. Sialnya, hal pertama yang dialami gadis itu adalah siksaan rasa sakit tanpa ampun. Berakhir memberinya sebuah trauma ringan. Dan karena itu, ia ingin melupakannya sebisa mungkin.


Beralih menggunakan piyama putih, gadis itu duduk dan memakan makanan yang dibawakan Dokter Lia. Mau bagaimana lagi? Perutnya benar-benar kosong dan menggeram seperti hewan buas. Dirinya berterima kasih untuk itu.


"Itu menyenangkan, ya?" gumam Linnea disela makan malamnya. Ia kembali membayangkan apa yang telah dialami olehnya di Terris.


Merasakan dunia baru dengan bebas memberinya sebuah perasaan unik yang sulit dipahami. Dan Linnea menyukai perasaan itu.


'Uuh, itu mimpi buruk.' sahut Alice enggan, yang dibalas tawa kecil oleh Linnea. 'Gak lucu Linnea!'


Bagaimanapun, sosok Bill yang melatih Alice adalah transformasi seratus delapan puluh derajat dari apa yang sebelumnya ditunjukkan Halfling itu. Tawa renyah darinya sekarang agak terdengar seperti tawa iblis yang menggelegar, disertai sambaran petir sebagai Background. Linnea pun berpikiran itu akan sempurna jika semuanya bertempat disebuah kastil tua.


'Dan apa-apaan soal Quest nggak berotak itu?!' protes Alice.


"Hihi— Uhuk—! Uhuk-uhuk!" gagal menahan tawanya, Linnea berakhir tersedak makanannya sendiri —hingga pedas membakar tenggorokannya.


Mengingat panel Quest yang muncul, Linnea langsung setuju jika itu 'tidak berotak';


...[Quest]...


Bill Trainer's Training


Rank : S+


Bill kecewa dengan kemampuanmu menggunakan Long Sword. Dia pun berniat melatihmu hingga mampu menggunakannya dengan baik!


Clear Condition :


• Mempelajari dan menguasai Nave Sword Technique hingga tingkat Novice Combatant V


Clear Reward :


Experience, Long Sword


Failure Condition :


Sword Mastery dan Nave Sword Technique tidak mencapai Novice Combatant V dalam waktu 3 Hari nyata.


Failure Punishment :


Selama Bill menjadi pelatih; dilarang masuk ke Combat Training Field desa Nave, Level -1


Quest tidak bisa ditolak


...————...


Siapapun akan protes jika berada di posisi Alice. Lupakan soal hadiah yang terlihat pelit, batas waktu tiga hari itu terlihat tak masuk akal. Dan ditambah dengan kenyataan jika Alice sama sekali belum memiliki skill yang dibutuhkan akhirnya membuat Quest ini semakin tidak bisa dinalar. Lagipula, bagaimana Quest itu diberikan kepada seorang pemula seperti Alice pun masih membuat Linnea kebingungan. Dan masih dengan kenyataan dimana Alice tidak bisa menolak Quest itu.


Beralih melihat hukuman yang didapatkan jika gagal, Alice pun berkata dengan nada kesal. 'Huh! Toh kalau aku berhasil, aku nggak mau ke tempat itu lagi. Selamanya!'


"Selamanya. . ?"


'Ya, selamanya!' kata Alice, bersikeras dengan keputusannya.

__ADS_1


Tapi disisi lain, hukuman pengurangan satu level membuat keduanya segera dipenuhi rasa penasaran.


Level negatif?


Mereka tidak akan tahu sebelum mengalaminya sendiri.


Namun disisi lain, Linnea lebih ingin untuk menghindari hal itu. Cukup beresiko dan mungkin membuat karakter milik Alice rusak yang tidak sebanding dengan rasa penasaran keduanya.


Dan tentu Linnea tidak ingin kembali sendirian seperti sebelumnya. Karenanya, Alice pun sejak awal mulai berusaha mati-matian untuk menyelesaikan Quest-nya terlepas dari kesulitannya yang sungguh tidak manusiawi.


Menyelesaikan makan malamnya yang terlewat, Linnea segera dikalahkan oleh rasa kantuk. Beranjak dan menjatuhkan tubuh kecilnya diatas kasur.


"Malam, Alice." kata Linnea, yang kemudian tidur dikasurnya seperti orang mati.


'Malam. . , Linnea.' balasnya lirih.


———


Pagi hari setelahnya, Linnea berdiri didepan kaca kamar mandinya sambil menggosok gigi, setengah mengantuk. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya hingga hampir mempuatnya membentur kaca.


Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Masalahnya ada di mimpinya semalam;


Linnea mendapati dirinya berubah menjadi Alice, yang sedang melakukan latihan. Parahnya di mimpi itu, Bill memiliki tanduk dan sebuah cambuk ditangannya. Tertawa bak Villain utama sebuah cerita klise. Sebuah perwujudan sempurna dari bayangan ketakutan Alice.


Kenapa harus itu. . ? pikir Linnea sambil bergidik ngeri.


. . .


Siangnya, Lia mau tidak mau tertawa mendengar apa yang mereka alami.


". . . Jahat."


"Huhu, maaf. Tapi itu terlalu konyol, tahu?" kata Lia sambil menyeka air matanya yang sedikit keluar karena tertawa.


"Muu. . , tapi rasa sakitnya. . ?"


Lia perlahan merubah raut wajahnya dan tersenyum santai. "Soal itu, kalian tenang saja. Itu biasa, soalnya ini pertama kalinya kalian mencoba VR Dive. Dan, masalah Quest itu, bukannya itu tiga hari waktu nyata? Itu sama saja delapan belas hari game, kan?"


"Ah. . , begitu?" menyadarinya, Linnea menunjukan ekspresi lega yang samar.


Apa yang Lia katakan adalah kebenarannya. Ada perbedaan waktu yang cukup jauh antara dunia Terris dengan dunia nyata. Sederhananya, satu hari nyata sama saja enam hari Terris. Macovic yang diciptakan Lia mampu membuat itu mungkin dengan mengintegrasikannya pada perangkat VR. Sekaligus melakukan akselerasi waktu dunia virtual menggunakan Super Computer.


"Tapi itu masih Quest nggak berotak tahu!"


Sekali lagi, keduanya tertawa mendengar keluhan Alice. Dan tentu saja, ditertawai ditengah kesengsaraannya membuat Alice jadi kesal.


Namun, ini adalah sesuatu yang sempat hilang dari diri gadis itu.


Kapan terakhir kali dia tertawa lepas seperti ini? Sudah lama sekali. . , ya? pikir Alice disela kekesalannya.


Mungkin, jika saat ini Alice memiliki tubuhnya sendiri, ia akan menunjukan sebuah senyuman hangat yang menawan.


Karena pada akhirnya, waktu dalam diri gadis itu sudah kembali berjalan.

__ADS_1


__ADS_2