
Namaku Linnea. Seorang —atau dua orang, anggota dari keluarga Amaryllis
Aku adalah kami, kurasa?
Ini membingungkan, tapi, aku selalu bersama Alice. Jadi kurasa kata "kami" lebih tepat untuk digunakan.
Siapa Alice, katamu?
Muu, Alice tentu keluargaku. Dia selalu bersamaku sepanjang waktu.
Dimana? Oh, benar juga. . .
Um, ini agak sulit karena Alice selalu disini. Aku tahu, aku tahu, kamu bingung, kan? Sederhananya diriku adalah Alice, dan Alice adalah diriku. Kami satu tapi juga dua, seperti itu.
Tapi, kamu tahu? Seberapa banyak aku mencoba menjelaskannya, aku tidak akan bisa membuat orang percaya jika Alice ada.
Sayangnya, orang-orang itu kasar. Lebih kasar daripada apa yang kuketahui saat itu.
Hanya karena mereka tidak percaya, mereka menjaga jarak denganku. Dan anak-anak lain, mereka menjahiliku dan menganggapku aneh.
Tapi saat orang tua mereka tahu aku anggota keluarga Amaryllis, yah. . , semuanya mendadak berubah sepi dan sunyi. Meski begitu, rumor tentangku menyebar, dan akhirnya sampai ke keluargaku. Orang tuaku sekalipun langsung menganggapku gila.
Dan mulai saat itu, aku membenci orang lain, termasuk keluargaku sendiri dan apa yang sudah mereka lakukan padaku. Aku pun berubah menjadi lebih penyendiri.
Tapi, Alice mengatakan jika itu tidak baik. Aku membuat orang lain kesusahan.
. . . Memangnya aku peduli? Alice, kenapa kita harus peduli?
Setidaknya sampai aku mempunyai adik perempuan, Amaryllis Illian Lunary. Dan saat itu aku sadar, adikku tidak harus terkena imbasku. Akupun akhirnya mendengarkan Alice, berpura-pura tentang Alice yang tidak pernah ada sambil menuruti apa yang diinginkan keluargaku.
—Boneka, aku boneka Amaryllis.
Begitu waktu berjalan, rasanya aku semakin hancur.
. . . Aku tertawa pada diriku sendiri. Menjerit.
Aku bertanya pada Alice, kenapa? Tapi Alice pun tidak bisa menjawab pertanyaanku.
Suatu hari, seorang Dokter baru datang. Aku lelah. Mereka itu orang-orang yang tidak ada bedanya dengan mereka.
Awalnya kupikir begitu, tapi Dokter itu berbeda, Dokter Lia. Bisa kukatakan, Dokter adalah satu-satunya yang mengerti kami. Karenanya, aku mulai bisa menatap kedepan, sedikit demi sedikit.
Sampai suatu hari, Dokter Lia berkunjung, seperti hari-hari lain.
Namun hari itu berbeda, Dokter Lia mengenalkan sesuatu pada kami. Tempat dimana aku bisa bersama Alice, dan menggenggam tangannya. Tempat agar aku bisa melepaskan belenggu yang kumiliki meski sejenak. Tempat dimana kami bisa diakui.
Aku tahu Dokter memiliki maksud lain, tapi sesuatu lebih penting dari sekedar maksud tersembunyi itu. Maksudku. . .
. . . Apa sesuatu seperti itu benar-benar ada?
Tapi rasa pesimis yang kumiliki akhirnya dihancurkan karena sesuatu itu memang ada. Kalau kuingat-ingat, namanya, Terris?
Um, Terris.
Dari saat itu, aku mulai menapakkan kakiku kedepan.
...———...
Akupun tidak pernah berpikir hari dimana aku berinteraksi dengan orang lain akan datang. Tapi sekarang, aku bahkan akan bergabung dengan Party bersama Alice.
__ADS_1
Dandelion, sebuah meja bundar yang diisi lima orang.
"Jadi. . , kalian benar-benar bergabung dengan Party ini?" tanya seorang pemain perempuan didepanku.
Mendapati pertanyaan itu, Alice yang datang bersamaku balik memberi pertanyaan padanya dengan mulut pedas. "Apa jawabanku kurang jelas?"
Pemain itu pun tersenyum canggung mendengarnya dan menjawab. "Cukup jelas. . . Kalau begitu, perkenalkan, ID-ku disini Mortred."
"Franz." lanjut pemain laki-laki disebelah kanan Mortred, dengan wajahnya yang terlihat tegang.
Seorang Archer yang mengundang kami pun akhirnya juga memperkenalkan diri. "Yah, ID-ku Isval."
Mortred, Franz dan Isval. Party itu berisi tiga orang dengan jelas. Dan karena itu, sekarang giliran kami berdua untuk memperkenalkan diri. Namun meski tahu ini giliranku, mulutku justru diam, terkunci rapat.
Muu. . , kebiasaan yang sudah jauh mengakar dalam diriku sendiri akhirnya kembali muncul.
Aku sudah selalu seperti ini, dan jujur aku tidak suka dengan perasaan tak nyaman yang kurasakan sekarang. Jantungku berdegup tidak karuan, dan rasanya mentalku diperas sampai kering keriput.
Sebenarnya, membuat Party memberi rasa nostalgia untukku. Karena ini bukan pertama kalinya aku membentuk Party dengan orang lain. Mungkin ratusan atau ribuan kali —aku tidak yakin, selama masa "Nolife" yang kujalani dulu. Namun ini Virtual Reality, dan lebih dari itu, Terris. Tingkat Realitasnya pun berakhir membuatku seperti ini, karena rasanya tidak berbeda dengan bertatap muka didunia nyata.
Suasana hening pun datang, dan saat itu waktu rasanya berhenti berputar. Lama sekali. Namun kemudian, Alice akhirnya memperkenalkan diri lebih dulu.
"Aku Alice. Kuingatkan, aku benci Little Silver atau sebutan apalah itu." kata Alice memperkenalkan diri, dan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya.
Pikiranku pun menjadi lebih tenang. Keberadaan Alice sangat penting untukku, lebih penting dari apapun itu. Karena rasanya, aku bisa menjalani apapun selama bersamanya.
Aku pun sedikit pulih, tapi itu tidaklah baik karena aku baru saja mengabaikan orang lain. Aku harus menunjukkan sikap yang baik didepan umum, sama seperti wajah datarku yang juga sudah mengakar.
Menarik tangan Alice disampingku, aku segera menggandengnya sembunyi-sembunyi. Akupun mengambil napas pelan, dan memperkenalkan diri.
"Elcia."
Cukup, tidak lebih, tidak kurang. Katakan seperlunya dan reputasimu tidak akan hancur. Sama seperti apa yang pernah diajarkan Alice.
. . .
Kenapa semuanya seperti ini?
Aku sadar, pikiranku menjadi kacau jika bersama dengan orang lain. Dan rasanya hal ini tidak akan bisa hilang. Sebuah luka kecil bisa membekas, sekecil apapun itu. Dan layaknya begitu, aku merasa apa yang kualami waktu itu sudah membekas terlalu lama. Tapi aku juga tidak bisa terus menyalahkan orang lain atas apa yang kualami. Karena itu aku memilih diam, sama seperti dulu.
Benar kan, Alice?
Tidak, seharusnya tidak, mungkin?
Aku tidak bisa terus tenggelam dalam traumaku. Dan sekalipun juga tidak bisa keluar dari itu, setidaknya mengapung hanyut lebih baik. Karena semuanya demi Alice dan diriku sendiri.
Tapi nyatanya, aku benar-benar tidak berguna. Isval, orang itu memecah keheningan sebelum aku mampu melakukan sesuatu.
"Erm. . , karena anggota Party ini sekarang lima orang, kurasa kita harus mengatur ulang komposisinya."
"Tentu, bukannya itu harus?" kata Alice setuju.
"Kalau begitu, pertama soal Role yang kalian pilih. Aku memakai Claymore dan zirah besi ringan, Role-ku Frontline Fighter. Dan karena sebelumnya aku satu-satunya Frontliner didalam Party ini, aku terbiasa diposisi Semi Tank." jelas Mortred, menunjukkan posisinya dalam Party.
"Aku Rearline. Penyerang jarak jauh, Archer." kata Isval sambil menunjuk Busurnya.
"Rearline, Support." lanjut Franz, masih dengan nada tegang —sementara aku melihat Mortred dan Isval menatapnya dengan wajah heran.
Aku diam selama percakapan itu, layaknya karakter yang sekedar muncul dipojok latar belakang, tapi tentu mendengarkan. Lagipula pembahasan Party itu penting terutama karena aku dan Alice ada disini sebagai anggota Party.
__ADS_1
Muuh. . , kembali fokus!
Kulihat dengan jelas, Party ini berisi satu pemain sebagai pelindung sekaligus penyerang garis depan, penyerang jarak jauh dan pemain pendukung. Komposisi yang seimbang dan standar didalam game RPG manapun.
—Sementara Role, karena Terris tidak punya sistem Job atau Class, pemain menyebut Role sebagai gantinya. Tanpa itu, pemain akan kebingungan untuk mencari anggota Party spesifik yang mereka dibutuhkan.
Namun, aku sedikit memiringkan kepala mendengar Role Franz.
Mortred dengan zirah dan Claymore miliknya, dan Isval bersama busurnya. Role yang mereka miliki bisa ditangkap dengan sekali lihat. Namun sementara Rearline Support terdengar jelas, kenyataannya Support sendiri dibagi jadi beberapa bagian; kasarnya Debuffer, Buffer dan Healer.
Seperti hampir setiap saat, Alice pun memiliki pertanyaan yang sama denganku.
"Healer?" tanyanya.
Mortred kemudian mengangguk sambil menambahkan. "Plus Buffer."
"Yah, kalau begitu Role-ku Frontline Fighter." kata Alice setelahnya.
"Erm. . , Martial Artist ?" tanya Mortred sambil menyipitkan matanya.
Melihat Alice yang tidak membawa satupun senjata, tebakan itu tidak bisa dihindari, aku tahu. Tapi tentu Alice menyangkalnya, balas menggeleng. "Swordsman."
Dan kembali jadi yang terakhir, semua mata kemudian tertuju padaku. Tapi. . , aku langsung diam membeku. Ingatanku tentang waktu itu langsung naik ke permukaan.
Ini buruk. . !
"Erm, Elcia bukan? Apa Role-mu?" tanya Mortred.
Deg. . . Deg. . .
Aku menggenggam tangan Alice dengan kuat. Dan saat aku sudah lebih tenang, Mortred, Franz, maupun Isval memandangku dengan wajah bingung.
Ah, benar, ini bukan lagi waktu itu.
Otakku pun berpikir cepat. Role, Role-ku adalah. . . Frontline Mage? Battle Mage?
Tidak, tahan, aku memang membuat Potentia karakterku sesuai untuk tipe Mage. Dan aku tidak suka banyak bergerak. Tapi aku menggunakan Rapier dan Perisai sebagai perlengkapan, yang rasanya enggan kuganti.
. . .Apa boleh buat.
Rapier. . . Mage. . . Frontline. . .
"Frontline, Spell Fencer." jawabku dengan nada monoton.
"Spell Fencer?" ulang Mortred dengan wajah bingung.
"Sword Mage." celetuk Isval.
Um, Kurasa itu nama umumnya, ya? Aku pun mengangguk, memberi konfirmasi atas kata-kata Isval.
"Oh begitu, oke! Tiga Frontline, dua Rearline, cukup bagus! Aku tetap akan menjadi Semi Tanker seperti sebelumnya. Tapi aku butuh satu lagi diantara kalian berdua untuk membantuku dengan role ini." kata Mortred sambil menatap kami.
. . .
Hening.
. . .
"Aku ambil." kata Alice kemudian.
__ADS_1
Sekali lagi. Sekali lagi kebiasaanku membuatku seperti ini dan membuat Alice harus mengatasinya untukku. . . Haha, hahaha. . . ha. . .
Menyedihkan.