
"Eh, kalian nggak akan ikut berburu?" Mortred berkata dengan wajah agak terkejut. "Kenapa?"
". . . Quest. Dari, Bill." jawab Elcia dengan singkat. Gadis itu mulai memberanikan diri untuk berbicara dengan orang lain dan mencoba untuk menjawab.
Alice pun dibuat sedikit terkejut melihat itu, namun bibirnya segera membentuk senyum kecil karenanya. Tangannya bergerak mengelus kepala Elcia dengan lembut dan membuat gadis itu merasa malu dengan pipi merona.
'Kurasa sekarang kita impas? Fufufu~' kata Alice dengan nada menggoda melalui Soul Link.
'Muuu. . .'
Sementara itu, Mortred yang mendengar jawaban Elcia merubah ekspresinya dan memandang dengan wajah bersimpati. Tak hanya itu, bahkan Isval dan Franz menunjukkan pendangan serupa padanya.
Dan ditambah dengan Alice yang mengelus kepala Elcia, ketiganya berpikir jika Alice sedang berusaha menghibur gadis itu dari kemalangan yang ditimbulkan Quest sang Demon Trainer.
"Good luck." kata Franz.
"Aku yakin itu berat, tapi kalian pasti bisa. . !" tambah Mortred dengan senyum, sedangkan Isval mengangguk diam dengan wajah agak pucat.
Sayangnya melihat gelagat ketiga pemain itu, Elcia justru memiringkan kepala dengan bingung disertai tanda tanya; namun masih berusaha menanggapi. "Um. . . Makasih. . ?"
'Yah, kurasa aku bisa mengerti. . .' pikir Alice dalam hati.
Karena kecuali Elcia, empat orang yang ada ditempat itu telah merasakan neraka dari Halfling tua itu dengan cara yang berbeda-beda namun satu asal; sebuah Quest.
Dan yang paling tidak beruntung dari keempat orang itu adalah Franz, yang harus membunuh lima puluh Black Bear seorang diri saat level karakternya dipaksa untuk menjadi sepuluh tingkat lebih rendah berkat sebuah cincin terkutuk.
...[Quest Details]...
Bill's Challenge
Rank : S
Bill memberimu sebuah tantangan untuk membuktikan dirimu!
Special Condition :
• Tidak menerima bantuan dari siapapun.
• Memakai Ring of Trial.
Clearance Condition :
• Black Bear dibunuh : 6/50
• Black Bear Claw didapatkan : 6/50
Clearance Reward :
Experience, Skill Book : Quick Regeneration, Rare Staff
Failure Condition : -
Failure Punishment : -
...————...
...[Equipment Details]...
Unknown — Ring of Trial
Status : Cursed
Type : Accesories, Ring
Durability : 94%
Defense : 1
Requirement :
Quest — Bill's Challenge
Stats : -
Enhancement :
» Trial Curse [Passive]
•Melemahkan pemakai dengan menurunkan Level hingga seluluh tingkat dibawah Level rata-rata musuh yang sedang dihadapi.
• Pendapatan Experience meningkat 10%.
Cincin yang dengan sengaja diberi kutukan untuk menguji siapapun yang berani memakainya.
...————...
'Quest jahanam.' keluh Franz dalam hati, sambil memikirkan cara agar ia mampu menyelesaikan Quest sialan itu.
"Iblis. . ." gumam Isval.
__ADS_1
"Masa lalu kelam. . ." kata Mortred lirih.
Dan mengingat apa yang terjadi sejauh ini, Alice mulai mendapati perasaan tidak nyaman dihatinya melihat Quest baru yang ia dapatkan setelah menerima Clearance Reward dari Quest sebelumnya.
...[Quest Details]...
Bill's Invitation
Rank : F
Bill memintamu untuk pergi menuju rumah di puncak bukit selatan.
Clearance Condition :
• Pergi ke tempat yang dikatakan Bill.
• Baca gulungan yang diberikan Bill saat berada di dalam tempat itu.
Clearance Reward :
Experience
Failure Condition :
Tidak datang ke tempat yang dituju dalam satu hari.
Failure Punishment : -
...————...
Jika dilihat, Quest kali ini bukan sesuatu yang sulit tapi mudah malah. Hanya saja, Alice memiliki perasaan lain yang mengatakan sebaliknya.
'Semoga cuma perasaan. . .' pikirnya, tanpa menyadari jika kotak petaka sudah sejak awal diberikan kepadanya.
. . .
Beberapa waktu setelahnya.
Mendaki ratusan anak tangga berlumut, Alice dan Elcia mendapati diri mereka sampai diatas sebuah bukit yang berada diujung selatan desa Nave.
Dan seperti isi Quest itu, sebuah bangunan berdiri di puncak bukit yang mereka daki. Namun keadaannya membuat kedua gadis itu mengerutkan dahi, karena;
Dinding kayu bangunan itu sudah terlihat rapuh dan dirambati tanaman liar, sementara rumput tumbuh disekitarnya hingga mencapai dada.
"Nggak terawat sekali. . . " kata Alice dengan pandangan tak percaya, dan mulai berpikir jika mereka salah tempat.
"Agak terbengkalai. . ." kata Elcia.
Srak. Srak. Srak. Srak.
Memangkas rumput yang menghalangi jalan, mereka sampai didepan pintu bangunan tua itu. Alice pun mengetuk pintu. . .
Tuk-tuk!
"Permi—"
—Brak!
Pintu tua itu akhirnya terlepas dari engselnya dan roboh kedalam dengan suara keras, sementara Alice yang melihatnya beralih memasang wajah datar.
"Alice. . ."
"Bukan salahku ya. . !" protes Alice, membela diri. "Pintunya memang sudah lapuk—"
"Um, hehehe, kena." kata Elcia dengan ekspresi bermain-main.
Gadis itu benar-benar merubah sikapnya seratus delapan puluh derajat.
Semuanya karena ia menahan dirinya agar tidak mengganggu Alice yang harus menyelesaikan Quest dengan batas waktu. Yang tanpa sadar menyebabkan keinginannya untuk menghabiskan waktu dengan bebas bersama Alice menjadi semakin kuat. Menciptakan kondisi psikologis dari apa yang mereka sebut sebagai bom waktu berjalan.
Itu kemudian diperburuk oleh waktu Terris yang enam kali lebih cepat dari dunia nyata. Memberikan sebuah efek ilusi yang berakhir pada kebingungan tentang 'waktu sebenarnya'. Seolah seseorang telah menunggu enam hari padahal kebenarannya hanya satu hari.
Dan saat ia melepaskan keinginannya di Combat Training Field waktu itu, keinginan yang ia tahan akhirnya tidak bisa lagi dibendung. Menyebabkan sikapnya berubah menjadi seperti saat ini.
Disisi lain, menyadari dirinya masuk dalam perangkap Elcia, sudut bibir Alice berkedut beberapa kali sebelum emosinya meledak. "Linnea! ! !"
"—Aaaaaaaahahahaha. . !" Elcia berteriak setengah tertawa dengan wajah bahagia.
. . .
Beberapa saat setelah keributan yang mereka buat sendiri, kedua gadis itu akhirnya kembali pada Quest yang sempat terlupakan.
"Permisi!" teriak Alice dari depan pintu masuk ruangan itu.
Dan setelah menunggu tanpa mendapat sebuah jawaban, Alice menengok Elcia. "Tempat ini sepi."
Elcia pun mengangguk dan bertanya. "Masuk?"
"Memangnya ada pilihan lain?"
__ADS_1
Melangkah masuk, bangunan itu memperlihatkan bagian dalam yang cukup luas untuk tiga lapangan voli berjajar dengan banyak benda didalamnya.
"Ukh, debu. . ." keluh Alice saat menghiruk udara ditempat itu. "Kenapa harus detail begini, dasar Developer kurang kerjaan."
Mengabaikan keluhan yang keluar, Elcia mengambil sebuah kertas gulungan dari dalam tas dan menyodorkannya pada Alice. "Um, gulungannya."
Keduanya pun membukanya dan membaca tulisan yang ada di gulungan itu.
Dari tengah, langkah kaki menjauhi senja.
Lonceng pertama memecah sunyi.
Mangkuk besi membawa api.
Api yang tepat membara abadi.
Lonceng kedua cahaya pemandu.
Taring terasah adalah pengetahuan.
Bunga kematian membuka jalan.
Lonceng terakhir ada dalam malam.
Dan disaat mereka selesai membacanya, panel notifikasi akhirnya muncul kembali.
[Quest : Bill's Secret diselesaikan!]
[Level meningkat!]
[Quest : Bill's Secret - II dipicu!]
...[Quest Details]...
Bill's Secret - II
Rank : E
Gulungan ditanganmu membawa beberapa kalimat penuh teka-teki. Pecahkan teka-teki yang diberikan Bill padamu!
Clearance Condition :
• Teka-teki dipecahkan
Clearance Reward :
???
Failure Conditiom :
Gagal memecahkan teka-teki gulungan sebelum matahari terbenam.
Failure Punishment :
???
...————...
"Sekarang permainan teka-teki? Heh, ini terlalu mudah." kata Alice dengan senyum meremehkan.
"Um, Alice, itu tuah buruk tahu. . ."
"Eeh nggak juga, coba pikir. Dari tengah, langkah kaki menjauhi senja, artinya—"
" "Dari tengah, berjalan ke timur." "
Kata keduanya secara bersamaan.
"—Kenyataannya memang mudah kan?"
"Alice. . ."
"Ya, ya, ya. . . ayo lanjut." lanjutnya, menghiraukan perkataan Elcia.
Berada ditengah-tengah ruangan itu, keduanya pun melangkah kearah timur sesuai dengan petunjuk yang mereka dapat.
Tap.
Tap.
Tap.
Selangkah demi selangkah, keduanya memperhatikan lantai yang mereka pijak dengan hati-hati. Hingga pada langkah yang kedelapan, sebuah bunyi 'klak' terdengar. Dan pada saat selanjutnya, bunyi lonceng menggema didalam bangunan itu.
—Daangg. . ! Daangg. . ! Daangg. . !
Lampu dan obor ditempat itu menyala seketika, menerangi setiap jengkal bagiannya lebih jelas dan menggantikan cahaya matahari dari pintu masuk. Memperlihatkan sisi sebenarnya dari bangunan itu.
Kedua gadis itupun terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya saling bertukar pandang.
__ADS_1
"Erm, efek visualnya agak berlebihan. . ." celetuk Alice dengan wajah datar.