
"Uuh. . ." Lia mengerang sambil memegangi hidungnya yang kesakitan.
"Itu, sakit. . ?" tanya Linnea dengan wajah datar; yang meski sulit diketahui, ada nada khawatir yang keluar dari mulut gadis itu.
Singkat kata, Lia ingin mengejutkan gadis itu dan berhasil melakukannya dengan sempurna. Hanya saja, lemparan buku adalah harga yang harus dibayar olehnya, tepat di muka dan tanpa cicilan.
Namun mendapati Linnea khawatir padanya, Lia justru menjadi gemas terhadap gadis itu. Apalagi melihat wajah kaku yang dimilikinya, wajah bak boneka yang datar. Yang mau tidak mau memaksa insting sang psikolog untuk menarik pipi gadis itu, dan memaksanya tersenyum lebar.
"Paling tidak keluarkan ekspresimuuu!"
"Muuee. . ! Hwentikwan. . !" protes Linnea, yang kemudian berusaha untuk menyelamatkan pipinya dengan susah payah.
Mengingat Linnea yang sudah duduk di kelas dua belas, perlakuan Lia jelas membuatnya kesal. Namun, tinggi badannya yang berada dibawah rata-rata membuat siapapun melihatnya sebagai gadis kecil, tidak terkecuali Lia.
Namun, sebuah benda berbentuk mirip bando telinga kucing yang terpasang di kepala gadis itu akhirnya menunjukkan jati dirinya; sebuah alat penerjemah gelombang otak yang dibuat Lia, khusus untuk Alice.
". . . Lolicon." kata Alice dengan nada yang penuh dengan rasa jijik.
"Bukaann—"
"—Orang waras." potong Alice tanpa ampun sedikitpun.
Lia pun terdiam dengan kekalahan telak satu langkah.
Setiap kali Alice berbicara, kalimat-kakimat keluar dengan senang hati tanpa harus repot-repot memikirkan apapun. Seorang gadis yang jujur dengan mulut sepedas Carolina Pepper. Dan setiap kali itu juga, Lia selalu dibuat kewalahan menanggapinya.
Jauh bertolak belakang dengan Linnea yang bisa dikatakan sangat pendiam. Kecuali perlu, Linnea seakan-akan berubah menjadi boneka, dimana hal ini membuat Lia hanya bisa tersenyum hampa melihatnya karena ia sendiri mengerti jika masih butuh waktu yang tidak sebentar untuk membuat Linnea pulih dari traumanya itu.
. . . Meski begitu, keadaannya sudah jauh lebih baik daripada saat pertama kali Lia melihatnya.
Setelah beberapa saat dan mendapati suasananya mencair serta melihat Linnea yang cukup senang, Lia akhirnya mulai berbicara tentang apa yang ingin ia tunjukkan pada mereka.
"Alice, Linnea, bagaimana pendapatmu tentang Game?" tanyanya.
". . . Game?" Linnea sedikit mengerutkan dahi mendengar pertanyaan tiba-tiba itu.
"Nolife." celetuk Alice, dan udara disekitar ruang perpustakaan pun berubah canggung.
. . .
Mengabaikan Alice, Linnea tertegun mendengar pertanyaan Lia.
Bukan karena dirinya tidak pernah memainkan sebuah game, tapi karena ingatan-ingatan yang sempat tenggelam jauh didasar memorinya mulai muncul kembali ke permukaan.
. . . Saat dimana dirinya memilih mengisolasi diri dari dunia luar.
__ADS_1
Saat itu, Linnea menjadi seorang yang tidak ingin keluar dari kamarnya. Ia membenci interaksi dengan orang lain; yang menjadi salah satu alasan utama dibalik dirinya yang lebih memilih sekolah privat dimana dirinya mendapatkan interaksi minimal tanpa adanya 'teman kelas'.
Hari-hari yang ia lewati hanya diisi dengan menatapi layar komputer, siang maupun malam.
Memang, itu bukanlah sebuah pengalaman yang baik menurutnya sendiri, meski sebenarnya menyenangkan.
Hanya saja, karena paksaan orang tuanya serta nama baik keluarga yang harus dijaga, Linnea akhirnya meninggalkan semua itu.
Lia sendiri tentu mengetahui jika gadis itu pernah menjadi seorang yang mengurung diri dan menghabiskan waktunya bermain game. Maka dari itu, ia dengan sengaja membuatnya memutar kembali ingatan itu.
"Um, cukup seru. . . mungkin?" jawab Linnea ragu-ragu, dengan raut wajah kesulitan menjawab.
"Hmn, aku nggak menyangkalnya, itu waktu yang cukup menyenangkan." tambah Alice.
Mendapat jawaban yang positif, Lia mengeluarkan tersenyum tipis dan tanpa pikir panjang mengeluarkan selembar kertas dari balik jasnya dan kemudian memperlihatkannya kepada gadis itu. "Lalu, gimana dengan ini?"
Linnea pun dengan mudah mendapati sebuah berita yang diambil dari internet tentang sebuah game yang judulnya;
Terris : Limitless
Membaca kertas ditangannya, Linnea sedikit demi sedikit menunjukkan rasa penasaran yang semakin kuat.
Sebuah game baru dengan tipe VRMMO Open World bergenre RPG yang dipegang perusahaan Sekai Shard, yang merupakan hasil kerjasama raksasa dari beberapa pengembang game dari seluruh dunia dan banyak ahli terkenal dari berbagai bidang.
. . .
Perusahaan Sekai Shard juga dikabarkan menggandeng seorang penemu muda, Lia Devina dalam pengembangan alat Virtual Reality yang lebih mutakhir.
Mata gadis itu melirik sekilas orang didepannya yang terlihat sedang menunjukan senyuman penuh rasa bangga, sebelum kembali membaca berita ditangannya.
Tak tahu apa yang harus ia katakan, Linnea justru bertanya dengan bingung. "Um. . , Jadi?"
Sebagai seorang yang dianggap jenius, IQ Linnea tentu lebih superior dibandingkan mayoritas kebanyakan. Namun sebagai gantinya, EQ miliknya berakhir dibawah orang biasa dimana hal ini membuatnya sering kesulitan untuk membaca perasaan orang lain —yang menjadi salah satu hambatannya untuk berinteraksi dengan orang lain.
Dan sesuai dengan kenyataan dari itu, Linnea berakhir membuat ekspresi Lia jatuh seketika, turun menuju kedalaman palung Mariana yang suram dan gelap; sementara Alice mau tidak mau dibuat tertawa keras.
". . . Um, Dokter?" panggil Linnea yang semakin kebingungan dengan tingkahnya. "Ada yang. . . salah?"
Lia yang kembali tersadar akhirnya segera melanjutkan, meski dengan wajah sedikit lesu. "Yah, bagaimana jika kalian mencobanya. Maksudku, memainkan VR?"
Mendengarnya, Linnea segera menunjukkan ekspresi sulit diwajahnya. "Ini. . . agak, sulit. . ." katanya.
Meskipun Linnea merasa tertarik, ia tidak bida serta merta melakukannya. Sederhana, ada beberapa faktor yang membuatnya ragu. Sebab itu, Linnea akhirnya beralih kepada Alice.
"Uum. . , Alice?"
__ADS_1
"Itu pilihanmu. . ." tangkis Alice dengan mudah, yang membuat Linnea sedikit cemberut.
"Muu. . ."
Lia yang sudah menduga semuanya akan menjadi seperti ini sejak awal kemudian mulai berusaha meyakinkan keduanya; yang bukanlah hal sulit baginya, mengingat ia adalah seorang psikolog yang mempelajari mental manusia.
Lia sendiri juga berpikir sudah saatnya membuat gadis ini kembali berinteraksi dengan orang lain. Bukan sebatas dengannya atau orang dekat seperti adik perempuannya, tapi secara luas. Dan solusi yang dipilih Lia adalah Virtual Reality.
Mengingat kecanggihan Virtual Reality yang mendekati realitas asli, Lia memutuskan untuk memanfaatkan NPC Terris yang terlihat seperti manusia pada umumnya. Ia berpikir untuk membuat gadis itu berinteraksi dengan NPC.
Sebab dari trauma yang Linnea alami, gadis itu telah membangun mekanisme pertahanan diri yang secara otomatis menjauhi 'manusia' dan, atau 'orang lain' secara tidak sadar.
Dan pemahaman tentang NPC yang secara tidak langsung hanya sebatas 'simulasi' atau 'tiruan nyata' merupakan terapi yang cocok untuknya; dimana mekanisme pertahanan diri yang ia miliki menjadi longgar.
Disisi lain, Lia berpikir jika dunia Virtual itu bisa menjadi tempat dimana Linnea bisa membuat dirinya merasa diakui, tanpa harus terikat nama Amaryllis dengan menggunakan karakter avatar buatan.
Karena kenyataannya, salah satu hal yang bisa mengikis trauma gadis itu hanyalah kata sederhana seperti 'terima kasih' sebagai apresiasi dari kerja kerasnya; bahkan jika itu diucapkan oleh NPC, sekedar untuk menyelesaikan Quest yang sungguh sepele.
. . . Metode ini sebenarnya sudah terpikirkan jauh-jauh hari oleh Lia, dan ia bisa saja menggunakan cara ini sejak awal. Namun, itu harus tertunda melihat beban mental yang mengikat gadis itu sangatlah berat. Andai Linnea masih menjadi dirinya yang dulu, cara ini hanya akan menjadi bumerang yang memperburuk kondisi mentalnya.
Tapi sekarang, tidak ada sisa waktu untuk menunda lagi. Gadis itu akan cukup dikatakan telah sepenuhnya dewasa setengah tahun dari sekarang; setelah lulus dari sekolahnya.
—Yah, meski dalam beberapa hal ada bagian yang belum bisa dikatakan dewasa.
Setelah beberapa penjelasan yang tidak begitu panjang, Linnea akhirnya berniat mencoba Virtual Reality yang dimaksud Lia. Dan karena itu, Alice pun hanya perlu memastikan sebuah hal. "Dokter, alat itu sudah disesuaikan dengan kami, bukan?"
Lia tersenyum lebar sambil mengangkat jempolnya. "Jelas!"
". . . Aku, akan mencoba." Linnea akhirnya menghapus keraguan yang tersisa dadi dalam pikirannya.
"Sip! Game itu dirilis minggu depan persis di hari liburan sekolahmu jadi ada baiknya persiapan. Alat yang kalian perlukan sebentar lagi sampai disini sekaligus sedikit set up. Mungkin mau ditaruh di kamarmu, gimana?"
Mendengar kalimat terakhir, Linnea seketika mematung diam dengan mata yang terbuka lebar —seolah telah melihat Medusa.
". . . Kamar, ku?" tanyanya kemudian, dengan keringat dingin yang mulai keluar.
"Ya? Ada apa?" Lia balik bertanya dengan alis terangkat.
"Dokter. . , tolong siapkan mental anda." kata Alice dengan sopan —yang menyebabkan Lia terkejut dengan perubahannya, namun juga bertambah bingung.
". . . ? ?"
Beberapa menit selanjutnya, didepan pintu kamarnya yang terbuat dari Nano Carbon. Linnea gemetaran dengan wajah datar yang berkeringat dingin, sambil memegangi kunci kamar yang rasa-rasanya adalah penghantar menuju kematian muda. Sementara dibelakang gadis itu, Lia berdiri dengan pikiran penuh tanda tanya. Dan Alice yang diam seribu bahasa, namun memasang seringai lebar dalam hati.
Hingga pintu itu akhirnya dibuka perlahan, menyingkap sebuah rahasia yang bahkan anggota dewan perdamaian dunia, Amaryllis Nova Reiner, tidak tahu-menahu tentang itu. Dan pada hari itu, Lia akhirnya mendapat pencerahan tentang makna dari sebutan 'kamar keramat'.
__ADS_1
. . . Tidak.
Itu. . , adalah kamar yang bahkan Raja Iblis sendiri tidak berani masuk.