VRMMO | Terris Story : Someone "Them"

VRMMO | Terris Story : Someone "Them"
18:B.Looking For Comp-Onion! Next Target?


__ADS_3

Membaca panel Quest yang dibagikan Elcia, wajah tercengang akhirnya dibuat muncul kembali diantara ketiganya.


"H-hey, Franz. . . Apa kau tahu sebuah Quest yang memakai Question Marks sebagai Rank-nya?" tanya Mortred.


"Tidak." jawab Franz, menggeleng pelan. "Cuma ada beberapa orang yang mendapat S-Ranked Quest sampai sekarang. Tapi. . . kurasa, semua Quest dari Iblis itu termasuk pengecualian."


Perkataan Franz cukup bisa dimengerti. Sebab selain di desa Nave, kenyataannya pemain yang telah memicu Quest dengan kesulitan S-Rank masih bisa dihitung dengan jari.


Melihat itu, Mortred beralih pada kedua gadis dihadapannya dengan ekspresi khawatir. "Apa kalian akan baik-baik saja dengan Quest ini?"


" "Tidak." " jawab keduanya serempak tanpa menyembunyikan apapun.


"Langsung menjawab jujur?" kata Isval, sambil terkekeh mendengar jawaban itu.


Alice pun menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada penuh kekalahan. "Nggak ada gunanya bohong kalau sudah diujung tanduk."


Dan semua orang dibuat terdiam selama beberapa saat karena jawabannya itu.


Hingga pada suatu titik dimana Mortred sendiri harus kesulitan untuk berusaha menahan keinginannya untuk. "—Pfft. . ! Ahaha. . ."


Hahaha. . ! Ahahahahahaha. . !


Tawa itupun meledak bak reaksi kimia berantai, yang harus membuat seisi Subjugation Center memperhatikan kelompok lima orang itu dengan pandangan penasaran.


'Ada apa dengan mereka?' seperti itulah.


"Huhu. . . W-well, ahaha. . , tunggu. . ." Isval yang masih sulit menghentikan tawanya pun berbalik sesaat.


"Ehem, oke. Jadi, huhu, kalian harus pergi ke Terris Tengah dan mencari tiga orang itu, lalu menghancurkan pedang terkutuk yang diberikan Bill?" tanyanya kemudian, menarik kesimpulan singkat.


"Begitulah." kata Alice kemudian, mengangguk.


Isval pun melirik Mortred dan Franz bergantian. "Bagaimana menurut kalian?"


Itu tidak seperti Isval bisa memutuskan semuanya sendirian. Mortred, Isval dan Franz; mereka memiliki ikatan satu sama lain setelah semua yang mereka lakukan bersama-sama sebagai anggota pendiri Party tanpa nama. Sampai-sampai jikalau seorang diantaranya tidak ada, mereka akan kebingungan untuk melakukan sesuatu.


Dan andai ada salah satu diantara ketiganya yang tidak ingin mengikuti perjalanan ke Terris Tengah, alhasil mereka semua tidak akan ikut sama sekali.


Disisi lain, Elcia hanya bisa memutar koin; pertaruhan antara ya atau tidak. Dimana hasilnya adalah kemungkinan tidak pasti. Dan untuk mendapatkan hasil yang baik, ia harus mendapatkan hasil beruntun diantara tiga lemparan.


"Aku ingin ikut, tapi aku ingin melihat pilihan kalian." kata Mortred.


Kepala.


Elcia memenangkan koin lemparan pertama. Namun memasuki lemparan kedua, tanpa sadar detak jantungnya menjadi lebih kencang, gugup.


Beralih pada Franz, mata semuanya tertuju pada sang Support. Dan beruntung, Franz segera memberikan sebuah anggukan diam tanda setuju.


Kepala.


Hingga pada bagian terakhir, semuanya bergantung pada Isval sebagai lemparan penentuan. Elcia pun hanya bisa berharap agar Isval setuju dengan itu.

__ADS_1


Dengan jujur, gadis itu ingin agar ketiganya ikut bersama mereka. Mungkin kedengarannya merepotkan, namun Elcia sudah terbiasa dengan orang-orang itu, dan mereka bukan lagi orang yang begitu asing baginya —setidaknya di Terris. Gadis itu juga tidak terlalu khawatir dengan sifat ketiganya, meskipun ia sendiri tetap tidak bisa sepenuhnya menghilangkan sikap kehati-hatiannya terhadap orang lain.


"Aku. . ." Isval akhirnya membuka mulut, namun kemudian berhenti dan diam seolah sedang berpikir dalam.


Pikiran Elcia pun segera dipenuhi pesimisme, dimana ia menganggap skenario terburuklah yang akan keluar dari mulut Isval. Dan dengan itu, Elcia mau tidak mau mulai merasa kecewa. Yang tanpa ia sadari sendiri justru terlukis samar-samar pada wajahnya; bersama kepala yang agak tertunduk sedih.


". . . akan ikut juga."


Mendengar itu, wajah Elcia sontak terangkat dengan mata yang terbuka lebar, lalu memandang ketiganya dengan raut wajah linglung.


". . . Huh?"


"Ada apa?" tanya Mortred sambil tertawa kecil melihat ekspresi Elcia. "Kami akan ikut menuju Terris Tengah."


"Well, tidak seperti kami akan meninggalkan anggota Party yang harus menjalani Quest neraka." tambah Isval, ikut tersenyum.


"Quest-ku belum selesai, sialan!" teriak Franz dengan kesal.


Dan Mortred pun menyahutnya dengan mengangkat bahu. "Mau gimana lagi? Quest-mu melarang siapapun untuk membantu, Franz."


Franz pun membenturkan wajahnya ke meja sambil mengeluh. "Aaaahh. . . ini neraka. . ."


Di tempat duduknya, Elcia terdiam selama beberapa saat tanpa pernah memikirkan semuanya benar-benar sesuai dengan keinginannya. Dan menanggapi perasaan dari dalam hatinya yang menjadi cerah, ia menunjukkan senyum manis yang hampir selalu tersembunyi dibalik wajah datarnya.


". . . Terima kasih." ucapnya pelan dengan senyum.


—Sebuah senjata pemusnah masal mendadak dilepaskan begitu saja tanpa sebuah peringatan.


Beberapa saat setelahnya, ketika semua orang telah sadar, Franz menjadi yang pertama kali memecah keheningan; meski kini terlihat seperti orang yang sedang kesulitan bernapas.


"Urk. . . Terlalu. . . ba-nyak. . , guula. . !"


Mortred kemudian mengikuti sambil mengalihkan wajahnya yang agak memerah. "That smile. . , that damned smile." gumamnya lirih.


Sementara Isval hanya mengucapkan sebuah kata. "Medic."


. . .


Kembali pada masalah utama.


Setelah ketiganya setuju untuk ikut pergi menuju Terris Tengah, mereka pun berpindah ke Dandelion. Sebab Hunger dan Thirst yang mereka miliki sudah diambang batas, bersama rasa lapar dan harus yang muncul; serta sekaligus membahas soal persiapan yang akan diperlukan.


"Lalu, apa rencananya?" tanya Mortred sambil memakan sup kentang yang telah dipesan olehnya.


"Mencari orang lain." jawab Alice.


"Well, melewati Basmael sama saja bunuh diri hanya dengan kita berlima." celetuk Isval sambil mengangguk setuju. "Aku kenal beberapa pemain, bagaimana jika kita merekrutnya?"


"Aku nggak akan menolak. Tapi sebelum itu, ada Party yang harus diajak." kata Alice, dan iapun melanjutkan. "Kau sebelumnya bilang kan, kalau peta yang kami miliki bisa diincar para pemain."


"Begitulah."

__ADS_1


"Aku dan Elcia akan menemui Haru."


"Ah, Sky Chaser. Pilihan yang bagus, mereka cukup bisa dipercaya." Isval pun setuju tanpa berpikir.


Kedua gadis itu sendiri memilih kelompok Haru sejak awal karena beberapa perhitungan tentang apa yang pernah mereka alami saat itu berkaitan dengan sembilan orang itu.


Keduanya mengingat saat dimana mereka diperingatkan agar tidak masuk ke hutan Basmael karena berbahaya.


Lalu bagian dimana keduanya terselamatkan dari kepungan Wolfpack.


Ataupun diberikan sebagian Drop dari Alpha hanya karena mereka melakukan Last Hit.


Memikirkannya, orang-orang itu memiliki sifat yang baik; yang meskipun sekali lagi Elcia tidak bisa benar-benar yakin, setidaknya ia masih bisa sedikit percaya.


Dan sekarang, ada beberapa perhitungan lain yang ditambahkan.


Pertama, mereka akhirnya tahu jika kelompok Haru menginginkan sebuah peta. Dengan catatan andai kata-kata Isval adalah benar.


Meski mereka sendiri tidak akan melepaskan peta itu kepada Sky Chaser, benda itu bisa digunakan kedalam meja negosiasi. Yang setidaknya akan menaikkan peluang mereka untuk berhasil menarik Sky Chaser untuk ikut.


Kedua. Untuk menambahkan lebih banyak orang kedalam bagian kelompok gabungan para pemain yang akan menembus Basmael, kedua gadis itu harus memiliki pengaman; untuk menghindari peta yang mereka miliki direbut oleh para pemain PK.


Lagipula, tidak ada salahnya untuk berhati-hati.


Dan untuk itu, Mortred, Isval dan Franz, lalu Haru bersama Sky Chaser harus ada disisi keduanya. Karena sekalipun keduanya cukup kuat, dan percaya diri dengan itu, mereka tidak sanggup untuk menghadapi banyak pemain sekaligus —kecuali apa yang mereka hadapi adalah sekumpulan orang tolol.


"Kalian tahu arti sebuah kalimat yang berbunyi 'Speak of the Devil**'?" tanya Isval tiba-tiba dengan sebuah senyum.


"Hmn? Apa memang?" tanya Mortred tanpa mau pusing berpikir.


"Speak of the Devil. . ?" ulang Elcia, yang kemudian terdiam sejenak untuk berpikir. Dan saat otaknya berhasil memahaminya, gadis itu melihat Isval sedang mengirimkan telunjuknya kearah pintu masuk Dandelion.


Dan saat menoleh ke arah yang ditunjuk, mereka segera melihat sekelompok orang masuk perlahan dengan masing-masing senjatanya; Naginata, Great Sword, War Hammer, Shield, Orb, Dagger, Dagger, Staff dan Bow.


Alice pun tidak bisa menahan dirinya untuk mengatakan kalimat itu.


"Speak of the Devil. . !"


...———...


*Kutukan Gorgon


Bagian dalam cerita mitologi dimana siapapun yang melihat Medusa dengan mata telanjang akan menjadi batu.


**Speak of the Devil


Kalimat yang sering digunakan orang luar saat seseorang yang sedang mereka bicarakan muncul secara kebetulan.


#Author Side


Dibagian akhir, penulisan Dagger memang dua kali ya. Adakah yang tahu alasannya?

__ADS_1


__ADS_2