
"Kakak~"
". . . ."
"Kakak tahu nggak berapa lama kakak main~?"
Suasana mencekam menyelimuti kamar Linnea. Dan punggung gadis berambut putih perak itu pun berkeringat dingin.
Duduk di lantai, ia menghadap Luna yang sedang menatapnya dengan senyum menyeramkan; seolah menghadapi iblis penghakiman terakhir.
"Kakak~?"
Dan sekali lagi mendapati dirinya dipanggil, Linnea menjawab dengan wajah datarnya yang tegang. "U-um. . ."
Luna pun mendekati kakaknya dan berjongkok berhadap-hadapan.
Jika dilihat dari pihak ketiga —keempat mengingat Alice, keadaan keduanya saat ini sekilas seperti seorang kakak yang memarahi adiknya. Yang tanpa orang lain sadari jika Luna sebenarnya adalah seorang adik disini.
"Luna beritahu ya kak. Ini sudah enam belas jaaaaam—!" kata Luna, bersamaan dengan kedua tangannya yang langsung menarik pipi kakaknya itu dengan gemas.
Yang tentunya mendapat perlawanan sengit dari Linnea. Tapi dengan fisik adiknya yang lebih tumbuh, gadis itu kesulitan untuk melawannya secara langsung; dan meninggalkannya tanpa bisa membebaskan diri dari tangan-tangan itu.
"Muueeeeeeeee. . !"
'Erm. . . kita nggak ada harga diri, ya. . ?' kata Alice.
Sementara itu didalam imajinasinya sendiri, Luna menjadi mimisan melihat sang kakak.
—Diabetes [Level Up]
"Hah. . ."
Mengela napas pendek, Luna berdiri sambil mengangkat kakaknya agar ikut berdiri. Melihat jam pada komputer didekatnya, dan menghela napas sekali lagi.
22.09
'Serius. . . Kakak kalau main nggak tahu waktu.' pikir Luna. '. . . Dahlah.'
"Kakak, ayo makan. Luna juga belum gara-gara nunggu kakak Logout."
Mengetahui itu, Linnea langsung merasa bersalah, dan meminta maaf dengan wajah tertunduk. "Muu. . . maaf, Luna."
[Critical Hit!]
"N-nah makannya ayo. . !" katanya lagi, dan mendorong kakaknya menuju ruang makan sambil menyembunyikan wajahnya yang sedikit merona.
. . .
Di meja makan, keduanya makan tanpa ada orang lain. Karena kenyataannya memang sudah terlalu malam untuk mendapati orang lain berada ruangan itu, bahkan bagi para pembantu sekalipun.
Sunyi tanpa ada suara, Luna akhirnya berbicara karena merasa aneh dengan suasananya.
"Ngomong-ngomong, kak. . ."
"Um?"
"Terris itu sejenis Dark So*l Series, ya?"
Sendok ditangan Linnea pun batal mengirimkan makanan ke mulutnya, dan kembali turun ke piring didepannya. Lalu beralih memandangi adiknya dengan bingung.
". . . Maksudnya?"
"Yah, Luna mati melulu. . ." jawab Luna sambil memainkan makanannya, sedikit terlihat jengkel.
"Mati. . ?" ulang Linnea dengan alis terangkat.
Melihat adiknya yang menunjukkan kekesalan, ia menjadi penasaran; karena Luna bukanlah tipe yang kesal karena sesuatu hal kecil.
'Alice, memang Terris sesulit itu ya?' tanyanya.
'Nggak tahu?' jawab Alice dengan jujur.
Gagal mendapat pencerahan tentang itu, Linnea akhirnya bertanya langsung melalui tebakan yang muncul dikepalanya. "Player Killer—?"
"—Bukaan. . !" potong Luna, menggelengkan kepalanya.
"Um. . , jadi?"
Luna pun menjawab dengan lesu selagi wajahnya berubah suram. "Gurun, kak. Luna Spawn di gurun. . ."
Mengambil gelas didekatnya, Linnea mengangguk mengerti mendengar penjelasan itu. "Jadi dibunuh alam. . . —Gulp."
"Ya, gitu. . ." katanya dengan wajah cemberut. "Sebentar, Luna buka Smartphone."
'Achievement : Killed by Nature.' celetuk Alice.
"—Pfffftt. . ! . . . — Uhuk-uhuk. . !" Dan Linnea tersedak minumannya sendiri.
"Eeh, kakak. . . kalo minum pelan-pelan dong."
Sementara Linnea mulai menyesali pilihannya untuk membuat jahe instan sebagai minumannya. . .
'Muu. . . pedas. . .' keluhnya dengan air mata keluar; karena tenggorokannya sekarang sedang disiksa setan jahe.
Dan setelah Luna mengetuk layar Smartphone miliknya beberapa kali, ia menggesernya pada Linnea. "Ini kak, coba. . ."
__ADS_1
"Muu. . ?"
Mengambilnya, Linnea pun mendapati tampilan loading dengan logo yang terpampang jelas ditengah layar.
Sebuah kompas yang menunjuk dua belas arah mata angin, yang dihiasi lambang ular memakan ekornya, Ouroboros; siklus tiada akhir. Dimana arti keseluruhan dari gambar itu sendiri adalah「 Endless Journey 」; Logo dari Terris : Limitless.
'Kalau dipikir lagi, arti simbolnya menarik juga, ya?' komentar Alice.
'Um, menarik.'
[Loading Complete]
[Player Statistic]
Selene
3950021578044 - F
» Profile :
The Reckless | Selene
Race : Phantom
Level : 5 (82.50%)
Gender : Female
•— Details [+]
» Parameter
Health : 150/150
Mana : 120/120
Stamina : 110/110
Strength : 18 (18.0)
•— Potentia : 1.2
Agility : 18 (18.0)
•— Potentia : 1.2
Dexterity : 18 (18.0)
•— Potentia : 1.2
•— Potentia : 1.2
Vitality : 15 (15.5)
•— Potentia : 1.1
Endurance : 15 (15.5)
•— Potentia : 1.1
•— Details [+]
» Skill
Spirit Being [Passive] [Race]
Phantom Presence [Passive | Active] [Race]
Darkness Nature [Passive] [Race]
Children Of The Night Sky [Passive] [Blessing]
Anger [Passive]
•—Details [+]
» Equipment
Common Phantom's Bag (Small)
Uncommon Bone Arrow (44)
Uncommon Bone Knife
Rare Desert Hunter Bow
Rare Desert Hunter Boots
Rare Desert Hunter Garb (Top)
Rare Desert Hunter Garb (Bottom)
Rare Desert Hunter Gloves
Rare Desert Hunter Mask
__ADS_1
Rare Desert Hunter Quiver
•— Details [+]
» Inventory
Weight : 28.9/144.0
[5] Consumable
[9] Materials
•— Details [+]
» Title
The Reckless
The Unlucky
•— Details [+]
Quest
» [0] Active
» [0] Cleared
» [0] Failed
» [0] Other
Playtime Statistic
» Counter
» ???
Total Playtime : 000 D - 04 H - 03 M - 25 S
•— Terris Time - 001 D - 00 H - 30 M - 30 S
————
Memperhatikan tampilan menu yang ada sambil melihat dari atas kebawah laman itu, Linnea bertanya pada adiknya karena tidak tahu harus apa. "Uum? Luna, ini. . ?"
Namun mendapat pertanyaan itu, Luna justru mengirimkan pertanyaan balik. "Eh? Kakak, kakak nggak tahu ini?"
"Um. . ." jawabnya mengangguk.
'Nggak heran. . .' celetuk Alice.
'Uh, apa maksudnya, Alice?' tanyanya dengan bingung.
Tapi Alice pun memilih diam tanpa menanggapi, karena detik selanjutnya Luna lah yang mengatakannya.
"Uweeh, kakak nggak pernah peduli sama internet sih. . . Yah, ini cuma fitur sampingan biar pemain bisa lihat karakter-nya sendiri pas nggak lagi main. . ." jelasnya.
Tapi kemudian, Luna melebarkan matanya karena menyadari masalah yang ada pada kakaknya itu.
"Ah! Sekarang Luna inget, Smartphone kakak dimana coba?! Luna pernah lihat kakak dikasih yang baru tahun lalu kan?!"
Kebenarannya, Luna tidak mempunyai nomor kontak kakaknya sendiri. Karena masalahnya, Linnea selalu berkata ". . . Nanti." atau secara sengaja menghindar setiap kali dimintai.
"Ah. . , uum. . ."
"Kakak jangan kira kalo sekarang bisa kabur dari Luna lagi ya!!"
Dibentak dengan tekanan, Linnea akhirnya dengan susah payah mengingat dimana benda itu berada. Sayangnya, Smartphone tergeletak tanpa pernah disentuh sejak diberikan padanya.
Entah bagaimana, gadis itu berakhir terlalu tidak peduli terhadap teknologi yang berhubungan dengan kebutuhan interaksi sosial. Seperti akar yang tertanam jauh, ia meninggalkan Smartphone itu karena berpikir dirinya tidak membutuhkan benda itu sama sekali.
—Secara sederhana menyangkal kalimat "Manusia adalah makhluk sosial" dalam artian tertentu. Yang tentunya hanya bisa dilakukan oleh gadis itu sendiri; bersama Alice.
Adiknya pun mulai mengeluarkan aura menekan yang membuat tubuh kecil Linnea seolah menyusut lebih kecil lagi. "Kakaaaaak. . !"
"Uu. . . di. . . lemari. . ."
"Ambil. Se-ka-rang."
"U-um!"
Dan saat itu juga, Linnea berlari secepat mungkin dari ruang makan; meninggalkan makanannya diatas meja tanpa menengok.
Karena di tempat itu, seorang Oni* sedang tersenyum menatap punggungnya.
"Yup, itu Oni." kata Alice sependapat.
———
*Oni
Makhluk jahat pemakan manusia dalam mitologi Jepang yang memiliki tanduk dikepalanya.
__ADS_1