VRMMO | Terris Story : Someone "Them"

VRMMO | Terris Story : Someone "Them"
Side Story I. Bill Trainer


__ADS_3

Seorang Halfling duduk di pinggir Combat Training Field.


Tua.


Jenggot panjangnya mulai memutih, menandakan umur jauh seorang makhluk fana. Namun, tangan Halfling itu masih belum kehilangan sentuhannya sama sekali. Ia membersihkan pedang kesayangan miliknya dengan cekatan, sebuah Long Sword hitam kebiruan. Pedang Ashcorì.


Dan semua Halfling yang berasal dari Nave mengetahui satu-satunya pemilik sah pedang itu; Bill Trainer, penerus terakhir dari keluarga Trainer.


Seperti hari-hari lain, Bill berada di lapangan latihan itu. Membuang waktu yang tersisa padanya tanpa alasan pasti.


Menuangkan minyak Tareas pada pedang itu, Bill mulai mengelap bilah hitam kebiruan-nya dengan hati-hati. Pedang itu masih cukup tajam untuk menggores sisik naga, dan siapa tahu apa yang akan terjadi kalau-kalau Bill lengah?


"Hrm. . ." Bill akhirnya mengangkat dan melihat seberapa jauh ia telah membersihkan Ashcorì.


Tersorot matahari, Long Sword itu memperlihatkan alur urat berwarna biru yang tertembus cahaya serta ukiran tersembunyi yang tertulis padanya.


Merasa puas dengan itu, Bill akhirnya memasukan pedang itu kedalam sarung pedang didekatnya yang terbuat dari logam serupa.


'Hari lain yang sama saja.' kata Bill dalam hati, menghela napas pelan.


Tapi kemudian, mata Hafling tua itu tertuju pada dua orang sosok yang berdiri diluar pagar Combat Training Field.


Dua orang gadis dengan rambut berwarna putih perak dan wajah serupa, memakai pakaian khusus yang sering digunakan oleh para pengelana.


'Wanderer?!' pikir Bill dengan wajah terkejut. 'Jadi setelah sekian lama, mereka muncul kembali. . !'


Bill kemudian melirik Ashcorì dengan perasaan berat. 'Kekacauan akan datang, seperti zaman gelap. Apa aku masih akan sanggup untuk itu. . .'


Tapi Halfling itu segera memutus pikirannya dan menggelengkan kepala. 'Tidak. Trainer, darah Trainer akan berakhir disini dan serta kutukannya. Hanya ini satu-satunya pilihan.'


Bill pun beralih mengamati kedua gadis itu.


Dan setelah beberapa saat memperhatikan sepasang Wanderer itu dari tempatnya, Bill menarik kesimpulan bahwa keduanya tertarik dengan latihan yang ada ditempat ini. Karena itu, Bill akhirnya memanggil mereka.


"Hei! Gadis kembar perak disana!"


. . .


Hari lain.


Bill masih duduk di tempatnya, melihat para Halfling mengasah kemampuan mereka, dan merawat pedang Ashcorì seperti biasa.


Namun lapangan latihan itu mendapatkan orang baru. Salah seorang dari Wanderer kembar yang datang ketempat itu, gadis Wanderer bernama Alice.


Beruntung atau tidak, Alice berada dibawah Bill sebagai pelatihnya; yang dijuluki sebagai Demon Trainer, Bloody Master, ataupun Merciless Old One.


Semuanya terjadi begitu saja saat gadis malang itu tanpa sengaja membuat Bill murka, dengan memperlihatkan permainan Long Sword yang menyedihkan didepan Halfling tua itu.

__ADS_1


Namun, Bill sendiri segera dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


'Gadis perak ini lebih baik dari yang kukira.' pikir Halfling tua itu dalam hati.


Ia pun melirik kembaran gadis itu; Elcia, yang sedang menonton dari pinggir lapangan, hingga akhirnya menyadari satu hal. 'Tentu saja. . !'


Kedua gadis yang ia temukan masihlah seperti dua ekor pemangsa yang baru lahir.


Seekor anak serigala dan seekor anak elang. Sekalipun keduanya suatu saat akan menjadi pemangsa, mereka perlu waktu untuk belajar dan tumbuh. Yang mereka butuhkan hanyalah cara yang tepat untuk menumbuhkan bakat masing-masing, taring atau cakar, menerkam atau menyambar.


Karena talenta setiap orang berbeda. Seperti gadis dihadapannya saat ini, Elcia juga telah menunjukan bakatnya sendiri; yang membedakan keduanya satu sama lain.


—Traaang. . !


Hingga pada titik itu, Training Long Sword ditangannya terlepas berkat serangan Alice.


'Kembar perak yang cukup berbakat, memang.'


Seringai terbentuk di wajah sang Halfling tua itu.


. . .


Hari-hari Bill Trainer mulai sedikit berubah, karena ia mulai melatih Alice dengan keras. Menempa serigala kecil dihadapannya untuk menjadi pemangsa yang sebenarnya.


Dan meski begitu keras, Bill menikmati waktu pelatihan yang ia berikan. Dengan senang hati mengamati gadis itu tumbuh selangkah demi selangkah.


"Bagaimana kabarmu, pak tua?"


Sebuah suara yang begitu familiar menggema ditelinga Merciless Old One.


Halfling itupun berputar kebelakang. Ia menatap lurus mata seorang Halfling muda dihadapannya.


Penuh tetesan merah, pakaian terkoyak, mata tanpa cahaya. Halfling muda dihadapannya memegang sebuah Long Sword hitam kebiruan yang tidak memiliki tiruan.


Pedang Ashcorì.


Tidak salah lagi, Halfling itu adalah dirinya sendiri di masa lalu.


Ia yang ditakuti musuh-musuhnya.


Ia yang memburu mangsanya.


Ia yang berdiri diatas tanah kekacauan.


Dan Bill muda kembali membuka mulutnya. "Kutanyakan padamu, pak tua. Apa kau pikir kutukan ini akan berhenti karena Bill Trainer menyerah?"


Tapi Halfling tua itu tetap diam tanpa membuka mulutnya.

__ADS_1


Tap.


Tap.


Tap.


Tap.


Berjalan memutari dirinya sendiri, Bill muda meneruskan kata-katanya. "Menyedihkan. Menyedihkan. Diriku yang menyedihkan."


Tap.


Berhenti tepat disampingnya, ia berbalik dan memandang kearah gadis perak yang sedang mengayunkan pedang tanpa henti ditengah lapangan hijau.


"Huhuhu. . . hahaha. . . ahahahaha. . !" Bill muda tertawa dengan sinis, lalu meletakan tangannya di pundak Bill tua; berkata didekat telinganya dengan wajah yang begitu buruk.


"Kau, sang pembantai, menaruh harapan pada seorang gadis? Dimana. . . dimana kebanggaan yang kita miliki dulu?"


"Dimana diriku yang ditakuti? Dimana? Jawablah oh pewaris Ashcorì! Apa kau telah menjadi begitu pikun hingga melupakannya?!" teriaknya dengan penuh amarah.


"Enyahlah." kata Bill, merasa muak.


"Hee. . . Enyahlah? . . . Begitu rupanya, ternyata begitu. . ! Kau ingin lari dari semua ini!"


"ENYAHLAH!" teriak Bill dengan tatapan membunuh, tanpa segan-segan membiarkan auranya lepas.


". . . Baiklah. Tapi kukatakan padamu, jangan pernah menyesalinya." kata Bill muda, sebelum berjalan menjauh.


Dan saat Bill menengok kembali, tidak ada siapapun dalam pandangannya.


Tertegun, ia pun berguman pada dirinya sendiri. "Menyesalinya. . , kah?"


. . .


Seminggu berlalu sejak Alice mulai berlatih ditempat itu.


Bill kini memandang sepasang Wanderer itu dengan perasaan rumit. Karena keduanya seolah menjadi pemburu ganas hanya dalam semalam; mereka tumbuh terlalu cepat dan melampaui harapannya dengan membantai lusinan Forest Wolf.


Lebih dari itu, Bill tidak pernah membayangkan jika keduanya memperlihatkan bagian monster hutan Basmael.


Bahkan untuk berhasil kembali hidup-hidup dari monster itu sudah termasuk sebuah prestasi menurut Bill, tapi membawa kembali cakarnya. . ! Cakar Alpha!


Dan saat pikirannya kembali tersadar, sebuah seringai kembali terbentuk diwajahnya.


'Nar Forestwalker, ramalanmu telah terpenuhi!' kata Bill dalam hati.


Hari itu, cincin yang telah disimpan selama delapan generasi akhirnya terbangun.

__ADS_1


__ADS_2