VRMMO | Terris Story : Someone "Them"

VRMMO | Terris Story : Someone "Them"
04:A.Starting Village, Combat Training Field


__ADS_3

Linnea.


. . . Bukan, dirinya saat ini adalah Elcia.


Diliputi rasa tidak nyaman karena keberadaan Skill Irregular miliknya, Elcia beranjak dari duduk dan memutuskan untuk berkeliling bersama Alice. Lagipula, keduanya merasa ini adalah kesempatan untuk merasakan dunia fantasi sepuas hati; sekaligus membiasakan diri dengan dunia yang baru mereka masuki.


Dan sepanjang langkah kedua gadis itu, serta sejauh mata mereka memandang, nuansa kental akan 'dunia yang tak seharusnya' bisa dirasakan dengan jelas dari desa itu.


Karenanya, dimanapun Elcia melihat, ia dengan senang hati ber-oh ria dengan tatapan mata penuh rasa penasaran. Dan karena dirinya sudah terbiasa di dunia nyata, gadis itu tidak terlihat memperhatikan mata orang-orang yang sedang tertuju padanya; sementara Alice menopang dahinya sepanjang jalan dengan raut wajah datar karena malu.


Di tempat itu sendiri, rumah-rumah yang mereka lihat uniknya menyatu dengan tanah, dan bisa dikatakan lubang buatan yang mengisi bukit-bukit kecil. Sementara orang-orang terlihat seperti anak-anak karena tingginya; kecuali jika melihat dari wajah-wajahnya. 


Desa Nave, letak mereka saat ini berada adalah salah satu wilayah netral yang tidak terikat oleh suatu kekuasaan.


Terlindung dari dunia luar berkat Pegunungan Basmael, tempat ini adalah rumah bagi para Halfling selama puluhan generasi menurut sejarah Terris. Meski begitu, populasi tempat ini sendiri tidak begitu banyak, yang bisa dilihat dari rumah-rumah khas bangsa Halfling yang saling berjauhan dan jauh dari kata padat.


"Um. . ." Elcia tiba-tiba menyipitkan matanya, sebab selama berkeliling ia akhirnya menyadari satu hal.


Para pemain tidak begitu berbeda dengan para NPC; yang juga disebut orang Terrian. karena jika bukan karena Common Traveler Set, serta sebuah tanda hijau yang muncul saat Linnea menatap lekat seorang pemain, membedakan keduanya sebenarnya sudah sangat sulit.


"Mereka, juga punya kehidupan sendiri ya?" kata Alice sambil ikut memperhatikan sekelilingnya. Keduanya kembali menemukan kenyataan dimana bahkan orang Terrian membeli sesuatu untuk diri mereka sendiri.


"Ini, dunia mereka. . ."


Bahkan jika kenyataannya tempat ini hanyalah sebuah data, Elcia berpikir sesuatu seperti ini adalah dunia yang sepenuhnya hidup.


'Tapi. . , apa ras Halfling kurang dilirik?' pikir Elcia, bertanya-tanya heran.


Nyatanya, jumlah pemain yang dijumpai olehnya di desa Nave tidak lebih banyak daripada orang Terrian yang ada di tempat ini.


Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Elcia; dimana titik awal yang digunakan pemain untuk memulai permainan selalu acak. Tujuan dari itu adalah untuk mencegah konsentrasi kepadatan pemain yang terpusat pada tempat-tempat tertentu.


Dengan begitu, sekalipun seorang pemain memilih ras Halfling, ia belum tentu akan memulai di desa Nave seperti mereka berdua. Dan karenanya, pemain yang Elcia lihat sangatlah sedikit —tanpa melupakan jika pemain selain ras Halfling tidak akan bisa memulai di desa ini, yang juga masih termasuk hari pertama game dirilis.


Kembali pada Elcia yang tidak mengetahui semua itu; ia akhirnya menghela napas karena merasa ras yang dipilihnya tidak begitu populer.


Merasa sedikit menyesali pilihan rasnya, Elcia berusaha melupakan itu dengan mengalihkan pandangannya ke sekeliling.


Namun detik selanjutnya, Elcia langsung mendapati pandangannya terpaku pada sebuah tempat didepannya. ". . . Tempat, ini?"


Sebuah lapangan luas berpagar, yang dipenuhi boneka-boneka jerami serta target bidikan panah; dengan sebuah papan yang tergantung pada sisi pinggir jalannya.


「Combat Training Field」


Tertarik dengan hal yang mereka lihat, Alice dan Elcia segera pergi mendekati tempat itu.


—Suara tarikan tali busur bersama lesatan anak panah. . , ayunan pedang yang memotong udara. . , ataupun suara boneka jerami yang tertusuk tombak segera tertangkap oleh telinga keduanya.


Mengamati lebih dekat, Elcia langsung dibuat kagum oleh kemampuan orang-orang yang sedang berlatih di Combat Training Field. Yang sebenarnya tidak mengherankan, karena memang sebagian besarnya diisi oleh orang Terrian yang sudah memiliki Skill dan pengalaman.


Melihat semua itu, keduanya menjadi tertarik untuk mencoba sesuatu disana.


Namun masalahnya, baik Alice maupun Elcia tidak memiliki satupun senjata dalam posesinya saat ini.


Traveler Bag yang menjadi perlengkapan awal pun isinya tidak bisa diharapkan, dengan hanya beberapa koin mata uang yang nilai keseluruhannya 1000 Rea. Dimana bahkan mereka tidak tahu seberapa banyak semua itu.


Mengetahui keadaan mereka saat ini, keduanya berakhir menghela napas bersamaan.


"Harusnya, sebelum ini kita pergi mencari senjata dulu ya. . ?" kata Alice sambil memijit dahinya, merasa bodoh.

__ADS_1


"Uum, setuju. . ."


". . . Mau gimana lagi, aku lupa kalau kita masih pemula."


"Um. . , ada toko Blacksmith, sebelumnya."


Beruntung atau tidak, Elcia mengingat jika ia telah melihat sekilas satu tempat penempaan di desa ini, dan bisa dipastikan jika tempat itu memiliki beberapa senjata yang mereka butuhkan.


"Kalau begitu, ayo."


Dan dengan begitu, keduanya memutuskan untuk pergi menuju tempat penempaan sebelumnya.


Namun belum sempat berbalik meninggalkan tempat itu, seseorang memanggil mereka. "Ooi. . ! Kembar perak disana. . !"


Mencari sumber suara itu, keduanya segera menemukan seorang Halfling tua dengan jenggot panjang menggantung sampai perutnya. Yang mana penampilannya itu sempat membuat keduanya mengira jika orang itu adalah seseorang dari bangsa kurcaci —Dwarf.


"Ya! kalian, kemarilah!" panggilnya lagi.


Namun mengetahui jika merekalah yang dipanggil, Elcia langsung mengambil langkah dan berlindung dibelakang punggung Alice.


"Um. . , Alice. . ?"


Alice yang mendapati dirinya digunakan oleh Elcia sebagai perisai pun mengaruk kepalanya bersama dengan sebuah helaan. "Hah. . . Ayo mendekat, lagipula kita dipanggil." kata Alice kemudian, sambil menggandeng tangan Elcia.


Mendekati orang yang memanggil mereka, Alice pun langsung bertanya tanpa perlu basa-basi. "Ada apa?"


Sementara itu, Elcia secara diam-diam  meletakan padangannya pada sosok Halfling didepan mereka. Dan setelah beberapa saat, sebuah simbol Diamond ( ♦ ) berwarna putih pun muncul, menandakan jika ia adalah orang Terrian. Mengetahui hal itu, Elcia akhirnya berubah menjadi tenang tanpa ia sadari sendiri, dan berhenti berlindung dibelakang punggung Alice.


Disisi lain, mendapati sifat Alice yang sedikit dingin, tidak sedikitpun rasa kesal terlihat di wajah Halfling tua itu. Malah, sebuah tawa lah yang lepas darinya. "Hahahaha. . ! Tenanglah nak, setidaknya beri aku waktu memperkenalkan diri."


"Bill Trainer, dengan Bill yang adalah panggilanku. Pelatih sekaligus pengawas tempat latihan ini."  katanya, memperkenalkan diri. "Nah begitu saja. Kembar perak, sekarang giliran kalian."


"Alice."


"Begitu singkat? Ya sudahlah kalau kalian tidak mau banyak bicara." tanggapnya dengan seringai kecil.


"Tapi 'ku mendengar kalian sangat ingin mencoba kemampuan, jadi marilah, kalian kupersilahkan." dan pernyataan itu tentu mengejutkan Alice maupun Elcia.


"Bagaimana. . ?" tanya Alice, dengan mulut yang menjadi terbuka.


Bill pun melebarkan seringainya. "Sosok ini mungkin tua, gadis perak. Tapi 'ku masih cukup mampu untuk mendengar apa yang kalian bicarakan."


Ia kemudian menatap keduanya bergantian. Dan saat matanya tidak menemukan satupun senjata pada keduanya, Bill lanjut berkata.


"Baiklah. . .  untuk senjata, kalian bisa meminjam dari gudang itu." katanya dengan cepat sembari menunjuk bangunan di pojok tempat itu.


"Oh?" Alice menaikkan alisnya.


Melihat kesempatan yang diberikan kepada mereka, Elcia langsung berterima kasih kepada orang Terrian itu. ". . . Terima kasih."


"Ho. . , sungguh sopan."


Dan tanpa mereka perkiraan, sebuah panel muncul secara tiba-tiba dihadapan Elcia.


[Challenge Quest : Bill's Expectation dipicu!]


...[Quest]...


「Bill's Expectation」

__ADS_1


    Rank | A


    Bill Trainer, seorang pelatih dan pengawas Combat Training Field dari desa Nave tertarik padamu. Buktikanlah dirimu layak mendapat perhatiannya!


[—    Clear  Condition    —]


Mendapat penilaian sebagai orang berkemampuan dari Bill Trainer.


[—     Clear  Reward       —]


Experience, Common Grade Weapon, Random Basic Mastery Skills


[—   Failure Condition   —]


Gagal memenuhi ekspektasi Bill Trainer.


[— Failure Punishment —]


None -


Quest tidak dapat ditolak.


...————...


Sebuah Quest yang telah terpicu begitu saja membuat Elcia agak melebarkan mata. Karena sepengalamannya, Quest biasanya diminta dan bukan dipicu dengan sendirinya —tanpa menyadari jika dirinya sendiri sudah terlalu lama tidak mengikuti perkembangan game.


'Super AI, kah? Tapi, A-Rank Quest. . .'


Elcia akhirnya harus memasang wajah datar, meskipun memang faktanya wajah gadis itu selalu datar. Tapi bukan karena keberadaan Super AI, melainkan Rank yang ditampilkan oleh Quest itu.


Kebenarannya, parameter kesulitan Quest di Terris tidak pernah baku karena diukur melalui kekuatan individu pemain. Dengan jelas artinya sistem menilai jika Quest ini termasuk cukup sulit untuk Elcia yang termasuk seorang pemula dengan Level-nya yang masih berada di Level 0.


Namun, Reward yang tertulis disana bisa dikatakan sangat membantu pemain. Lupakan soal Common-Grade Weapon, satu yang terendah dari tingkatan Equipment Terris.


Basic Mastery Skills, yang berarti Skill penguasaan dasar seperti; Sword Mastery, Magic Mastery atau apapun itu agaknya membuat Elcia merasa beruntung. Karena, Skill-Skill dasar seperti itu merupakan titik awal yang penting bagi setiap pemain yang akan berguna dari sampai kapanpun.


Namun memikirkannya, Elcia mulai merasa bingung harus melakukan apa sebab keberuntungannya datang bersamaan dengan kesulitan —yang merupakan Quest itu sendiri.


. . . Sementara ia tanpa sadar sudah ditarik Alice menuju gudang persenjataan.


"—Elcia. . , oi. . !" Alice pun harus berteriak didekat telinganya, dan membangunkan gadis itu keluar dari pikirannya.


"Ah. . ? A— . . !" tersentak, Elcia akhirnya tersadar.


Namun saat selanjutnya, napas gadis itu terhenti ketika melihat seisi ruangan tempatnya berada sekarang.


Saat itu, sesuatu yang merupakan bagian dirinya sebagai 'Eccentric' telah dibangkitkan kembali; Weapon Maniac, penggila senjata zaman lama.


"Itu, itu. . ! Gladius. . ! Sabre. . ! Zweihander. . ! Eppe. . ! Tomahawk. . !"


Melihatnya, Alice dibuat menepuk dahi; ia lupa bagaimana reaksi gadis itu saat berada didekat benda-benda semacam itu.


Sebab senjata-senjata dihadapan mereka tidak lagi digunakan di dunia nyata dan telah menjadi cukup langka, Elcia yang merupakan seorang Weapon Maniac berubah menjadi penuh semangat saat melihat deretan yang ada didepan matanya.


"Um. . , ini. . ."


"Hmn. . ?"


"—Espada Ropera! Type Hilt Bilbo, Double-Edge, 45inci. Ini, Masterpiece. . !"

__ADS_1


". . ."


Intinya. . , itu adalah sebuah Rapier.


__ADS_2