VRMMO | Terris Story : Someone "Them"

VRMMO | Terris Story : Someone "Them"
02:B.Beginning, Starting


__ADS_3

Waktu itu relatif dan itulah faktanya, karena Linnea telah mengalaminya sendiri.


Seolah baru sehari sebelumnya dirinya dimarahi, kenyataannya seminggu telah berlalu. Kalau bukan karena melihat tanggal di komputernya, gadis itu sudah pasti lupa hari.


Tepat pada saat Linnea mengungkap kondisi kamarnya yang mengerikan, Lia memberinya senyum sederhana; dengan tambahan latar belakang aura kematian yang mencekam.


Gadis itu mau tidak mau mendapat bombardir omelan tanpa henti. Termasuk dari para pembantu yang harus membereskan kamarnya, yang memberi sebuah ceramah panjang sepanjang masa tanpa mempedulikan mata gadis itu yang sudah terlihat tak bernyawa.


Belum cukup, adiknya sendiri turut andil dalam memarahinya habis-habisan dimana saat itulah figur dan harga dirinya sebagai kakak hancur, hilang menjadi atom.


Lalu pada akhirnya, tidak ada lagi kamar yang terkunci rapat bersama rahasianya. Dan untuk mencegah hal itu terulang dikemudian hari, kunci duplikat kamar gadis itu dibuat demi mengawasinya. Yang kemudian dipegang beberapa orang termasuk Lia, Haris dan adiknya sendiri yang bersikeras untuk mengawasi sang kakak.


. . .


"Kakaaak. . ." sebuah rengekan manis terdengar di perpustakaan keluarga Amaryllis.


Linnea pun dengan enggan memberi tanggapan mendengar rengekan adiknya itu. "Hmn, ada apa?"


"Kak, maafin Luna. . , Luna sebelumnya kelewatan. T-tapi, kakak sendiri kok kamarnya bisa. . . bisa. . ."


Bingung mencari kata yang tepat untuk menggambarkan kamar kakaknya yang terlalu luar biasa, Luna akhirnya terdiam dan mulai berpikir keras.


Disisi lain, Linnea hanya memberi sebuah helaan pendek saat mendengarnya. Ia sendiri tidak lagi memikirkan hal itu, karena ia memang mengakui jika dirinya pantas untuk dimarahi.


. . . Tapi!


Soal sikapnya yang terlihat mengabaikan adiknya sendiri adalah masalah yang berbeda. Sebab, selama Luna berada didekatnya ketenangan yang diinginkan gadis itu tidak akan pernah datang.


Terutama saat ini, dimana dirinya ingin menghabiskan waktu beberapa hari yang santai dengan membaca buku.


Sayang, caranya mengabaikan Luna berakhir menjadi senjata makan tuan yang menyebabkan Luna salah paham soal sikap sang kakak. Dan berubah menjadi permintaan maaf yang datang secara berlebihan.


Linnea yang merasa cukup dengan itu pun menyerah, dan beralih menatap Luna yang sedang tertunduk lesu disebelahnya; perlahan membelai kepala adiknya itu dengan lembut.


"Lupakan. . ."


"Kakak. . . enggak benci Luna?" tanyanya dengan wajah memelas serta mata yang berkaca-kaca.


sebagai kakak, Linnea langsung merasa seperti hatinya sedang ditusuk jarum tanpa ampun. Dan karena itu, ia dibuat mengerang pelan. ". . . Ukh—"


Tersenyum kaku, Linnea kemudian menjawab.


". . . Nein."


Bagaimana bisa dirinya membenci adiknya yang begitu perhatian? Kalau hal itu sampai terjadi, jelas ada yang salah dengan dirinya sendiri.


. . .


Ditempat itu, kakak adik yang sedang duduk berdampingan terlihat kontras.


Memiliki wajah yang sangat mirip, dengan sekali lihat orang-orang bisa menyimpulkan jika keduanya memiliki hubungan darah. Dan tidak jarang juga ada yang salah mengira kalau keduanya adalah kembar.


Namun, sekalipun dengan wajah yang mirip, ada beberapa pengecualian. Salah satunya adalah warna rambut yang mereka miliki. Larena kenyataannya, Luna memiliki rambut hitam gelap yang mengkilap bak langit malam. Bertolak belakang dengan Linnea yang memiliki rambut putih perak seperti bintang.


Sebab itu, keduanya sering dijuluki sebagai putri langit malam.


Linnea sendiri sudah sering mendengar tentang itu, baik adiknya maupun dirinya sendiri. Namun kadang, ia justru dibuat kesal karena sesuatu yang menyangkut harga dirinya sebagai seorang kakak.


Melihat dirinya sendiri yang terlambat tumbuh, Linnea harus kalah dari adiknya sendiri meski keduanya memiliki jarak umur dua tahun. Disanalah posisinya sebagai kakak sering terbalik dengan Luna, jika dilihat dari sudut pandang orang lain.


Dengan alasan itu, Linnea pun berakhir membenci sebuah lagu yang memiliki lirik 'bintang kecil' didalamnya; merasa jika lagu itu memang bertujuan untuk mengejek dirinya.


Dipenuhi perasaan yang memburuk karena memikirkan hal itu, tangan gadis itu tanpa sadar mencengkram kepala adiknya dengan kuat.


"—Kakaak. . ! sakit!" teriak Luna, yang langsung berusaha untuk membebaskan kepalanya dari cengkraman maut sang kakak.


"Eh. . ? Maaf. . ."


"Kakak. . ." Luna pun memandang kakaknya dengan yang mata berair karena kesakitan. "kakak benci Luna. . ! Hueeeee!"


Dan Linnea langsung mendapati alisnya berkedut melihat kelakuan adiknya itu. Namun sebagai kakak, ia tentu memiliki caranya sendiri untuk mengatasinya.


. . . Ultimate Move—


"—Karate chop."


"Eei!" Luna pun langsung memutup mata dan melindungi kepalanya tanpa sadar, sebab bukan satu atau dua kali ia menerima tebasan tangan menyakitkan dari kakaknya itu.


Namun, kali ini Linnea tidak mengirimkan tebasan tangan seperti yang diantisipasi oleh Luna, tapi kembali membelai rambut hitam itu dengan lembut.


". . .Jangan cengeng."


"Eh. . . hehehe~"


Hari itu, Linnea akhirnya menghabiskan waktu dengan membaca buku bersama adiknya yang tertidur manis dalam pangkuan.


. . .Kesukaan Linnea terhadap buku cetak dan kertas sebenarnya sudah menjadi hal jarang di masa sekarang.


Terutama karena pembatasan penggunaan kertas, dan juga percetakan fisik yang tidak lagi dianggap menguntungkan.


Perpustakaan tempat mereka sekarang pun sudah bisa dianggap sebagai museum yang berisi buku-buku berumur beberapa dekade keatas —yang menjadi barang eksklusif bernilai tinggi karena keaslian dan tanggal cetaknya.


Dan dari buku-buku itu, mitologi menjadi hal yang paling sering menarik gadis itu setelah buku berisi sejarah dunia. Melupakan jika sebagian dari cerita-cerita itu sendiri seolah ditulis oleh orang yang habis meminum minuman Premium, dan mungkin juga Bio Solar.


Salah satunya adalah cerita tentang bagaimana makhluk Hemaprodit bisa tercipta.

__ADS_1


—Tidak. Lupakan. Karena lebih baik cerita itu dikubur selama-lamanya.


. . .


Tanpa sadar, langit sudah berubah merah, dan matahari mulai tertelan diujung cakrawala. Menyudahi kegiatan hari itu, Linnea membangunkan adiknya dan berpisah didepan perpustakaan; karena kamar mereka berada di ujung dan ujung yang sangat saling berjauhan.


Masuk ke kamarnya sendiri, Linnea merebahkan tubuhnya sambil melirik jam pada layar komputer yang masih menyala.


"Sebentar lagi. . , ya?" gumam Linnea.


'. . . Pukul berapa sekarang?' tanya sebuah suara yang muncul secara tiba-tiba dikepalanya.


"Ah, malam Alice." sambut Linnea saat mendapati Alice akhirnya bangun, lalu beralih menjawab pertanyaannya. "Um, sekarang 18:43. . ."


'Oh, memang tinggal sebentar lagi. Yah, aku penasaran apa alat itu juga menganggapku nyata?' celetuk Alice, dengan rasa penasaran yang tertuju pada sebuah kapsul Virtual Reality di sudut ruang kamar —yang telah berada disana sejak seminggu lalu.


Namun kalimat yang Alice katakan tanpa sadar membuat Linnea gemetar. "Ali-ce. . ."


Alice, yang akhirnya sadar jika ia salah bicara pun berubah panik. 'Bercanda, aku bercanda. . ! Jangan cengeng ya!'


"Bukan cengeng. . !" sangkal Linnea dengan ekspresi cemberut.


'Tapi air matamu keluar, loh. . ."


Linnea pun langsung mengusap matanya cepat-cepat dengan malu. "Muu. . ."


Rapuh. Linnea mirip seperti sebuah bola kaca yang bisa hancur berkeping-keping kapanpun saat Alice tidak ada disisinya.


Sekalipun Alice sudah memberitahunya jika ia ingin tidur, Linnea selalu merasa takut dan khawatir kalau suatu saat Alice tiba-tiba menghilang selamanya. Karena itu, kalimat yang Alice katakan sebelumnya pun cukip untuk membuat Linnea benar-benar merasa takut sesaat.


—Disisi lain, Alice memiliki kebiasaan untuk tidur dengan sebuah alasan; dengan Alice yang memasuki kondisi tertidur, Linnea mampu melewati hari tanpa harus bergantung pada kafein tablet miliknya.


. . . Yang mungkin bisa dibilang mirip mode Power Saving?


Namun Alice sendiri jarang melakukan hal itu mengingat betapa takutnya Linnea ditinggal sendirian.


'Sudah-sudah. . . Selagi sempat ayo cari panduan game itu. . . Erm, tunggu, apa namanya?'


"Terris : Limitless, Alice."


Bangun dari tempat tidurnya, Linnea beralih duduk  dihadapan komputernya dan mulai mencari apa yang dibutuhkannya di internet. Tanpa kesulitan, search engine yang digunakannya langsung memunculkan banyak hal yang terkait dengan permainan itu.


'Oh, itu lebih terkenal dari yang kukira.' celetuk Alice.


Dan dari sekian banyaknya informasi yang dimunculkan, Linnea memilih laman resmi Terris : Limitless tanpa pikir panjang.


000:00:13:19


Sebuah hitungan mundur muncul menyambutnya, yang tidak lain adalah hitungan mundur untuk pembukaan server game itu; dimana saat ini telah ditunggu-tunggu oleh banyak orang di seluruh penjuru dunia.


Sekai Shard, yang merupakan Developer utama dari Terris : Limitless gencar-gencarnya melakukan promosi untuk game yang mereka buat ini di berbagai platform baik Online maupun Offline.


Tidak hanya itu.


Dalam beberapa acara Livestream di Y-Tube dan Stasiun TV terkemuka, Sekai Shard sering mengundang para Gamers yang cukup beruntung untuk menjadi bagian dari Beta Tester Terris. Dan dalam acara itu, para Beta Tester selalu mengatakan tentang betapa realistisnya Terris, dan unsur-unsur yang cukup menyegarkan bagi para penikmat game Fantasy-Adventure RPG.


—Meski juga ada banyak orang yang memberikan komentar negatif dan skeptis, tapi itu berasal dari mereka yang tidak atau belum merasakannya secara langsung.


Tapi terlepas dari seberapa tinggi Hype yang sedang terjadi, Linnea sendiri tidak terlalu mengetahui hal itu mengingat dirinya yang tertutup, atau memang menutup diri terhadap dunia luar.


"VRMMO. . , ya? Dan, sistem Classless?" gumam Linnea dengan alis yang sedikit terangkat.


Semakin membaca penjelasan yang ada di layar komputernya, ia dengan perlahan menunjukan ketertarikan terhadap game itu.


Memang, konsep sistem Classless atau tanpa kelas dalam sebuah game RPG bukan lagi hal baru. Namun, bagi Linnea yang sudah lama tidak menyentuh sesuatu seperti itu, sebuah antisipasi dan perasaan nostalgia muncul didalam hatinya.


Meski dulu ia hanya memainkan game-game biasa melalui komputernya, yang bahkan bisa dibilang agak ketinggalan, Linnea selalu menikmatinya bersama Alice.


"Limitless, ya?" Linnea pun akhirnya mengerti asal dari penamaan game itu.


Dengan kebebasan yang sepenuhnya milik pemain, rasanya bukan berlebihan untuk menyematkan kata 'Limitless', atau tanpa batas. Sebab, dijelaskan jika setiap pemain bebas untuk melakukan apapun yang mereka inginkan selama bermain. Tapi tentunya dengan sebuah hukum sebab dan akibat, dimana mereka harus berani menanggung akibat dari apa yang telah dilakukan.


Terris : Limitless merupakan sebuah dunia yang dipenuhi unsur fantasi seperti sihir, ras fiksi dan monster —termasuk makhluk mitologi, yang membuat Linnea menunjukan mata bersinar-sinar saat mengetahuinya.


Sementara, latar utama game itu sendiri bertempat pada masa-masa kerajaan dengan teknologi pertengahan, namun tentunya dengan campur tangan sihir yang cukup menarik.


Berlanjut ke poin selanjutnya, sebagai sebuah game dengan unsur RPG, Terris memiliki sistem parameter layaknya kebanyakan game serupa; yang secara umum merupakan,


Health (HP, Hit Point), bagian dari unsur vital yang merujuk pada total kesehatan pemain dan seberapa banyak kerusakan (Damage) yang bisa diterima sebelum mencapai kematian (Death, Game Over, dsb).


Mana (MP, Magic Point), sebuah unsur unik yang digunakan dalam fantasi untuk mengaktifkan kemampuan khusus demi menimbulkan efek tertentu.


Dan Stamina (AP, Action Point, Energy, dsb), yang sering merujuk pada seberapa banyak aksi yang bisa dilakukan seorang pemain sebelum mencapai titik kelelahan.


Namun tidak hanya dibatasi oleh ketiga hal itu, Terris menambahkan dua hal yang kadang tidak ditambahkan oleh game lain.


". . . Hunger, dan Thirst?" Linnea terpaku memikirkan kedua status itu. ". . . RPG Survival?"


'Oh, itu semakin menarik!' kata Alice dengan nada antusias.


Sesuai dengan yang tertulis disana, unsur Survival atau bertahan hidup akhirnya dipertegas dengan adanya status lapar (Hunger) dan Haus (Thirst), yang membuat game ini semakin menarik bagi keduanya.


Melanjutkan, Linnea akhirnya sampai pada parameter dasar dari karakter pemain yang terdiri dari enam hal utama.


Strength, yang dengan jelas merepresentasikan kekuatan fisik dan otot.

__ADS_1


Agility, menunjukkan kelincahan dalam kecepatan gerak dan aksi tubuh.


Dexterity, ketangkasan yang menyangkut keterampilan dan penguasaan dalam segala bidang.


Intelligence, kepandaian yang sangat berperan dalam peningkatan serangan sihir serta kapasitas Mana.


Vitality, atau vitalitas meliputi Health, Stamina dan ketahanan karakter.


Dan terakhir Endurance, yang terlibat dalam resistensi tubuh dan Stamina.


Namun Terris memiliki sebuah keunikan yang membedakannya dari kebanyakan game, dimana keseluruhan dari enam statistik utama yang tertulis telah diatur dalam koreksi pertumbuhan per level yang disebut Potentia.


Dimana Potentia itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk ras yang dipilih pemain saat fase pembuatan karakter.


Sebagai contoh; jika seorang pemain memilih ras manusia, maka karakter pemain tersebut telah didesain untuk mendapatkan kenaikan numerik 1.0 poin pada setiap dari enam parameter utama (Strength, Agility, Dexterity, Intelligence, Vitality, Endurance) per kenaikan levelnya*.


Meski begitu, ada sistem alokasi nilai statistik yang disebut Potentia Point; dimana setiap satu Potentia Point akan menambah koreksi pertumbuhan statistik sebanyak 0.1 per level, sementara setiap pemain akan dibekali 10 Potentia Point di awal permainan. Dimana hal ini membuat variasi pertumbuhan karakter setiap pemain akan menjadi sangat luas dan unik.


Namun pertumbuhan statistik sendiri tidak terpaku hanya pada Potentia dan koreksi ras. Karena tindakan yang dilakukan oleh pemain pun bisa mempengaruhi nilai statistik secara nyata.


. . .


Selesai membaca panduan dasar yang ada, Linnea bersandar pada kursi dan meregangkan punggungnya yang sedikit pegal.


'Potentia Point itu cukup menarik, kan? Dimana kamu mau menambahkannya?' tanya Alice.


"Semuanya, ke Intelligence, atau Strength, mungkin?" jawab Linnea tanpa pikir panjang.


'Glass Cannon, lagi?' kata Alice datar, seolah telah menduganya.


"Memang."


. . . Glass Cannon atau meriam kaca, adalah istilah yang ditujukan kepada tipe Damage Dealer yang dengan mudah memberi nilai kerusakan masif pada musuh, namun sebaliknya mudah hancur jika menerima kerusakan; sesuai namanya, meriam kaca. Dan Linnea sangat sering memakai tipe ini didalam game manapun jika itu memungkinkan.


". . . Sudah dimulai." kata Linnea begitu dirinya melihat hitungan pembukaan server telah mencapai angka nol.


'Nah, ayo masuk.'


Beranjak, Linnea mendekati kapsul dengan warna putih yang diletakan sejak seminggu lalu.


Tapi, berbagai pemikiran negatif segera merasuki gadis itu, yang mau tidak mau membuatnya sempat ragu.


'Apa ini. . . akan, baik-baik saja. . ?' pikirnya dalam hati.


Namun dengan Alice yang memberikan dorongan, Linnea akhirnya masuk kedalam kapsul. Dan setelah mendapati jika semuanya sudah siap, Linnea akhirnya mengumamkan sebuah kalimat.


". . . Dive Start, Terris : Limitless"


Dan menanggapi kata-kata gadis itu, kesadarannya seketika ditarik dari tubuhnya, hingga mendapati jika pandangannya sudah dihadapkan pada sebuah ruangan serba putih.


[Code : Irregular terdeteksi]


[Melakukan inisiasi otoritas khusus Dual Dive]


[Selamat Datang, Amaryllis Illian Linnea]


[Selamat Datang, Amaryllis Illian Alice]


". . . ?"


———


Tentang Potentia


Setiap ras di Terris memiliki set pertumbuhan parameter yang berbeda satu sama lain, tapi memiliki total Potentia dasar yang sama yaitu 6.0. Lebih jelasnya;


Human Potentia


Strength : 1.0


Agility : 1.0


Dexterity : 1.0


Intelligence : 1.0


Vitality : 1.0


Endurance : 1.0


Total : 6.0


Troll Potentia


Strength : 1.6


Agility : 0.6


Dexterity : 0.5


Intelligence : 0.5


Vitality : 1.5


Endurance : 1.3

__ADS_1


Total : 6.0


__ADS_2