
Seorang psikolog menatap beberapa lembar hasil check-up ditangannya. Ia mengerutkan kening dan terlihat bingung.
'Apa-apaan dengan hasil scan ini?' pikirnya.
Dirinya adalah Lia Devina, psikolog yang dikirim langsung untuk memeriksa seorang gadis yang mengidap Slaveminds.
"Slaveminds. . ? Apa. . ?"
Begitulah reaksinya saat pertama kali mendengarnya. Bagaimanapun, itu adalah reaksi yang wajar sebab informasi tentang penyakit itu masih dirahasiakan. Atau, memang sengaja untuk tidak diungkap?
Awalnya dia menganggap salinan check-up yang ditunjukkan padanya itu adalah rekayasa. Tapi. . .
"Bagaimana jika anda melihatnya sendiri, Dokter Lia?" kata seorang pria tua yang sedang duduk di kursinya dengan wajah serius.
Kembali melihat hasil check-up yang masih baru ditangannya, Lia semakin bingung.
'Pak tua, apa ini sebenarnya?'
Bahkan dirinya dibuat terkejut beberapa kali, mulai sejak dirinya dikirim ke kediaman Amaryllis tanpa diberi penjelasan lebih lanjut. Dan kini, putri keluarga Amaryllis tengah duduk diam diperiksa beberapa tenaga medis tanpa menunjukkan ekspresi berarti.
Sebagai seorang psikolog, Lia dilatih untuk membaca orang lain. Mempelajari mental pasien dan menemukan akar masalah yang mereka hadapi lalu memberi solusi. Bukan hal baru lagi jika dirinya menghadapi orang-orang yang 'kurang sehat' secara mental.
Dan salah satu cara untuk melihat kondisi mental pasiennya adalah dengan melakukan pemindaian otak.
Tapi siapa sangka, dari sekian banyak hasil pemindaian yang pernah dia lihat, hasil dari pemindaian kali ini memberinya sebuah kejutan baru. Terutama dilihat dari segi gelombang otak milik gadis itu.
Dua tipe gelombang terlihat tumpang tindih antara tipe gelombang Gamma dan Delta. Seharusnya, secara nalar hanya ada satu gelombang disaat yang sama. Terlebih dua gelombang itu sangat tidak seharusnya bercampur aduk.
Gelombang Gamma hanya dikeluarkan otak manusia saat dalam keadaan berpikir aktif. Sedangan Delta sebaliknya, dikeluarkan saat sedang tidur. Jelas keduanya sangat bertolak belakang.
Melihat gadis itu dari sudut matanya, Lia pun segera menyadari sesuatu.
Ini bukan sekedar masalah mental biasa. Dan jelas bukan sesederhana yang sempat dia pikirkan dan bukan sebuah rekayasa seperti dugaannya. Karena itu, Lia membulatkan pilihannya kali ini.
"Noa." katanya lirih.
"Ada apa dokter Lia?" sebuah suara datar keluar dari headphone yang terpasang pada kepalanya.
"Ubah jadwalku sampai waktu yang belum bisa kutentukan. Tandai semuanya sebagai hari sibuk."
"Dimengerti."
__ADS_1
...———...
Enam tahun setelah hari itu.
Lia duduk di ruang kerja pribadi miliknya dengan tumpukan-tumpukan kertas yang ada disana-sini.
Sejak hari itu, dirinya masih mempelajari hal-hal tentang putri keluarga Amaryllis, Amaryllis Illian Linnea. Dan selama itulah, otaknya seolah mengalami peristiwa sejarah yang disebut Romusha.
Tapi semua usahanya bukan tanpa hasil.
Berkat pilihannya saat itu, dirinya kini sudah mendapat banyak penghargaan di bidang medis maupun teknologi. Terutama hal-hal yang menyangkut otak manusia —meski sebenarnya itu bukanlah tujuan utamanya.
Sebut saja salah satu terobosan yang ditemukannya, Mind Accelerator Device —disingkat Macovic, alat yang meningkatkan kinerja otak secara efektif.
Bukan cuma membuat orang memiliki kinerja otak yang lebih baik. Alat ini mampu untuk meningkatkan IQ seseorang, mencegah penurunan daya ingat sampai menyembuhkan gegar otak. Dan sejak penemuannya yang luar biasa itu, kualitas sumber daya manusia akhirnya meningkat tajam yang berefek pada pertumbuhan segala sektor di berbagai negara persatuan.
Tidak hanya itu. Berkat hukum hak paten yang ada, Lia berhasil menumpuk kekayaan atas semua penemuannya. Dan sekarang, baik nama, kekayaan maupun reputasi telah ada dalam sakunya. Ia bisa menikmati hidup dengan santai tanpa perlu repot-repot melakukan apapun.
Namun, meski dirinya menjadi seorang yang bisa disandingkan dengan tokoh-tokoh seperti Marie Curie atau Freud, Lia tidak melupakan tugas yang sejak awal diberikan padanya.
Mencegah kemungkinan disorientasi identitas yang dimiliki Amaryllis Illian Linnea.
Kebenarannya, Lia merasa dirinya memiliki hutang yang tak terhitung dengan gadis itu meski orang yang dimaksud tidak pernah tahu, atau mungkin tidak peduli.
Lia mengambil smartphone dari saku bajunya. Begitu menyalakannya, sebuah foto yang menjadi wallpaper homescreen terlihat jelas, mereka bertiga. Membuatnya mengingat waktu yang telah lama berlalu.
Masih segar dalam ingatannya, saat dimana Lia masih belum begitu mengenal gadis itu dan mencoba berinteraksi dengannya.
Seperti kebanyakan orang yang belum saling mengenal. Ada semacam tembok yang membuatnya kesulitan mendekati gadis itu dan ia berpikir itu hal biasa. Tapi semakin mengamati gadis itu, ia akhirnya sadar jika itu bukan sekedar tembok melainkan ketakutan.
Namun Lia mencoba dengan berbagai cara tanpa menyerah. Ia memiliki rasa tanggung jawab untuk itu. Jadi, sekalipun semuanya tidak mudah, Lia tak kenal kata 'mundur'.
Dan usaha yang ia lakukan akhirnya mulai memperlihatkan hasil. Perlahan waktu berlalu, gadis itu akhirnya mau berbicara dengannya meski hanya sepatah atau dua patah kata.
Kemajuan tetaplah kemajuan, dan Lia tersenyum senang saat melihat gadis itu mulai membuka diri.
Hingga suatu saat, ia tidak sengaja menemukan gadis itu sedang duduk disebuah taman yang sunyi, sendirian, menangis. Itu mengejutkan mengingat gadis itu seharusnya selalu diawasi dan dijaga oleh orang-orang khusus dibawah perintah Nova Reiner.
Tapi selagi ia sendiri bingung bagaimana gadis itu bisa lolos, Lia memberanikan diri untuk berjalan mendekati sosoknya yang terlihat malang; serta menjadi awal bagaimana dirinya mengenal mereka.
Saat itulah ia mulai mengerti seberapa bodoh orang-orang hingga mengubah gadis dihadapannya menjadi seperti itu.
__ADS_1
. . .
"Dokter Lia, 5 menit sebelum pukul 17.00." kata Noa dengan nada datar yang selalu sama.
"Baik."
Lia akhirnya meninggalkan ruangan dengan beberapa lembar kertas dan beranjak pergi menuju kediaman Amaryllis.
'Dengan ini. . . Kuharap dengan ini mereka berdua sedikit lebih baik.' harapnya dalam hati, tersenyum dengan kertas-kertas ditangannya.
Tidak memakan waktu lama, Dirinya sudah sampai didepan gerbang dengan motor merah kesayangannya. Memang dasarnya tempat itu tidak terlalu jauh dengan kediaman Amaryllis, dimana ia sendiri yang memutuskan untuk pindah agar lebih dekat.
Dan karena dirinya sudah lama dikenal, Lia bisa keluar masuk kediaman Amaryllis dengan mudah tanpa harus diperiksa sekumpulan satpam yang notabene botak, sangar serta berotot.
Ya. . , meskipun ia sendiri hanya bisa tersenyum kaku setiap kali melewati pos satpam itu; berkat pengalaman pahit yang membuatnya hampir pingsan ketakutan.
Melewati taman yang cukup luas, Lia memarkirkan motornya disamping bangunan utama. Dan seperti biasa, Haris telah menunggunya diluar dengan seragam Butler yang terpasang rapi.
"Dokter." sambut Haris.
"Bawa aku masuk." katanya singkat.
Di perpustakaan milik Amaryllis, seseorang terlihat duduk dengan santai sambil membaca buku. Rambut perak panjang dan sepasang mata biru langit, Linnea terlihat menikmati waktunya yang tenang.
Lia yang melihat itu segera tersenyum usil dan dengan perlahan melangkah tanpa membuat suara.
Noa, yang adalah asistennya tentu tidak tinggal diam dan segera memberi peringatkan "Dokter Lia, mohon untuk tidak—"
"Ba!!—"
—Prak!
Buku setebal satu inci terbang melayang, menghajar makhluk kurang ajar itu.
———
Tentang Noa.
Noa adalah asisten pribadi dokter Lia. Artificial Intelligent (AI) yang diberikan padanya sebagai hadiah setelah menjadi lulusan terbaik dari universitas tempatnya belajar.
Bentuk Noa sendiri mirip dengan Headphone. Lia memilih bentuk itu tanpa alasan jelas. Namun mengabaikan pilihannya yang 'nyentrik', Noa memiliki kecerdasan layaknya seorang manusia bahkan lebih. Dan setelah beberapa kali modifikasi, selain peningkatan kecerdasan, banyak fitur yang ditambahkan termasuk beberapa yang menyangkut penemuan milik Lia.
__ADS_1
—Dengan kemajuan teknologi, AI sudah sering dijumpai dalam banyak hal. Hanya, yang membedakan masing-masing AI adalah tingkat kecerdasan mereka, mulai dari AI sederhana hingga Super AI.