
". . . Sial." keluh Alice, dengan wajah suram.
Elcia pun menunjukkan hal yang sama diwajahnya, kondisi saat ini sangatlah buruk.
Keduanya terdesak. Forest Wolf Alpha yang mereka hadapi adalah Beast yang tangguh. Kenyataannya, Alpha adalah salah satu Boss yang ada di hutan Basmael. Didesain oleh pihak Sekai Shard sebagai "Newbie Killer" —pembunuh para pemula. Dan sepertinya makhluk itu memang berhasil melakukan tugasnya dengan baik.
—Dash!
Forest Wolf Alpha melompat kearah Elcia.
"Kh—!" untuk kesekian kalinya, gadis itu mengangkat perisai ditangannya, memblokir serangan.
Dang!
Elcia
Health : 33/150 (-28)
Rune Shield
Durability : 62% (-1%)
Slash!
Alice langsung mengayunkan Training Long Sword dan membalas serangan yang datang. Namun, reaksi serigala itu datang lebih cepat, Alice berakhir gagal mendaratkan serangannya.
Kedua gadis itu melawan hanya untuk dibuat frustasi karenanya.
Bahkan, sebuah serangan sederhana dari serigala itu berakhir mengurangi durabilitas perisai miliknya sebanyak satu persen, kadang dua. Hingga menembus Defense yang ada dan memberikan Damage padanya. Lebih dari itu, Mana miliknya pun sudah tidak cukup untuk menggunakan Aegis. Sedangkan Mana Potion terakhir sudah diminum semenit yang lalu.
Alice melihat sudut atas pandangannya sesaat. Status Health, Mana dan Stamina terlihat dalam bentuk angka diikuti Bar panjang berwarna hijau untuk Health, biru untuk Mana dan kuning untuk Stamina.
Alice
Health : 98/220
Mana : 7/96
Stamina : 21/201
Alice sudah kehabisan Mana dan hanya bisa mengandalkan serangan biasa —Basic Attack. Dan meskipun ketiga angka-angka itu beregenerasi, kecepatannya dalam kondisi bertarung cukup lambat daripada saat keduanya beristirahat.
Kondisi Elcia pun tidak lebih baik;
Elcia
Health : 33/150
Mana : 4/228
Stamina : 57/146
Beruntung, Aegis tidak membutuhkan Stamina seperti Phantasmal : Slash untuk aktivasinya. Membiarkan gadis itu memiliki sisa Stamina —lebih banyak jika bukan karena Debuff : Terror yang diterima keduanya.
Namun, lebih dari itu keduanya masih harus menghadapi sekelompok besar Forest Wolf lain yang datang setelah lolongan Alpha.
Memang keduanya mendapat Experience yang cukup banyak, dan membuat Level mereka meningat pesat. Hanya saja, ini agak terlalu ekstrim untuk menyebutnya sebagai "Leveling".
Seekor serigala datang menerkam Elcia. Terlalu sering, hingga gadis itu mulai menghapal gerakannya. Alih-alih menangkisnya dengan perisai, Rapier ditangannya bergerak bersamaan dengan tubuhnya yang menunduk rendah —mulai menerapkan gerakan teknik Rapier yang diingat olehnya.
"Poussée*."
—Jleb!
Sebuah tusukan dari ujung Rapier datang menembus, langsung melalui tenggorokan Forest Wolf itu.
[Physical Pierce!]
[Fatal Damage!]
[Level meningkat!]
Elcia mengabaikan notifikasi itu, tidak ada waktu untuk sekedar meliriknya. Ia segera beralih membanting perisai miliknya kearah Forest Wolf lain yang datang padanya.
"Bash!"
—Daangg!
__ADS_1
Lempengan logam itu mengeluarkan suara nyaring. Elcia menggunakan Skill yang ia dapatkan beberapa waktu lalu, setelah sebelumnya berkali-kali membanting perisai miliknya seperti senjata tumpul.
[Stun!]
Alice pun kembali memainkan peran malaikat pencabut nyawa, mengakhiri seekor Forest Wolf yang terkena Stun perisai Elcia.
—Slash!
[Quest :
Forest Wolf dibunuh : 22/5]
Namun disaat yang sama Forest Wolf lain datang menerkam punggungnya tanpa ia sadari.
Buruk, Elcia yang ingin bergerak menepis serangan itu mendadak terjerat dengan serangan Alpha serta beberapa serigala, membuatnya tidak bisa membantu.
Alice
Health : 77/220 (-21)
"—Ukh!"
Serigala itu berhasil menjatuhkan Alice dari belakang.
"Kh! Bash!" teriak Elcia dengan putus asa, berusaha menyingkirkan Beast yang menghalanginya.
Sementara, Alice jatuh tersungkur dengan Forest Wolf yang langsung mengoyak tubuhnya dengan taring-taring tajam.
Iron Chainmail
Durability : 76% (-2%)
Health : 66/220 (-11)
[Debuff : Bleeding]
[Lukamu cukup dalam dan mulai berdarah!]
Durability : 75% (-1%)
Health : 50/220 (-14) (-2)
Health : 31/220 (-17) (-2)
"Ack—!" erangnya. Ia bahkan sudah mengatur tingkat rasa sakit pada taraf minimum, namun itu tetap menyakitkan!
"Alice!"
Dengan Health yang tersisa, dua gigitan lain akan membunuh gadis itu. Elcia hanya bisa berteriak tanpa daya dengan penuh kepanikan.
"Arrow, Precision Aim." sebuah suara lirih terdengar ditengah keputusasaan Elcia.
—Syuut. . !
Satu anak panah melesat begitu saja dari samping, mengenai tepat pada tengkorak serigala itu.
[Critical Hit!]
[Fatal Damage!]
Dan dengan satu lesatan anak panah itu, serigala yang seharusnya mengakhiri Alice tewas seketika.
"Eh?" Alice membuat ekspresi bingung mendapati gigitan serigala itu berhenti. Segera menemukan jika Forest Wolf itu sudah roboh disebelahnya dengan sebuah anak panah tertanam pada kepalanya.
". . . Siapa?" guman Elcia ditengah usahanya membunuh serigala-serigala itu.
Keduanya segera menemukan dua orang sosok yang berada diluar kepungan Forest Wolf. Satu dengan busur ditangannya dan satu dengan sebuah Naginata. Keduanya pun langsung mengenali sosok dengan Naginata itu.
Haru!
"Kuharap kami tidak terlambat!" kata Haru dengan senyuman lebar.
Sang Onna-Bugeisha kemudian maju menerjang tanpa rasa takut; sosoknya mengayunkan bilah panjang Naginata, menyapu para serigala dengan sebuah tarian indah.
Orang disamping Haru tidak maju menerjang sepertinya. Namun ia menarik tali busur miliknya, tanpa sebuah anak panah terpasang.
"Arrow, Wind Enchant." katanya kemudian. Pada saat itu, anak panah mendadak muncul dari udara kosong.
__ADS_1
Elcia dengan pengalamannya bermain game langsung mengingat sebutan untuk pemain sepertinya; Arcane Archer, pemanah yang menggunakan sihir pada setiap tembakannya.
—Syuuuuu!!
Suara yang dihasilan lesatan itu bahkan terdengar berisik —sebuah panah dengan elemen angin. Mengincar Forest Wolf yang akan menyerang Elcia.
"—Muh?!" mulut gadis itu mengeluarkan suara tanpa sadar.
Anak panah itu terlalu kuat hingga membuat angin berembus pada lintasannya. Serigala yang dibidik oleh sang Arcane Archer pun dibawa terbang hingga beberapa meter jauhnya.
Melihat kesempatan itu, Elcia dengan cepat merogoh Health Potion dan menumpahkan isinya pada Alice yang penuh luka.
Alice
Health : 54/220 (+31) (-2)
Cara memakai Potion di Terris tidak serta-merta harus diminum. Menyiramkannya pada luka sudah cukup, meski nilai pemulihan Health yang didapat akan berbeda dari yang ditulis pada deskripsinya.
"Ukh, serigala sialan. . ." kata Alice, perlahan bangkit berdiri.
Mana : 11/96
Melihat Mana miliknya sudah cukup, Alice langsung menggunakan kembali Nave Sword Technique miliknya.
"Phantasmal Slash!"
[Nave Sword Technique meningkat!]
[Phantasmal : Slash meningkat]
[Struggle meningkat!]
Bersamaan dengan notifikasi yang muncul, tebasan pedang gadis itu mendarat pada salah satu Forest Wolf. Dan sebuah garis biru muncul mengikutinya, yang terlihat lebih lebar dan panjang daripada sebelumnya.
Slash! Slash!
—Kaing!
[Quest :
Forest Wolf dibunuh : 23/5]
[Level meningkat!]
"Oh! Skill-mu kelihatan keren!" kata Haru dengan kagum, selagi dirinya mengayunkan Naginata ditangannya.
Grrrr. . .
"Awas!" teriak Elcia, mendapati Alpha beralih menuju Haru.
Beruntung, pemanah yang datang bersama Haru melakukan perannya dengan baik. "Arrow, Paralysis Shot."
Syuut. . !
Sebuah anak panah dengan percikan-percikan listrik melesat pergi saat itu juga.
—Jleb!
[Paralysis!]
Forest Wolf Alpha untuk pertama kalinya menerima sebuah serangan, dan langsung berhenti dari larinya. Tidak, serigala itu terlihat kesulitan untuk bergerak dengan tubuh yang mengeluarkan percikan kecil listrik —sebuah panah pelumpuh.
"Oh?" Haru yang terlambat sadar membuat ekspresi bodoh diwajahnya.
Yang segera disusul oleh suara lain dari balik pepohonan. "Magic Barrage!"
Bola-bola berwarna putih datang dengan cepat, membombardir Forest Wolf Alpha tanpa ampun.
"Heh, kalian lambat!" teriak Haru, terdengar setengah mengejek.
"Maaf-maaf, Agility kami gak setinggi karaktermu." balas suara lain yang terdengar sedikit serak.
Perlahan, tujuh orang sosok memperlihatkan dirinya dari balik bayang-bayang.
...———...
*Poussée
__ADS_1
Berarti Thrust, atau tusukan.
Linnea sendiri memiliki kebiasaan untuk menggumamkan gerakan yang ingin ia lakukan. Gadis itu melakukannya agar otaknya mengingat dan membayangkan gerakan itu. Jika tidak, tubuhnya kadang tidak selaras dan melakukan gerakan yang berantakan.