VRMMO | Terris Story : Someone "Them"

VRMMO | Terris Story : Someone "Them"
11:A.Party, Invitation


__ADS_3

Wilayah Netral desa Nave, Terris Utara.


Sebuah bangunan besar dengan tembok berwarna coklat berdiri kokoh didekat Combat Training Field desa itu.


Subjugation Center.


Tempat itu selalu ramai pemain ataupun orang Terrian yang datang untuk menjual hasil berburu Beast yang mereka kalahkan. Juga para Crafter* yang mencari bahan untuk diri mereka sendiri.


Meski begitu, ada perbedaan mencolok antara para pemain dengan orang Terrian untuk masalah hasil buruan.


Jika kebanyakan pemain hanya menyerahkan Drop Items, yang sudah terpisah-pisah karena metode Instant**, orang Terrian cenderung membawa utuh mayat hasil buruan mereka. Yang secara alami membuat Subjugation Center didesain untuk mempunyai tempat Dismantling yang bisa dilihat —meskipun kebanyakan pemain menghindari tempat itu karena ngeri atau jijik.


Di tempat itu, seorang pemain perempuan dengan nama karakter Mortred berada di konter utama untuk mengambil bayaran dari Drop Item yang ia serahkan.


"Silahkan." kata orang dibalik meja konter itu sambil menggeser koin emas dan perak.


'Dua belas ribu Rea, ya? Ini terlalu sedikit. Kurasa aku harus Grinding lebih lama.' pikir Mortred saat menghitung koin ditangannya.


Menyingkir dari konter itu, ia kemudian berjalan ke sudut ruangan dimana anggota Party-nya sedang duduk beristirahat.


Melihat sosoknya yang mendekat, salah seorang kemudian mengangkat alisnya, yang segera membuat Mortred membuka mulut. "Kurang. Itu cuma dua belas ribu."


Salah seorang rekannya pun menghela napas. "Apa boleh buat, kita harus hati-hati. Banyak pemain yang mati saat leveling di hutan. Kelompok sembilan orang dari Party Sky Chaser juga hampir disapu bersih kan? Itu sulit jika hanya kita bertiga."


"Kau benar Franz. . , kita butuh anggota baru. Isval, kau yang cari anggota." kata Mortred.


"Aku?! Hey. . ,"


Isval tentu protes dengan perintah sepihak itu. Namun, sebelum dirinya sempat mengutarakan sebuah penolakan, mulutnya dibuat diam. Tidak hanya itu, keadaan hiruk-pikuk yang berisik juga mendadak lebih hening.


Mortred yang menyadari perubahan suasana pun melihat sekeliling dengan bingung, sebelum matanya tertuju pada pintu masuk.


Dua orang sosok, yang terlihat sedikit lebih pendek daripada rata-rata Halfling berjalan masuk ke tempat itu. Mereka adalah pemain jika dilihat dari Common Traveler Set yang mereka gunakan.


Namun, alasan yang membuat tempat itu hening cukup beragam. Terutama pemain, orang-orang memandangi wajah keduanya yang memikat hati.


Franz pun tidak lepas dari itu, dan mulutnya tanpa sadar berkata. "Mereka manis. . ."


Tapi Mortred, matanya justru terfokus pada makhluk yang duduk dikepala salah satu gadis itu.


". . . Kelinci?"


Tap, tap, tap, tap. .


Seolah tanpa mempedulikan mata yang tertuju pada mereka, kedua sosok itu berjalan santai. Salah satunya menunjukan ekspresi tegas dengan mata merah Ruby yang tajam, sedangkan yang lain memasang wajah tanpa ekspresi dengan mata biru langit-nya yang cerah. Dalam beberapa artian, mereka membuat semua pandangan tertarik dengan caranya sendiri.


"Little Silver. . ." gumam seseorang.


Hanya dengan dua kata itu, bisikan-bisikan mulai terdengar, yang segera menghapus keheningan sebelumnya.


"Jadi itu asal kata Little. . ." gumam Isval seolah akhirnya mengerti.


"Mmm, kurasa mereka habis berburu?" celetuk Mortred.


"Pastinya kan? Tapi kudengar mereka cukup kuat sampai bisa bertahan melawan Demon Trainer." kata Franz.

__ADS_1


Mortred pun menunjukan wajah tidak percaya sambil memandangi punggung kedua gadis itu —yang terlihat rapuh dimatanya. Ia sendiri sudah melihat seberapa kuat orang Terrian yang menjadi pelatih di Combat Training Field. Dan mendengar perkataan Franz, Mortred menumbuhkan rasa penasaran terhadap keduanya.


"Sekarang aku ingin tahu apa yang bisa mereka buru. . ."


"Siapa tahu? Oi, Isval, ajak mereka untuk bergabung dengan Party kita." perintah Franz tiba-tiba.


"Hah—?"


"Itu ide yang bagus. Satu dari mereka memakai perisai dan Rapier, posisi Vanguard seharusnya tidak jadi masalah. Untuk satunya tidak bisa kutebak karena dia tanpa senjata. Tapi, kudengar mereka selalu menolak saat diajak?"


"Coba saja, bukannya kita punya tumbal?"


"Kau benar." Mortred pun mengangguk-angguk setuju.


"Apa maksudnya itu!!"


Dan Isval yang dijadikan tumbal oleh kedua rekannya hanya bisa mengumpat dalam hati sambil mendekati kedua gadis itu yang sedang berdiri didepan konter utama.


"Permisi."


...———...


Didepan konter Subjugation Center, Alice dan Elcia sedang menukarkan Drop Items yang mereka bawa.


Tidak begitu banyak, keduanya hanya berhasil membawa Drop Item sebanyak yang bisa dimuat tas masing-masing. Namun kemudian, setelah Elcia ikut menyerahkan Claws of Forest Alpha, ekspresi orang Terrian ditempat itu berubah.


"Ah, kalian sungguh memburu serigala itu? Sudah kuduga murid Bill tak akan mengecewakan."


Mendengarnya, alis Alice langsung berkedut.


'Murid. . , apaan?!' sangkal dengan kesal, tanpa sadar menggunakan Connection.  'Lagipula siapa yang mau menganggap iblis itu?!'


Seperti perkiraannya, Alice langsung tersulut. Namun melihatnya bisa menahan semua itu dalam hati, Elcia menghela napas dengan lega.


Dan pada akhirnya, gadis itu tersenyum tipis melihat Alice mulai dikenal banyak orang. Namun, ia juga tahu jika ini barulah awal yang baru untuk keduanya melangkah.


· · ·


"Ini dia, silahkan." kata orang dibalik konter itu sambil menggeser uang kepada Alice.


" "Terima kasih." " kata keduanya bersamaan.


Tanpa perlu repot-repot menghitung, keduanya pun berbalik, hendak pergi meninggalkan tempat itu segera. Hingga seseorang berjalan mendekat pada keduanya.


"Permisi."


Alice pun segera berdiri didepan Elcia sambil memperhatikan orang itu dengan hati-hati. Diikuti Elcia yang sedikit bersembunyi dibelakang punggungnya.


"Apa?" tanya Alice dengan ketus, secara terang-terangan menampilkan sifatnya yang dingin.


Sebuah busur dibawa dibelakang punggung, dengan zirah kulit dan sepasang Wrist Guard abu-abu. Serta Quiver*** penuh anak panah yang terpasang di pinggangnya. Seorang Archer.


"Ahaha. . , yah, aku disuruh untuk mengundang kalian ke Party." jelas Isval dengan canggung —sementara Mortred terlihat menepuk dahinya dari kejauhan.


". . . Ha?" Alice yang tidak siap dengan kejujuran blak-blakan itu berakhir memandang Isval dengan dahi berkerut, seolah mencari kebohongan dari wajahnya.

__ADS_1


"Yah, aku tidak punya maksud lain." tambah Isval dengan wajah kaku.


"Dan jika kami menolak?"


"Mau bagaimana lagi?" jawabnya dengan senyum kosong.


Dan semakin mendengar jawaban Isval, Alice semakin memperhatikan orang dihadapannya itu dengan tatapan curiga.


"Sebentar." pinta Alice kemudian, setelah ia tidak mendapati sesuatu yang mencurigakan dari gerak-gerik Isval.


Memasang pose berpikir dengan sengaja, Alice pun bertanya secara diam-diam pada Elcia menggunakan Connection. 'Bagaimana menurutmu?'


'Uum. . , terserah. . ?'


'Ugh, memang ya kamu nggak mau bikin pilihan.'


Alice kemudian memeriksa panel Quest-nya dan menghitung waktu tersisa. Ini termasuk salah satu alasan yang membuat Alice harus menolak Party, karena ia harus menyelesaikan Quest itu sebelum batas waktu yang ditentukan Bill.


Satu hari sepuluh jam, waktu yang tersisa untuk menyelesaikan Quest Rank A itu.


Ia kemudian melihat tingkat Mastery Skill-skillnya.


Sword Mastery


Mastery : Combatant I (26.40%)


Nave Sword Technique


Mastery : Novice Combatant III (77.55%)


Dilihat dari itu, Sword Mastery miliknya sudah memenuhi syarat penyelesaian. Yang tersisa adalah membuat Nave Sword Technique mencapai tingkat Novice Combatant V. Dan mengingat waktu yang tersisa, Alice berpikir seharusnya tidak masalah untuk menaikkan Mastery-nya dalam pertarungan dan perburuan.


Juga, mungkin nggak buruk biar dia lebih biasa bersama orang lain. . . pikir Alice.


Melihat Elcia yang berlindung dibelakang punggungnya, Alice mengeluarkan helaan pendek. Tidak baik, gadis itu harus pulih dari Avoidant Personality Disorder yang dideritanya.


"Baiklah, kami ikut."


...———...


Crafter*


Merujuk pada pemain yang membuat sesuatu, pengrajin atau semacamnya; misalnya Blacksmith (Penempa).


Instant**


Referensi Chapter 08:B. (Cara mendapat Drop Items).


Quiver***


Wadah yang digunakan untuk membawa anak panah.


Avoidant Personality Disorder


—Kecenderungan untuk menghindari interaksi sosial.

__ADS_1


__ADS_2