
Segelas kopi ditangannya masih mengepulkan uap.
Seharusnya, suhu setinggi itu sudah cukup untuk membuat lidah seseorang menjadi terbakar. Tapi parahnya, seorang gadis yang sedang duduk didepan layar monitor itu meneguk semuanya hanya dalam sekali minum.
"Fuuh. . ." Linnea mengambil napas panjang, dan kini giliran mulutnya yang mengeluarkan uap panas.
Namun ditengah-tengah waktu santainya, Alice berkata dengan nada tinggi. 'Cukup! Kecanduan kopi itu sama sekali nggak sehat tahu!'
Memang, kecanduan bukanlah sesuatu yang baik. Namun, Linnea yang mendengar kata-kata Alice langsung membuat alasan. "Tapi, Alice—"
'—Nggak ada 'tapi'! Itu gelas keenam, Linnea! Setengah lusin!' potong Alice, tidak ingin mendengar alasan.
"Hah?"
Dan seperti pernyataan kuantitas yang terdengar, lima buah gelas dengan ukuran sedang telah berderet rapi disamping meja miliknya. Linnea pun segera menyadari keadaannya sudah keterlaluan, bahkan untuk ukuran seorang penikmat kopi.
. . . Seorang Coffee Addict.
Dan meskipun hanya kopi instan dengan kadar kafein yang rendah, kopi tetaplah kopi. Minuman dengan kafein yang membuat ketagihan secara tidak sadar. Namun, Linnea sangatlah bergantung pada minuman yang satu ini.
Sebab sebuah keadaan unik dari Self Alternative Parallel Mind Syndrome —disingkat Slaveminds, Linnea selalu mengalami kelelahan mental yang lebih awal daripada kebanyakan orang pada umumnya. Untuk alasan ini, ia membutuhkan efek kafein yang menjaganya tetap sadar meski memaksa.
Tanpa itu, Linnea sebenarnya memiliki kebutuhan tidur yang bisa bersaing ketat dengan seekor kucing.
Sementara itu, Linnea yang mulai merasa lelah akhirnya melirik jam digital pada layar monitor. Hanya untuk membuat dirinya membuka mata lebih lebar.
04.52
". . ." Linnea pun terdiam dengan wajah pahit, karena ia menyadari jika sudah terlambat untuk tidur.
Pikirannya terlalu fokus untuk mengerjakan tumpukan tugas yang telah menggunung sepanjang malam —sebuah fenomena mistis dari para pemalas yang disebut marathon sehari jadi.
Meskipun Linnea kenyataanya lebih dari mampu mengerjakan segalanya dengan sangat cepat dan effisien, hambatan terbesarnya bak Last Boss yang tidak manusiawi dari suatu game.
Salah satu yang dikatakan sebagai bagian dari tujuh dosa besar, kemalasan.
Dan sekalipun Alice selalu mengingatkannya setiap kali ada waktu senggang, Linnea secara praktis membiarkannya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
"Uuh, kafein tablet, kafein tablet. . ."
Linnea yang mulai kacau akhirnya mencari apa yang ia butuhkan, sementara tangannya memporak-porandakan tumpukan barang disekitarnya menjadi semakin berantakan.
'. . . Tas.' jawab Alice dengan nada enggan.
"Ah, makasih."
'Haaah. . . sama-sama.'
__ADS_1
Linnea pun meraih sebuah tas putih polos disamping monitornya dan mengeluarkan sebuah botol yang masih memiliki segel.
Sesuatu yang harus dibawa olehnya kemanapun dankapanpun. Tanpa kafein tablet, Linnea benar-benar akan kesulitan untuk beraktivitas seperti orang normal. Entah pikirannya perlahan kehilangan konsentrasi, atau jatuh tertidur tiba-tiba. Yang jelas, ia harus menghindari hal itu.
Dua tablet kafein langsung masuk kedalam mulutnya tanpa pikir panjang, diikuti sebotol air mineral yang kebetulan ada didekatnya.
'Baiklah, ayo bergegas.' kata Alice.
Linnea sendiri tidak membutuhkan banyak waktu untuk bersiap-siap. Mematikan komputer, mandi, memakai seragam dan akhirnya menyambar roti bungkus yang ada di lantai untuk sarapan.
. . . Tidak ada yang salah dengan itu.
Linnea benar-benar mengambil sebuah roti bungkus yang tergeletak di lantai begitu saja dan memakannya.
Kamar milik gadis itu sebenarnya cukup sederhana, secara literal. Hanya ada tempat tidur, lemari pakaian, set komputer dan sebuah kamar mandi dalam ruangan. Namun, jangan pernah berharap kamar miliknya itu dalam kondisi rapi —kalaupun itu bisa disebut 'kamar'.
Karena kenyataannya, keadaan seluruh ruangan itu adalah definisi terbaik dari kata-kata 'kapal pecah', kecuali lokasinya kali ini berada di darat.
Barang-barang berserakan dimanapun; pakaian kotor maupun bersih, tumpukan buku berbagai jenis, smartphone yang tak pernah dipakai, bungkus kosong makanan ringan, dan roti sarapannya.
Sebagai anak kedua, Linnea adalah yang paling acak-acakan diantara seluruh anggota keluarga Amaryllis dari segi merawat diri.
Tentu saja Linnea akan terkena amukan dewa andai orang tuanya mengetahui ini, namun karena orang tuanya sendiri sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, ia berhasil selamat sampai sekarang.
Disisi lain, Alice pun hanya bisa pasrah melihat kelakuan gadis itu; berharap keinginan terpendamnya untuk memukul kepala gadis itu akan terkabul suatu saat.
Yah, Linnea sendiri harus berhati-hati dengan mata, telinga dan mulut orang lain. Tiga hal itu lebih dari mampu untuk menenggelamkannya ke dasar.
Dan yang lebih mengerikan dari itu adalah mereka yang disebut para wartawan. Karena eksistensi merekalah setiap anggota keluarga Amaryllis setidaknya pernah disorot media massa. Sebab orang dengan pengaruh akan selalu menjadi perhatian, dan Linnea yang terikat dengan nama Amaryllis tidak luput dari sorotan menyusahkan itu.
Ia sebenarnya bisa mengabaikan semua itu dengan ketidakpedulian yang ia bangun demi menghadapi reaksi orang lain. Tapi dirinya juga tidak ingin merusak nama baik keluarganya karena beberapa alasan. Jadi setidaknya, menyembunyikan sifat asli dirinya didepan umum adalah sebuah keharusan.
Sebelum keluar kamar, Linnea akhirnya memakaikan topeng pada dirinya sendiri. Seperti menekan saklar dari 'dirinya yang sebenarnya' ke 'dirinya didepan umum', gadis itu memasang wajah seorang murid normal seolah-oleh menjadi orang yang benar-benar berbeda.
Dan sebagai langkah pengamanan terakhir, Linnea mengunci pintu kamarnya dengan rapat; ia tidak bisa membiarkan bahkan seekor semut pun masuk dan mengetahui isi kamarnya. Karena jika itu terjadi, semuanya bisa gawat.
Namun jika dipikirkan, eksistensi kunci cadangan pasti ada entah siapa yang memegangnya. Yang kemungkinan berada ditangan para pembantu keluarga Amaryllis.
Tapi itu bukanlah masalah, karena ia sudah mengantisipasinya dengan mengganti pintu kamarnya secara diam-diam. Kecuali Linnea sendiri, tidak ada yang bisa masuk ke kamarnya. Tentunya jika tanpa menggunakan unsur kekerasan.
Tapi mari lupakan kemungkinan itu karena pintu miliknya terbuat dari logam Nano Carbon. Sekalipun dihujani peluru High-Explosive dari sebuah Tank, pintu itu tidak akan bergeming. Malah, temboknya yang akan hancur berantakan.
Baik, lagipula siapa yang akan menggunakan senjata pemusnah masal, hanya untuk menerobos masuk kamar seorang gadis polos. . . kan?
Beralih keluar, rumah keluarga Amaryllis bisa dibilang megah dan luas. Sebuah representasi dari seberapa kuat keluarga gadis itu. Tapi justru karena luasnya, Linnea menggerutu tentang betapa menyusahkannya hal itu; ia benci olahraga kaki.
Langit masih agak gelap sementara udara cukup dingin. Mencapai halaman depan, Linnea disambut oleh seseorang dengan seragam Butler lengkap bersama sebuah mobil. Dan saat gadis itu berhadap-hadapan, Butler itu memanggil tuannya dengan nada sedikit keras yang tak terduga sama sekali.
__ADS_1
"Nona Linnea."
"Ya, ada apa?" tanya Linnea dengan wajah datar, memandang mata ke mata tanpa menunjukkan ekspresi berarti.
"Mohon tidak memaksakan diri, kesehatan anda lebih penting."
"Ukh. . ." Linnea mengeluarkan suara rendah begitu dirinya tertangkap basah.
Butler didepannya adalah Haris, orang yang biasa mengantarkannya kemanapun. Sebab sudah cukup lama mengenal tabiat tuannya itu, ia bisa tahu keadaan Linnea cukup dengan sekali lihat.
". . . Ayo, be-berangkat." ajak Linnea, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tanpa bisa melakukan apa-apa, Haris pun menghela napas pelan dan segera membukakan pintu mobil dibelakangnya tanpa berkata lagi.
. . .
Jalanan penuh kendaraan berlalu-lalang. Kota kelahiran gadis itu tidak pernah beristirahat dari kesibukannya. Linnea memandang keluar dengan tatapan mendalam. Lampu-lampu jalan masih menyala, menyatu dengan pohon-pohon yang telah berumur. Ia menyukai kota ini.
Namun, kata-kata Haris segera mengusik momen sesaat itu. "Nona, jadwal untuk pemeriksaan rutinnya adalah hari ini."
"Aku. . . tahu." jawab Linnea mengangguk tanpa semangat. Bisa dilihat dengan jelas jika gadis itu tidak menyukainya sama sekali.
Linnea secara rutin didatangi oleh tenaga medis dirumahnya. Itu tidak lain adalah upaya orang tua-nya untuk menyembuhkannya dari Slaveminds.
. . . Katanya.
Tapi kebenarannya, Linnea sangat menolak itu dan mengatakan dirinya baik-baik saja. Hanya, perkataan para psikolog bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan oleh mereka. Keadaan yang mirip seperti orang gila mengaku waras, siapapun akan lebih percaya kata-kata seorang psikiater daripada orang itu sendiri.
"Alice. . ." kata Linnea lirih.
'Aku baik-baik saja, nggak ada masalah.' Alice menjawab dengan lembut.
Linnea tidak peduli dengan kata-kata orang lain. Tidak juga dengan apapun yang mereka sebut sebagai kelainan yang dia derita.
. . . Mengapa mereka bersikeras terhadap ini?
Haris menengok sekilas raut wajah gadis itu. Ia sedikit mengerti kesedihan itu, meski sedikit ragu dengan 'Alice' yang keberadaannya sering disebut sebagai masalah mental.
Tapi Haris hanyalah seorang Butler, ia tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu. Dan karena itu, setidaknya ia merasa harus menjadi orang yang mendengarkan keluh-kesah gadis itu, semata-mata karena perasaannya pun berkata demikian.
"Nona, kita sudah sampai." kata Haris, menyadarkan Linnea dari lamunannya yang suram.
"Ah. . ? Kak Haris, tolong jemput nanti sore." katanya, keluar dari mobil.
Haris hanya bisa tersenyum kecil dan menggeleng pelan. Sejak mengetahui usia mereka yang hanya terpaut lima tahun, Linnea mulai menambahkan kata kakak padanya. Agak aneh rasanya, mengingat dirinya masih terikat sebagai seorang butler.
Didepan gerbang sekolahnya, Linnea akhirnya menampakan diri sebagai seorang murid 'kelewat' teladan. Masih sepi, jam digital di gerbang sekolahnya menunjukkan pukul 05.37. Terlalu pagi karena sekolahnya dimulai pukul 07.45.
__ADS_1