
Mangkuk besi membawa api.
"Mangkuk besi membawa api. . ." Elcia bergumam sambil melihat seisi ruangan itu. 'Mangkuk. . . besi. . .'
Setelah memperhatikan sekelilingnya selama beberapa saat, Elcia pun menarik kesimpulan dan berjalan mendekati dinding. 'Um, teka-teki ini tidak terlalu berbelit, jadi mangkuk yang dimaksud itu mungkin ini. . .'
Mengangguk, gadis itu menatap obor yang terpasang pada dinding dihadapannya.
Api yang tepat membara abadi.
Memikirkan kalimat itu, Elcia segera menarik kesimpulan selamjutnya yang cukup sederhana; mencari api yang tidak bisa padam.
Matanya pun menyapu sekilas seluruh dinding ruangan itu; ada puluhan obor yang menyala disaat bersamaan, yang membuatnya menghela napas pendek karena merasa repot.
"Alice."
"Ya."
Keduanya pun segera mematikan obor yang menyala satu demi satu. Mengembalikan suasana redup kedalam tempat itu.
Pssshh. . .
Pssshh. . .
Pssshh. . .
Hingga pada obor terakhir yang masih menyala.
—Pssshh. . .
Obor itu ikut mati meninggalkan asap sama seperti obor-obor lainnya. Melihat itu, Alice dan Elcia dibuat mengerutkan dahi.
"Ini juga bukan. . ." kata Alice.
Sedikit kebingungan, keduanya memutuskan untuk membaca ulang gulungan yang mereka bawa.
Dari tengah, langkah kaki menjauhi senja.
Lonceng pertama memecah sunyi.
Mangkuk besi membawa api.
Api yang tepat membara abadi.
Lonceng kedua cahaya pemandu.
Taring terasah adalah pengetahuan.
Bunga kematian membuka jalan.
Lonceng terakhir ada dalam malam.
Menyingkat kalimat yang ada, Elcia menggumamkan kata yang ia anggap sebagai kunci dari teka-teki ini. "Muu. . . mangkuk besi, api, cahaya pemandu. . ."
Kembali ke awal, Elcia mulai mencari hal yang mungkin berhubungan dengan kata kunci yang ada. Tidak perlu kesulitan, Alice segera menemukan sebuah benda yang sesuai.
"Cawan." kata Alice sambil menunjuk benda hitam diatas sebuah meja kayu.
"Cawan. . .um, mangkuk besi. . !"
...[Item Details]...
Unknown — Grail
Status : ???
__ADS_1
Type : ???
Durability : 93%
???
Sebuah cawan dengan warna hitam pekat dihiasi ukiran yang terlihat asing.
...————...
"Sekarang api. . ." Alice berkata sambil menaruh jari pada dagunya. "Tapi dimana api abadi-nya?"
Sejauh yang mereka lihat, seluruh sumber api yang ada sudah padam dan tidak menyala kembali; berbeda dari ciri yang melambangkan api abadi. Kecuali satu tempat,
". . . Perapian."
"Ya, cuma perapian yang masih menyala."
Mereka pun mendekati satu-satunya tempat dimana api masih menyala. Berjongkok, Elcia melirik Grail ditangannya, lalu mendekatkan benda itu ke perapian.
[Grail ditanganmu bereaksi]
" "Bingo." " kata keduanya bersamaan sambil menyunggingkan bibir.
Didepan perapian itu, Grail hitam di tangan Elcia segera menunjukkan jadi dirinya. Ukiran-ukiran yang terbentuk di bagian luar cawan itupun menyala senada dengan warna api, menyingkap tulisan tersembunyi yang ada dibaliknya. Lalu dari api yang menyala, lidah-lidah membara bergerak menuju mulut cawan itu, hingga seluruhnya berpindah meninggalkan perapian.
[Kamu berhasil mengungkap Unknown Item]
[Deskripsi Item diperbarui]
...[Item Details]...
Unique — Replica | Ember Grail of Guidance
Status : Awakened
Durability : 93%
Enhancement :
» True Path [Active] [1/1]
Menggunakan api abadi untuk menunjukkan jalan dibalik ilusi.
Cost : -
Cooldown : 4 Day 12 Hour
Sebuah cawan yang membawa api abadi dan mampu merobek ilusi. Sebuah replika dari benda yang sebenarnya, yang meskipun begitu masih mampu untuk menunjukkan pecahan kecil dari kemampuan aslinya.
...————...
Dan tanpa perlu bertanya-tanya lagi, Elcia langsung menggunakan kemampuan yang dimiliki artefak ditangannya. "True Path."
Bersamaan dengan kata-katanya, api didalam Grail mulai menjulurkan lidah-lidahnya. Kemudian dari lidah api itu, satu persatu kunang-kunang yang terbuat darinya muncul dan beterbangan disekitar kedua gadis perak. Sementara, benang-benang tipis jingga kemerahan muncul dan menjalar keluar, semakin memanjang setiap detiknya. Bergerak menuju berbagai sudut ditempat itu.
Menonton hal yang sedang terjadi dihadapan mereka, Alice dan Elcia terdiam ditempat mereka masing-masing, tanpa bisa memikirkan apapun.
"Ini. . ."
". . . Luar biasa."
Belum berhenti, benang-benang api yang terbentuk segera melilit benda-benda yang ada disekitarnya, menegang dan semakin kencang.
—Sraaak!
__ADS_1
Alih-alih menarik benda yang terlilit benang, sebuah suara robekan justru terdengar dengan jelas. Bersama dengan pemandangan ditempat itu yang perlahan seperti terkoyak-koyak hancur lalu mengurai di udara.
[Hidden Place : Phantasmal Passage]
Berbeda dari penampilan tempat itu sebelumnya, keduanya kini diperlihatkan pada sebuah lorong berbatu menurun yang minim cahaya.
Seluruh kejadian itu akhirnya membuat keduanya kehabisan kata-kata. Sebuah fenomena fantasi yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata baru saja terjadi dihadapan mereka secara spektakuler. Alice maupun Elcia bisa merasakan detak jantung mereka berdebar-debar karena rasa semangat yang memuncak.
Berbekal cahaya dari api Ember Grail of Guidance ditangan Elcia, kedua gadis itu segera berjalan maju bersama dengan kunang-kunang api yang memandu jalan didepan mereka.
. . .
Tak lama setelahnya, kedua gadis itu mulai bisa melihat cahaya yang berasal dari ujung lorong itu.
[Hidden Place : Secret Library]
Menginjakkan kaki keluar dari lorong gelap, Elcia pun segera dibuat menahan napasnya dengan mata terbuka lebar.
Sesuai dengan nama yang muncul dalam panel notifikasi, keduanya kini dihadapkan pada sebuah perpustakaan.
Namun apa yang membuat Elcia menahan napasnya adalah ukuran perpustakaan itu yang begitu besar. Bahkan hanya dengan sekali pandang, ia bisa mengetahui jika perpustakaan dihadapannya saat ini berkali-kali lebih besar dari perpustakaan Amaryllis.
Rak-rak buku setinggi beberapa meter disusun pada dinding menyesuaikan bentuk hexagon tempat itu. Lalu dari tengah-tengahnya yang merupakan tempat anak tangga melingkar, keduanya bisa melihat lantai-lantai dibawah maupun diatas mereka yang memiliki isi serupa.
—Sebagai perbandingan, perpustakaan Amaryllis di rumahnya memiliki lebih dari sepuluh ribu buku. Itu berarti, tempat ini setidaknya beberapa kali dari itu!
Elcia pun melihat kembali kalimat teka-teki sekaligus petunjuk terakhir yang mereka miliki.
Taring terasah adalah pengetahuan.
Bunga kematian membuka jalan.
Lonceng terakhir ada dalam malam.
Elcia meletakan tangan diwajahnya dengan ekspresi datar, sementara Alice terdiam sambil mengutuk dalam hati.
Keduanya pun baru menyadari seberapa menyusahkan Quest kali ini. Dan untuk pertama kalinya bagi Elcia, semangat kutu buku dalam dirinya padam; yang ironisnya terjadi disebuah perpustakaan.
". . . Ayo, Alice." kata Elcia dengan sedikit niat tersisa.
"Yaa. . ."
Kembali pada kalimat yang harus mereka pecahkan, Elcia mulai berpikir dengan cepat.
"Muu, baris pertama, taring terasah adalah pengetahuan berarti buku-buku ditempat ini. Baris kedua, bunga kematian membuka jalan. . ."
Dan dengan itu, keduanya tenggelam dalam pencarian panjang di perpustakaan raksasa, berbekal sebuah kalimat.
. . .
Beberapa ribu buku setelahnya, Elcia menghela napas lelah tanpa mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan kalimat petunjuk yang mereka miliki.
Alice pun berjalan mendekatinya.
Menaikkan alis, Elcia hanya mendapati Alice mengangkat bahu, tanda jika ia juga mendapatkan hasil nihil yang sama dengannya.
"Muh. . ."
"Ganti lantai?" tanya Alice sambil menyarankan, yang dibalas dengan anggukan pelan dari Elcia.
"Um, coba."
Menaikki tangga melingkar, keduanya mencapai lantai atas dengan cepat.
Namun, Elcia tiba-tiba membeku saat mereka hampir memasuki ruangan itu. Pandangannya tertuju pada sebuah tulisan yang hampir tidak terlihat pada dinding batu disamping pintu masuk.
__ADS_1
Aquilegia.
". . . F*ck."