
"Kutukan pedang itu mengerikan tahu, pak tua!" teriak Alice dengan nada tinggi.
Itu bukan tanpa alasan, karena untuk seorang pemain, kutukan yang dimiliki Ashcorì terbilang gila.
Pertama, Curse of Immortality.
Memang, kelihatannya cukup menguntungkan secara sekilas. Namun jika diperhatikan lagi, pengurangan parameter secara permanen setiap kali Curse of Immortality diaktifkan agaknya terlalu merugikan untuk pertumbuhan karakter pemain. Terlebih, Death Penalty yang ada tidak bisa dihindari.
Alih-alih harus mendapat pengurangan parameter statistik secara permanen, Alice maupun Elcia lebih memilih untuk kehilangan Experience dan Mastery Point yang bisa dipulihkan dengan mudah.
Curse of Insanity pun tidak terlalu berbeda dalam hal merugikan. Sebuah kutukan yang membuat pemain 'kehilangan akal sehat' seperti Berserker yang sedang mengamuk.
Kemungkinan untuk gagal saat menggunakan Skill, dan atau juga kehilangan kontrol terhadap karakter bukanlah hal yang bisa ditertawakan. Karena kedua hal itu bisa membuat semuanya langsung berbalik ke arah yang tidak diinginkan.
Dan terakhir, Curse of Pain yang menjadi alasan utama bagi Alice untuk menolak pedang itu.
Memaksa pengaturan rasa sakit untuk berada pada tingkat realistis yang setara dengan dunia nyata, ditambah modifier yang meningkatkannya sebanyak 1.3 kali lebih kuat, agaknya cukup untuk membuat sembilan puluh delapan persen pemain menolak pedang Ashcorì; dengan sisa dua persen-nya sebagai perkumpulan para pemain masokis.
Tapi mendengar kata-kata Alice, Bill justru bertanya dengan ekspresi tidak menyangka. "Benarkah? Kupikir ini sudah cukup lemah untukmu. . ."
Sebab dirinya sudah terlalu lama memeluk mawar berduri; kutukan kehancuran, Bill kehilangan arah tentang akal sehat dari sudut pandang orang normal.
"Nggak sama sekali!" kata Alice. 'Halfling tua ini bautnya lepas!'
Mengelus janggut panjangnya, Bill pun terdiam sejenak untuk berpikir, lalu bertanya. "Kutanyakan sekarang, kau menolak pedang Ashcorì?"
Alice pun menjawab dengan tegas. "Seratus persen kutolak."
". . . Hahahaha. . . hahahahaha!" Bill mendadak tertawa dengan keras, mengagetkan Alice dan Elcia sekaligus. Tapi setelahnya, Halfling itu langsung menghela napas panjang.
"Haaaah. . . untuk berpikir jika ada yang akan menolak benda yang dulu diinginkan banyak orang. . . Baiklah. Baiklah jika kau menolaknya."
[Quest : Ashcorì Wielder ditolak!]
"Tapi." Bill menatap kearah Alice sejenak, lalu berkata; "aku punya sebuah permintaan."
"Sebuah permintaan, kah?" ulang gadis itu dengan alis terangkat. "Apa?"
"Kau lihat, pedang itu cukup berbahaya menurutmu bukan? Aku ingin kau membawanya ke sebuah tempat dan memberikannya pada mereka yang bisa menghancurkan Ashcorì, sekali dan selamanya."
[Quest : The Cursed Sword dipicu!]
Alice pun kembali menunjukkan wajah enggan. "Jadi, aku tetap harus membawa pedang ini?"
"Tenang, kukatakan. Karena kau belum diakui pedang itu, kutukan Ashcorì tidak akan menyentuhmu, selama kau juga tidak mencabutnya."
". . . Begitu." Alice akhirnya menunjukkan wajah lega, namun ia segera menatap dengan tajam. "Tapi dimana kami harus membawanya?"
Bill akhirnya mengeluarkan sebuah gulungan, lalu melebarkannya diatas meja; sebuah peta, dan bertanya kembali. "Kutanyakan, apa kalian mengetahui nama kontinen ini?"
Tanpa perlu berpikir, keduanya pun menggeleng. Itu wajar, karena setiap pemain memulai tanpa tahu apapun tentang georgafis di Terris. Persis menginjakkan kaki di tanah asing.
Disisi lain, Bill yang memperkirakan itu mulai menjelaskan.
Secara singkat, nama kontinen tempat mereka saat ini berada disebut Al-Terris, dengan lima bagian lebih kecil didalamnya; Terris Utara (Northern Terris), Terris Selatan (Southern Terris), Terris Timur (Eastern Terris), Terris Barat (Western Terris) dan Terris Tengah (Middle Terris).
"Peta ini hanya mencakup Terris Utara dan sebagian Terris Tengah."
Melanjutkan, Bill meletakan jari telunjuk di bagian utara peta itu. "Kita berada dititik ini."
__ADS_1
'. . . Luas.' kata Elcia dengan mata melebar, terpaku pada peta dihadapannya.
'Kalau ini sudah terlalu luas tahu.' komentar Alice.
Melihat peta yang memenuhi meja dihadapan keduanya, mereka akhirnya menyadari seberapa luas Terris sebenarnya. Dengan hanya sebagian dari sebuah kontinen dihadapan mereka, dari entah berapa kontinen yang belum mereka diketahui.
Menggeser telunjuknya ke selatan, Halfling tua itu melanjutkan. "Pergilah ke Terris Tengah. Carilah seorang Grand Magus, Arch Bishop, dan All-Master Alchemist."
"—Kau bercanda?!"
Alice langsung dibuat berteriak mendengarnya —dan Elcia membiarkan mulutnya terbuka. Alasannya sederhana, karena orang-orang yang harus mereka cari kenyataannya sangat sulit dicari. Dan keduanya pun cukup mengetahui tentang masing-masing dari mereka, berkat ketenaran ketiganya dalam cerita-cerita fantasi maupun game —meski keduanya sendiri tidak yakin semuanya akan sama persis di Terris.
Sederhananya;
Grand Magus, puncak dari percabangan jenis penyihir yang berfokus pada keragaman Magic Skill. Menggunakan berbagai macam sihir, Grand Magus dikatakan mampu menghadapi ratusan sihir lain seorang diri.
Lalu, Arch Bishop. Satu tingkatan tersendiri setelah Bishop yang merupakan orang terkuat dalam sihir tipe Holy ataupun Light. Memulihkan orang yang berada diujung kematian, menghapus kutukan, atau memusnahkan pasukan Undead bukanlah hal sulit untuk orang sepertinya.
Dan terakhir yang sama mengerikannya, All-Master Alchemist. Seorang yang dikatakan mampu menciptakan Potion untuk memulihan segala penyakit, membuat logam terkuat sepanjang sejarah, serta mengubah sebongkah batu menjadi emas.
Bukan hanya puncak dari bidangnya sendiri, orang yang Bill katakan seharusnya hampir tidak mungkin untuk ditemui. Lagipula, apa yang harus mereka katakan pada orang-orang itu?
Halo! Tolong segel pedang terkutuk ini! Terima kasih!
Yup, Alice sudah bisa membayangkan jika mereka hanya akan ditendang keluar.
Bill segera memasang seringai lebar melihat reaksi gadis itu. "Sepertinya kalian tahu tentang apa yang akan kalian cari."
Ia pun langsung mengeluarkan sebuah benda berwarna perak bercampur emas seukuran medali, dengan gambar bulu yang saling menyilang serta sebuah pedang ditengahnya. "Seharusnya ada yang masih mengingat ini, lencana Nalvár. Benda ini akan mempermudah kalian."
...[Item Details]...
Status : Normal
Type : Accesories, Badge
Durability : 91%
Requirement :
Previous Owner Acknowledgement
Stats :
+20 Health
+10 Mana
+5% Movement Speed
+10 Charisma
Enhancement :
» Knight of Terris [Passive]
• Menurunkan enam parameter utama musuh yang bergantung pada perbedaan Level.
• Kekuatan serangan dan pertahanan meningkat saat bersama pembawa lencana lain.
__ADS_1
» Allies Call
Mengirimkan sinyal untuk meminta bantuan pada sesama pembawa lencana Nalvár.
Cost : 10 Mana
Cooldown : 60 Second
???
...————...
Alice pun menunjukkan pandangan skeptis. "Biar kutebak, benda ini juga sebuah fosil."
"Hahaha, lencana ini belum setua itu." sangkal Bill, menggeleng.
"Terserahlah. Jadi kami harus mencari Grand Magus, Arch Bishop dan All-Master Alchemist. Setelah itu, apa?" tanya Alice kemudian, menutut penjelasan lebih; sambil meminum minumannya.
Dan benda lain pun keluar dari Halfling tua itu, yang kali ini adalah sebuah buku. "Kuanggap kalian setuju dengan permintaanku."
"Buku ini membawa informasi tentang apa yang kalian butuhkan untuk menghancurkan Ashcorì."
...[Quest Details]...
The Cursed Sword Disposal
Rank : ???
Bill ingin memusnahkan pedang terkutuk yang telah ia bawa selama ribuan tahun umurnya. Pergilah ke Terris Tengah dan cari orang yang dibutuhkan untuk melakukannya.
Clearance Condition :
• Cari dan temui masing-masing Grand Magus, Arch Bishop dan All-Master Alchemist.
Clearance Reward :
+5 Level , ???
Failure Condition :
• Menyerah untuk menemukan Grand Magus, Arch Bishop dan All-Master Alchemist.
• Diakui oleh pedang terkutuk Ashcorì.
Failure Punishment :
Kutukan dan pedang Ashcorì terikat padamu.
Quest tidak bisa ditolak
...————...
Dan sebuah Quest yang lebih menyusahkan daripada Quest S-Rank pun tercipta dihadapan Alice. Terdiam, gadis itu hanya bisa menyangga dahinya, melihat kebawah dengan lelah.
'Lagi?' tanya Elcia dengan wajah datar disampingnya.
'Lagi.'
Menghela napas, Alice akhirnya harus setuju dengan permintaan Bill. Dan dengan begitu, sebuah perjalanan panjang yang melelahkan menanti keduanya.
__ADS_1