
Amaryllis.
Nama yang sudah sering terdengar di masyarakat, sekalipun kancah internasional. Entah itu di bidang politik, sosial maupun ekonomi. Termasuk satu anggota dewan perdamaian dunia —yang disebut Overseer, dan kepala keluarga besar Amaryllis saat ini, Amaryllis Nova Reiner. Keluarga Amaryllis telah memegang banyak kendali atas pergerakan di berbagai belahan dunia.
Sejak keruntuhan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) akibat konflik internal. Dan perang berkepanjangan di Amerika, Asia Utara serta Timur Tengah. Negara-negara yang menolak perang membentuk gerakan non-blok untuk kedua kalinya dalam sejarah.
Sementara di Asia Tenggara, sebelas negara yang ikut dalam ASEAN membentuk gagasan baru dalam kerjasama multilateral. Awal dari berdirinya sebuah sistem regional benua yang menjadi negara raksasa Asia Tenggara, Republic of Asean.
Terbentuknya Republic of Asean sendiri tidak lepas dari sosok-sosok berpengaruh. Total delapan ratus enam belas orang dari sebelas negara ikut serta dalam rapat yang berlangsung enam bulan lamanya. Termasuk seorang sosok pencetus ide tersebut, Amaryllis Skarlet.
"Lalu, dengan berdirinya Republic of Asean, negara-negara lain mulai ikut membentuk tatanan baru mereka masing-masing. Yang pada akhirnya, dari total seratus sembilan puluh tiga negara, terbentuk dua puluh persatuan. Dengan begitu, negara-negara yang tengah berperang akhirnya menghentikan konflik berkat paksaan pihak persatuan."
"Bagus, duduklah." kata guru sejarah didepan kelas, mengangguk puas.
Linnea yang kembali duduk hanya bisa merasakan pikirannya dipenuhi rasa jenuh dibalik wajahnya yang terlihat datar.
Sejarah memang menarik untuknya, tapi, sejarah tentang reformasi negara-negara dunia sudah berkali-kali dia baca. Otaknya sudah menghapal semuanya seperti buku berjalan. Itu juga karena sejarah keluarga Amaryllis diteruskan turun-temurun.
Beruntung, Linnea tidak pernah mempedulikan keadaan sekitarnya, terutama saat ini. Meski hanya suara-suara kecil, selalu ada murid yang kurang menyukainya. Dan mereka saat ini memberikan cibiran padanya secara sembunyi-sembunyi.
Sementara itu, Alice yang mengetahuinya memilih diam dan menutup telinga. Tidak ada gunanya memberitahu Linnea hal itu.
Sekolah tidak berlangsung lama setelahnya. Linnea segera keluar kelas lebih awal, menuju ruang ekstra kulikuler.
"Haa. . ." menghela napas pelan, Linnea membuka pintu. Seperti biasa, tidak ada orang lain sebelum dirinya yang datang ke ruangan itu. Ia pun segera duduk dengan wajah yang terlihat suram, dan lelah.
Ada rasa tidak nyaman dihatinya, memiliki hubungan darah dengan orang besar seperti Amaryllis Skarlet. Ia sering mendengar orang berbisik-bisik 'anak Amaryllis' saat ia lewat atau sekedar nampak didepan publik. Siapa lagi jika bukan dirinya yang dimaksud? Atau lagi, orang yang menaruh ekspektasi tinggi pada dirinya sebagai anak keluarga Amaryllis?
Tidakkah mereka terlalu membesarkan sebuah nama, bukan individu? pikirnya.
Tanpa sadar, Linnea mulai mengutuk dirinya sendiri sejak mengerti beban nama keluarganya. Beban yang harus ditanggung olehnya sebagai anggota Amaryllis.
Tapi apanya yang Amaryllis? Apa yang mereka inginkan dari seorang gadis ini?!
Ia membencinya, membenci tekanan-tekanan yang ada pada pundaknya, yang diletakan dengan paksa oleh orang-orang; bahkan oleh keluarganya sendiri.
__ADS_1
Dan karena itu, sebuah tekat muncul dalam dirinya. Tekat untuk bisa diakui sebagai seorang gadis bernama Linnea, dan bukan seorang Amaryllis.
. . . Tapi apa?
Semua usaha keras yang ia lakukan berakhir sia-sia. Lagi, hanya Amaryllis yang keluar dari mulut mereka.
Meskipun ia ingin berkata jika dirinya bukan bagian dari Amaryllis, Linnea tahu jika hal itu hanya akan mendatangkan hasil negatif yang sangat ingin ia hindari.
Karena itu, Linnea tak berdaya sementara orang lain berkata dengan mudahnya; "Seperti yang diharapkan dari anak Amaryllis."
Dan dibalik foto-foto itu yang berhias bingkai. Di antara piala dan medali yang tersusun menyilaukan. Didepan senyum orangtuanya dan senyum gadis kecil yang dipaksakan, hanya ada kekecewaan dan kesedihan.
Tapi semua perasaan itu selalu ia pendam, dan masih tetap disembunyikan olehnya sampai saat ini. Termasuk menyembunyikan beban itu dari satu-satunya keluarga yang dekat dengannya, adik perempuannya.
Sering juga terlintas didalam pikirannya untuk lari dari rumah. Menghilang dan memulai hidup baru, membuang nama keluarganya yang menurutnya hanyalah pengekang. Berbekal otak dan bantuan Alice, menjalani semuanya bukan tidak mungkin.
Tapi untung saja, keberadaan Alice dan adiknya sanggup menghentikan niatnya itu sebelum semuanya benar-benar terjadi. Tapi itupun sia-sia 'tuk mencoba melakukannya, sebab mencari satu orang adalah hal mudah dengan koneksi yang dimiliki keluarganya.
Namun, apa yang harus ia hadapi tidak berhenti begitu saja. Karena dirinya terikat oleh keluarganya, begitu pula keadaannya dalam suatu susunan yang disebut strata sosial.
Memang, strata sosial sudah ditentang dan dihapuskan secara luas, khususnya di Republic of Asean. Namun dihapuskan yang dimaksud adalah strata tertulis. Sementara di masyarakat, strata sosial masih ada walau samar. Dan Linnea merupakan salah satu orang yang menerima dampaknya.
Sebab itu, bahkan setelah Linnea tidak lagi berbicara tentang Alice didepan orang lain, dirinya selalu akan sendirian. Itu bukan sebuah pilihan, tapi kutukan yang tak akan pernah hilang.
Dikagumi sebagai anggota dari keluarga Amaryllis, tapi juga dijauhi karenanya. Dikatakan sebagai jenius, tapi juga dikatakan gila. Sementara orang-orang menaruh ekspektasi tinggi terhadapnya, namun jika dirinya gagal, hanya hal buruklah yang telah menanti.
Sejak saat itu, Linnea yang masih terlalu kecil dibuat menyadari jika hidupnya memang ditakdirkan untuk selalu berantakan.
Dan satu perumpamaan cukup untuk menggambarkan dirinya.
—Burung dalam sangkar emas.
Brak!
Kepalan tangan gadis itu akhirnya terkirim menghantam meja dihadapannya. Dan tanpa mempedulikan rasa sakit yang timbul, ia meneteskan air mata.
__ADS_1
'Sudah, sudah. Itu enggak baik tahu?'
". . . Alice." Linnea memanggil dengan suara terisak.
'Hmhm, aku disini.'
Disaat seperti ini, Alice selalu membuatnya merasa nyaman dan satu-satunya yang ada untuknya setiap saat. Entah akhir seperti apa yang menanti jika gadis itu tetap sendirian.
Namun bukan menjadi lebih tenang, Linnea teringat orang-orang itu, yang menyatakan keadaannya seenak jidat. Tidak peduli dengan apa yang telah dialaminya sampai saat ini, mereka hanya membuatnya merasa lebih buruk!
Karena itu! Karena itu. . ! Linnea sangat membenci omong kosong yang disebut 'kelainan mental' itu. Dianggap gila? Baginya, itu tidak seberapa dibanding harus kehilangan Alice. . !
'. . .Tenanglah, suatu saat, pasti.' kata Alice.
Linnea akhirnya mengambil napas, menenangkan dirinya yang, sekali lagi, kacau. ". . . Pasti." katanya kemudian, menebalkan tekat dalam dirinya.
Beranjak, kakinya bergerak mendekati deretan buku pada rak yang tersusun rapi. Membaca, adalah hal yang membuatnya bisa melupakan masalah-masalah itu meski hanya sesaat.
Melihat isinya, sebagian besar dari rak yang ada adalah buku yang mencatat sejarah manusia. Namun, ada juga buku-buku tentang mitologi, legenda atau semacamnya. Yah, mungkin ada benarnya jika legenda adalah bagian dari sejarah. Tapi kadang, sulit untuk menerima beberapa legenda karena batasan nalar dan perkembangan zaman.
Melirik judul-judul buku ditempat itu, Linnea mulai menyadari sebagian besar sudah dibaca olehnya. Selama dua tahun masa sekolahnya ditempat ini, Linnea bisa dikatakan sebagai kutu buku, akut.
Sebenarnya perpustakaan sekolah lebih baik daripada tempatnya sekarang. Namun, melihat tanggal yang menjelang ujian kenaikan, banyak murid yang belajar dengan keras. Dan tempat favorit untuk belajar dalam masa kritis seperti ini tentunya, apalagi jika bukan perpustakaan?
Karena itu, Linnea pun membuang niatnya untuk ke perpustakaan kecuali jika ada hal penting.
"Muu. . , berarti kelas tiga, ya?" gumam gadis itu.
Linnea tidak memusingkan kemungkinan untuk gagal dalam ujian itu, karena ia yakin dengan dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia memikirkan adiknya yang berniat masuk ke sekolah ini setelah tahun ajaran baru.
"Kuharap lulus. . ." Linnea berkata dengan penuh kekhawatiran.
'Lebih baik kita awasi, tahu?'
Hanya itu yang menjadi masalah, karena adiknya benar-benar kelihatan enggan belajar, dan itu bisa menjadi hal rumit kalau dibiarkan.
__ADS_1
"Um. . , adik menyusahkan." gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Namun, sebuah senyum lembut muncul menghiasi wajah gadis itu.