
Sontak saja Claudia menepis tangan mantan suaminya.
Lily terkejut mendapati itu semua. "Nona cepat pergi dari sini jangan khawatirkan aku, cepat!!..."
Andrean hendak menarik Claudia ke dalam pelukannya, sontak saja Claudia menendang Andrean sampai terjatuh. "Sadarlah Andrean!!!..."
Claudia sontak berlari keluar dari bar itu ia tak peduli menabrak orang-orang di sana, yang penting dia lolos dari Andrean. Mantan suaminya terlihat begitu menakutkan saat ini.
Sesampainya di luar, tidak ada anak buah Lorenzo di mobil. Hal ini membuat Claudia semakin cemas. Sontak saja ia membuka layar handphonenya tampak ada pesan dari bodyguard yang izin untuk buang air besar dahulu.
"Ck keadaan macam apa ini!! tidak mungkin aku menunggunya?.. Ya Tuhan tolong aku.."
Claudia melirik kota besar itu kanan juga kiri, tangannya sontak membuang alas kaki ia menutup wajahnya agar tidak dikenali orang sekitar.
"Claudia kau mau kemana!...." Teriak Andrean mengejar dengan tubuh oleng hilang keseimbangan karena mabuk berat.
Tanpa pikir panjang lagi Claudia berlari sekuat tenaga menyusuri jalanan besar itu dengan diikuti Andrean di belakang, tujuan saat ini adalah apartemennya yang jaraknya 20 meter dari sana.
"Ayo kau kuat Claudia tidak ada siapa-siapa di sini, apartemennya sudah dekat!..." Batin Claudia mencoba tenang.
Andrean mengejar layaknya seperti orang gila, ia di New York bisa bertemu lagi dengan wanita yang dirindukannya begitu saja. Sungguh hal yang tak terduga. "A-aku merindukanmu tunggu!...."
Karena rasa cemas yang begitu besar tak terasa air mata wanita itu terjatuh, akhirnya Claudia sampai di apartemen lantai pertama. Dengan tangan yang gemetar ia menekan-nekan lift berkali-kali agar terbuka. "Ayolah! saat ini aku tidak mau bertemu dengannya yang seperti itu...."
__ADS_1
Claudia tak berani menatap ke belakang, akhirnya pintu lift terbuka ia sontak memasuki dan menekan tombolnya kembali lalu perlahan pintu lift akan segera menutup.
Satu tangan berhasil menahan kaki jenjang Claudia dari bawah. "Aaakkhh!!.."
"C-claudiaaa tunggu aku!...." Pekik Andrean dengan tatapan penuh nafsu ditambah pengaruh alkohol.
"Berhenti mengikuti diriku Andrean, sadarlah!!.."
Claudia sontak menendang kasar tangan itu agar terlepas, dan pintu lift pun tertutup menaiki setiap lantai. Di sini Claudia terjatuh lemas dengan penuh keringat, ia benar-benar baru bisa bernafas lega...
5 menit berlalu....
Lift berhenti di lantai tempat apartemen Claudia berada, ia sontak melihat sekeliling memastikan keadaan. Claudia berlari menuju apartemennya dengan perasaan campur aduk setelahnya ia mengunci pintu itu.
Tangannya masih gemetar akibat cemas tadi, Claudia mengatur nafas berkali-kali agar tenang.
DEG!!!
Belum juga debaran jantungnya tenang karena tegang, kini Claudia semakin dibuat terkejut akan suara berat yang sangat familiar. Ia perlahan memutar badan. "L-Lorenzo?....."
Terdapat senyum menyeringai dari sudut bibir Lorenzo, sontak saja ia mendekati istrinya sambil mengerutkan kening. "Kenapa kamu pulang sendirian?..."
Claudia tidak menjawab ia sontak berhambur ke dada bidang Lorenzo, dari sini Lorenzo dapat menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang terjadi kepada istrinya namun ia memilih diam itu urusan nanti.
__ADS_1
"Kapan kau datang kesini? kenapa tidak mengabariku?..." Tanya Claudia tak berani menatap manik biru itu.
Lorenzo menarik dagu Claudia agar menatapnya. "Jangan malah balik bertanya jawab pertanyaanku!..." Tegas Lorenzo.
Karena tidak mau membuat lelaki itu khawatir, Claudia sontak mendekatkan tubuh ia mencium bibir Lorenzo sekilas sambil tersenyum. "Tidak ada apa-apa, buktinya aku pulang dengan selamat..."
Lorenzo terdiam dengan perlakuan Claudia, tatapan mata keduanya bertemu dalam jarak dekat. Claudia perlahan mengelus rahang tegas wajah tampan itu. "Aku merindukanmu....."
Seketika Lorenzo menarik tengkuk Claudia, ia mencium bibir ranum itu tanpa melepaskan pelukan. Tubuh Claudia semakin terpojok ke tembok karena Lorenzo.
Dapat dirasakan masing-masing akan debaran jantung mereka, Claudia membuka sedikit bibirnya membiarkan Lorenzo bermain lebih dalam..
Ciuman itu terlepas, nafas keduanya tak beraturan. Claudia mengalihkan pandangan saat melihat tatapan mata biru itu. "Ya ampun kenapa dia tampan sekali...." Batinnya.
Lorenzo tersenyum melihat wajah merona istrinya, ia menggigit bibir bawahnya karena merasa gemas. "Oh s*it kenapa dia cantik sekali?..."
Lorenzo kembali mencium bibir ranum Claudia ia me*umatnya dengan lembut namun terkesan agresif, tangannya perlahan menyentuh sesuatu yang berharga di sana.
Claudia menyadari bahwa mereka akan melakukannya bukan lagi hanya untuk saling membantu, tetapi sebagai suami istri yang saling mencintai.
Tangan Lorenzo menarik resleting dress Claudia tatapan matanya tampak berat akan hasrat, wanita itu juga perlahan membuka satu persatu kancing kemeja Lorenzo. Sehingga tampaklah tubuh bidang yang sangat atletis, Claudia tidak tahan untuk tak menyentuhnya..
Bersambung.......
__ADS_1
Jika berkenan tinggalkan jejaknya ya kakak itu merupakan dukungan yang luar biasa bagi Author untuk cepat update!.
Terimakasih 🤗