
Dokter Alyysa terkejut melihat aksi gila nyonya-nya, ia sontak mengalihkan pandangan Raymond dan Rio agar sampai tidak melihat Claudia pergi dengan mengendap.
"Ada apa buru-buru Aly?.." Selidik Rio kepada Alyysa yang sontak mengenakan jaketnya.
"Ada sesuatu yang harus ku urus ini tidak ada hubungannya dengan kalian, kalian cukup jaga Rayn sama Zayn soalnya nona Claudia sedang tidur karena kecapean!." Ujar Alyysa sengaja berbohong.
"Baiklah kau hati-hati." Timpal Raymond tanpa sedikitpun merasa curiga.
Alyysa sontak berlalu pergi dengan motornya, ia berhenti di tepi jalan dimana Claudia sedang menunggu. Tanpa pikir panjang Claudia menaikinya.
"Ikuti saja motor Lorenzo tanpa membuat dia curiga!." Ujar Claudia.
"Nona apa kau yakin dengan keputusanmu?."
"Aku mempelajari taktik bertarung darimu dan Rio untuk apa? jika Lorenzo mempunyai masalah aku sebagai istrinya diam saja Aly!." Jawab Claudia terus terang.
"Kau sudah menyembunyikan ini sejak lama dari tuan Lorenzo nona, aku takut dia akan menghukumku juga Rio karena telah mengajarkanmu dalam hal ini.."
"Itu tidak akan terjadi aku yang akan bertanggung jawab, pakailah ini!.." Tegas Claudia sambil memberikan sebuah topeng hitam kepada Alyysa sebagaimana yang ia kenakan juga.
"Baiklah nona bersiaplah!." Ucap Alyysa.
"Ya..."
Motor ninja Lorenzo perlahan memasuki area hutan yang begitu lebat juga gelap, Alyysa dengan keahliannya berhasil mengikuti di belakang tanpa terdapat kecurigaan sedikitpun.
Hati kecil Claudia begitu khawatir melihat suaminya mendatangi tempat seperti itu.
Jauh dari keramaian dan kota, sekitar 30 menit Lorenzo sampai di depan gedung besar di tengah hutan itu. Mata tajam Lorenzo melihat sekeliling hutan sebelum memasuki, ia menyadari jika ada seseorang yang mengikutinya.
__ADS_1
Claudia dan Alyysa bersembunyi di balik pohon besar itu.
Lorenzo acuh tak peduli ia menyangka itu pergerakan musuh yang sedang mengintai, dengan wajah datar Lorenzo memasuki kediaman Jerome yang dimaksud oleh Rio.
Para gangster berbadan besar juga tinggi anak buah dari Jerome bersorak ria menyambut kedatangan musuhnya Lorenzo, mata tajam Lorenzo melirik setiap sudut mengerikan itu setelahnya ia tersenyum menyeringai.
"Apa kau yakin jika dia datang tanpa siapa-siapa?." Bisik salah satu gangster.
"Aku tidak tahu tapi menurut anak buah yang lain 'iya', Lorenzo datang tanpa siapa-siapa tapi awas jangan sekali-kali meremehkan dia!.." Jawab yang lain serius.
"Rupanya kau benar-benar datang memenuhi undanganku Lorenzo Scottbryan!.." Terdengar suara berat disusul munculnya seorang lelaki bertubuh tinggi kekar, Jerome menemui Lorenzo tanpa mengenakan topeng dikawal oleh para anak buahnya.
"Jadi inilah dirimu!..." Datar Lorenzo.
Jerome menatap tajam wajah Lorenzo penuh kebencian dan dendam. "Aku tak suka basa-basi. Lihat di sana ada 5 ekor harimau buas yang siap menyoyakmu jika kau tak memenuhi permintaan dariku!." Lirihnya sambil menunjuk sang peliharaan.
"Pertama berikan saham kekuasaanmu sebanyak 97% untuk menebus kesalahan kakakmu di masa lalu! dan yang kedua berikan kedua putra kembar kebanggaanmu itu atau kau tak akan pernah bertemu dengannya lagi!!..." Dingin Jerome sambil menodongkan senjata api kepada Lorenzo.
Jerome mengerutkan kening ia merasa ada sesuatu yang aneh, bagaimana bisa Lorenzo langsung memberikannya begitu saja. "Baiklah itu pilihan yang bagus!.."
BUGH!
Tubuh Lorenzo ditendang Jerome tanpa aba-aba, tetapi wajah tampannya itu tampak tenang tidak meringis sedikit pun. "Aku akan melakukan pemanasan sebelum memutilasi dirimu!.."
"Hahahaha!!.." Lorenzo tertawa terbahak-bahak membuat orang-orang di sana terkejut.
Jerome semakin dibuat murka dengan Lorenzo, seakan-akan dia sedang meremehkan kemampuannya. Jerome sontak mengambil pisau andalan yang mematikan untuk merobek organ tubuh Lorenzo.
"Bagus masuklah ke dalam perangkapku!." Batin Lorenzo puas.
__ADS_1
Dalam waktu bersamaan tiba-tiba..
DOR! DOR!!
Lengan atas Jerome tertembak dua peluru, akibatnya pisau untuk memutilasi Lorenzo terjatuh. "Akh sial!.."
Orang-orang di sana terkejut dari mana datangnya peluru itu, anak buah Jerome berpencar untuk mencari dalang.
Seorang wanita menodong senjata dari kedua tangannya dengan berbalut topeng di wajah. "Aku salah satu aparat kepolisian jika kalian bergerak maka habislah semua! rekan-rekanku sudah mengepung.."
Tentunya Jerome serta anak buah lainnya terkejut juga terheran-heran mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan ancaman seperti itu, di sini Lorenzo mengerutkan keningnya ia mengamati tubuh wanita bertopeng itu dengan seksama.
Seketika Lorenzo tersadar sesuatu ia dibuat semakin terkejut ketika melihat keberadaan Alyysa di sela ruangan itu yang memberi kode kepadanya.
Lorenzo sontak menekan tombol pada tangan kekarnya, dalam waktu bersamaan suara helikopter terdengar dari atas gedung itu menembaki area ruangan sehingga atapnya bolong hancur menjadi reruntuhan.
Jerome dan orang-orang di sana sontak berlindung, mereka mengira itu sekawanan aparat keamanan yang datang menyerang ternyata bukan.
Lorenzo sontak menarik pinggang Claudia membawanya naik ke atas tangga helikopter, setelah selesai helikopter itu lepas landas pergi.
Jerome dan para anak buahnya mengetahui ini hanya tipuan semata, saat melihat Lorenzo dan wanita bertopeng itu hilang dalam kabut asap reruntuhan.
"Tembaki helikopter itu sekarang!!!..." Teriak Jerome penuh amarah.
"Tidak lihat ini dulu!..." Timpal Alyysa yang tiba-tiba muncul dengan 5 bom mematikan di tangannya mengalihkan pandangan mereka semua.
Sehingga mereka dibuat semakin terkejut sampai lupa harus menembak helikopter Lorenzo yang sudah berlalu. "Cepat merunduk sial!!!!."
Alyysa melemparkan bom itu pada kerumunan musuh, setelahnya ia berlari menyelamatkan diri membiarkan gedung itu hancur meledak tak karuan.
__ADS_1
Bersambung....